*Davino POV*
Aku merenggangkan badanku. Mencoba menarik kembali kesadaranku. Pagi ini aku harus kembali ke kampus untuk bertemu dengan profesor membicarakan jurnal ilmiah untuk tugas akhirku. Kunikmati cuaca bagus pagi ini yang membuatku tersenyum.
Segera aku beranjak ke kamar mandi. Tidak sampai lim belas menit. Aku sudah kembali dengan handuk yang melilit di pinggangku. Aku menarik kaos hitam dengan celana jeans hitam. Setelah memakainya. Aku mengambil jaket kulit berwarna hitam dan membawa tas ku untuk pergi ke kampus.
Kunikmati perjalanan pagi ini. Pikiranku jauh memikirkan Lian. Padahal pilihanku pindah ke Chicago agar dia bisa melihat ada tempat indah lainnya di belahan bumi lain yang bisa kami kunjungi bersama, atau hanya sekedar mengajaknya berkendara ke kampusku. Melewati jalan tol dengan pemandangan danau Michigan.
Sebentar lagi aku lulus dan meninggalkan tempat ini. Bagaimana jika aku menyuruh Papa dan Mama memaksa kesayanganku itu kesini. Aku akan memohon pada gadis cantikku itu. aku sudah sangat merindukannya. Kalau aku sudah memulai sekolah pascasarjana ku, aku tidak akan memiliki waktu untuk pergi dengannya. Apalagi pindah ke New York setelah semua perkuliahanku selesai.
Lamunan panjangku membuat diriku tidak sadar jika sudah sampai di depan pelataran kampus. Segera aku parkirkan mobilku. Baru beberapa langkah suara yang ku kenal menyapaku.
“Hai, tampan. Lama sekali tidak melihatmu,” suara Lily terdengar manja dan agak menggelikan.
“Aku sudah bilang kemarin bertemu dengannya di Paradise, New York, minggu malam.” Ashley berkata dengan menggoda dan mengedipkan matanya. “Jika tidak terburu-buru, apa kau mau pergi denganku?” ucap Ashley lagi.
Dia melihatku? Aku mengernyitkan dahiku. Aku melirik ke arah jam tanganku. s**t! Aku bisa gagal bertemu dengan profesor jika tertahan dengan dua wanita yang menggelikan ini.
“Maaf, kita bicara lain kali. Aku harus bertemu dengan Profesor Carlson.”
“Jangan kaku, Dav. Sungguh bokongmu sangat empuk!” bisik Ashley yang berlalu setelah mensejajariku tadi.
Dia, wanita m***m di bar yang kemarin meremas pantatku? Astaga! Argh! Menggelikan!
Aku setengah berlari menuju ruang profesor saat itu juga. Tidak ada waktu memikirkan hal receh yang dilakukan dua sahabat aneh itu. padahal aku sudah jelas menunjukkan penolakan sejak awal bertemu beberapa tahun silam. Mereka seperti tidak menyerah mengejarku. Apa mereka sengaja mengerjaiku? s**t! Aku sudah bilang tidak boleh memikirkannya. Malah kelakuan mereka yang absurd terngiang di kepalaku.
Setelah kurang lebih satu jam aku berbincang dengan profesor Carlson, aku memutuskan untuk menuju ke café di lantai dasar gedung ini. Aku pesan segelas kopi, omelet, dan air mineral. Sambil menunggu makananku datang, kubuka laptopku dan mulai mengerjakan beberapa bagian yang perlu direvisi.
Tiba-tiba sebuah tangan menutup mataku. Aroma tubuhnya yang khas berbau floral menusuk penciumanku. Ia tertawa dengan suara yang kecil namun masih bisa ku dengar. Aku menggapai tangannya.
“Gien, aku tau ini kau.”
Gienka menurunkan tangannya, ia tergelak dan mencium pipiku.
“Hai, Tuan tampan. Kau benar-benar menghayati peranmu sebagai mahasiswa. Sarapan di kampus,” ejeknya dengan senyuman manisnya yang selalu mengingatkanku pada Mama. Ia segera mengecup pipi Davino dan duduk disebelah laki-laki itu.
“Menurutmu aku harus sarapan dimana Gien?”
“Wildberry, Coast café, Yolk, mungkin tempat lainnya?”
“Kau terlalu berlebihan. Kenapa kesini Gien?”
“Aku hanya merindukanmu. Aku tak melihat mu selama seminggu kemarin, Dav.” Gienka mengalungkan tangannya ke leherku dan menumpukan kepalanya di pundakku. Aku menumpukan satu tanganku ke pundaknya untuk merengkuh gadis ini. Ku kecup puncak kepalanya.
Belum sempat ku katakan sesuatu untuk meminta pengertiannya, pelayan menginterupsi dengan mengantar pesananku. Setelah makananku disajikan, aku meminta pada pelayan untuk membawakan coklat panas untuk gadis manja satu ini.
“Kau sudah sarapan, Gien?”
“Tentu. Mama selalu memasak.”
“Kau tidak ada kelas?”
“Tidak ada. Aku hanya mau bersamamu hari ini. Boleh kan?”
“Tentu, tapi biarkan aku menyelesaikan beberapa revisi tugas akhirku Gien.”
“Tentu, Beib!” Gien mengecupku sekilas dan kubalas mengecupnya sekilas juga. Jika bukan berada di ruang terbuka, sudah kulumat habis bibirnya. Walaupun banyak yang melakukan Public Display of Affection atau PDA, disini. Halo, ini Amerika. Tentu saja banyak yang melakukannya, tapi aku masih merasa ini tidak etis. Tipikal Asia sekali aku.
Aku segera mengerjakan yang perlu direvisi sesuai dengan arahan profesor Carlson. Sesekali kulihat Gienka dengan tenang memainkan ponselnya. Tidak berapa lama ponselnya berbunyi dan ia akan mengangkat teleponnya. Aku menyadari dia akan beranjak dari sampingku. Ku cekal tangannya, tumben sekali membutuhkan privasi untuk mengangkat telepon.
“Mau kemana?” tanyaku.
“Dav, ada beberapa masalah. Tolong ijinkan aku menjawab telepon ini diluar,” Ucap Gienka dengan wajahnya memohon.
“Okay.” Jawabku dengan melepaskan cekalan tanganku.
Dia beranjak, dan hanya kupandangi saja punggungnya. Sejenak kupandangi saja raut mukanya yang terlihat sesekali cemas dan memegangi dahinya. Apa ada sesuatu yang serius? Aku mencoba memfokuskan kembali diriku ke laptop yang berada di hadapanku. Tidak berapa lama, Gien datang dengan wajah lesunya.
“Beib, maafkan aku. Aku sepertinya harus pergi.”
“Kemana? Bukannya kau bilang kau merindukanku Gien.”
“Maaf, tapi aku harus pulang.”
“Apa ada sesuatu dengan Mama dan Papa mu?”
“Tidak, akan ku beritahu nanti.”
“Perlu aku antar?”
“Tidak, Dav. Aku membawa mobil. Maaf, Honey.” Gienka menciumku agak lama. Aku membalas ciumannya dan berharap perempuan ini tidak pergi. Ia menarik wajahnya dan tersenyum. Kutanggapi senyumannya dengan tidak ikhlas. Ia segera berlalu dari hadapanku. Tidak berapa lama setelah itu, kuputuskan untuk membereskan laptopku.
Aku berjalan ke arah mobilku dan menemukan Lily, Ashley dan beberapa teman geng mereka sedang bergurau di dekat mobilku. Ah! Padahal badanku lelah sekali. Aku ingin segera sampai di rumah.
“Oh, inikah salah satu Crazy Rich Asia kampus kita?” suara Sivan, seorang laki-laki yang satu geng dengan mereka tampak mengamatiku dari atas ke bawah.
“Hey, Man. Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak bergabung dengan kami. Pesta malam ini di mansion ku. Datanglah!” Ucap Harry dan datang merangkulku.
“Datanglah ke Grand Ave, Dav. Kita akan berpesta sampai pagi. Nikmatilah harimu. Aku bisa memberikan pengalaman yang tak terduga.” Ashley mendekat dan menyentuh rahangku. Aku menghindari sentuhan tangannya yang kedua.
“Oke, guys! Kita lihat nanti. Untuk saat ini bisakah kalian sedikit bergeser. Aku ingin segera pulang.”
“Ini mobilmu, Dav?” Tanya Sivan, wajahnya kentara sekali meremehkanku. Aku malas menjawabnya.
Aku mengeluarkan kunciku dan mendekati mobilku. Aku tidak ingin membukanya dan salah satu diantara Lily atau Ashley masuk ke mobilku saat pintunya tidak terkunci. Mereka seperti fans yang cukup gila memang, aku merasa menjadi artis jika ingat kelakuan dua sahabat gila ini.
Aku berdiri di samping mobilku dan bergerak cepat untuk masuk ke mobilku dan segera mengunci kembali pintu mobilku. Harry yang menduduki mobilku segera berdiri dan memandangku dengan raut muka tak terbaca.
Tuk.. tuk.. tuk...
Suara kaca diketuk dari jendela penumpang mengalihkan perhatianku. Aku hanya membukanya sedikit, aku takut Ashley melakukan hal gila dan konyol jika ku buka semuanya.
“Ada apa Ash?”
“Boleh aku menumpang?”
Sudah kuduga. Wanita ini, benar-benar tidak tahu malu.
“Maaf, Ash. Aku sedang kurang enak badan. Aku harus pergi.” Segera ku tutup kaca jendela mobilku dan menginjak gasnya dalam.
Sudah kuputuskan tidak datang nanti malam. Kemana saja mereka selama ini? Mereka menganggapku tidak terlihat dan tiba-tiba sok akrab dan mengajakku ke pesta. Maaf, aku tidak tertarik. Bukan karena aku sombong, tapi pesta itu pasti hanya berisi alkohol dan wanita-wanita semacam Ashley. Aku tidak berminat. Aku memang belum pernah pergi ke pesta rumah dan diundang secara personal oleh pemilik acara. Aku hanya pernah ke acara semacam itu saat Gienka mengajakku. Selebihnya, jangan harap aku kesana. Lebih baik ke klub malam sekalian.
-***-
*Author’s POV*
Sivan dan Harry memandangi kepergian mobil Davino. Baru kali ini mereka merasa diabaikan oleh orang lain. Sivan dan Harry adalah anak-anak pengusaha yang memiliki semacam geng dengan agenda hidup mewah dari kekayaan orang tua mereka.
“Siapa dia?” Tanya Harry.
“Davino Oliver Adnan. Anak pengusaha Indonesia. Para perempuan mengenal Ibunya. Mungkin Ibumu juga.” Jawab Sivan.
“Siapa?”
“Em-bun.. Be.. ning. Aku tidak tau membacanya yang benar. Terlalu susah. Yang pasti ibunya pemilik butik baju pesta Bening. Rancangannya lumayan sering dipakai beberapa selebriti.”
“Kau baru memberitahuku sekarang?”
“Aku bukannya tidak ingin memberitahumu, aku juga baru tahu. Ashley merengek memintaku mencari tahu siapa dia. Kau tahu kan, tidak sembarang orang masuk club itu. Ashley sempat mengikutinya dan dia berhenti di salah satu kondominium mewah di Manhattan. Itu yang membuatnya juga penasaran. Aku juga. Jadi kuputuskan untuk memberitahumu.”
“Kau tahu hal lainnya?”
“Ow, ya aku mendapat info dari Ayahku. Dia baru saja membeli beberapa furniture untuk kantor barunya. Dia mengajakku untuk mengecek material furnitur yang dia beli. Ayahku sempat bertanya pada sekretaris pemilik perusahaan, kenapa bosnya tidak menemui ayah secara langsung? Katanya bos mereka sedang ada urusan dan akan menemui jika perusahaan kami setuju menggunakan furnitur itu. jika memang ada yang ingin dibicarakan, dia bisa menghubungi kontak di kartu nama itu. Di kartu nama itu ada nama anak itu. Oliver Adnan sebagai Presiden Direktur.”
“Kau bercanda?” Tanya Harry dengan tawa meremehkan.
Sivan hanya mengedikkan bahu.
“Dimana kantornya?”
“Beberapa blok dari Empire State Building.”
“Kau yakin?”
“Ya, aku sangat yakin. Ayahku berani membeli harga mahal furniturnya karena letak kantornya strategis. Jika itu perusahaan bohongan, mereka tidak akan pernah berani menyewa kantor di tempat semahal itu.”
“Kau benar. Lalu disini tinggal dimana dia?”
“Harbor View Luxury Condos.”
“Holyshit! Dia sungguhan kaya.” Ucap Harry dengan manggut-manggut. Ia mulai menyalakan rokoknya sambil memikirkan sesuatu. Harry bukannya bodoh. Dia memang mencari relasi. Berkumpul dengan sesama keluarga Kaya itu adalah satu strateginya untuk meningkatkan usaha orang tuanya. Ia tidak hanya sekedar membuang-buang uangnya. Sepertinya ia tertarik dengan Davino dan benar-benar ingin dekat dengannya.
-***-