Enam

1630 Kata
Tiga orang dengan rupa Asia masuk ke dalam sebuah club malam di Times Square. Badan atletis dengan penampilan rapi mereka, menarik perhatian beberapa orang lain. Tentu saja Davino paling menonjol diantara ketiganya. Ia menggunakan kemeja yang pas di tubuhnya dengan belahan d**a rendah yang ia tampilkan karena membuka dua kancing kemejanya. Otot-otot dadanya terekspos, membuat beberapa wanita memperhatikannya seolah ingin menerkamnya. Salah seorang dari mereka menuju sebuah bar stool yang tertulis reserved dan mengobrol sebentar dengan bartender disana. “Apa semua berjalan sesuai rencana Zach?” ucap Davino. “Tentu, Tuan Oliver. Perusahaan mereka membutuhkan dua puluh lima Kubikel dengan bahan kayu yang kita tawarkan. Harganya cukup tinggi, tapi mereka menyetujuinya,” jawab laki-laki bernama Zach yang masih menggunakan setelan kerjanya. “Hey, Man! Kalian kesini untuk membicarakan pekerjaan? Membosankan sekali hidup kalian,” protes seorang pria lain. “Aku memang mengajaknya kesini untuk membicarakan pekerjaan, Kell.” “Kau bodoh sekali! Pergilah ke Bar. Musik disini terlalu keras untuk membuatmu berpikir hal waras!” ucap laki-laki yang ternyata bernama Kellen itu. Dia bahkan sudah menenggak vodkanya hingga habis. “Aku berencana memasukkan teman bodohku ini di kantor perwakilan kita. Beri dia posisi di tim pemasaran untuk membantu kita.” “Baik, Tuan Oliver. Oh, ya, anda akan lulus beberapa bulan lagi, bukan? Apakah anda akan melanjutkan studi selanjutnya?” “Ya, aku sudah mengajukan permohonan ke MIT.” “Setidaknya itu lebih dekat Tuan.” “Kau benar sekali, Aku lelah harus bolak balik Chicago – New York.” “Bagaimana dengan kondominium anda di Chicago? Apakah anda akan menjualnya?” “Jangan! Aku menyukainya. Akan ku gunakan lagi suatu saat. Jika di jual, aku belum tentu bisa mendapatkan kembali unit di sana.” “Kau benar, Tuan Oliver. Pasti menyenangkan jika bisa kesana dengan Istrimu nanti, kan?” “Hahaha, kau sudah memikirkan aku berumah tangga saja. Aku ingin menikmati hidupku, Zach!” “Tentu, Umurmu sangat muda, Tuan. Mari kita menikmatinya. Ah, ya Tuan. Sepertinya temanmu sudah tenggelam di lautan manusia.” Davino menyadari bahwa sedari tadi dia tidak memperdulikan sahabatnya yang ia bawa ke klub malam ini. Ia sibuk berbicara dengan Zach, hingga ia melupakan bahwa temannya itu sangat suka sekali berada di klub malam. Matanya sudah menyusuri setiap sudut klub malam itu. “Nyusahin pasti nih anak. Gimana cara gue nyari kalo dia udah nyampur. Argh!” Davino dengan bahasa Indonesianya membuat Zach terkekeh. Zach adalah orang keturunan Asia – Amerika yang bekerja untuk keluarga Ibu Embun, Mama angkat Davino. Sebelumnya, Ayah Zach adalah pegawai Ayah Embun. Namun, setelah beliau meninggal, Zach-lah yang meneruskannya. Zach mengurus segala keperluan keluarga Adnan yang awalnya hanya terkait rancangan busana dan garmen yang dikelola keluarga Embun, kini dia ditugaskan untuk membantu Davino mengelola bisnisnya selama Davino masih bersekolah dan sepertinya itu akan terus berlanjut. Mengingat Davino sangat bergantung pada Zach. Setelah beberapa lama mereka mengobrol, sebuah pesan masuk dari Kellen. >Kellen Gak usah nungguin gue. Gue nginep. Lo pulang aja! Daripada lo rapat di Club. Jangan main pedang-pedangan lo! >Davino Sialan Lo! Balik sendiri lo ke rumah! >Kellen (Emoticon cium) “Argh! Bener-bener nih anak! Bisa-bisanya dia malah kelonan.” “Ada apa Tuan Oliver?” “Saya kembali dulu. Jika kamu masih ingin disini, nikmatilah.” “Baik, Tuan.” Davino beranjak keluar dari club itu. ia harus melewati beberapa orang yang sedang menari dengan pakaian yang serba minim dan begitu gemerlap. “Kau mau kemana tampan?” ucap seseorang yang sudah berusaha meraih dagu Davino. Davino sudah tidak menghiraukannya. Badannya sungguh gerah di ruangan yang lumayan dingin. Mungkin efek alkohol yang ia minum. Baru beberapa langkah berjalan seorang wanita lain sudah mencubit gemas pantatnya. “Wow, wow! Maaf Nona, saya harus pergi!” ucapnya dengan kaget. Setelah berhasil melewatinya, ia berjalan ke kondominiumnya yang lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Setelah kurang lebih setengah jam berjalan ia sampai di kondominiumnya. Ia segera melepaskan bajunya sembarangan dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi, badannya terasa segar. Davino merebahkan dirinya di kasur dan menatap pemandangan kota New York dari kamarnya. Ia mengambil ponselnya yang diletakkan di nakas untuk mengecek apa saja pesan dan email yang masuk selama tadi dia di club. >Queen of My Heart Kak, kamu udah lupa aku lagi, ya? Kak? Sibuk ya, Kak? Aku padahal pengen cerita. Berapa hari lalu ada yang ajak aku ikut dance. Katanya dance akan beberapa waktu lalu bagus. Ketua kesenian, namanya Leonel, kak. Aku udah ijin Papa dan Papa bilang, Boleh. Tapi gak boleh ikut tampil. Cuma boleh ikut latihan saja. Gimana menurut kakak? Davino yang agak mabuk karena pengaruh alkohol membaca pesan itu dengan gusar. Ia jadi membayangkan tubuh adiknya saat melakukan dance pump it beberapa waktu lalu. Padahal menurutnya, ia sudah jelas memerintahkan adiknya untuk tidak lagi menari-nari di depan umum. Badannya, astaga! Sangat menggiurkan. Tunggu! Ini salah! Kenapa aku memikirkan tubuh adikku! s**t! Davino segera mengenyahkan pikiran kotornya dengan menggelengkan kepala dengan kuat. Kembali ia membaca pesan itu dengan seksama dan menemukan nama Leonel disana. “Siapa lagi ini Leonel?! Cari gara-gara banget! s**t! Gimana caraku jagain Lian kalo aku disini. Mana bisa Sam diandelin. Dia masih bocah gitu. Astaga!” Tiba-tiba kepalanya berdenyut. Segera ia menekan tombol video call di kontak Lian. Tidak berapa lama, panggilan video itu tersambung. Memperlihatkan Lian yang sedang berseragam sekolah dengan kuncir kudanya. “Kak, ada apa? Aku masih di sekolah,” ucap gadis itu. “Kakak kan udah bilang..” “KAK!” teriakan Lian tidak hanya mengagetkan Davino, tapi orang-orang di sekitarnya. “Kenapa sih?” “Tolong di tutup roti sobeknya. Aku masih di sekolah tau. Nanti dikira aku telpon m***m,” ucap Lian setengah berbisik. Di dekat speaker. Davino terkekeh. Dia meletakkan ponselnya dan berjalan menuju lemari untuk mengambil kaos polos berwarna putih. Segera setelah memakainya, Davino mengarahkan kamera ponselnya ke arahnya lagi. “Jam berapa disana?” “Jam dua lebih lima belas menit, Kak. Kakak kenapa sih telpon? Disana pasti dinihari ya? Kok Kakak belum tidur?” “Kamu tuh! Kakak kan bilang gak boleh joget-joget gitu.” “Aku kasih tau doang, gak minta izin tau, Kak!” “Gak ada! Leonel itu siapa lagi?” “Kakak kelas aku. Kan aku udah jelasin. Dia ketua kesenian di sekolahku.” “Pacar kamu ya?” ucap Davino kesal “Ih, bukan!” “Awas ya, pacar-pacaran!” “Apa sih kak?!” “Yaudah sekolah yang bener. Awas ya, kamu!” ucap Davino sambil memicingkan matanya. “Hm! Bye!” Lian memutuskan sambungannya terlebih dahulu. Davino menghembuskan nafasnya kasar. Dia merebahkan tubuhnya di kasur lalu menyugar rambut ikalnya. Ia melihat kerlap kerlip lampu kota New York dengan mata yang sayu. Tidak sampai beberapa menit, dengkuran halus terdengar. -***- Suara gedoran pintu terdengar keras memekakkan telinga Davino. “Bangun, Tuan pemalas. Lo kudu cepet ke kantor supaya kita bisa ke bandara tepat waktu. Pesawat kita tujuh jam lagi.” ucap seseorang dari balik pintu. Davino mengerjapkan matanya dan segera mengambil ponselnya untuk mengecek jam berapa saat ini. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Kepalanya pusing karena bangun dengan keadaan terkejut. Ia segera berdiri, berjalan menuju arah pintu kamarnya. “Berisik, Lo! Pagi banget lo bangun.” “Pagi lah! Gue semalem kelonan bukan mabuk.” “Bersih gak cewek lo? Gue gak mau tau ya, malu gue karyawan gue kena penyakit gara suka main gak bersih.” “Aman bos! Lagipula itu kan urusan pribadi juga. Lo mau survei karyawan lo satu-satu tuh, karyawan lo bersih apa nggak?” “Gue ngomong sebagai teman dan bos lo ya.” “No.. No.. profesional. Gak ada peran ganda.” “Jawab terus lo. Gue mau siap-siap deh.” Davino beranjak menutup pintunya. “Kita sarapan burger di bawah kantor lo aja ya.” “Ya!” Teriak Davino. Davino pun segera masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Setelah beberapa menit, laki-laki itu menghampiri sahabatnya menggunakan setelan jas abu-abu dengan kemeja putih. “You look awesome, handsome!” ucap Kellen yang sudah menggunakan kaos berwarna putih dengan jas dan celana berwarna hitam. “Wanita semalem gak muasin lo? Sampe lo belok.” “Najis, lo! Gak peka. Gue lagi cari muka.” “a***y, Kayak sekretarisnya Zach aja lo.” “Hahahaha.. Justru gue kira lo, yang belok. Gue gak pernah liat lo sama.. siapa gitu?” “Gue harus nunjukin kalo gue pria tulen dengan cara itu?” “Ya, mungkin sampe hamil? Ada hasilnya.” Davino memukul kepala Kellen dengan gelas yang dibawanya agak keras. “s**t! Masih guna nih kepala buat bikin lo makmur.” “Mulut lo tuh, kayak gak pernah di sekolahin. Udah sekolah sampe sini, pikiran lo masih rusak aja.” “Justru karena gue disini bos. Ah elah.” “Tau deh. Cabut! Zach udah di bawah.” “Mari bos, silahkan!” Goda Kellen dengan membungkukkan badannya. Mereka meninggalkan kondominium itu dan melihat Zach sudah menjemputnya dengan mobil kesayangan Papanya. Sebuah Maserati GranTurismo berwarna hitam. Zach menarik perhatian para pejalan kaki yang melintas dengan penampilannya. Cambang tipis di sekitar dagu dan bibirnya memberikan kesan seksi. Apalagi badan tinggi tegap dan kekarnya mampu memberikan kesan berkelas dan maskulin. “Wow! Gue bakal lebih tertarik sama Zach sih, daripada sama lo. Kalo gue jadi cewek!” Bisik Kellen sambil berjalan mendahului Davino. Davino hanya menggelengkan kepalanya saja, sebenarnya dia juga memuji Zach dalam hati. Zach memang tipikal pria dengan dandanan ala eksekutif muda di Amerika. Saat Davino ikut menghampiri Zach yang sudah berbincang dengan Kellen. Dia mulai risih dengan pandangan beberapa orang. Apakah penampilannya aneh? Tanya Davino dalam hati. “Selamat pagi, Tuan Oliver. Apakah kita langsung ke kantor?” “Ya.” “Ini hari yang bagus bukan? Aku merasa menjadi orang keren diantara kalian,” celetuk Kellen dan diakhiri dengan tawa kerasnya. -***-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN