Extra Part II: Telepon

1865 Kata

*Davino POV* "Jaden! Ayo Nak, pamit sama om dan Tante dulu." Jaden masih saja asik tengkurap. Ia tak menggubris perkataanku. Aku jadi berpikir, apakah benar kami terlalu memanjakannya. Sejauh ini, aku tak pernah berpikir bahwa akan berdampak sebegini menyebalkannya. Sifatnya jika sudah mulai merajuk mengingatkaku pada Lian. Fotokopi yang sempurna. Seolah sikap cuek milikku dan kepandaian merajuk milik Lian menjadi satu kekuatan super tak terkalahkan saat ini. "Tidak sopan Jaden! Ayo pamit!" ucapku yang mulai tak sabar. "Jaden gak mau! Tante gak boleh pergi. Tante sama adek bayi harus nginep!" ucapnya yang mulai bersuara namun dengan teriakan yang cukup memekakkan telinga. "Siapa ajari kamu untuk bentak-bentak Papi?" tanyaku gusar. Jaden bangkit lalu menggenggam tanganku dengan muka y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN