Bab 2 – Bayangan di Balik Jendela

2357 Kata
(Bagian 1) Salju masih turun, meskipun tidak selebat semalam. Butiran putih itu menempel di kaca jendela kamar penginapan, membuat dunia di luar tampak seperti lukisan buram. Alya berdiri di sana, mengamati setiap butiran yang mencair perlahan. Di meja kecil di belakangnya, amplop putih yang ia temukan semalam tergeletak. Isinya—selembar kertas dengan tulisan “Janji itu belum selesai”—sudah ia baca berkali-kali. Setiap kali membaca, perasaan tidak tenang itu semakin kuat. “Kenapa sekarang?” gumamnya lirih. “Kenapa setelah lima tahun?” Pagi ini penginapan terasa lengang. Ibu Maren, pemilik penginapan, sedang di dapur menyiapkan sarapan. Suara dentingan peralatan masak terdengar samar dari balik pintu. Tidak ada tamu lain di ruang makan. Sepertinya musim dingin membuat Edelweiss jarang dikunjungi wisatawan. Alya melirik jam dinding. Pukul 07.15. Ia memutuskan untuk turun ke bawah, berharap secangkir teh panas bisa sedikit menenangkan pikirannya. Saat ia melangkah menuruni tangga kayu yang berderit pelan, aroma roti panggang bercampur kayu bakar menyambutnya. Meja-meja di ruang makan teratur rapi, hanya ada satu meja dengan teko teh dan beberapa potong roti. Ibu Maren muncul dari dapur dengan senyum hangatnya. “Pagi, Alya. Tidur nyenyak?” tanyanya sambil meletakkan piring berisi selai stroberi buatan sendiri. Alya tersenyum tipis. “Lumayan, Bu.” Ibu Maren menatapnya beberapa detik, seakan tahu Alya sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, ia tidak bertanya lebih jauh. “Hari ini kau mau kemana? Salju tidak terlalu tebal, jalanan ke pasar terbuka.” “Ke pasar,” jawab Alya singkat. Ia ingin mencari suasana baru, mungkin menemukan percakapan atau kejadian yang bisa membantunya memahami pesan dalam amplop itu. --- Pasar Edelweiss terletak di pusat kota kecil itu, sekitar lima belas menit berjalan kaki dari penginapan. Sepanjang jalan, rumah-rumah kayu berjajar rapi, atapnya berat oleh timbunan salju. Asap tipis mengepul dari cerobong-cerobong, menandakan kehangatan yang ada di dalam. Di pasar, warna-warni kain, buah, dan rempah berpadu kontras dengan putihnya salju. Pedagang menyapa satu sama lain dengan bahasa lokal yang hangat. Alya berjalan pelan, menyentuh sarung tangan rajut yang dipajang di sebuah kios. Namun, matanya terpaku pada sesuatu di ujung lorong pasar—seseorang berdiri diam, setengah tubuhnya tersembunyi di balik tiang kayu. Lelaki itu mengenakan mantel hitam panjang, topinya menutupi sebagian wajah. Ia tidak bergerak, hanya memandang ke arah Alya. Alya merasakan desiran dingin merambat di tengkuknya. Ia berpura-pura melihat-lihat kios lain, berharap sosok itu menghilang. Tapi saat ia kembali melirik, lelaki itu sudah tidak ada. --- Langkahnya semakin cepat. Ia memutuskan untuk kembali ke penginapan lebih awal. Namun, saat melewati toko kue kecil, ia melihat sesuatu di etalase: sebuah foto lama yang dipajang di sudut bingkai kayu. Itu foto hitam-putih. Seorang laki-laki berdiri di tepi danau, bersalju tebal di sekitarnya. Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat, tapi Alya tahu… itu Raka. Jantungnya berdegup kencang. Ia masuk ke toko dan menunjuk foto itu pada penjual. “Boleh saya tahu ini… diambil kapan?” Penjual, seorang pria tua dengan rambut memutih, mengerutkan kening. “Oh, itu? Sudah lama sekali. Seingat saya… lima atau enam tahun lalu. Seorang teman yang mengambilnya, lalu menitipkan di sini.” “Siapa temannya?” tanya Alya, nadanya sedikit tergesa. Pria itu menggeleng. “Saya lupa namanya. Tapi… dia bilang orang di foto itu tak pernah kembali lagi.” Kata-kata itu menghantam Alya seperti tiupan angin dingin. Ia berterima kasih dan keluar dengan langkah tergesa. Namun, tepat ketika ia hendak kembali ke penginapan, ia merasa seseorang mengikutinya. Bayangan itu memantul di kaca jendela toko-toko yang ia lewati. Tingginya hampir sama dengan lelaki ber-mantel hitam di pasar tadi. Alya memutuskan untuk mempercepat langkah, lalu tiba-tiba berbelok ke gang kecil di antara dua bangunan. Di ujung gang, ia berhenti, menahan napas. Namun, saat ia menoleh… gang itu kosong. Tidak ada siapa pun. --- Alya kembali ke penginapan dengan hati tak tenang. Ia menutup pintu kamarnya, duduk di tepi ranjang, dan menatap amplop putih itu lagi. Pagi ini, ia mendapatkan dua hal yang membuatnya semakin yakin: seseorang mengawasinya, dan Raka memang pernah ada di sini, di Edelweiss, tak lama sebelum menghilang. Pertanyaannya—apakah kedua hal itu saling berkaitan? --- (Bagian 2) Malam itu, Edelweiss terasa lebih sunyi dari biasanya. Salju berhenti turun, menyisakan langit kelabu yang menggantung berat. Dari jendela kamarnya, Alya memandangi jalanan yang sepi. Lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di atas permukaan salju yang beku. Sejak kejadian di pasar pagi tadi, rasa was-was tak mau pergi. Setiap kali mendengar derit papan kayu di koridor penginapan, pikirannya langsung melayang pada bayangan pria ber-mantel hitam itu. Alya memutuskan untuk mencatat semua yang ia alami di buku kecilnya—kebiasaan yang sudah ia lakukan sejak remaja. Ia menuliskan tanggal, tempat, dan kejadian secara rinci, termasuk foto Raka yang ia lihat di toko kue. Laki-laki di foto itu… aku yakin seratus persen itu Raka. Tapi kenapa dia tidak pernah menghubungiku? Dan siapa yang mengikutiku hari ini? Ketukan pelan di pintu membuatnya terlonjak. “Siapa?” tanyanya hati-hati. “Ini aku, Ibu Maren,” jawab suara lembut dari luar. Alya membuka pintu. Perempuan setengah baya itu berdiri sambil membawa nampan berisi semangkuk sup hangat dan sepotong roti. “Kau melewatkan makan malam,” katanya sambil tersenyum. “Kupikir kau butuh ini.” Alya mengucapkan terima kasih. Saat sup itu diletakkan di meja, Ibu Maren menatapnya cukup lama. “Kau terlihat tegang. Ada sesuatu yang kau pikirkan?” Alya ragu sejenak, lalu menggeleng. “Tidak, hanya lelah.” Namun, sebelum meninggalkan kamar, Ibu Maren berkata pelan, “Di kota kecil seperti ini, kabar beredar cepat. Kalau ada yang mengganggumu… pastikan kau memberitahuku.” Kalimat itu membuat Alya terdiam. Apakah Ibu Maren tahu sesuatu? --- Keesokan harinya, Alya memutuskan untuk kembali ke toko kue itu. Tapi saat ia tiba, foto yang kemarin ia lihat sudah tidak ada di etalase. “Foto yang kemarin di sini… kemana?” tanyanya pada pria tua pemilik toko. Pria itu terlihat bingung. “Foto? Tidak ada foto di situ, Nona. Kaca itu kosong sejak minggu lalu.” Alya membeku. “Tapi kemarin saya—” “Kemarin? Saya tidak ingat menunjukkan foto pada siapa pun,” sela pria itu. Sebuah ketidaknyamanan menjalar di tubuh Alya. Apakah pria ini berbohong? Atau… ada yang sengaja menghapus jejak foto itu dalam semalam? --- Hari itu Alya tidak kembali ke penginapan. Ia memilih duduk di sebuah kafe kecil di pinggir pasar, mencoba mengatur strategi. Ia memesan teh mint panas, lalu membuka peta kota Edelweiss yang ia beli pagi tadi. Lokasi-lokasi penting ia lingkari: penginapan, pasar, toko kue, dan jalan setapak menuju danau. Di sudut peta, ia menandai sebuah titik dengan tanda tanya—tempat di mana ia melihat pria ber-mantel hitam itu menghilang. Dari arah pintu masuk kafe, suara bel kecil berdering. Alya tidak menoleh, tapi ia bisa merasakan tatapan seseorang jatuh padanya. Perlahan, ia mengangkat kepalanya dan melihat ke cermin kecil di dinding kafe. Refleksi itu menunjukkan seorang pria duduk di meja ujung, menatap ke arahnya sambil memegang cangkir. Topi hitam menutupi sebagian wajahnya. Alya pura-pura sibuk menulis di buku catatannya, tapi detak jantungnya semakin kencang. Setelah beberapa menit, pria itu berdiri dan keluar. Alya menunggu sebentar, lalu memutuskan untuk mengikutinya dari jarak aman. --- Pria itu berjalan menuju gang sempit di belakang deretan toko. Alya memperlambat langkah, memastikan jarak cukup jauh agar tidak ketahuan. Salju di gang itu belum terlalu terinjak, sehingga setiap langkah terdengar jelas. Di tengah gang, pria itu berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata, “Kau mengikutiku.” Alya membeku. Suara itu rendah dan tenang, tapi membawa nada ancaman yang halus. Pria itu berbalik. Wajahnya kini terlihat jelas—muda, mungkin awal tiga puluhan, dengan mata gelap yang tajam. “Kenapa kau di Edelweiss?” tanyanya. Alya menelan ludah. “Aku… mencari seseorang.” “Raka?” Pria itu menyebut nama itu dengan mantap, seolah ia sudah tahu jawabannya. Alya terkejut. “Kau mengenalnya?” Pria itu tidak menjawab langsung. Ia hanya mendekat, jarak di antara mereka kini hanya beberapa langkah. “Kalau kau ingin bertemu Raka… kau harus berhenti mencari di tempat terang.” “Tempat terang?” Pria itu mendekatkan wajahnya sedikit. “Karena dia bersembunyi di bayangan.” Sebelum Alya sempat bertanya lagi, pria itu berbalik dan berjalan pergi, menghilang di balik tikungan. Alya berdiri mematung, napasnya membentuk uap di udara dingin. Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalanya. Berarti… Raka masih hidup? --- (Bagian 3) Langkah Alya terasa berat saat ia kembali ke penginapan. Setiap derit papan kayu di bawah sepatu botnya terdengar lebih keras dari biasanya. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, ia menoleh ke ujung koridor. Tidak ada siapa pun. Hanya lampu gantung kecil yang berayun pelan, entah karena angin dari jendela atau sebab lain. Begitu pintu tertutup rapat, ia langsung menguncinya, lalu duduk di kursi dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat jalanan kota Edelweiss yang sudah sepi. Salju turun lagi, kali ini lebih lebat, menyelimuti atap rumah, jalan, dan pohon-pohon pinus di kejauhan. Alya menatap buku catatannya. Ia menulis satu kalimat besar di halaman baru: Dia masih hidup. Tangannya bergetar. Ia tidak tahu apakah itu kegembiraan, rasa takut, atau campuran keduanya. Setelah lima tahun penuh tanda tanya, kini ia mendapat potongan jawaban—namun potongan itu datang bersama ancaman samar. --- Tengah malam, Alya terbangun karena suara ketukan pelan di jendela. Ia menoleh, tetapi dari balik tirai hanya terlihat putihnya salju yang jatuh. Ia ragu sejenak, lalu memberanikan diri mendekat. Saat ia menggeser tirai, matanya langsung terpaku pada sesuatu: selembar kertas dilipat, tertahan di sela bingkai jendela. Ia membuka kunci dan membuka jendela sedikit, cukup untuk menarik kertas itu. Udara dingin langsung menusuk kulitnya. Kertas itu tidak beralamat, tidak ada nama pengirim—hanya sebuah kalimat singkat: "Jika kau ingin tahu kebenaran, datanglah ke Danau Senja. Sendirian." Tidak ada tanggal, tidak ada jam. Alya menatap kertas itu lama, mencoba memutuskan apakah ini undangan atau perangkap. --- Pagi berikutnya, ia memutuskan untuk memeriksa lokasi itu terlebih dahulu. Danau Senja terletak di pinggiran kota, dikelilingi hutan pinus yang rimbun. Ia berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang licin, sepatu botnya menancap dalam di salju. Ketika pepohonan mulai jarang, danau itu pun terlihat—membeku, permukaannya memantulkan cahaya pucat matahari musim dingin. Tidak ada siapa pun di sana. Alya berdiri di tepi danau, memandangi permukaan es yang tenang. Namun, saat ia hendak berbalik, matanya menangkap sesuatu di kejauhan—sebuah titik gelap di tengah danau, seperti sosok seseorang berdiri di atas es. Alya menyipitkan mata. Sosok itu tampak memandang ke arahnya, lalu perlahan berjalan menjauh, menghilang di balik kabut tipis yang menyelimuti permukaan danau. --- Di perjalanan pulang, Alya merasa dia sedang diikuti. Ia menoleh beberapa kali, tapi tidak melihat siapa pun. Hanya jejak kakinya sendiri di salju. Namun nalurinya berkata lain—ada seseorang yang sengaja menjaga jarak, cukup dekat untuk mengawasinya, cukup jauh untuk tidak tertangkap mata. Sesampainya di penginapan, ia memutuskan untuk mengunci semua pintu dan jendela. Ia juga menyembunyikan buku catatannya di bawah papan lantai yang longgar, berjaga-jaga kalau ada yang menggeledah kamarnya. Malam itu, sebelum tidur, ia memandangi kembali peta Edelweiss. Titik Danau Senja kini ia beri lingkaran merah besar. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus kembali ke sana—entah untuk mencari Raka, atau untuk mencari kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik salju. --- (Bagian 4) Salju turun lebih deras dari sore tadi. Jalanan kota Edelweiss hampir tak terlihat, tertutup lapisan putih yang tebal. Alya duduk di kursi dekat perapian penginapan, mencoba menghangatkan diri. Suara api yang berderak pelan menjadi satu-satunya sumber ketenangan di ruangan itu. Namun pikirannya tidak bisa diam. Bayangan pria di tengah danau terus menghantui benaknya. Gerakannya yang tenang, tatapannya yang seolah menembus kabut—semuanya terasa seperti pesan diam yang hanya bisa ia mengerti. Ibu Maren menghampiri sambil membawa secangkir cokelat panas. “Kau tampak gelisah,” ucapnya pelan. Alya tersenyum hambar. “Hanya cuaca yang membuatku begini.” Namun Ibu Maren menatapnya lama, lalu berkata, “Di Edelweiss, cuaca bukan satu-satunya hal yang bisa membuat orang membeku.” Kalimat itu membuat Alya merinding. Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, perempuan itu sudah kembali ke dapur, meninggalkan aroma kayu manis dan pertanyaan yang menggantung di udara. --- Tengah malam, suara langkah pelan terdengar di luar kamarnya. Alya menahan napas. Langkah itu berhenti tepat di depan pintunya, lalu terdengar suara gesekan seperti sesuatu yang diselipkan di bawah pintu. Ia menunggu beberapa detik sebelum memberanikan diri mengambilnya. Sebuah amplop tipis, tanpa nama pengirim. Di dalamnya hanya ada foto hitam putih yang agak pudar—foto seorang pria dengan mata tajam, berdiri di depan Danau Senja. Alya menatap foto itu lama. Ia hampir yakin itu Raka, meski wajahnya tampak lebih tirus dan lelah. Di sudut foto, ada tulisan tangan kecil: "Bayangan tidak bisa bersembunyi selamanya." --- Keesokan harinya, Alya memutuskan untuk menyelidiki Danau Senja lagi, tapi kali ini dengan persiapan lebih matang. Ia membawa kamera kecil, peta, dan senter. Udara pagi menggigit, membuat napasnya membentuk uap tebal setiap kali ia mengembuskannya. Saat ia tiba di danau, kabut lebih pekat dari sebelumnya. Ia melangkah hati-hati di atas permukaan es yang licin. Langkahnya bergema aneh di udara, seperti dipantulkan oleh hutan pinus di sekitar. Tiba-tiba, dari arah kabut, muncul suara yang dalam dan jelas: “Kau terlalu dekat.” Alya berputar cepat, tetapi yang ia lihat hanyalah kabut tebal. “Siapa di sana?” teriaknya. Tidak ada jawaban. Namun beberapa detik kemudian, siluet pria itu muncul—pria yang sama yang ia lihat di gang sempit beberapa hari lalu. Kali ini, ia berdiri hanya sepuluh langkah dari Alya. “Kalau kau terus mencari, kau akan menemukan sesuatu yang tak bisa kau kembalikan ke tempat semula,” katanya perlahan. Alya menatapnya tajam. “Kau mengenal Raka. Katakan di mana dia!” Pria itu hanya tersenyum tipis. “Kau akan melihatnya… jika kau sanggup melewati musim dingin ini.” Sebelum Alya sempat bergerak, ia berjalan ke arah kabut, dan dalam hitungan detik, menghilang seperti tak pernah ada. Alya berdiri di sana, sendirian di tengah danau beku, dengan hati yang berdegup kencang. Ia tahu satu hal pasti—musim dingin di Edelweiss baru saja berubah menjadi permainan berbahaya yang melibatkan dirinya, Raka, dan seseorang yang hanya dikenal sebagai Bayangan. --- Malam itu, di kamarnya, Alya menulis catatan terakhir untuk hari itu: "Jika musim dingin ini adalah ujian, maka aku akan bertahan. Demi kebenaran. Demi Raka." ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN