11. Permintaan Maaf

1915 Kata
Sekarang Reyna sudah berada di belakang rumah Fan, tepatnya di atap rumah yang terbuat dari genting. Dia duduk sambil meluruskan kaki ke bawah, melihat gedung-gedung tinggi di depannya, sambil menunggu Fan datang menghampiri. Tempat ini adalah tempat yang sama saat pertama kali Reyna mengobrol dengannya, membicarakan tentang persetujuan mereka. Dan jujur, sebenarnya ini bukan tempat yang indah, di sini mereka hanya bisa melihat tembok-tembok gedung yang menjulang tinggi. Reyna tahu kalau rumah ini terletak di pinggir kota, ukurannya tidak besar, bahkan terhimpit oleh perbatasan kota dan rumah-rumah kecil lainnya. "Apa yang mengundangmu kemari?" Fan menghampiri gadis itu, bertanya, lalu duduk di sebelahnya. "Aku ... ingin meminta maaf," jawab Reyna, ada nada menyesal dalam kalimatnya itu. Sejenak Fan terpaku, dia berpikir jika Reyna akan menolak ajakan nikahnya beberapa hari yang lalu. Pria itu menghela. "Kau tidak harus meminta maaf," ucap Fan. "Itu hak mu untuk memilih," tambahnya. "Tidak, aku tidak sedang membahas tentang persetujuan itu." Reyna menoleh ke arah Fan, dapat dia lihat raut wajah Fan yang kecewa. "Tidak perlu merasa kasihan padaku." Fan menoleh padanya. "Bukankah kau sudah diterima di kampus yang kau inginkan, kau jadi bisa bertemu dengan pria yang kau cintai setiap hari. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Kedua alis Reyna menyatu, heran, dari mana Fan tahu tentang semua itu. "Jadi kau masih sering membututi ku diam-diam." Gadis itu bertanya dengan tatapan mengintimidasi. Fan sampai dibuat mundur, tangannya menopang ke belakang tubuh. "Aku, aku, aku, minta maaf." "Tidak, aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku sangat marah hari itu. Aku tau aku terlihat bodoh, mencintai seseorang padahal aku tau dia sudah mencintai orang lain." Reyna menekuk kedua lutut, lantas memeluknya, dagunya bertopang di atas sana, tatapannya kembali mengarah pada gedung-gedung pencakar langit. Fan menunduk, dia tau bagaimana rasanya berada di posisi itu. Dia juga merasa kalimat itu sangat cocok untuknya. Fan kembali mendongak, menatap ke arah yang sama dengan Reyna. "Ya, memang bodoh. Meskipun mencintai seseorang bukan lah sesuatu yang kriminal, tapi resikonya lebih besar dari tindakan kriminal. Kau akan terpenjara di hatimu sendiri. Hati yang tidak akan pernah membuka kesempatan untuk mencintai orang lain." Fan tidak sedang menyalahkan Reyna. Dia sedang menyalahkan dirinya sendiri. Reyna semakin rapuh, tubuhnya melengkung seiring dengan kepalanya yang tenggelam di kedua lutut yang tertekuk. Fan menyadari jika Reyna merasakan hal yang sama dengannya. Dia mencoba untuk menghibur gadis itu. "Sudah lah, ayo kita makan. Kau juga membutuhkan energi untuk mencintai seseorang." Fan bangkit dari posisi duduknya. Reyna mendongak, melihat ke arah Fan yang sedang menunggunya bangkit. Dia menatapnya sebentar, mencari tahu tentang perasaan pria itu padanya. Apa dia benar-benar mencintaiku? Reyna tampak tidak yakin. Kemudian dia melihat Fan tersenyum. "Ayo," ajak pria itu lagi, bedanya kali ini Fan sambil mengulurkan tangan untuk menyambut gadis itu. Reyna tersenyum singkat. "Ayo," katanya. Dia bangkit tanpa menerima uluran tangan Fan. Reyna melempar senyum miring. "Kau mengira aku tidak bisa bangun sendiri?" "Aku tidak selemah itu," kata Reyna lagi. Fan tertawa singkat. Tangannya yang tadi terulur untuk membantu gadis itu kini sudah berpindah ke pinggang. Dia melihat Reyna masuk lebih dulu melalui lubang kecil berbentuk persegi di atap rumahnya. "Aku tau sebenarnya dia gadis yang kuat," ucap Fan sendirian. "Tunggu aku." Reyna menuruni tangga gantung yang tadi dia gunakan untuk naik ke atap. Dia mendarat dengan mulus di dalam rumah. Gadis itu melangkah duluan ke depan, lalu dia melihat Mahesa yang masih berkutat di depan komputer. "Kau masih di sini?" tanya Reyna, membuat Mahesa terkejut. Pemuda itu buru-buru mengambil kartu kredit yang baru saja keluar dari cetakan. "Apa itu?" Reyna menyusul Mahesa yang menuju ke arah pencetak kartu. Mahesa menggeleng sambil menyembunyikan kartu itu di genggaman, dan menyembunyikan genggaman di belakang tubuh. "Ini mesin pencetak kartu?" Reyna mengecek benda itu dengan seksama. Fan tiba dan melihat Mahesa yang memberikan isyarat, tentang Reyna yang bisa saja mengetahui perdagangan gelap yang mereka geluti. Segera Fan mengajak Reyna pergi. "Hei, ayo, kau bilang ingin makan." Sebenarnya Reyna masih penasaran dengan apa yang dilakukan Mahesa tadi, sampai-sampai membuat pemuda itu terburu-buru. "Kau bilang kau masih SMA, bukankah seharusnya kau berada di sekolah sekarang." Reyna menatapnya penuh selidik. Mahesa diam saja, tangannya masih bersembunyi di belakang tubuh. Fan yang menyadari situasi darurat pun segera mencari alasan. "Ee, dia sedang libur hari ini karena rapat guru. Ayo, kita pergi." Reyna mempercayainya. Dia melangkah bersama Fan menuju pintu keluar. Sebelum benar-benar pergi, Fan menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang, menatap Mahesa penuh ancaman. "Kau harus bersekolah besok!" titah Fan sebelum menutup pintu. Mahesa meniup poni yang menutupi kening. "Mereka melebih-lebihi orang tuaku," katanya sebelum melanjutkan kegiatan mencetak kartu. *** Sekarang Fan dan Reyna berada di mobil, sedang dalam perjalanan menuju ke tempat makan. "Jadi kau sudah tau kalau aku lulus seleksi." Reyna membuka percakapan. Fan menggaruk belakang telinga. "Iya, aku bisa melihatnya sebab data dirimu tersimpan di komputer ku," ucap Fan beralasan. "Tidak masalah," kata Reyna. "Apa kau juga terkejut? Aku tidak pernah berpikir jika akan mendapatkan skor tertinggi." Gadis itu menertawakan diri sendiri. Fan menyadari Reyna yang tidak percaya diri. "Kau sudah berusaha keras, itu sebabnya kau mendapat hasil yang bagus." Reyna tersenyum. "Terima kasih." Sejenak Fan menoleh ke arah gadis itu. Dia merasa lega setelah melihatnya tersenyum. Dia berhasil membuat Reyna senang. Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil Fan menepi ke sebuah restoran. Reyna keluar dari mobil, dan melangkah lebih dulu menuju ke resto. Baru saja Fan melepaskan sabuk pengaman. Dari spion mobil, dia melihat dua orang pengendara motor memperhatikan mobilnya. Fan mengingat penampilan mereka. "Astaga." Fan segera keluar dari mobil, mengejar Reyna, menghentikan gadis itu untuk masuk ke restoran. "Kita cari tempat lain, Rey," ucap Fan. "Ha?" Reyna kebingungan. "Kenapa?" Pengendara motor di seberang jalan menyadari bahwa Fan sudah melihat keberadaannya. Mereka segera menyalakan mesin untuk menghampiri Fan dan Reyna. "Ayo, cepat!" Fan menarik paksa tangan Reyna, menyuruh gadis itu untuk kembali masuk ke mobil. Mulanya Reyna tidak ingin menuruti permintaan Fan yang tiba-tiba berubah. Namun, setelah dia menyadari ada dua pengendara motor yang sangat mencurigakan mengarah pada mereka, Reyna pun segera berlari tanpa paksaan. Fan menyalakan kembali mobilnya. Dia menginjak pedal gas, meninggalkan halaman parkir restoran, dan menjauh dari kejaran dua pengendara motor itu. "Kenapa? Siapa mereka?" tanya Reyna yang masih tidak tahu siapa mereka, dan apa alasan mereka mengejar. "Aku tidak tau. Mereka orang-orang yang mengejar Jamie waktu itu. Mereka pasti ingin aku menunjukkan di mana Jamie berada," jelas Fan. "Jamie?" Reyna mengerutkan kening. "Siapa lagi dia?" tanyanya lagi. "Orang yang membukakan pintu untukmu tadi siang," jawab Fan. "Oke, sekarang aku tau namanya. Lalu apa yang menyebabkan mereka mengejarnya?" Fan tidak sempat menjawab karena dia harus memutar stir mobil untuk belok ke sebuah jalan sebab pengendara motor itu menyalipnya dan hendak menjegat. "Aahk." Reyna hampir saja terbentur. "Pakai sabuk mu!" titah Fan. Tidak punya pilihan lain, Reyna pun segera memakai sabuk pengamannya. Fan segera menambah kecepatan saat menyadari dua pengendara motor itu berada cukup jauh di belakang. Dia kembali berbelok ke sebuah jalan, lalu berbelok lagi, mengambil jalan sempit yang seharusnya tidak dilalui mobil. Seorang pejalan kaki terpaksa merapat ke tembok sebab melihat sebuah mobil masuk dan mengarah padanya. "Fan!" teriak Reyna yang mengira bahwa Fan akan menabrak pejalan kaki itu. "Aaaa!" Gadis itu memejamkan kedua mata. "Tenang lah," ucap Fan setelah berhasil melewatinya. "Hei! Apa kau sudah gila!" teriak pejalan kaki itu, disertai dengan u*****n, "Dasar, Anj*ng"!" Reyna menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa pejalan kaki itu masih hidup. "Apa kau sudah gila!" protesnya pada Fan. "Tenang lah, semuanya akan baik-baik saja," kata Fan. "Pegangan!" Reyna menahan napas untuk tidak marah. Dia kembali duduk dengan tenang di dalam mobil yang melaju sangat cepat. Dua pengendara motor itu akhirnya kehilangan jejak mobil Fan. Mereka berhenti ketika tiba di tikungan, dan mobil Fan sudah tidak terlihat. Namun, pejalan kaki yang tadi hampir saja menjadi korban tabrak lari masih mengumpat sepanjang jalan, membuat dua pengendara motor itu tahu ke mana Fan pergi. "Dasar mobil sial*an!" umpat sang pejalan kaki. Kemudian, dia melihat pengendara motor yang kini menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Pejalan kaki itu kembali merapat ke tembok sebab dua pengendara itu berjalan beriringan. Sekarang dia sangat marah. "Aaargh! Mereka pikir hanya mereka yang punya kendaraan! Aku masih punya kaki untuk berjalan! Dasar orang-orang tidak bersyukur!" *** Reyna merasakan mobil Fan yang melaju semakin normal. "Mereka sudah kehilangan jejak," ucap Fan sambil mengurangi kecepatan. Akhirnya Reyna bisa menghembus napas lega. Namun dia tidak merasa se-lega itu. Dia menyuruh Fan untuk berhenti. Fan pun berhenti di dekat bangunan beton yang belum selesai di bangun. Reyna keluar dari mobil. Dia hampir saja tidak bisa merasakan nikmatnya oksigen. Fan ikut keluar, memutari mobil untuk menghampiri gadis itu. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Kemudian …. Dugg! "Aa." Reyna baru saja meninju pipi Fan. "Aku hampir mati karenamu!" seru Reyna kesal. Fan meringis sambil memegangi pipinya. "Kau sangat pandai menonjok," katanya, sempat-sempatnya memuji Reyna. "Ugh." Reyna melangkah, menaiki bangunan beton, dia masih kesal. Bisa-bisanya pria itu terlihat biasa saja setelah hampir membuat mereka bertemu Malaikat Izrail. Reyna duduk di atas bangunan itu. Fan menghampirinya dengan rasa sesal. "Kau marah?" Reyna membuang wajah darinya. Ini tidak seperti yang dia pikirkan. Reyna berpikir hari ini akan menjadi hari di mana dia bisa mulai menyukai Fan. Namun nyatanya salah, dia justru semakin membenci pria itu. "Aku tau kau marah," ucap Fan. "A-aku tau aku mengacaukan harimu. Seharusnya kita berada di restoran dan sedang menikmati makan siang sekarang." Reyna menghela napas panjang. "Aku minta maaf. Aku selalu saja membuatmu marah," ucap Fan penuh penyesalan. "Dan sekarang aku membuatmu berada dalam masalah." Reyna memang masih diam, tetapi hatinya sedikit luluh mendengar pria itu menyadari kesalahannya dan menyesalinya. Dia menoleh, melihat Fan yang menunduk dalam posisi berdiri. Sekali lagi Reyna menghela napas panjang. Gadis itu bangkit, gantian dia yang mencoba untuk menghibur pria itu. "Sudah lah, ayo kita cari tempat makan lain." Fan melihatnya, Reyna tersenyum meski tipis. "Kau sedang membujukku?" tanyanya, hanya untuk memastikan. "Mau atau tidak?" ulang Reyna. Fan kembali tersenyum. Mereka sudah siap untuk kembali ke mobil dan mencari tempat makan baru. Namun suara seseorang membuat mereka terpaku di tempat. "Mau makan di mana?" Dua orang yang tadi mengejar sudah tiba, dan sekarang sedang berada di belakang Fan dan Reyna, mengepung mereka di atas sana. "Hati-hati, Rey." Fan menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya. "Oh, ayolah, aku tidak akan menyerang kalian. Lebih baik kau tunjukkan di mana Jamie sekarang!" titah orang itu. "Kenapa kalian mencarinya?" tanya Fan. "Kau tidak perlu tau. Sekarang di mana dia!" Orang itu maju, siap untuk menghajar Fan. "Kalau begitu kalian juga tidak perlu tau!" kata Fan. Mereka menggeram. Kemudian, salah satu dari orang itu menggunakan kelemahan setiap pria, yaitu menyekap wanita yang sedang bersama dengannya. Dia menarik Reyna dan menyandera gadis itu dengan pisau di leher. "Hah!" "Rey!" Fan dihalangi oleh orang yang satu lagi. Namun Reyna tidak berteriak, tidak seperti gadis-gadis pada umumnya. Ketika orang itu menyeretnya, Reyna mengambil kesempatan untuk menendang kemaluan pria itu dengan tumit. "Akh!" Orang itu meringis. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Reyna segera menendang senjata yang di genggaman pria itu. Kemudian dia menghajarnya habis-habisan. "Akh! Akh! Ugh!" Suara pria itu membuat Fan dan orang yang satu lagi melongo. Mereka bahkan tidak jadi bertarung sebab tidak ingin melewatkan bagaimana cara Reyna mengalahkannya. "Bangun!" Reyna menodongkan pisau yang sebelumnya berada di tangan pria itu. Dia sudah berhasil membuatnya tergeletak di lantai. Fan dan orang yang satu lagi saling pandang. Tidak menyangka jika ada kekuatan di tangan dan kaki gadis itu. "Haha. Kau mau melawannya juga?" tanya Fan, menyuruh pria itu untuk melawan Reyna. "Aargh!" Kini orang itu marah dan hendak meninju Fan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN