13. Mengundang Musuh

1907 Kata
Hari esok datang. Sore ini, Fan terlihat mengunjungi sebuah toko perhiasan, hendak mencari tahu sesuatu. Toko itu cukup ramai dikunjungi oleh para pecinta aksesorisnya. Fan melihat ke arah CCTV, memastikan bahwa benda itu tidak berfungsi karena dia telah menyuruh Mahesa untuk meretasnya beberapa menit ke depan. Dia masuk ke toko itu dengan pakaian yang sangat mewah, khas orang berada. Dia sedang menyamar menjadi pengusaha kaya, dan berpura-pura ingin membeli barang berharga di toko itu. Fan berhasil berbicara dengan karyawan toko, membuatnya diarahkan untuk menuju ke pria pemilik toko. Diam-diam, ternyata Jamie juga sudah berada di toko itu. Dia mengikut mereka, lantas mendengarkan pembicaraannya. "Memangnya apa yang kau punya untuk membeli berlianku?" tanya sang pemilik toko. Dia memperhatikan penampilan Fan dari atas sampai bawah. Fan mengeluarkan kartu kredit tanpa limit miliknya, tapi tentu saja kartu itu palsu. Dia menunjukkannya hanya untuk membuat penjual percaya. Karena tujuan sebenarnya mereka datang kemari adalah untuk mengetahui tempat berlian itu di simpan. Merasa tergiur, pemilik toko itu pun mengajak Fan ke ruang penyimpanan berlian. Fan segera mengikutinya. Namun sebelum itu, dia telah memberikan isyarat tipis pada Jamie untuk bersiap-siap. Fan dan sang pemilik toko perhiasan itu pun tiba di depan sebuah brankas. Dilihatnya pria itu membuka brankas dengan sidik jari. "Aku yakin Tuan akan menyukai kalung berlian ini. Benda ini hanya ada tiga di dunia, dan salah satunya ada di toko kami." Pemilik toko itu tampak sangat antusias menawarkan produk yang dia miliki pada Fan, tanpa mengetahui apa yang tersembunyi di balik pakaian mewah pria itu. "Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui keberadaan benda ini. Aku tidak menjualnya secara bebas karena hal itu sangat berbahaya. Dan sekarang kau akan memilikinya, Tuan." Pemilik toko itu tertawa penuh arti, tampak jelas bahwa saat ini dia sedang membujuk Fan dengan tatapan agar pria itu segera membelinya. "Berapa kau menjualnya?" Fan bertanya, kakinya perlahan bergerak mendekati pintu brankas itu. "Pasti tidak akan terlalu mahal bagimu." Pria itu mendekati Fan, lalu berbisik di telinganya, "Hanya 200 juta dollar." Fan menggunakan kesempatan itu untuk segera menyalin sidik jari di pintu brankas menggunakan chip yang tersimpan di lengan bajunya. "Ya, kau benar. Itu tidak terlalu mahal bagiku," ucap Fan, sedikit menyombongkan diri agar responnya terdengar meyakinkan. "Benar. Kau memang pria yang sangat bijaksana," puji pemilik toko itu. Fan berdehem ketika suara finger print berbunyi kecil sebab chip yang dia tempelkan telah selesai menyalin. Pria itu pura-pura merapikan kemeja hitam yang dia kenakan. Padahal tangannya itu sedang menyimpan kembali chip yang sudah berhasil menyalin sidik jari pemilik toko. "Aku akan membelinya," ucap Fan. "Kau akan segera memilikinya. Security, ambilkan mesin EDC milikku." Pemilik toko itu menyuruh security yang sejak tadi menjadi pengawalnya. "Baik, Tuan." Segera security itu bergegas. Sekarang adalah tugas Jamie untuk menggagalkan Fan membeli berlian itu. Sebelum sang security mengambil mesin yang diperintahkan oleh tuannya, Jamie sudah lebih dulu menghipnotisnya, lalu memintanya untuk mengantarnya ke kamar mandi. "Permisi, apa kau bisa tunjukkan di mana letak kamar mandi padaku?" Security itu tidak bisa menolak karena sudah berada di dalam pengaruh Jamie. Tanpa berkata apa-apa, security itu pun berjalan untuk mengantar Jamie. Di sana, Jamie menyuruh security itu untuk diam sampai perintah selanjutnya. Dia hendak mengulur waktu. Kemudian, Jamie menelepon Fan, ini adalah bagian dari rencana. Di ruangan, Fan menjawab telepon Jamie. "Halo. Aku akan tiba sebentar lagi, Sayang. Apa ada sesuatu yang mendesak? Aku sedang membelikan hadiah untukmu." Fan berpura-pura berbicara pada istrinya, membuat pemilik toko itu tidak mencurigainya sedikit pun, dan malah membuatnya terharu. Fan mengakhiri teleponnya setelah kata-kata manis. Mereka masih menunggu sang security datang membawa mesin Electronic Data Capture. Namun security itu tak kunjung datang. Sampai akhirnya ponsel Fan berbunyi lagi. Jamie kembali menelponnya. Kali ini Fan berpura-pura memiliki urusan mendesak. "Aku sudah bilang aku sedang---. Apa? Kau bilang anak kita ditabrak lari? Bagaimana mungkin!" Kini pemilik toko itu tampak khawatir sebab melihat Fan yang sangat terburu-buru. "Baiklah, aku akan segera ke sana." Fan menyimpan kembali ponselnya dan hendak bergegas. "A-apa yang terjadi?" tanya pemilik toko itu bersimpati sebab takut kehilangan pembelinya. "Anakku sedang dalam bahaya, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku akan menyuruh asistenku untuk melakukan pembayaran nanti. Simpan kalung berlian itu untukku," pesan Fan. Dia segera bergegas meninggalkan ruangan juga meninggalkan toko perhiasan itu. Pria pemilik toko itu kebingungan. Selain itu dia juga sedang kesal sebab security-nya tidak kunjung datang, dan malah hilang entah ke mana. Dia tidak bisa memaksa Fan untuk menunggu walaupun hanya sebentar setelah mendengar kondisi pria itu sangat mendesak. Jamie yang mengetahui Fan sudah pergi pun pelan-pelan keluar dari kamar mandi, bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dia sempat bertemu dengan pria pemilik toko. Jamie tersenyum padanya, membuat pria pemilik toko itu membalas senyumnya sopan. Jamie pun keluar dari toko perhiasan. Namun pria pemilik toko itu menyadari sesuatu. "Dia tidak membeli apa-apa?" tanyanya pada salah satu karyawan. "Tidak, Tuan. Dia hanya menumpang kamar mandi." Hal itu membuat sang pemilik toko merasa sia-sia karena telah membalas senyumnya. Dia sangat geram sekarang, terlebih lagi pada security-nya. "Di mana Joe!" Beralih ke toko emas. Sekarang Fan berada di toko itu bersama Mahesa yang berpura-pura menjadi asistennya. Namun kali ini Fan tidak menginginkan barang apapun. Tujuannya datang adalah untuk membiarkan Mahesa meletakkan sesuatu di bawah lemari perhiasan itu diam-diam. "Apa kau menjual berlian seharga 200 juta dollar?" Fan bertanya pada seorang wanita pemilik toko emas itu. "Tidak, Tuan, kami tidak menjual berlian. Toko ini hanya menjual emas." "Benarkah? Baiklah kalau begitu." Fan keluar dari toko emas setelah mendapat isyarat dari Mahesa bahwa dia sudah menyelesaikan misinya. Fan, Mahesa, dan Jamie pun pulang ke rumah, menunggu sampai malam tiba. Mereka sedang menyiapkan keperluan untuk aksi yang sebenarnya. *** Hari sudah gelap, tampak Fan dan Mahesa yang mengenakan baju serba hitam, membuatnya tampak menyatu dengan malam. Saat ini mereka sedang memantau sebuah toko. Itu adalah toko perhiasan, yang menyimpan kalung berlian senilai $ 200 juta. Terlihat sang karyawan baru saja menutup toko itu. Fan memberikan isyarat pada Mahesa yang sedang memantau dari atap sebuah mall, sambil memangku laptop. Mahesa mengangguk sekali, pertanda bahwa dia sudah menjalankan tugasnya, dan siap untuk menjalankan tugas selanjutnya. Apa tugas yang sudah dijalankan Mahesa sebelumnya? Itu adalah tugas pengalihan isu. Mahesa meletakkan sebuah alat yang akan meledak jika dia mengaktifkannya. Alat itu Mahesa letakkan di toko emas yang mereka kunjungi tadi sore, dan toko itu letaknya bertikungan dengan toko perhiasan yang akan mereka rampas. Fan menurunkan topi yang dia kenakan sampai menutupi sebagian wajahnya. Dia menunggu sampai waktunya tepat, yaitu waktu ketika bom meledak. Duuar! Mahesa baru saja menekan tombol pengaktif bom di laptopnya, membuat kaca-kaca di toko emas itu pecah, dan menimbulkan asap putih yang mengepul. Orang-orang yang lalu lalang otomatis memusatkan perhatiannya ke arah toko emas itu. Pemilik toko yang mengetahui bahwa terjadi p*********n pun segera menelpon pihak berwajib. Setelah bom itu meledak, Mahesa segera mematikan sistem pelacaknya. Kini toko emas itu tampak ramai dikelilingi oleh orang-orang yang penasaran. Pihak berwajib juga sudah datang untuk mengamankan tempat itu. Mahesa belum selesai dengan tugasnya. Dia segera menghack seluruh CCTV toko perhiasan. Setelah selesai, dia langsung mematikan seluruh lampu jalan menggunakan sistem yang sebelumnya telah dibuat oleh Fan. Kini jalanan gelap gulita. Orang-orang dan pihak berwajib yang berada di sekitar toko emas itu pun kebingungan. Kemudian, Jamie yang sudah menunggu sejak tadi melihat bahwa lampu jalanan sudah mati, pertanda bahwa Mahesa sudah menghack CCTV toko perhiasan. Segera dia mengendarai mobil Fan, menghampiri karyawan yang baru saja terkejut sebab suara ledakan, juga sebab lampu jalanan yang padam. Pria itu segera memanfaatkan waktu untuk menghipnotisnya. "Apa kau mendengar suara ledakan? Jika iya, jatuhkan sesuatu yang berada di tanganmu," ucap Jamie. Karyawan wanita itu pun menjatuhkan kunci yang berada di tangannya. Fan melangkah mendekati mereka, lalu mengambil kunci itu. "Pulang lah, dan hati-hati di jalan," ucap Jamie dengan senyum menggoda. Seolah tak bisa mengendalikan pikirannya, karyawan wanita itu pun melangkah untuk pulang, melupakan kunci tokonya. Jamie tetap menunggu di mobil, sedangkan Fan sudah membuka toko itu dan masuk. Dia segera menuju ke ruangan tempat di mana brankas berisi berlian itu tersimpan. Namun sial, ternyata pintu ruangan itu dikunci dan kuncinya tidak dipegang oleh sang karyawan. "Shitt!" Fan mengumpat. Dalam situasi yang medesak itu, Fan berpikir keras, mencari ide. Sampai akhirnya dia berhasil memikirkan sesuatu. Dia mengambil gelang yang ujungnya lancip di dalam lemari perhiasan. Kemudian menggunakannya untuk membuka pintu. Dia berhasil. Tak ingin membuang-buang waktu, segera Fan membuka brankas itu menggunakan chip yang tadi sore telah dia gunakan untuk menyalin sidik jari pemilik toko. Fan segera mengambil berlian itu, menyimpannya di saku hoddie, lalu bergegas pergi. Jamie menyalakan mobil ketika melihat Fan keluar dari toko dan menguncinya kembali. Pria itu segera masuk ke mobil, lalu melaju meninggalkan toko. Dari atap, Mahesa melihat mobil Fan sudah bergerak. Dia pun segera menutup laptop, bergegas meninggalkan atap, masuk ke lift mall untuk turun. Namun sial, lift itu sangat lama untuk sampai di atap. Mahesa kembali membuka laptopnya untuk menghack, menjalankan lift itu langsung ke atap, menunda seluruh pintu yang sudah menunggu di lantai-lantai sebelumnya. Hal itu tentu saja membuat pengunjung yang berada di lift ketakutan. "Hei, apa yang terjadi?" "Pintunya tidak mau terbuka." "Kenapa kita naik ke atas lagi!" Mahesa berhasil membuat lift itu tiba di atap. Namun dia sangat terkejut setelah menyadari bahwa di dalam lift itu berisi lima anak gadis. Sama seperti Mahesa, gadis-gadis di dalam lift itu juga terkejut karena sekarang sudah berada di atap. "Apa kau yang membuat liftnya menjadi seperti ini?" tuduh salah seorang gadis di dalam lift setelah pintu terbuka. Mahesa menggeleng cepat. Dia terpaksa melakukan hal itu. Akhirnya Mahesa tiba di lantai dasar. Dia langsung menuju ke pintu keluar mall, menghampiri Fan dan Jamie yang sudah menunggu. "Kenapa lama sekali?" protes Fan. Mahesa tidak menjawab, hanya melenggang masuk ke mobil sambil menggendong laptopnya. Fan tidak tahu ada apa dengan pemuda itu. Namun setelah melihat wajah Mahesa yang memerah, Fan dapat menebak jika pemuda itu sedang malu. *** Hari-hari berganti, seiring dengan berjalannya waktu, bulan pun ikut berganti. Fan dan Reyna tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Cukup lama mereka tak bertemu sebab Reyna sudah memulai kuliahnya. Selama hampir satu tahun Fan tidak bisa menemui gadis itu. Dua semester sudah Reyna lewati, dan tentu saja semua itu tidak mudah. Sebab dirinya yang jago bela diri, Reyna jadi dikenal di kampus. Gadis itu menjadi sorotan media kampus. Malam ini, acara pesta akhir semester tepat digelar di aula asrama. Tampak Reyna yang sedang duduk di tengah-tengah perkumpulan mahasiswa. Dia terlihat bosan dan ngantuk. Ini sudah malam, tetapi acara justru semakin meriah. Reyna merasa apa yang dikatakan kakak iparnya waktu itu benar, dia tidak akan betah jika setiap hari seperti ini. Seorang pria yang mungkin sebaya dengannya menghampiri, bersama dua orang teman pria lainnya, dia berkata sinis pada Reyna. "Apa kau gadis yang sedang dibicarakan di media online mahasiswa?" Reyna mengangkat wajahnya yang hampir saja jatuh. Dia memejamkan mata sekejap untuk menghilangkan kantuk, lantas melihat tiga orang pria yang berdiri di depan mejanya. "Bukan," jawab Reyna tak peduli, lalu kembali menopang wajah kantuknya. Ini bukan pertama kalinya seseorang bertanya seperti itu padanya. Reyna sudah sering membantu gadis-gadis lugu yang menjadi korban buli di kampus ini. Tiga orang pria itu saling lihat. "Hei, kau sadar kau berada di mana sekarang?" Reyna menguap. "Hoaam. Kalian mau duduk di sini? Baiklah, duduk saja." Gadis itu bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi meninggalkan mereka. Tingkah Reyna itu membuat pria bernama Barnas melongo. Bukan apa-apa, tapi apa yang dilakukan Reyna itu sangat tidak sopan baginya. Siapa yang tidak tahu, dia adalah ketua geng mahasiswa gaul yang sesungguhnya di kampus itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN