"Bangun!" Reyna menodongkan pisau yang sebelumnya berada di tangan pria itu. Dia sudah berhasil membuatnya tergeletak di lantai.
Fan dan orang yang satu lagi saling pandang. Tidak menyangka jika ada kekuatan di tangan dan kaki gadis itu.
"Haha. Kau mau melawannya juga?" tanya Fan, menyuruh pria itu untuk melawan Reyna.
"Aargh!" Kini orang itu marah dan hendak meninju Fan.
"Hah!" Beruntung Fan memiliki reflek yang baik untuk menghindari serangan.
Dugg! Fan meninju perut pria itu.
"Ugh!" Orang itu terpukul mundur, dan hampir saja menabrak punggung Reyna.
Reyna menambahkan serangan kepadanya, membuat dua orang itu kini tergeletak di lantai kasar bangunan.
Fan tergelak kecil, membersihkan tangannya, lantas melangkah menghampiri Reyna. Mereka berdua saling tos sebab berhasil mengalahkannya dengan mudah.
"Ayo," ajak Reyna.
Fan melangkah di samping gadis itu. "Ayahmu mengajarimu seni bela diri?" tanyanya.
"Tidak. Papa hanya mendaftarkanku ke sana."
"Itu bagus setelah aku ingat papamu dulu seorang mafia."
Reyna terpaku, pada posisinya yang tidak jadi membuka pintu mobil. Dia menatap Fan penuh pertanyaan. Sementara Fan menggaruk kepala, sepertinya dia telah mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan.
"Apa maksudmu mafia?" tanya Reyna.
Fan bergeming kaku. "Ee … tidak, aku hanya asal bicara, haha." Pria itu tertawa aneh, membuat Reyna semakin curiga padanya.
Tidak ingin melanjutkan topik pembicaraan itu, Fan segera membukakan pintu mobil untuk Reyna, lalu menyuruh gadis itu masuk.
"Ayo, kita harus segera pergi dari sini."
Reyna masuk ke dalam mobil. Diikuti Fan, yang saat ini sudah menyalakan mesin. Mobil pun kembali melaju.
"Apa yang kau tau tentang papaku?" tanya Reyna. Dia tidak bisa membiarkan rasa penasarannya terpendam begitu saja.
"Aku hanya tau dia papamu." Fan berdusta.
"Aku tau kau berbohong."
"Tolong jangan bertanya padaku. Mungkin seharusnya kita tidak membicarakan itu."
"Fan, ayolah!" Reyna memaksa.
Sekejap Fan terpaku. Detik berikutnya dia menurunkan kecepatan untuk mengontrol kemudi.
"Ada sesuatu yang harus kau ingat, kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan Fan jika berada di tempat umum," ucapnya memperingati.
Reyna melipat kedua tangannya, kembali menyender di jok mobil. Sekarang dia penasaran mengapa Fan memperingatinya seperti itu.
"Memangnya kenapa?"
"Pokoknya tidak boleh," jawab Fan.
***
Setelah menghabiskan waktu untuk makan siang dan berbicara banyak hal, Fan mengantar Reyna kembali ke asrama. Senja sudah menghias langit. Mereka melewati jalanan di daerah kampus yang selalu ramai saat sore, apalagi jika akhir pekan. Banyak orang yang menikmati sore di sekitar embung.
Ada juga tempat yang menjadi base camp anak-anak gaul kampus. Tempat itu terletak agak jauh dari bangunan gedung perkuliahan, juga dari asrama. Namun tempat itu paling sering dikunjungi, karena sangat dekat dengan pusat perbelanjaan kampus.
Fan dan Reyna melewati tempat itu, dan memutuskan untuk berhenti sebentar. Dari dalam mobil, Reyna melihat anak-anak yang sedang mem-buli seorang gadis lugu.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Reyna.
"Biasalah." Fan memiringkan kepala. "Pembulian," jawabnya.
"Oh." Ini pertama kalinya Reyna melihat langsung dengan mata kepalanya. Biasanya Reyna hanya mendengar berita seperti itu di TV, atau mengetahui semuanya setelah korban buli sudah mati akibat bunuh diri.
"Kenapa dia tidak pergi setelah mendapat hinaan pertama?" tanya Reyna sambil menatap bodoh pada gadis yang diam saja di sana.
"Kau tau siklus pergaulan di zaman ini bukan? Jika tidak bisa melawan, maka diam saja, atau kau akan kehilangan harga diri sebab menghindar," papar Fan.
"Jadi kau sudah sering melihat hal seperti ini?"
"Aku bahkan melihat bagaimana korban melompat dari atas gedung."
Reyna menarik sudut bibirnya, prihatin. "Gadis yang malang."
Namun Reyna tidak tega jika membiarkan gadis itu tetap berada di sana. Dia pun berniat untuk menolongnya.
"Kau mau membantuku?" tanyanya pada Fan.
"Apa?"
"Kau bisa meretas semua ponsel yang ada di sana? Aku tidak ingin mereka merekam apa-apa."
Fan mengernyit bingung. Dia tidak tahu apa yang ingin dilakukan Reyna. Namun Fan tidak keberatan dengan permintaan gadis itu.
Reyna membuka pintu, keluar dari mobil Fan, melangkah menuju ke arah sekumpulan pembuli, dan gadis lugu di sana. Dia berhenti tepat di samping gadis lugu itu, membuat seluruh tatapan kini tertuju padanya.
"Kau takut kehilangan harga diri?" tanya Reyna pada gadis lugu itu.
Gadis itu melihat Reyna penuh khawatir, juga bimbang. Sampai akhirnya dia mendengar ucapan Reyna lagi.
"Pergilah, aku membeli harga dirimu," ucap Reyna. Bermaksud untuk menggantikan posisi gadis lugu itu.
Gera, nama gadis yang merupakan ketua pembuli sore ini. Dia tertawa sinis mendengar ucapan gadis di depannya.
"Memangnya kau siapa?" tanya Gera, mengeluarkan permen lollipop dari mulut.
"Anak baru," jawab Reyna singkat, padat, dan jelas.
Mereka semua tertawa, kecuali si gadis lugu yang Reyna belum tahu namanya.
"Anak baru? Dia bilang anak baru."
"Hahaha."
"Hajar."
Satu pukulan berhasil Reyna hindari. Justru pukulan itu lah yang membuka peluang bagi Reyna untuk menyikut punggung gadis yang baru saja menyerangnya.
"Ah!" Salah satu gadis yang merupakan kaki tangan Gera tumbang.
"Rghh!" Gera membuang permen lollipop-nya, lalu maju untuk menyerang Reyna yang baru saja menantangnya.
Tidak butuh banyak jurus, Reyna langsung membuat gadis itu terpukul mundur, mengundang kaki tangan Gera yang lainnya maju dan menyerang secara bersamaan.
Adegan perkelahian itu membuat suasana semakin memanas. Anak-anak lain yang tidak ikut menyerang pun segera mengeluarkan ponsel untuk mendokumentasikan peristiwa ini. Namun mereka tidak tahu mengapa tiba-tiba saja semua ponsel tidak berfungsi dengan baik. Mereka tidak bisa membuka kamera, bahkan untuk menggerakkan layar saja tidak bisa karena terjadi bug.
"Aku tidak bisa menggerakkan layar ponselku."
"Apa yang terjadi?"
"Ponselku rusak!"
"Milikmu juga?"
Bugg!
Reyna membuat seluruh penyerangnya mundur. Dia mendarat dengan mulus, dan masih waspada kalau-kalau ada yang berani menyerangnya dari belakang. Reyna tidak takut, siapapun yang menyerangnya akan dia balas, tidak peduli apakah senior atau junior.
"Ada yang ingin maju?" tanya Reyna.
Namun tidak ada yang berani maju lagi. Bahkan seluruh kaki tangan Gera bersembunyi di belakang gadis itu, ketakutan.
"Hrghh!" Gera menggeram marah. Mungkin ini pertama kalinya dia mendapati seorang gadis berhijab sangat pandai berkelahi.
Fan bertepuk tangan dari depan kap mobilnya, memberikan apresiasi pada Reyna, membuat seluruh mata kini tertuju padanya.
"Hebat," puji Fan sambil bersandar tipis di depan mobil.
Gera pun pergi meninggalkan Reyna juga gadis lugu itu, dan tentu saja semua kaki tangannya ikut pergi. Mereka masih bingung dengan ponsel mereka yang rusak. Terdengar suara rusuh dari anak-anak itu.
"Apa ponselmu juga rusak?"
"Argh! Ini pasti ulah peretas."
"Menyebalkan! Kenapa mereka tidak merampok bank saja."
Reyna tertawa singkat, lalu menghampiri gadis lugu itu. "Kenapa kau masih di sini?" tanyanya.
"A-aku, t-terima kasih," ucapnya hati-hati.
"Tidak masalah, aku tidak suka melihat kasus pembulian," kata Reyna.
"Namaku, Teya." Gadis itu mengulurkan tangan untuk berkenalan.
Reyna tersenyum, menerima uluran tangan gadis itu, lalu memperkenalkan namanya, "Reyna. Senang bertemu denganmu. Sampai nanti."
Reyna kembali menghampiri Fan yang sudah menunggu di mobil. Mereka masuk ke dalam, lalu kembali melaju, menuju ke gedung asrama.
"Kau keren," puji Fan.
"Terima kasih," jawab Reyna. "Terima kasih juga bantuannya. Kau memang Fan," tambahnya, memuji nama Fan yang dikenal sebagai peretas terkenal di jaringan, tapi tak berwujud di permukaan, membuat orang biasa sulit untuk menemukannya.
"Oke, ini pertama kalinya kau memujiku," kata Fan.
"Benarkah?" Reyna tertawa.
***
Fan tiba di rumah ketika hari sudah gelap. Tadi, sebelum memutuskan untuk pulang, Fan lebih dulu mengunjungi sebuah toko untuk membeli beberapa barang mahal yang nantinya akan dia jual kembali.
Seperti itu lah pekerjaannya sekarang, membeli barang dengan kartu kredit curian, lalu menjualnya kembali dengan harga miring. Hal itu Fan lakukan karena dia tahu para pembeli lebih menyukai barang murah, tetapi kualitas oke.
Fan melihat Jamie yang kelelahan di atas sofa. Seharian pria itu berkendara di jalanan untuk mengantar paket menggunakan motor sewaan. Sementara Mahesa masih berkutat di depan komputer, tetapi bedanya saat ini dia sedang bermain game.
"Aku tidak bisa bertahan seperti ini terus, kita harus mencari profesi baru," ucap Jamie tiba-tiba.
Fan meletakkan barang-barang yang baru dia beli di meja, lalu melepas jaketnya. Dia menghampiri Mahesa, lalu menyuruh pemuda itu untuk pindah ke laptop sebab Fan ingin menggunakan komputer.
Mahesa manyun, padahal dia hampir saja mengalahkan raja dalam game itu. Sekarang dia harus memulainya ulang.
"Aku juga tidak bisa membiarkan situs perbelanjaan ini terus beroperasi, seseorang bisa saja melacak keberadaan kita," kata Fan.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Jamie.
"Kenapa bertanya padaku, bukankah itu tugasmu untuk mencari seseorang yang bisa kita gunakan uangnya," balas Fan.
"Oke biarkan aku bekerja sebentar. Bisa aku pinjam laptopmu?"
"Tidak," tolak Mahesa yang sedang fokus bermain game.
Jamie mengendus. "Aku akan menggunakan ponselku."
Untuk beberapa waktu suasana di rumah hening. Mereka sedang fokus pada kegiatan masing-masing. Fan yang sedang memperbarui situs miliknya, Mahesa yang sedang melawan raja dalam game, dan Jamie yang sedang mencari target baru.
Sampai akhirnya Jamie membuka suara. "Aku dapat!"
Dia segera bergegas menghampiri Fan untuk menunjukkan sebuah profil seseorang pada pria itu. Fan menoleh, melihat ke layar ponsel Jamie.
Mr. Alessandro.
"Tidak," tolak Fan segera tanpa harus berpikir panjang. Kedua matanya bahkan membesar menatap Jamie, membuat Jamie ikut membesarkan mata, bingung.
"Kenapa? Dia seorang pengusaha, memiliki banyak uang, bahkan ada situs lama yang mengatakan bahwa dia seorang mafia," kata Jamie.
"Kau tidak tau siapa dia."
"Aku tau, dia Mr. Alessandro."
"Bukan itu yang aku maksud."
"Lalu apa?"
"Dia calon papa mertua ku," kata Fan pada akhirnya.
Jamie melongo. Bahkan Mahesa yang sangat fokus bermain game terpaksa menghentikan permainannya untuk menatap Fan, serius.
"Aah, sudah jangan dipikirkan!" ucap Fan jengah.
"Kau serius?" tanya Jamie.
"Aku tidak pernah seserius ini."
Jamie menghela, dia terpaksa kembali ke sofa untuk mencari target lain.
Kini suasana kembali hening. Sampai akhirnya seseorang bersuara. Kali ini bukan Jamie, melainkan Mahesa.
"Aku tau," kata pemuda itu.
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita membobol bank?"
"Tidak. Itu terlalu beresiko," tolak Fan.
"Kita retas akun bank swasta." Mahesa mengubah pendapatnya.
"Tidak," tolak Fan.
"Ya sudah, kalau begitu retas saja akun bank ayahku," ucap Mahesa pada akhirnya.
"Kau mau jadi anak durhaka?" tuding Fan.
"Ayahku sudah menjadi ayah durhaka karena tidak mengirimkan uang padaku," ucap Mahesa memelas.
"Kalau begitu aku turut berduka cita," kata Fan iba.
"Aku sudah tau sekarang!" Akhirnya Jamie bangkit dari sofa, menghampiri Fan dan Mahesa, memberitahu mereka rencananya.
Fan dan Mahesa fokus mendengarkan Jamie. Mereka membuat rencana baru. Sampai semuanya setuju dengan tugas masing-masing.
"Oke." Akhirnya Fan menyetujui rencana itu.
Apa rencana yang mereka buat? Apakah itu beresiko? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang masih mengejar-ngejar Jamie? Terlebih lagi orang-orang itu sudah melihat Fan dan Reyna.
Sesuatu bisa saja terjadi pada Reyna. Meskipun Reyna jago bela diri, tetapi tidak menutup kemungkinan gadis itu akan gugur jika penyerangnya semakin banyak dan bersenjata. Belum lagi kelompok pembuli yang mungkin ingin membalas dendam padanya.
Bagaimana Fan akan melewati semuanya. Mereka memiliki banyak musuh sekarang.