Fan menendang lantai rumahnya, geram. "Yang benar saja! Reyna menyukai pria seperti itu."
Dia baru saja kembali dari menguntit Ryan yang pergi bersama Bianca. Tak bermaksud apa-apa, Fan hanya penasaran dengan wujud pria itu.
"Sudah jelas aku lebih keren daripada dia." Fan mendarat di atas tempat tidur, lalu menghembuskan napas panjang.
Dia telah membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Seharusnya sekarang dia bersiap-siap untuk mencari uang. Sudah ganjil tiga hari dia tidak menyentuh komputer karena pikirannya dipenuhi oleh sosok Reyna.
Kemudian Fan ingat tentang beasiswa yang diambil Reyna. Dia menegakkan tubuh, bangkit dari posisi rebahan, lalu turun dari kasur. Fan membuka laptop kerennya, lalu berselancar ke situs web Universitas Burnei untuk melihat pengumuman kelulusan.
Dia memasukkan identitas Reyna yang masih tersangkut di komputernya karena kemarin membantu gadis itu mengubah data diri. Fan berhasil masuk, tapi ternyata belum ada pengumuman apa-apa. Tentu saja, hari ini bukan jadwal pengumumannya.
Namun Fan tidak berhenti begitu saja, dia berselancar lebih jauh, mencari tahu siapa yang bertanggung jawab untuk mengoreksi hasil tes beasiswa itu. Fan menemukannya, dia pun segera menghack akun penanggung jawab itu.
Fan berhasil masuk ke situs web pendidikan Universitas Burnei menggunakan akun penanggung jawab soal. Dia membuka berkas yang belum terselesaikan. Sekarang dia dapat melihat seluruh pendaftar berjumlah 278 orang, termasuk Reyna.
Fan menggulir ke bawah, lalu mulai mencari nama Reyna. Dapat, dia berhasil menemukan berkas milik Reyna. Segera Fan membukanya.
Kemudian, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah. Jika sebelumnya dia tampak bersemangat sebab berhasil menemukan nama Reyna, sekarang dia murung sebab melihat hasil ujian Reyna tidak mencapai target lulus.
Dari berkas itu sudah dapat dipastikan bahwa Reyna tidak akan lulus seleksi beasiswa dan tidak akan berkuliah di Universitas Burnei. Bahu-bahu Fan melemah. Dia akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Reyna lagi.
Menit selanjutnya, sebuah rencana tanpa arahan menghasut pikiran Fan. Kalau dia bisa melakukannya, kenapa tidak. Fan tidak akan kehilangan kesempatan. Dia akan membuat Reyna diterima, apapun yang terjadi.
Fan mereset seluruh data hasil seleksi. Dia mengubah jawaban soal, mencocokkannya dengan jawaban milik Reyna, dan membuat Reyna memiliki skor tertinggi sehingga status kelulusannya berubah. Kini Fan tersenyum bangga melihat pencapaian orang yang dia cintai, meskipun hasil itu sudah tidak original.
"Aku senang jika kau senang," ucap Fan, berpikir bahwa Reyna akan sangat senang ketika melihat pengumuman nanti.
***
Malam menyelimuti kota. Saat ini, Fan, Mahesa, dan Jamie terlihat sedang berkumpul di ruang tengah, hendak mengurus bisnis baru mereka, yang bisa dikatakan gelap. Gelap bukan berarti karena dilakukan pada malam hari, melainkan sebab tindakan yang berstatus ilegal.
Fan sudah berhasil membuat situs pembelian online di internet, khusus untuk menjerat korban pertama mereka. Sementara Mahesa, sejak sore dia memantau aktivitas ponsel korban untuk membuat pop up. Mereka hendak membuat korban tertarik dengan penawaran mereka sampai akhirnya korban melakukan transaksi pembelian secara online menggunakan kartu kredit.
Korban itu adalah seorang wanita paruh baya, tepatnya istri dari seorang pengusaha kaya yang gemar mengoleksi brand-brand terbaru dengan harga miring. Wanita itu sudah lama menjadi sasaran Jamie untuk menghasilkan uang. Bekerja sama dengan Fan dan Mahesa akan lebih mudah bagi Jamie untuk menjerat target, selain itu uang yang mereka hasilkan juga akan lebih banyak.
"Aku sudah membuat pop up yang akan mengarahkannya ke situs belanja online milik kita," ucap Mahesa.
"Dia sudah membukanya?" tanya Fan.
"Belum," jawab Mahesa. Menit berikutnya, "Sudah."
Fan segera mengecek situs belanja online miliknya. Benar saja, dia mendapat notifikasi pembelian. Pria itu tersenyum miring, tidak dia sangka ini akan sangat mudah.
Jamie langsung menghampiri Fan. "Dia membelinya?"
"Iya. Aku akan menggunakan data kartu kreditnya untuk membuat kartu kredit baru, lalu kita akan mencari barang pesanannya, setelah itu mengirimkannya ke alamat tujuan," jelas Fan.
Kedua tangannya tidak berhenti menginput angka dan huruf untuk membuat kartu kredit baru menggunakan data korbannya. Mereka sudah mempersiapkan semuanya kemarin. Bahkan Jamie sudah membeli beberapa kartu kredit kosong agar Fan bisa membuat kloning kartu kredit yang bisa digunakan untuk bertransaksi.
"Bagaimana kita membelinya?" tanya Jamie.
Fan belum menjawab. Dia masih fokus untuk menyelesaikan pembuatan kartu kredit. Hingga akhirnya, sebuah kartu kredit baru berhasil dicetak. Mahesa mengambil kartu itu dan memberikannya pada Fan.
"Waw, kalian benar-benar bisa membuatnya, hebat." Jamie tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Fan menyelesaikan pekerjaannya, membuat password baru untuk kartu kredit kloningannya. Dengan kartu itu mereka bisa melakukan transaksi pembelian tanpa harus mengeluarkan uang. Namun mereka harus berhati-hati dengan limit hariannya.
"Aku akan membelinya, dan kau yang akan mengirimkannya ke alamat penerima," ucap Fan pada Jamie.
"Setuju," jawab Jamie.
"Ternyata suami wanita itu pengusaha senjata haram," ucap Mahesa. Dia baru saja melihat riwayat transaksi kartu kredit wanita itu.
***
Di apartemen Azzima, mereka sedang makan malam keluarga. Zein belum pulang dari sana. Reyna menyuruhnya untuk menginap semalam.
"Jadi kapan pengumuman beasiswanya?" Zein bertanya pada putrinya, membuat Azzima yang sedang mengunyah tampak bingung mendengarnya.
Gianna pun sama bingungnya. Meski memang selama ini dia sudah tau tentang beasiswa itu, tapi dia terkejut sebab papa mertuanya tahu. Dia belum tahu jika Reyna sudah memberitahu hal itu pada papanya.
"Besok, mungkin sekitar pukul lima pagi," jawab Reyna.
"Papa Zein sudah tau?" Gianna bertanya.
Hal itu membuat Azzima protes sebab hanya dia yang tidak tahu dan baru mengetahuinya sekarang. "Beasiswa? Kau mengambil beasiswa?" tanyanya pada Reyna. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"
Gianna menutup mulut dan melanjutkan makannya. Sementara Reyna mencibir pada pria itu. "Kau tidak bisa menjaga rahasia," ucapnya.
"Rahasia? Apa maksudnya? Kenapa harus dirahasiakan?"
"Karena aku tidak yakin akan diterima. Selain itu juga, ada alasan lain yang membuatku ingin mengambilnya," jawab Reyna.
Azzima menaruh sendok di piringnya, lalu menatap yakin ke arah Reyna. "Jadi benar gadis yang dikejar-kejar security kemarin itu kau."
Reyna tertegun, kedua matanya membulat sempurna, dia hampir lupa jika kakaknya tahu soal itu. Sekarang bagaimana dia harus jujur.
"Dikejar security?" Zein bertanya dengan dahi berkerut.
"Haha, apa maksudnya? Kenapa aku harus dikejar-kejar security?" Reyna hendak mengelak karena tidak ingin papanya tau.
"Karena kau masuk ke ruang pengawas seleksi untuk mengubah data diri," tuding Azzima.
Reyna menatap kakak iparnya, bertanya melalui tatapan, apakah dia yang memberitahu Azzima tentang ini. Namun Gianna mengaku tidak melakukannya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa Azzima tiba-tiba mengetahuinya.
"Aku ingat, kalian mencuri kartu identitasku untuk kepentingan kalian. Kau pasti menggunakannya untuk mendaftar. Lalu setelah ujian seleksi, diumumkan bahwa peserta yang tidak menggunakan data diri sesuai dengan nomor induk mahasiswa nasional tidak bisa lulus meskipun nilainya mencapai target. Jadi kemarin kau diam-diam datang ke kampus untuk mengubah data dirinya." Azzima menjelaskan apa yang dia tahu dengan sangat jelas.
Reyna menggigit bibir bawahnya khawatir.
"Siapa pria yang bersamamu kemarin?" tanya Azzima lagi, nadanya sedikit memiliki tekanan.
"Kau bersama pria?" Zein juga tidak bisa diam saja.
"Aku … oke, baiklah, aku akan menjelaskannya. Aku memang datang ke kampus untuk memperbaiki data diri, lalu teman papa diam-diam membuntutiku untuk menawarkan bantuan."
"Siapa teman papa?"
"Namanya … um, aku tidak tau siapa namanya. Tapi dia memiliki inisial, Fan," jawab Reyna.
"Fan? Dia menawarkan bantuan padamu?" Zein tidak percaya. "Memangnya berapa yang kau bayar sampai dia mau membantumu?"
"Tidak." Reyna menggeleng sambil mengangkat bahu. "Aku tidak membayarnya."
Entah mengapa, tiba-tiba saja Zein menjadi lebih serius, kedua matanya menatap penuh selidik. "Kau tidak membayarnya dengan---"
"Tidak, Papa. Mana mungkin aku melakukannya." Reyna memotong ucapan papanya karena dia sudah tahu pertanyaan itu akan mengarah ke mana.
Seperti yang dikhawatirkan oleh orang tuanya sejak awal. Di pertengahan abad baru ini adalah masa di mana manusia mengalami kemunduran akhlak dan budi pekerti. Mereka sudah hidup di tahun 2045, generasi semakin maju dan berkembang, rata-rata masyarakat berada di golongan kelas menengah, hanya sedikit penduduk miskin, dan rasa kemanusiaan pun semakin menipis.
Fokus utama adalah bagaimana cara untuk mendapatkan uang, mereka tidak bisa hidup tanpa uang. Generasi gemilang bangsa banyak yang berkecimpung di dunia entertainment dan menjadi selebriti. Bahkan moto hidup mereka bukan lagi pendidikan, melainkan bisnis, apapun dilakukan untuk mendapat pemasukan. Anak-anak, remaja, bahkan dewasa, berlomba-lomba untuk menghasilkan uang melalui konten karena melonjaknya pengguna internet dari tahun ke tahun.
Perguruan tinggi bahkan hampir kehilangan peminat. Remaja yang telah menyelesaikan pendidikan wajib lebih memilih untuk berusaha menjadi artis, selebriti, bintang film, kreator, dan hal lain yang berada di ranah hiburan. Bahkan tak pilah-pilih, tawaran untuk menjadi bintang film dewasa, atau menjadi kupu-kupu malam menjadi pilihan kedua bagi para wanita yang gagal masuk audisi. Tak jarang para gadis juga membayar dengan tubuh mereka untuk memulai bisnis.
Semua itu terjadi karena mereka berpikir masuk perguruan tinggi sangat sulit dan akan menghabiskan banyak uang, bahkan setelah lulus dari perguruan tinggi mereka tidak pasti akan mendapat pekerjaan. Selain itu, jumlah wanita yang lebih banyak dari pria juga menjadi faktor pendukung terjadinya peristiwa ini. Jika mereka tidak menikah secepatnya, maka mereka harus bekerja.
Sungguh fenomena kemajuan sekaligus kemunduran yang terjadi dalam waktu bersamaan. Karena kurangnya akhlak dan budi pekerti, akhirnya para remaja yang sedang beranjak dewasa, juga orang dewasa yang sudah dewasa tetapi belum cukup dewasa, bertindak dengan uang sebagai acuan. Bahkan seringkali seseorang tak segan membunuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau terbunuh sebab minuman keras yang mereka konsumsi, atau yang lebih mengenaskan, bunuh diri karena faktor pembulian.
Itu lah sebabnya, apapun yang dikerjakan, pendidikan dan akhlak harus tetap diprioritaskan.
Zein menghela napas lega. "Baguslah kalau begitu, Papa sedang memperingatimu." Dia menunjuk anak gadisnya menggunakan sendok yang sedang dia gunakan untuk makan.
"Iya Pa, aku mengerti." Reyna menanggapinya dengan baik.
***
Fan keluar dari sebuah toko tas ternama. Dia baru saja membeli brand tas terbaru sesuai dengan pesanan korbannya di situs belanja online miliknya, dan tentunya dia membeli tas itu menggunakan kartu kredit korbannya.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Jadi begini, Fan memancing korbannya untuk membeli produk di situs belanja online miliknya dengan harga yang lebih murah. Kemudian, jika korbannya tertarik, secara otomatis mereka akan langsung melakukan transaksi pembelian menggunakan kartu kredit. Dengan transaksi kartu kredit yang korbannya lakukan, Fan bisa membuat kartu kredit baru menggunakan data tersebut. Setelah itu, dia akan membeli produk asli yang dipesan korbannya menggunakan kartu kredit korban tanpa sepengetahuan orang tersebut, lalu besoknya pesanan akan dikirim dan sampai di rumah penerima, dan penerima tidak akan pernah sadar jika kartu kreditnya telah dikloning.
Fan berhenti sejenak di alun-alun kota. Dia menurunkan kaca jendela mobil setelah melihat tiga orang *w*************a* duduk di kap mobil yang terparkir di pinggir alun-alun. Seperti biasa, Fan tahu jika para wanita itu sedang mencari *pelanggan*.
"Kalian masih mencari *pelanggan?"
Pertanyaan Fan itu memancing mereka untuk turun dari kap mobil. Salah satu dari wanita itu menghampiri, lalu bertopang siku di jendela mobil Fan.
"Kau ingin pesan satu malam?" tanya sang wanita dengan tatapan dan senyum menggoda. "Kami ada tawaran spesial jika kau memesan tiga sekaligus."
Fan tertawa. "Maaf nona-nona, tapi aku harus menyiapkan tas ini untuk seseorang," ucap Fan sambil mengangkat brand tas terbaru yang dia beli, memamerkannya pada wanita-wanita itu. Kemudian, dia kembali menginjak pedal gas mobilnya.
"Wow, itu model terbaru," ucap salah satu dari wanita itu. "Dan sangat mahal."
"Dia punya banyak uang."
"Mungkin besok kita bisa menggodanya lagi."
____________
Bersambung....