Davino memasuki club malam langganannya di Manhattan. Ia memakai kaos hitam dengan celana hitam yang pas di badan. Seperti biasa, kehadirannya menarik perhatian beberapa pengunjung club malam. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan.
Ia menemukan seorang memakai baju dengan style yang sama, bedanya ia memakai jas semi formal untuk menutupi lengan kekarnya. Mereka saling pandang sesaat. Davino tersenyum miring sambil lalu menghampiri lelaki itu. Entah kenapa wajah lelaki itu tampak kikuk menemukan bosnya di club malam itu.
“Zach, apa kau sedang berkencan atau kau datang sendiri?” ucap Davino dengan tatapan menggoda sekretaris yang lebih tua beberapa tahun darinya itu.
“Anda sendiri sedang apa Tuan Oliver?” Jawab pria itu dengan raut muka yang kentara sekali tengah gugup.
“Malam ini kosong. Maka dari itu aku kesini. Kau? Kau sendiri disini untuk apa kemari?"
“Bukan itu maksud saya, Anda ada di New york hari ini. Anda tidak mengabari saya jika akan kemari, Tuan?” pertanyaan Zach dengan nada yan gugup membuat Davino semakin senang untuk menggoda pria itu.
“Memangnya kenapa? Aku sudah besar untuk pulang pergi tanpa di jemput, Zach. Kau seperti pengasuhku saja.” Davino terkekeh dan meneguk cocktail yang ia pesan.
“Tidak, Tuan Oliver, maksud saya..”
“Zach?” Suara seorang perempuan mengejutkan keduanya.
“Lho, Tante Freya?” Davino kaget saat ia menoleh ke sumber suara dan mendapati adik dari Papa angkatnya, ada di kota ini.
Freya tidak kalah terkejutnya melihat keponakannya ada diruangan itu.
“Apa anda sudah selesai Nyonya? Apa kita akan kembali sekarang?” suara Zach memecah kebisuan diantara keduanya yang terjadi ditengah suara musik yang sangat keras itu.
“Sebentar!! Ini masih sore. Kau pasti baru datang kan Tante Freya?” Davino mengamati tantenya malam itu.
Freya menggunakan backless dress berwarna rose gold dengan panjang sepaha. Rambutnya yang hanya sebahu dibuat mengembang. Ia tampil cantik dengan make up flawlessnya.
Davino sendiri ingin sekali protes dengan Tantenya. Bagaimana bisa perempuan dengan anak satu, memiliki suami, berkeliaran di klub malam saat malam minggu dengan sekretarisnya? Ya, walaupun mereka akan resmi bercerai beberapa hari lagi. Tapi, apa yang dilakukannya dengan baju seksi itu disini? Jika ketahuan Papanya, Tantenya yang lebih mirip seperti anak kuliahan pasti akan mendapatkan ceramah tujuh hari tujuh malam dari papanya.
“Tante ngapain sih disini?” Tanya Davino yang segera mengganti percakapan bahasa inggrisnya menjadi bahasa Indonesia agar bisa mengomel lebih leluasa.
“Menikmati waktu sebelum balik ke Jakarta. Papamu cerewet banget kalo aku di Jakarta dan ke klub.”
“Tante bukannya ngurus cerai sama Om Rudy?”
Freya hanya mengangguk sambil meminum winenya.
“Terus ngapain di Amerika?”
“Kerja, Dav. Tanya Zach,” ucap Freya dengan malas.
Davino hanya menatap Zach dengan kening berlipat.
“Terus Brandon sama siapa? Udah berapa lama Tante disini?”
Freya menenggak habis winenya lalu menatap tajam keponakannya itu.
“Tante Kok ninggal-ninggalin Brandon sih! Dia tuh pasti butuh banget sama Tante. Tapi, ini Tante? Ngapain coba ke klub?!” Davino mencecar banyak pertanyaan kepada Freya.
“Cerewet banget sih kamu! Emang tante gak boleh nikmatin hidup, Tante? Tante harus apa? Apa yang kamu harapkan dari Tante sekarang? Nangis? Bunuh diri? Ngeselin ya! Niat kesini buat ngademin pikiran malah lo ajak ribut! Haaashhh!!” Freya mengambil clutchnya dan beranjak meninggalkan keduanya.
“Maaf, Tuan Oliver. Saya harus menyusul Nyonya Freya. Permisi,” Zach pamit dan segera berlari menyusul Freya.
Davino memijat keningnya. Di sisi lain ia bersalah telah kesal dan agak sedikit berteriak dengan Tantenya. Tapi, ia juga gusar melihat Tantenya bak anak remaja yang sedang berkeliaran di klub malam dengan baju minim dan terbuka. Apalagi ia berniat bersenang-senang sedangkan anaknya entah sedang apa disana menghadapi perceraian orang tuanya.
Ia menenggak gelas keduanya dan segera beranjak. Sepertinya belum jauh jika ingin menyusul Tantenya itu. Ia segera membelah kerumunan orang-orang dan menuju pintu keluar. Saat baru saja berada di pintu keluar, ia terkejut melihat Zach sedang memeluk tubuh seseorang dan lengan perempuan itu bertaut di leher Zach. Ia menggeser sedikit badannya untuk melihat siapa yang tengah di pelukan Zach. Otaknya menolak menerima kebenaran siapa yang tengah di cium Zach di tempat umum itu.
“Tante?” Davino berkata lirih. Ia terkejut dan bingung dengan situasinya. Ia bukannya tidak ingin meninju Zach, tapi kenyataan keduanya menikmati ciuman itu, membuat Davino mundur tidak ingin ikut campur lagi. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Jantungnya berdebar kencang dan ia langsung masuk kembali ke club malam itu.
Ia memesan minumannya pada bartender sambil menunduk menatap kosong meja di hadapannya. Ia mencoba memahami situasi yang terjadi. Ia tersentak saat sebuah sentuhan mampir di pundaknya. Ia hafal sekali pemilik tangan mungil itu.
“Gienka, kau sudah datang dari lama?” Davino mengambil tangan itu dan mengecupinya.
“Kau darimana saja Dav? Aku sudah menunggumu di ruang VIP dengan yang lain sejak tadi,” ucap Gienka manja.
“Maaf, Gien. Ada keperluan sebentar tadi. Mari kita kesana sekarang,” ajak Davino yang sudah berdiri dan memeluk pinggang Gienka.
Gienka mendekatkan bibirnya dan mengecup Davino singkat. Davino meraih tengkuk Gienka dan menciumnya dengan lembut. Tangannya sudah mulai meraba lekuk tubuh perempuan dihadapannya itu. Gienka menjauhkan bibirnya dan menghentikan pergerakan Davino dengan telunjuk tangannya, tanda meminta berhenti.
“Jangan disini Dav, kita sudah ditunggu.”
“Baiklah,” ucap Davino dengan nada yang dibuat kecewa.
Mereka bergandengan menuju keruangan dimana teman-teman mereka berada. Sesekali terlihat Gienka meliukkan badannya saat mendengar lagu yang disukainya dimainkan oleh DJ.
Menggemaskan sekali, pikir Davino sambil tersenyum
-***-
“DAV! BANGUN! Mentang-mentang sekarang punya temen baru. Gue, lo lupain. Kampret Lo!” Kellen berteriak dan menggedor pintu secara brutal.
Tidak ada sahutan membuat Kellen semakin semangat untuk menggedor pintu kamar tidur utama itu. Ia seperti memiliki tenaga seperti Hulk, siang itu. waktu sudah menunjukkan pukul satu siang dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di kondominium itu.
“Apaan sih lo! Berisik!” Davino membuka pintu kamarnya secara tiba-tiba yang membuat Kellen hampir terjengkal.
Kellen terpana dengan sahabatnya yang baru bangun tidur itu. dia hanya melapisi tubuhnya dengan celana boxer.
“Anjing lo, ngeliatin apaan?” Davino mendorong tubuh Kellen hingga hampir terjengkal lagi.
“Najis! Lo pikir gue homo! Lo tuh CEO apaan? Jam berapa nih baru bangun? Gue minta jemput, gak ada yang bales gue lagi. Gak elo, gak Zach. Ilang semua!”
“Lo kan bisa naik taksi! Manja banget lo! Gak ada akhlak lo nyuruh-nyuruh gue jemput lo!”
“Kurang servis lo? Marah-marah mulu! Tidur sama Gienka ya lo?” Kellen mencoba meringsek masuk ke kamar Davino. Davino hanya menghela nafasnya kasar.
“Anjir! Gue kira lo tidur kayak babi, karena lagi kelonan. Lo gak one night stand kan?”
“Biji, lo!” Davino menoyor Kellen dengan kasar.
“Pulang jam berapa lo semalem?”
“Gak tau.”
“Gila! Terus Gienka gimana?”
“Gue lupa!”
“Anjir! Untung Amerika, men!”
Lah iya.. Gienka dimana? Perasaan gue sama dia kemarin, batin Davino
Setelah kesadarannya terkumpul baru Davino mencari ponselnya. Ia meraba kantong celananya dan menemukan benda pipih itu.
“Hai, kau dimana Gien?”
“Aku di tempat Sivan dengan Lily dan Ashley. Maaf, aku kemarin hanya mengantarmu saja. Kau pasti terkejut ya, bagaimana bisa sampai di kondominiummu?”
“Tentu saja, Gien. Syukurlah jika kau baik-baik saja.”
“Ya, maaf aku akan pergi berjalan-jalan dengan Lily dan Ashley. Akan ku telpon lagi nanti.”
“Ya, baiklah. Gien, Tunggu. Kau butuh membeli sesuatu? Kau pasti melihat-lihat barang kan?”
“Emh, mungkin aku akan membeli sepatu dan baju baru untuk nanti malam.”
“Nanti malam kau akan kemana?”
“Tentu ke klub yang lain. Kau ikut kan?”
“Sepertinya tidak, Gien. Maaf. Aku besok harus ke kantor sangat pagi. Aku takut lupa waktu seperti semalam.”
“Baiklah, tidak masalah.”
“Okay, Cek rekening mu, ku harap itu cukup untukmu membeli barang.”
“Oooh.. Terima kasih Dav, Aku menyayangimu!”
“Aku juga.”
Davino menaruh ponselnya di atas nakas setelah mengirimkan sejumlah uang kepada Gienka. Ia menyugar rambutnya dan kembali menjatuhkan dirinya di atas kasur.
“ Bapaknya, lo? Ngasih-ngasih duit.”
“Sewot banget, lo?”
“Anjir! Lo gak takut dijadiin ATM berjalan sama Gienka? Lagi bukannya nemenin lo, malah di tempat si Sivan. Gimana sih?”
“Dia gak ada kewajiban nemenin gue. Pacar gue juga bukan. Lagian itu terima kasih gue dia mau anter gue balik.”
“Bego, lo! Udah ah males. Laper gue, baru dateng juga.” Kellen berlalu menuju dapur mencari bahan makanan yang bisa di masak. Syukur-syukur jika ada yang bisa tinggal dipanaskan.
-***-