*Author's POV* Davino memandang sesaat istrinya sebelum akhirnya ia dengan tergopoh menuju kamar Mama dan Papanya. Dilihatnya sang Mama sudah duduk bersimpuh dan menangis pilu, sedangkan Papanya nampak berbicara serius di telepon dan membelakangi Davino. Dengan cepat Davino memeluk Mamanya dan disambut dengan tangisan Embun yang makin terdengar keras dan pilu. Tak terdengar percakapan apapun dari arah Gavin membuat Davino didera perasaan kalut luar biasa. Siapa yang ada di ujung telepon itu? apa yang mereka kabarkan hingga keadaan ini begitu kacau. "Lakukan apapun untuk anak, menantu dan cucuku." Papanya yang kini terlihat wajahnya, Tiba-tiba saja bersandar di tembok dan meluruh. Barulah Davino sadari bahwa Papanya sudah menangis hebat tanpa suara. "Pa?!" seru Davino yang takut terjad

