Delapan

1343 Kata
Gavin melangkah menuju pintu kamar putrinya. Ia mengetuk pelan kamar itu. Tidak berapa lama gadis cantiknya itu membuka pintunya. “Ada apa, Pa?” “Papa kangen Kakak. Boleh Papa masuk?” Lian membuka pintu kamarnya lebar. Gavin berjalan menuju balkon kamar putrinya dan duduk di bean bag yang ada disana sambil menikmati suasana malam dengan penuh bintang. Lian menghampiri papanya dan mendekatkan bean bagnya di sebelah Papanya. Ia memeluk Papanya dan menenggelamkan dirinya di d**a Gavin. “Kak, besok kamu udah umur enam belas tahun loh.. Papa gak nyangka kamu sudah sebesar ini. Perasaan baru kemarin Papa nemenin Mama lahiran.” Gavin mengecup pucuk kepala anaknya itu. “Makasih Pa, selalu jadi orang pertama yang ingat ulang tahun Kakak.” Lian melebarkan senyumnya. “Kamu itu keajaiban buat kami semua. Papa gak pernah tahu gimana ngadepin wanita hamil dan tangisan bayi, tapi kamu tuh yang pertama kali ngajarin apapun buat Papa. Bagaimana jadi orang tua? Bagaimana jadi Papa? Makasih ya, Nak. Sudah hadir dalam hidup kami. Papa sayang sekali sama Berlian. Kamu sudah cukup dewasa sekarang, Papa harap kamu bisa banyak belajar. Percaya bahwa Mama dan Papa terkadang keras untuk kebaikanmu, Li. Kamu sudah tahu kan kalo kamu bisa bikin bayi. Jadi Papa, harap kamu lebih hati-hati. Lebih bisa jaga diri kamu, Lian. Memiliki anak itu tanggung jawab seumur hidup. Gak cuma materi tapi juga kasih sayang. Kamu sudah cukup bijak untuk menyikapi ini kan?” “Iya, Pa. Lian tahu kok. Lian sayang banget sama Papa,” ucap gadis itu sambil mengecup pipi Papanya dengan sayang. “Kamu itu cinta Papa, hidup Papa, awal semua perjalanan yang gak pernah Papa bayangkan. Papa dan Mama sayang sekali sama Lian bahkan sebelum kami melihat seperti apa, Lian. Papa gak menuntut Lian jadi hebat dalam semua bidang. Buat kami, kamu selalu yang terbaik, Li.” “Makasih, Pa. untuk semua cinta dan kasih sayang yang Papa kasih. Lian cinta sama Mama dan Papa.” Lian mengeratkan pelukannya. Tiba-tiba sebuah tangan lembut lainnya memeluk mereka. “Mama juga pengen dipeluk. Kalian kok pelukan cuma berdua aja sih?” Gavin merengkuh keduanya dan menciumi pucuk kepala keduanya. “Makasih Ma, untuk melahirkan Berlian Hati Papa dan Samudra Papa. I love You, Maa,” Gavin mencium bibir istrinya sekilas. Lian tidak memprotes keduanya. Ia malah tersenyum lebar. Bersyukur karena keduanya masih saling menyayangi sampai dengan saat ini. “Selalu lupa kalo punya anak Samudera!” gerutu Sam sambil berdiri di sisi Embun. Ia segera duduk di depan Gavin dengan membelakanginya. Semuanya tersenyum mendengar gerutuan Sam. “Udah lama juga ya, gak ada Davin disini. Mama kangen banget.” “Sam juga. Sam mau pamer badan Sam yang udah kecilan. Sekarang banyak yang naksir sama Sam.” “Huuuu..” sorak Embun dan Lian. “Kok pada gak terima sih, Pa? Liat Sam tuh Papa banget. Ganteng!” “Ganteng Papa kali, Sam.” goda Gavin. “Ganteng Sam, Pa. Sam tuh perpaduan Mama dan Papa. Lebih wow gitu!” “Jadi maksud kamu perpaduan Nenek sama Kakek biasa aja?” “Gak dong. Papa Tampan. Lebih tampan lagi karya Mama dan Papa. harusnya Papa tuh bangga tau. Bisa ngebuat aku pas gini.” “Heleh!” Embun meraup wajah anak bungsunya itu. Semuanya tertawa terkekeh. “Gimana kalo kita telpon Kak Davino. Mumpung lagi mesra gini. Pamer dulu kita. Disana jam berapa nih, Pa?” Tanya Sam “Sekarang jam berapa?” “Jam delapan kayaknya.” “Ya berarti jam delapan Pagi disana, Sam. Pake HP papa deh, nih. Pasti diangkat.” Gavin menyodorkan ponselnya. Setelah beberapa menit, Sam menaruh hape itu di meja, menyandarkannya pada vas bunga yang ada di meja itu. Nama Davino muncul di layar dengan latar keempatnya masih berpelukan. Tidak lama muncul Davino yang sedang duduk di kasurnya. “Kakak kangen kalian.” itu kata pertama yang diucapkan Davino dan sukses membuat Embun dan Lian meneteskan bulir bening dalam hening. “Kami juga kangen Kakak. Kak, liat dong gue udah ideal sekarang! Makin tampan kan gue, Kak? Masa kemarin banyak yang ngirimin gue coklat valentine, Kak. Ya Tuhan! Perhatiin Kak, gue kayaknya emang tampan,” Sam memecah keheningan agar tidak larut dalam kesedihan. Ia bergaya bak foto model dengan berbagai ekspresi wajah. Embun menyadari kalau tingkah samudra sama seperti suaminya yang konyol. Ia menampilkan raut wajah heran kepada anak lelakinya itu. sedangkan Lian sudah memberi kode gelengan untuk Davino agar tidak mengatakan bahwa adik bungsu mereka memang tampan. Sedangkan Gavin sendiri jadi terkekeh karena mengingat kelakuannya dulu yang selalu narsis. “Sejak kapan ngomongnya jadi lo gue, Sam?” tanya Davino yang lebih heran dengan adiknya yang sepertinya pergaulannya sudah berubah. “Marahin tuh, Kak. Gak sopan emang nih bocah!” gerutu Lian. “Gaul bro!” Sam membentuk simbol metal dengan tangannya. “Heleh!” Embun lagi-lagi meraup wajah anaknya diiringi dengan Gavin yang hanya bisa menggelengkan kepalanya memikirkan tingkah ajaib anak laki-lakinya. “Gimana kuliah kamu, Dav? Kamu jadi submit di MIT?” “Jadi, Ma. Ini aku sambil kelarin tugas akhir. Harapan aku sih, selesai ini gak terlalu lama buat kuliah lagi, Ma. Kalo aku nunggu semua selesai kayaknya bakal lumayan lama. Aku udah minta bantuan sama profesorku buat persyaratannya.” “Terima kasih, Dav. Kamu sudah jadi contoh yang baik untuk adik-adikmu.” Ucap Embun. “Makasih juga Mama dan Papa sudah sayang banget sama Davino. Kakak sayang kalian semua,” kata Davino dengan senyuman. “Kak, lo belum pernah kan ke tempat Kak Davino? Nyesel lo, kak kalo gak kesana. Kasih tunjuk, Kak. Gimana suasana kondominium Kakak!” Davino mengalihkan kameranya menjadi kamera belakang dengan pemandangan Danau Michigan dengan berapa perahu terparkir rapi disana. Cuacanya sangat cerah dan sepertinya udaranya lebih bersih. “Tuh gimana, kak? Kita kesana yuk, Ma, Pa. Kak Davino pasti gak bisa pulang, Ma. Dalam rangka perayaan ulang tahun Kak, Lian,” ucap Sam sangat bersemangat. “Pasti ada maunya nih, anak!” “Tau aja, Kakak cantik!” goda Sam dengan mencubit dagu Lian. “Ih, genit ya!” protes Lian. Semuanya tergelak melihat tingkah narsis dan usil Sam. “Gak bisa kalo pas ulang tahun Kak Lian, Sam. Nanti aja pas liburan sekolah. Kita stay di New York dua Minggu. Gimana?” usul Gavin. “Boleh tuh, sekalian nanti biar Lian bisa ngeliat-liat Kampus dan culture disana. Gimana? Biar ada gambaran tinggal di sana seperti apa,” ucap Embun antusias. “Papa Oke, Sam gimana?” Sam dengan semangat mengangguk dengan binar bahagia. “Lian?” Lian terdiam, ia sebenarnya ragu. Keheningan terjadi diantara mereka. Baru saja Davino akan mengucapkan sebuah kata, tapi suara Lian lebih dulu keluar. “Mmh.. Boleh,” ucap Lian dengan senyuman manisnya. “Ah, aku ga sabar menanti dua bulan lagi. Aku merindukan kalian! Sangat! Aku tunggu kalian disini,” senyum sumringah Davino berkembang. Mereka melanjutkan obrolan hingga satu jam lamanya. Hingga akhirnya Gavin dan Embun mengeluh mengantuk dan mereka mengakhiri video call saat itu. Setelah semuanya telah keluar dari kamar Lian. Lian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia melihat ke langit-langit kamarnya. Senyum berkembang di bibirnya. Drt.. Drt.. Tiba-tiba suara ponselnya di atas nakas menyadarkannya dari lamunan. Ia melihat nama My Another King tercetak di layar. “Hai, Li..” “Hai, Kak.” Senyum manis terukir di wajahnya. Sejenak Davino termenung menatap senyuman manis adiknya itu. “Kak?” “Eh iya, Li.” “Kok ngelamun sih!” “Hahaha, Maaf, gak sangka ternyata gadis manja Kakak sudah besar. Selamat ulang tahun ratu Hatiku. Kakak cuma bisa doain yang terbaik buat kamu. Semoga Tuhan melindungimu, memberikan kesehatan, panjang umur, dan dilimpahi kebahagiaan. Kakak sayang kamu, Li,” Davino mengucapkannya dengan senyuman manisnya dan tatapan lekat ke arah Lian. “Aku juga sayang kakak. Selamanya. Muuach.. Muach..” Lian memberikan suara kecupan dan tergelak di akhir ucapannya. “Adik kakak sudah besar ya? Inget, Gak boleh cium-cium orang sembarangan ya?! Awas lho!” “Yak, diakhiri dengan mengomel. Gak, kak! Tenang aja. Baik-baik disana, kak. I’ll see you soon, My another king!” I love you.. ucap Davino dalam hati. -***-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN