10. Napas Pagi

1928 Kata
Fan tiba di rumah. Masih ada Jamie dan Mahesa di ruang tengah. Mereka berdua masih terjaga. "Fan!" Dua orang itu membuat pria yang baru saja membuka pintu terkejut. "Apa?" jawab Fan sambil meletakkan barang bawaannya di meja. "Ada tiga orang lagi yang memesan barang di situs belanja online kita," ucap Jamie. "Benarkah?" Fan terkejut. Segera dia mendekat, melihat layar komputer yang saat ini sedang diambil alih penggunaannya oleh Mahesa. "Kau menerima pesanannya?" tanya Fan. "Ya, mereka sudah bayar." "Kartu kreditnya?" "Juga sudah dibuat." Jamie memamerkan tiga kartu kredit baru yang mereka dapat. Perlahan, sudut bibir Fan tertarik. Mereka bertiga merayakan pencapaian hari ini dengan ber-tos ria. "Ingat, kita harus tetap berhati-hati. Kalian tidak ingin korban kita mengetahui kalau kartu kreditnya telah digandakan bukan," ucap Fan. "Satu lagi pesanku, jangan pernah gunakan kartunya untuk melakukan tarik tunai." Mahesa dan Jamie tampak mengangguk paham. *** Di langit, bulan masih tampak cerah memantulkan cahaya. Sudah lewat dini hari, waktu subuh pun sudah tiba sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini Reyna sedang duduk di sofa ruang tengah. Ada laptop yang menyala di meja depannya. Dia sedang menunggu waktu pengumuman beasiswa. "Bagaimana hasilnya, kau diterima?" Zein melangkah dari arah belakang, hendak menghampiri putrinya. Dia melihat gadis itu, tampak gugup. "Belum ada pengumuman apa-apa," jawab Reyna. Gadis itu duduk sambil melipat kedua kaki di atas sofa. Sesekali dia menggigiti ujung-ujung jarinya. "Kau gugup?" Zein mendarat di sebelah putrinya. "Ya, entahlah, aku tidak tau kenapa aku merasa tidak akan lulus seleksi," jawab Reyna. "Tenanglah. Apa kau tidak menjawab dengan benar saat ujian?" "Em, ya … mungkin, aku tidak sempat mengulang bacaan ku sebelum ujian." Reyna menjawabnya dengan jujur. "Tidak masalah. Kau bisa melanjutkan kuliah di kampus lamamu jika tidak berhasil. Tidak ada pilihan yang buruk bukan." Zein menenangkan anak gadisnya, menepuk-nepuk pundak gadis itu, membuatnya mengulas senyum meski tipis. Reyna teringat. Masih ada sesuatu yang belum sempat dia ceritakan pada papanya. Tentang Fan, dia belum sedikit pun membicarakan ajakan nikah pria itu pada papanya. "Em, Papa," panggil Reyna ragu. Zein menyahut di tengah-tengah aktivitas kecilnya menyalakan TV. Reyna melihat wajah papanya yang tidak sepenuhnya terfokus ke arahnya. Zein sudah berhasil menyalakan TV, dan sekarang dia sedang duduk santai sambil memakan camilan yang selalu tersedia di meja. "Em, ada seseorang yang mengajakku … " Reyna belum sempat menyelesaikan kalimatnya sebab layar laptop di depan mereka sudah berubah. Pengumuman itu akhirnya keluar. Samar-samar Reyna membaca hasilnya. Dia sedikit terlonjak ketika mendekat ke arah laptop. "... lulus." Zein mengalihkan perhatian dari TV. Dia melihat Reyna. "Kau lulus?" tanyanya, lantas ikut mendekat ke arah laptop untuk membaca sendiri hasil pengumuman itu. "Haha. Kau memang anak gadis papa yang pandai." Zein memberikan selamat pada Reyna dengan tepukan di kepala. Sementara tatapan Reyna masih terpaku, tangannya menggerakkan mouse laptop, memperbesar layar untuk melihat rincian hasil ujiannya. Kedua mata Reyna membulat sempurna, tampak tak percaya dengan hasil yang telah dia capai. "Kau mendapat skor tertinggi?" Zein bertanya untuk memastikan apa yang dia lihat. Reyna tertawa kecil sedikit ragu. "Hhe … Ini seperti keajaiban," ucapnya sambil menoleh ke wajah papa. Dia terlihat tidak percaya diri. Bibir Zein yang semula melengkung dihias senyum pun perlahan pudar sebab melihat raut wajah putrinya yang tidak merespon dengan baik. Beberapa detik hening. Kemudian, Zein terlonjak ketika tiba-tiba saja Reyna berteriak lantas memeluknya. "Yeay! Papa, aku mendapat skor tertinggi!" seru gadis itu, mengundang orang lain yang berada di apartemen untuk menghampiri mereka. Zein tertawa, mendukung semangat putrinya yang tiba-tiba muncul setelah merasa tidak percaya dengan hasilnya sendiri. Dia memaklumi apa yang dirasakan anak gadisnya. Terkadang memang seperti itu, kepercayaan diri muncul di ujung rasa tidak percaya diri. "Selamat, kau memang hebat, Nak." Zein menepuk-nepuk punggung Reyna. Gadis itu masih tertawa senang. Sekarang dia percaya pada dirinya sendiri. Dia tidak akan lagi bergantung pada seseorang yang tidak menghargainya. "Ada apa?" Azzima baru saja tiba untuk menanyakan berita apa yang telah membuat papa dan anak gadisnya itu menciptakan kebisingan di pagi-pagi buta. Gianna juga tiba di sana ketika Reyna sudah bergegas hendak bersiap memulai hari. "Aku harus bersiap untuk membeli peralatan kuliah baru," ucap Reyna sambil mengguncang tubuh kakak iparnya, penuh semangat. "Benarkah? Kau lulus." Gianna mengikuti ke mana arah Reyna melangkah. Azzima menghampiri tempat semula Reyna duduk. Dia melihat layar laptop yang masih menampilkan hasil pengumuman kelulusan adiknya. "Jadi Papa mengizinkannya untuk berkuliah di sini?" tanya pria itu. "Ya, tidak ada salahnya dia berkuliah di kampus tempat kakaknya mengajar. Kau bisa sambil menjaganya, Papa akan memberikan sebagian tanggung jawab papa atas Reyna kepadamu." Azzima tidak bisa menolak perintah papanya, tetapi dia juga tidak bisa menolak untuk bertanya, "Apa mama juga sudah tau?" "Papa akan bicara padanya nanti." Mendengar jawaban itu, membuat Azzima memiliki sedikit *celah* untuk mengelak. "Bagaimana jika Mama tidak mengizinkan?" "Papa akan membujuknya," jawab Zein. Kini Azzima tidak memiliki sanggahan lagi. Dia kembali melihat hasil pengumuman itu. "Aku tidak menyangka jika Reyna sepandai ini. Semua skornya sempurna." "Kau tidak boleh menyudutkan adikmu." Zein memperingati putranya. "Tidak, aku tidak sedang menyudutkan. Justru aku sedang kagum padanya." Azzima sedikit tertawa untuk menyakinkan papa. "Baguslah." Zein mengakhiri obrolan dan kembali fokus pada berita di TV. Sedikit demi sedikit, mentari pagi bersinar hangat di cakrawalanya. Suara deru kendaraan pun mulai memenuhi kota, menciptakan kebisingan yang tidak pernah absen di setiap harinya. Reyna sudah siap untuk pindah. Namun sebelum itu, Reyna harus ikut papanya pulang untuk membujuk sang mama dan meminta izin pada wanita itu. Selama berkuliah di ibukota nanti, Reyna akan tinggal di asrama. Fasilitas itu sudah sepaket dengan beasiswa yang dia dapat. Dia tidak keberatan, justru hal ini lah yang dia inginkan sejak awal, hidup mandiri tanpa pengawasan kakak, papa, dan mamanya. "Kau yakin akan tinggal di asrama?" Gianna bertanya. Saat ini dia sedang duduk di atas tempat tidur Reyna, melihat gadis itu memindahkan barang-barang yang kemarin sudah sempat dia kemas. "Ya," jawab Reyna, tetap fokus pada kegiatannya. "Kau tidak akan betah tinggal di sana," ucap Gianna. "Tidak, kau salah. Justru hal ini lah yang sudah aku tunggu sejak lama. Aku akan hidup mandiri." Reyna merayakan keberhasilannya. Gianna tidak mengerti dengan keinginan Reyna. "Kau memiliki papa dan mama yang lebih dari sanggup untuk membiayai hidupmu. Kenapa kau memilih untuk hidup seperti itu." "Seperti apa?" tanya Reyna. "Seperti … gadis asrama." Gianna tampak tidak menyukai kehidupan itu. "Memangnya kenapa? Apa karena gadis-gadis di asrama tidak mencuci pakaiannya dengan benar? Apa mereka tidak bisa bebas jalan-jalan di akhir pekan? Atau karena mereka tidak memiliki pacar?" Gianna mengendus, seharusnya dia tahu kalau Reyna sudah mengetahui semua itu. "Kau akan merasakannya sendiri nanti," ucap Gianna menyerah. "Aku pastikan bahwa semua itu tidak akan terjadi padaku." Reyna berikrar, membuat Gianna berpikir ulang atas semua yang dia katakan sebelumnya. *** Universitas Burnei, tampak lebih ramai dari hari ketika Reyna mengunjunginya waktu itu. Dia sudah sampai di lobi asrama, sedang mengurus tempat tinggal baru. Sebenarnya tidak, bukan Reyna yang mengurusnya, tapi Zein. Papanya itu memaksa untuk mengantarnya sebelum benar-benar melepaskannya untuk hidup mandiri. "Papa, aku sudah bilang aku bisa mengurusnya sendiri." Reyna berbicara dengan sedikit berbisik pada papanya. "Memangnya kenapa kalau papa yang mau mengurusnya?" Memang bukan apa-apa bagi Zein, tapi Reyna merasa ada yang tidak beres dengan tatapan gadis-gadis lain yang mungkin seusia dengannya. "Lihat, anak-anak yang lain tidak ada yang membawa papanya. Aku bukan anak paud, Pa." Kedua pipi Reyna memerah menahan malu. Sejak tadi, Reyna bisa merasakan tanda-tanda ketidaknyamanan. Namun Zein tidak menanggapinya dengan serius. "Hei, tenanglah, mereka tampak senang melihat papa," kata Zein. Reyna menggeram kecil. "Ugh! Bahkan anak SMA saja bisa mengurus keperluannya sendiri," gumamnya. Sejak tadi Reyna menahan diri atas tatapan yang tertuju pada dia dan papanya. Sampai akhirnya semua selesai diurus. Reyna mengantar papanya sampai di depan lobi. "Jangan lupa telepon papa jika butuh uang," ucap Zein sebelum menutup kaca mobil dan melaju meninggalkan putrinya. Reyna memejamkan mata, tentu saja dia geram. Sejak tadi calon teman-teman asramanya itu memperhatikan mereka. Zein tidak terlihat seperti papanya. Ini lah salah satu bencana yang Reyna alami sebab papanya terlihat awet muda. "Apa dia benar-benar papamu?" "Oh, dia sangat tampan." "Dan awet muda." Reyna terkejut ketika suara-suara itu sudah berada sangat dekat dengannya. Entah sejak kapan gadis-gadis itu berdiri di belakang Reyna untuk mengagumi papanya. "Ugh, yang benar saja!" Reyna menggeram, melangkah meninggalkan calon teman-temannya yang telah terpana dengan aura ketampanan papanya. Di kamar asrama, Reyna sudah selesai berkemas. Dia membuka jendela lebar-lebar untuk menyambut kehidupan baru yang sudah lama dia impikan. Seperti apa kira-kira kehidupan selanjutnya nanti. Reyna membuka ponsel. Dia melihat dan berhenti tiba-tiba di kontak Ryan. Tangan dan otaknya terlalu refleks terhadap nama itu. Sejenak dia terpaku untuk berpikir ulang, tentang rencana untuk menghubunginya atau tidak. Dia menekan papan obrolannya bersama pria itu, cukup lama, lalu memilih untuk menghapusnya. "Aku hampir lupa, aku harus meminta maaf pada seseorang," ucap Reyna. *** Fan keluar dari kamar, rambutnya berantakan, matanya tampak masih setengah terpejam, bahkan kaus putih dan celana pendeknya terlihat kusut. Sudah bisa dipastikan bahwa pria itu baru saja bangun dari tidur. Dia menggaruk leher, berjalan lambat menghampiri kebisingan yang mengganggu tidurnya. "Aku sudah bilang, seharusnya kau mencetaknya dengan kertas stiker." Jamie terdengar sedang protes. "Aku memang ingin mencetaknya dengan kertas stiker, tapi kau tidak membeli kertas itu kemarin," ucap Mahesa. Jamie melongo. "Benarkah? Aku merasa aku sudah membelinya." Dia mengacak-acak kotak yang berisi perlengkapan penjualan mereka. "Kita harus mengantar barang ini secepatnya." "Kenapa kalian sangat berisik pagi-pagi buta seperti ini." Fan muncul dengan wajah bantal, memarahi penghuni rumah yang membuat tidurnya tidak nyaman akhir-akhir ini. Mereka selalu berisik. Mahesa dan Jamie menghentikan sejenak kegiatannya untuk melihat jam, sudah pukul sebelas siang, dan Fan berkata pagi buta. Dapat dipastikan bahwa pria itu masih belum bangun dari tidurnya. "Itulah sebabnya aku berkata sangat buruk memulai tidur setelah lewat tengah malam," ucap Jamie. Mahesa tertawa singkat sebelum melanjutkan tugasnya mencetak bukti pemesanan. Fan baru sadar kalau hari sudah siang setelah melihat jam. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pergi sekolah." Sekarang dia memarahi Mahesa. "Aku harus mencari uang," jawab Mahesa. "Kau harus sekolah. Aku tidak mengajarimu dan memberimu tempat tinggal untuk berhenti bersekolah!" ucap Fan memperingati. Dia sadar semenjak memberi Mahesa tempat tinggal dan mengajarinya skill pemrograman, pemuda itu menjadi malas untuk pergi ke sekolah. Mahesa tidak mendengarkannya dengan baik sebab sibuk menutup hidung. Jamie yang berada di sebelahnya pun terpaksa harus menutup hidung juga. Fan belum menyadari apa yang terjadi. "Apa? Kenapa? Memangnya aku bau?" Mahesa mengangguk untuk memberitahu Fan bahwa napas paginya benar-benar bau. "Seharusnya kau mencuci wajah dan menggosok gigi sebelum menghampiri kami," ucap Mahesa dengan suara parau sebab hidungnya tersumbat. Fan terpaku di tempatnya. Kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Jamie segera bergegas untuk membuka pintu yang langsung mengarah pada mereka. Reyna muncul setelah Jamie membuka pintu lebar-lebar. "Kau siapa?" tanya Jamie. Dia bergeser sedikit untuk memperlihatkan Reyna pada pemilik rumah. "Oh, hai." Reyna menyapa Fan, juga Mahesa yang sedang duduk di depan komputer sambil menutup hidung. "Hai," balas Mahesa. Sedangkan Fan terbelalak melihat Reyna yang bertamu tiba-tiba. Kenapa? Tentu saja sebab dia belum mandi, wajahnya masih penuh dengan rheum dan bercak putih yang tidak tau keluar dari mana, bajunya kusut, rambutnya berantakan, dan dia sangat bau. Fan menghembuskan napas ke tangannya sendiri untuk mencari bukti apakah napasnya benar-benar bau, dan ternyata benar. Sejenak dia melihat ke arah Reyna lagi. Detik berikutnya, pria itu berlari meninggalkan mereka, menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Akhirnya Mahesa bisa bernapas dengan lega. Reyna memiringkan kepala. Dia baru saja melihat Fan yang tampak lebih buruk dari hari sebelumnya. "Dia belum mandi?" Reyna bertanya pada Jamie. "Setidaknya dia masih terlihat tampan bukan?" ucap Jamie. Dia berkata seperti itu sebab berpikir Reyna adalah pacar Fan. ___________ Jangan lupa tap love dan follow author ;))
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN