Bab 1 Langkah Pertama di Musim Dingin
(Bagian 1 – Pembukaan Suasana Kota & Kembalinya Alya)
Salju pertama musim ini jatuh seperti rahasia yang dibisikkan langit pada bumi—diam, lembut, dan seolah menyimpan pesan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mau memperhatikannya. Butir-butir putih itu menari di udara sebelum akhirnya menyentuh tanah, mencair di atas bahu seseorang, atau menetap di ujung ranting yang kaku.
Alya berdiri di ujung peron Stasiun Edelweiss Town, memeluk mantel tebalnya. Helaan napasnya keluar dalam uap tipis, menandakan suhu yang menusuk tulang. Di kejauhan, kereta yang baru saja ia tumpangi melaju pergi, suaranya menghilang di balik kabut salju.
Lima tahun. Itu waktu yang dibutuhkan untuk akhirnya ia kembali. Lima tahun sejak ia meninggalkan kota ini dengan langkah terburu, meninggalkan terlalu banyak hal yang belum selesai, meninggalkan orang-orang yang bahkan ia tak sempat ucapkan salam perpisahan.
Dia mengedarkan pandang. Tidak banyak yang berubah. Stasiun kecil itu masih dengan bangku kayu yang warnanya mulai pudar, papan jadwal keberangkatan yang kadang berbunyi berderit, dan aroma khas kayu bakar yang selalu tercium di udara musim dingin.
Di luar peron, lampu-lampu kota kecil itu sudah menyala meski hari belum benar-benar gelap. Cahaya kuningnya menembus kabut tipis, membuat salju yang turun terlihat seperti serpihan emas yang melayang di udara.
Alya menarik koper kecilnya, langkahnya pelan. Dia tidak terburu-buru keluar dari stasiun. Setiap sudut tempat ini seperti memanggil kenangan yang berusaha ia kubur selama bertahun-tahun. Bahkan suara roda koper di lantai stasiun pun mengingatkannya pada sore itu, lima tahun lalu, ketika dia meninggalkan Edelweiss Town tanpa rencana kembali.
Sebuah suara memanggilnya. "Alya?"
Alya menoleh. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di sana, mengenakan mantel wol cokelat dan syal ungu tebal. Di tangannya ada keranjang belanja kecil, setengah terisi roti dan beberapa sayuran segar.
"Ibu Maren…", Alya berusaha tersenyum.
Perempuan itu berjalan mendekat, matanya berbinar. "Astaga… sudah berapa lama? Lima tahun? Kupikir kamu tak akan pernah kembali ke kota ini."
"Kota ini terlalu dingin untuk dilupakan, Bu," jawab Alya, suaranya pelan.
Ibu Maren tertawa kecil, lalu menepuk punggung tangan Alya. Ada kehangatan dalam sentuhan itu, meski jemarinya juga dingin karena udara. "Kalau begitu, selamat datang kembali. Jangan lupa mampir ke tokoku ya. Semua orang pasti ingin tahu kabarmu."
Mereka berbicara sebentar, membicarakan hal-hal kecil: kesehatan, cuaca, kabar beberapa orang yang Alya kenal. Lalu Ibu Maren pamit, meninggalkan Alya sendiri di depan pintu keluar stasiun.
Di luar, angin bertiup lebih kencang. Alya merapatkan syal, menundukkan kepala. Di sisi kanan pintu keluar, ada papan pengumuman kayu, penuh dengan selebaran, poster acara, dan catatan kecil.
Pandangannya awalnya hanya sekilas—poster konser musik lokal, pengumuman pesta Natal, iklan kafe baru—sampai matanya tertahan.
Sebuah amplop putih menempel di papan itu. Tidak ada perangko. Tidak ada nama pengirim. Hanya satu kalimat di depannya, ditulis dengan tinta hitam dan huruf yang sedikit miring:
"Untuk yang kembali di musim dingin."
Jantung Alya berdegup lebih cepat. Ia melirik sekeliling. Tidak ada yang memperhatikannya.
Pelan-pelan, ia mengambil amplop itu, merasakan dinginnya kertas yang sedikit lembap terkena salju. Membukanya, ia menemukan selembar kertas di dalamnya. Hanya satu kalimat:
"Kita bertemu di tempat biasa, saat salju turun lagi."
Tangannya gemetar. Udara di sekitarnya mendadak terasa lebih menusuk, seolah kata-kata itu bukan hanya sekadar pesan, tapi panggilan dari masa lalu yang tak pernah benar-benar mati.
---
(Bagian 2 – Interaksi di Stasiun & Penduduk Kota)
Alya menatap lama pada kertas di tangannya. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, menggema di antara kenangan lama yang mulai bermunculan seperti potongan film buram. “Tempat biasa…” Ia tahu pasti yang dimaksud. Namun hanya memikirkannya saja sudah membuat dadanya sesak.
Dia menyelipkan kembali kertas itu ke dalam amplop, lalu memasukkannya ke dalam saku mantel bagian dalam. Udara dingin menusuk wajahnya begitu ia kembali menatap jalan di depan.
Gerbang keluar stasiun dipenuhi orang-orang yang baru tiba—beberapa penduduk lokal, beberapa turis yang datang untuk melihat festival salju minggu depan. Seorang anak kecil berlari melewati Alya, tertawa lepas, sementara ibunya mengejar sambil membawa kantong belanja.
Alya menghela napas. Kehangatan seperti ini—tawa anak-anak, sapaan orang-orang—adalah hal yang dulu ia sukai dari Edelweiss Town. Tapi sekarang, entah kenapa, semua terasa sedikit asing.
"Permisi, Nona?"
Seorang pria tua, mungkin sekitar tujuh puluh tahun, berdiri di sampingnya sambil membawa koper besar. Rambutnya sudah memutih, tapi matanya masih tajam.
"Apa Anda tahu di mana halte bus menuju kawasan Utara?" tanyanya.
Alya sempat ragu. Ia mengingat peta kota di kepalanya. "Ya, Pak. Ikuti jalan lurus ini, lalu belok kiri di ujung. Halte ada di dekat toko roti Rosenberg."
Pria itu tersenyum lebar. "Ah, terima kasih banyak. Jarang sekali sekarang anak muda yang mau berhenti membantu."
"Sama-sama, Pak."
Pria itu berjalan pergi, meninggalkan aroma tembakau ringan yang terbawa angin. Alya tersadar, betapa banyak wajah yang belum pernah ia lihat di kota ini. Lima tahun bukan waktu sebentar—ada penduduk baru, ada yang pergi, dan ada yang mungkin… sudah tiada.
Ia melangkah keluar stasiun. Jalanan di depannya dipagari toko-toko kecil. Lampu-lampu etalase mulai menyala, memantulkan cahaya ke permukaan salju. Di ujung jalan, ia melihat papan kayu tua bertuliskan “Kafe Lume,” tempat yang dulu sering ia kunjungi.
Langkahnya sempat melambat. Pintu kafe itu masih sama, terbuat dari kayu pinus dengan gagang besi. Dari balik jendela, ia bisa melihat cahaya temaram dan bayangan beberapa pengunjung yang tertawa di meja sudut. Ada rasa hangat yang menguar hanya dari melihatnya.
Namun, Alya memutuskan untuk tidak masuk. Bukan hari ini.
Ia terus berjalan, melewati deretan toko. Seorang pemilik toko bunga, perempuan paruh baya bernama Irena, sedang menyapu salju di depan tokonya. Begitu melihat Alya, ia menghentikan gerakannya.
"Alya? Ya Tuhan… ini benar-benar kamu?"
Alya tersenyum kaku. "Hai, Bu Irena."
"Astaga, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Lima tahun? Aku pikir kamu sudah menetap di kota besar itu. Semua orang bertanya-tanya kapan kamu akan pulang."
Alya hanya mengangkat bahu. "Kota ini… menarikku kembali, sepertinya."
"Hm, atau seseorang?" Irena menyipitkan mata sambil tersenyum penuh arti.
Alya terdiam, lalu tertawa kecil untuk mengalihkan. "Bunga musim dinginmu masih sama indahnya, Bu."
"Tentu saja. Salju membuat warnanya semakin menonjol. Oh, kalau kau sempat, mampir ya. Banyak cerita yang harus kau dengar."
Mereka berpisah. Alya melanjutkan perjalanan menuju penginapan tempat ia akan tinggal sementara. Namun setiap langkah di jalan bersalju ini seperti membangunkan kenangan lama—tawa, janji, juga air mata—yang selama ini ia kira sudah terkubur.
---
(Bagian 3 – Amplop di Atas Salju)
Kereta baru saja meninggalkan stasiun Edelweiss ketika Alya melangkah keluar, menjejakkan kakinya pada salju yang memantulkan cahaya lampu kota. Nafasnya membentuk uap putih di udara dingin. Ia menarik koper kecilnya, melewati deretan bangku kayu yang sebagian besar tertutup salju.
Lalu ia melihatnya—sebuah amplop putih, tergeletak di atas salah satu bangku. Hampir tertimbun salju tipis, seolah baru saja diletakkan di sana.
Alya ragu, matanya menyapu sekeliling. Tidak ada siapa pun, hanya deru angin dan bunyi roda kereta yang menjauh. Dengan hati-hati, ia memungut amplop itu.
Tidak ada nama. Tidak ada alamat. Hanya sebuah gambar kristal salju kecil di sudut kanan bawah, digambar dengan tinta biru yang sedikit memudar.
Alya menelan ludah. Ia mengenali gambar itu. Terlalu baik.
Tangannya bergetar saat ia merogoh isinya. Sepotong kertas tipis terlipat rapi. Saat dibuka, hanya ada satu kalimat yang tertulis:
"Janji itu belum selesai."
Nafasnya tercekat. Udara di sekitarnya terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang. Ia memandangi kertas itu lama, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanya kebetulan.
Tapi kebetulan tidak pernah terasa seperti ancaman.
---
(Bagian 4 – Kota Edelweiss di Musim Dingin)
Malam mulai turun di Edelweiss Town. Dari jendela kamarnya di lantai dua, Alya melihat cahaya lampu jalan yang memantul di atas hamparan salju, membuatnya tampak seperti ribuan permata kecil yang bersinar lembut.
Kota ini memang kecil, tapi punya caranya sendiri untuk membuat musim dingin terasa hangat. Di setiap rumah, jendela-jendela dipasangi lilin elektrik yang berkedip pelan, seperti mengundang siapa pun yang lewat untuk singgah. Asap tipis keluar dari cerobong, membubung perlahan ke langit gelap yang bertabur bintang.
Di kejauhan, lonceng gereja berdentang tiga kali—tanda bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Suara itu bergema, menyusup ke celah-celah bangunan, lalu hilang tertelan angin dingin.
Alya berdiri dan membuka sedikit jendela. Angin musim dingin langsung menyelinap masuk, membawa aroma kayu bakar, roti panggang, dan sedikit wangi tanah basah yang bercampur dengan es. Aroma ini—aroma kota kecil di musim dingin—begitu akrab baginya, meski sudah lama ia tinggalkan.
Jalan utama kota kini dipenuhi aktivitas. Beberapa pedagang membuka lapak kecil, menjual minuman cokelat panas, kacang panggang, dan syal rajut buatan tangan. Tawa anak-anak bercampur dengan suara gesekan papan luncur di trotoar yang licin.
Di salah satu sudut jalan, sekelompok anak muda sedang mendirikan panggung kayu sederhana. Alya ingat, minggu depan akan ada Festival Salju Tahunan. Dulu ia selalu hadir, berdiri di tengah kerumunan, menatap kembang api meledak di langit malam sambil memeluk mantel tebalnya. Tapi tahun ini… mungkin akan berbeda.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kota. Edelweiss Town hanya memiliki beberapa jalan utama dan gang-gang kecil yang saling terhubung seperti benang kusut. Di tengah kota berdiri lapangan luas yang pada musim dingin berubah menjadi arena skating es. Di sisi barat ada danau besar yang kini membeku, memantulkan cahaya bulan. Dan di sisi timur… ada “tempat biasa” itu.
Alya menatap ke arah timur. Dari kamarnya, ia hanya bisa melihat atap-atap rumah yang tertutup salju, tapi ia tahu di balik itu semua ada dermaga kayu yang sunyi. Dan jika ia benar, di situlah semua jawaban menunggu.
Namun, satu hal mengganggunya. Kota ini terlalu tenang—tenang yang terasa dibuat-buat. Seperti seseorang sedang menahan napas, menunggu sesuatu terjadi.
Alya memutuskan untuk menutup kembali jendela, menarik tirai, dan duduk di kursi dekat ranjang. Di luar, angin berdesir, menggoyangkan lonceng angin yang tergantung di beranda penginapan. Dentingnya terdengar lembut, tapi ada nada aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.
Ia tahu… musim dingin ini akan membawa lebih dari sekadar salju.
---
(Bagian 5 – Lima Tahun Lalu)
Lima tahun lalu, musim dingin di Edelweiss Town tidak berbeda jauh dengan yang Alya lihat sekarang—salju menutupi segala sudut kota, aroma kayu bakar memenuhi udara, dan suara tawa orang-orang mengisi lapangan tengah.
Alya masih berusia sembilan belas saat itu. Ia bekerja paruh waktu di kafe kecil dekat danau, kafe dengan jendela besar yang menghadap langsung ke permukaan es. Di sinilah ia pertama kali bertemu dengan dia.
Pria itu datang hampir setiap sore, selalu duduk di meja yang sama, dekat jendela. Ia jarang berbicara, hanya memesan teh chamomile dan sesekali menulis sesuatu di buku catatan kulit berwarna hitam. Awalnya Alya mengira ia hanya pendatang biasa, tapi setelah beberapa kali ia datang, Alya mulai memperhatikan hal-hal kecil: cara ia menatap salju seperti sedang mengingat sesuatu, cara ia tersenyum samar pada anak-anak yang bermain di luar, dan… cara ia memandang Alya seolah mengenalinya.
Suatu sore, saat kafe mulai sepi, ia memanggil Alya.
"Kau suka salju?" tanyanya tanpa basa-basi.
Alya tertegun, lalu tersenyum. "Tentu. Siapa yang tidak?"
Ia menatap ke luar jendela. "Salju itu aneh. Ia jatuh dari langit, mendarat dengan lembut, lalu menghilang begitu saja. Tapi di antara jatuh dan hilangnya, ada waktu singkat… di situlah semua janji dibuat."
Alya tidak paham maksudnya, tapi kata-kata itu entah bagaimana melekat di kepalanya.
Hari-hari berikutnya, mereka mulai berbicara lebih banyak. Namanya… Raka. Ia tidak banyak bercerita tentang dirinya, hanya mengatakan ia sering berpindah-pindah kota. Tapi setiap mereka mengobrol, Alya merasa seperti mengenal seseorang yang sudah lama ia cari.
Mereka punya satu tempat favorit: dermaga kecil di sisi timur danau. Di sanalah mereka sering duduk berdampingan, memandangi air yang membeku, berbicara tentang hal-hal yang mungkin terlalu besar untuk diucapkan di kafe. Raka punya kebiasaan menggambar kristal salju kecil di sudut buku catatannya setiap kali mereka selesai bertemu.
Hingga suatu malam, tepat sebelum Festival Salju dimulai, Raka berkata:
"Kalau suatu hari aku hilang… ingatlah tempat ini. Dan kalau kau melihat tanda ini lagi," ia menunjuk gambar kristal salju kecil di buku catatannya, "itu artinya aku menunggumu."
Esok paginya, Raka menghilang. Tidak ada pesan, tidak ada kabar. Seperti salju yang jatuh lalu menghilang, ia lenyap begitu saja.
Alya mencoba mencari, bertanya ke orang-orang, bahkan menulis surat ke alamat yang pernah ia lihat di secarik kertas milik Raka—tapi semuanya buntu. Hingga akhirnya ia memutuskan pergi meninggalkan Edelweiss Town.
Dan kini, lima tahun kemudian, tanda itu muncul lagi.
---
(Bagian 6 – Panggilan di Malam Dingin)
Angka di jam meja menunjukkan pukul 9.12 malam ketika Alya akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya. Jemarinya sempat ragu, tapi akhirnya ia mengetikkan nama yang sudah lama tidak ia hubungi: Maya.
Nada sambung terdengar tiga kali sebelum suara ceria yang dulu selalu mengisi hari-harinya menjawab.
"Alya? Astaga… ini kamu?!"
Alya tersenyum tipis. "Iya, May. Aku… balik ke Edelweiss."
Hening sejenak di ujung sana, sebelum suara Maya terdengar lebih pelan, seolah takut ada yang mendengar.
"Kenapa kamu balik? Setelah semua yang terjadi—"
"Aku nggak bisa jelasin panjang sekarang," potong Alya cepat. "Tapi… aku nemu sesuatu. Amplop. Ada tanda yang…"
Maya menghela napas, lalu menurunkan suaranya lebih jauh. "Kristal salju?"
Alya terdiam. "Kamu tahu tentang itu?"
"Alya, denger aku baik-baik." Suara Maya berubah tegas, tapi di baliknya ada nada cemas yang jelas. "Kalau kamu lihat tanda itu lagi… jangan cari dia. Dan jangan sampai orang lain tahu kamu sudah lihat."
Alya mengernyit. "Kenapa? Apa yang sebenarnya—"
Suara Maya mendadak terputus, berganti suara bising seperti statis radio. Lalu… klik. Panggilan berakhir.
Alya menatap layar ponselnya. Sinyal penuh. Tidak mungkin itu masalah jaringan. Napasnya memburu. Ucapan Maya bergema di kepalanya: jangan cari dia.
Ia memandang ke luar jendela. Hujan salju semakin deras, menelan cahaya lampu jalan. Di kejauhan, di seberang jalan… ia melihat sosok berdiri.
Tinggi, mengenakan mantel panjang, dan… seolah menatap ke arah kamarnya.
---
(Bagian 7 – Di Bawah Bayangan Salju)
Alya membeku di tempat. Sosok itu berdiri di bawah tiang lampu, cahaya kuning pucat hanya menyingkap sedikit bentuk tubuhnya—cukup untuk melihat siluet bahu lebar dan garis mantel yang menjuntai hingga lutut.
Hatinya berdegup tak beraturan. Pikirannya berusaha mencari penjelasan logis: mungkin hanya orang yang kebetulan lewat, mungkin turis yang tersesat… atau mungkin—
Sosok itu bergerak. Perlahan. Satu langkah maju. Tidak ada suara langkah kaki, hanya derit salju yang samar. Lalu ia berhenti, menatap lurus ke arah jendela Alya.
Alya mundur selangkah, menahan napas. Tangan kirinya meraih tirai, ragu untuk menutupnya. Tapi sebelum ia sempat bergerak, angin kencang bertiup, mengguncang lonceng angin di beranda. Dentingnya terdengar nyaring, hampir seperti sinyal.
Sosok itu mengangkat tangan. Di telapak sarungnya, Alya melihatnya dengan jelas—sebuah kertas kecil, putih, dengan gambar kristal salju yang sama persis dengan yang ada di amplopnya.
Jantung Alya seperti dihantam es.
Lalu… lampu jalan berkedip sekali, dua kali, dan padam. Dalam kegelapan yang mendadak itu, sosok itu menghilang.
Alya berdiri mematung, matanya menatap jalan kosong di bawah hujan salju. Tidak ada jejak kaki. Tidak ada tanda ke mana orang itu pergi.
Hanya udara dingin yang semakin menusuk, dan rasa yang ia kenal sejak lima tahun lalu—perasaan bahwa ia sudah terlambat untuk mundur.
---