Chapter 7-Something That We're Not

3029 Kata
Di Jakarta, Mitha sedang mengerjakan tugas kuliahnya yang harus dikumpulkan hari Senin besok. Tugas kuliah yang sebenarnya masih belum dia pahami sepenuhnya. Tugas kuliah yang sudah pernah diajarkan oleh Harlan, namun karena dia terlalu sibuk menatap wajah sahabatnya itu, dia jadi tidak terlalu memperhatikan. Setelah sepuluh menit menatap buku di hadapannya dengan berbagai macam gaya, dari mulai menggigiti bolpoin hingga mengikat sebuah tali di kepalanya, Mitha menyerah. Gadis itu menghela napas panjang dan berdecak jengkel. Dilemparnya bolpoin yang dipegangnya dan ditutupnya buku tersebut dengan keras.             Tiba-tiba, ponselnya berdering. Mitha tersentak kaget dan mengelus dadanya pelan. Diliriknya layar BlackBerry yang dia letakkan di atas meja dan senyumnya merekah kala membaca nama Harlan disana. Langsung saja, dia menekan tombol warna hijau dan didekatkannya BlackBerry tersebut ke telinga.             “Haloooo, Harlaaaaan...,” sapa Mitha dengan nada suara riang yang diusahakan sebisa mungkin terdengar normal. Padahal, degup jantungnya saat ini begitu meliar. Sebenarnya memang selalu seperti itu kalau Mitha berdekatan dengan Harlan semenjak SMA. Satu hal yang selalu ditutupinya selama ini didalam hatinya.             “Hei,” balas Harlan di ujung sana dengan suara yang lemas. Mitha sampai mengerutkan kening ketika mendengar suara Harlan tersebut dan seketika itu juga senyum di bibirnya mulai memudar.             “Kenapa lo?”             Tidak ada sahutan dari Harlan. Yang didengar Mitha hanyalah helaan napas laki-laki itu dan jeda selama beberapa saat. Ah, Mitha juga bisa mendengar petikan gitar yang sepertinya dimainkan asal-asalan. Sepertinya, Harlan sedang menelepon dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya yang lain sedang memetik senar gitar.             “Gue udah bilang ke Ine kalau gue cinta sama dia.”             DEG!             Entah apa yang merasuki jantungnya saat ini. Yang jelas, Mitha merasa jantungnya menghentak dadanya dengan begitu hebatnya, hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas. Dia merasa darahnya terserap habis keluar dan napasnya tercekat di tenggorokan. Rasa panas mulai menjalar di daerah matanya, namun sebisa mungkin dia menahan agar airmata itu tidak mengalir turun. Mitha menarik napas pelan dan membuangnya dengan keras. Bahkan untuk menghirup oksigen pun rasanya begitu sulit.             Padahal, Mitha memang sudah menduga bahwa sebenarnya Harlan memiliki perasaan khusus pada Ine yang sudah di cap oleh laki-laki itu sebagai musuh bebuyutannya. Ine si Jerry chubby. Tapi... meskipun sudah menduga akan hal itu, mengapa rasanya bisa sesakit ini saat mendengar bahwa Harlan sudah menyatakan cintanya pada Ine?             “Oh ya?” Mitha berusaha sekuat mungkin agar suaranya terdengar biasa saja. Dia tersenyum tipis untuk sekedar membunuh rasa sakit yang mulai menyerang hatinya. Namun, jika ada orang yang melihat senyuman Mitha itu, mereka bisa langsung menebak bahwa senyuman gadis itu terlihat sangat getir dan pahit. Senyuman kekecewaan. “Terus? Dia bilang apa? Kalian udah jadian, dong? Wah, selamat, ya! Jangan lupa pajak jadiannya buat gue.”             “Dia nggak ngomong apa-apa, Tha...,” balas Harlan lesu. Laki-laki itu menghembuskan napas berat. Mitha bisa mendengar nada kecewa dari suara sahabatnya itu. “Dia cuma diam dan gue juga udah duga kalau dia akan bereaksi seperti itu. Dia suka sama Rizan... tunangan Kakak gue.”             “Hah? Serius lo?”             “Iya....” Harlan kembali menghembuskan napas. “Waktu acara pertunangan malam itu, Ine ngaku di depan semua orang kalau dia sukanya sama Rizan. Tapi, orangtua kami tetap memasangkan gue sama Ine dan Rizan sama Kakak gue. Gue rasa, Ine nggak bisa berbuat apa-apa untuk menolak.”             Sebut dia jahat, tetapi, dia sangat bersyukur bahwa Ine tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Harlan. Dan dia sangat senang dengan kenyataan itu. “Jadi... rencana lo selanjutnya apa?”             “Entahlah... gue bingung.” Laki-laki itu berdecak jengkel dan menarik napas panjang. “Lagi apa lo?”             “Hah? Gue?” Mitha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berdeham. “Lagi ngerjain tugas yang dikasih sama Pak Budi. Cuma, gue nggak paham-paham dari tadi ngerjainnya.”             “Tugas? Tugas yang mana?” tanya Harlan dengan nada bingung. “Emang ada tugas ya?”             “Iya... yang dikasih sama Pak Budi kemarin, sebelum lo ke villa sahabat bokap lo itu. Masa lo lupa?”             “Oh... tugas yang itu. Gue, sih, udah selesai.”             “Tau, deh, yang pinter.”             Keduanya tertawa bersama. Untuk sementara, Harlan bisa melupakan perasaan galaunya terhadap Ine. Sampai kemudian, sebuah suara lembut tapi terdengar sedikit gugup memanggil namanya. Harlan menoleh dan mendapati Ine berdiri tak jauh darinya. Gadis itu berdeham pelan dan menunjuk ke arah api unggun dan orang-orang yang sedang membakar jagung dengan dagunya.             “Dipanggil sama nyokap lo, Lan....” Ine menundukkan kepala dan langsung memutar tubuhnya. Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Harlan yang tersiksa karena melihat sikap Ine barusan. Rasanya lebih menyenangkan berdebat dan bertengkar dengan gadis itu ketimbang harus berada dalam situasi seperti ini.             “Udah dulu, ya, Tha? Ine barusan manggil gue. Gue dipanggil sama nyokap.” Harlan menutup panggilan dan bergegas pergi menuju tempat dimana Bundanya sedang membakar jagung.             Di tempatnya, Mitha menaruh ponselnya di atas meja. Gadis itu memijat pelipisnya pelan karena mendadak merasakan pusing mendera kepalanya. Kemudian, sesuatu yang cair mengalir dari hidungnya. Mitha tersentak dan menyentuh hidungnya lantas langsung mengambil tissue yang memang sudah siap tersedia di meja belajarnya. Banyak sekali cairan yang keluar dari hidungnya tersebut, menjelaskan bagaimana dia bisa mendapatkan rasa pusing dan sakit yang saat ini mendera kepalanya.             Darah.             Mitha menghela napas panjang dan melirik sebuah pigura foto yang berada di dekat diktat-diktat kuliahnya. Foto dirinya bersama Harlan saat masih mengenakan seragam SMA. Di sebelahnya, foto dirinya bersama Harlan saat lulus S1. Ditatapnya dengan nanar kedua foto tersebut.             Leukimia yang baru saja dideritanya beberapa bulan belakangan ini membuat Mitha takut. Takut tidak akan bisa mengatakan perasaan yang sebenarnya pada Harlan. Takut akan pergi secepatnya dan tidak bisa menghabiskan waktu bersama-sama dengan Harlan lagi. Kalau dia meminta Harlan untuk menjadi pacarnya sebelum dia pergi untuk selamanya dari dunia ini, apakah laki-laki itu akan menerimanya?             Karena dia... karena Mitha mencintai Harlan, sahabatnya sendiri. @@@ Orlan mendekati Cecillia yang sedang cemberut hebat dan duduk di sofa ruang keluarga villa ini sambil tersenyum geli. Dia menghempaskan tubuhnya di samping Cecillia yang sudah mengenakan piyama bergambar Winnie The Pooh. Karena melihat Cecillia asyik sendiri dengan dunianya, Orlan berdeham agak keras untuk mengalihkan perhatian gadis itu. Berhasil. Cecillia terkejut dan langsung menoleh. Ketika dia melihat Orlan yang tersenyum lebar ke arahnya, Cecillia mendengus lantas kembali melanjutkan aksi cemberutnya.             “Lo kenapa, sih, Cil? Nggak ikutan bakar-bakaran jagung di halaman?” tanya Orlan dengan kening berkerut. Dia sebenarnya ingin tertawa saat melihat ekspresi wajah gadis di sampingnya itu, namun diurungkan niatnya demi tidak mendapatkan semprotan maut dari Cecillia.             “Males!” dengus Cecillia ketus. “Lagipula, gue baru aja membuat acara yang lebih menarik. Nenggelemin diri di kolam renang!”             “Hah? Maksud lo? Kok, lo bisa tenggelam gitu?”             “Gue niatnya mau ngomong sama Rizan, makanya gue nyamperin dia. Dia lagi duduk di tepi kolam renang. Gue panggil dari belakang, eh, dia malah kaget. Pas bangun, dia sempoyongan gitu, deh, terus akhirnya jatuh ke kolam dan sialnya buat gue yang ada di belakang dia, dia narik baju gue sampai akhirnya gue jadi ikutan nyebur juga!”             Tawa Orlan langsung menyembur keluar ketika dia mendengarkan penjelasan Cecillia yang panjangnya seperti rel kereta api itu. Udah ngomongnya panjang, berapi-api, nggak ada jeda, lagi. Mendengar tawa Orlan, Cecillia langsung berdecak jengkel dan memukul lengan laki-laki itu hingga temannya tersebut mengaduh.             “Kok gue dipukul, Cil?” tanya Orlan sambil meringis dan mengusap lengannya.             “Siapa yang suruh lo ngetawain gue?”             “Ya, habisnya penjelasan lo barusan emang lucu,” ucap Orlan lagi. “Emangnya, lo manggil Rizan kayak gimana sampai dia bisa kaget gitu?”             “Gue manggilnya biasa aja, kok. Cuma neriakin nama dia aja.” Cecillia menjawab polos sambil mencibir. “Dianya aja yang lebay.”             “Elo kali yang salah. Pantas aja dia kaget. Itu, sih, bukan manggil namanya tapi teriak.”             “Whatever,” balas Cecillia sambil mengibaskan sebelah tangannya. “Lo sendiri, kenapa nggak ikutan sama yang lain?”             “Males juga. Gue habis di kamar tadi. Abis nelepon teman.”             Cecillia hanya menganggukkan kepalanya sambil membulatkan mulut. Gadis itu kemudian memainkan ujung rambutnya sambil bersenandung pelan. Merasa diperhatikan, Cecillia menoleh dan mendapati Orlan tengah menatapnya dengan tatapan berbeda. Tatapan yang sulit diartikan oleh gadis itu.             “Lo kenapa ngeliatin gue kayak gitu, Lan?” tanya Cecillia. Risih juga dia diperhatikan sedemikian rupa oleh Orlan.             “Lo cantik banget, ya, Cil....”             “Halaaaah... gombal,” balas Cecillia sambil bangkit berdiri. Atmosfer yang tercipta saat ini benar-benar membuat perasaannya tidak enak. “Gue ke kamar dulu, deh.”             Sepeninggal Cecillia, Orlan merenung. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Matanya menatap lantai di bawahnya dengan tatapan menerawang. Tanpa dia tahu, bahwa sedari tadi, Rizan berdiri mengawasi. Laki-laki itu bersandar pada daun pintu pembatas ruang tengah dengan ruang dapur. Kedua tangannya dilipat di depan d**a dan alisnya terangkat satu. @@@ Entah ini bisa disebut liburan atau tidak, yang jelas, Harlan merasa sangat hambar. Ibaratnya, kalau kita lagi makan sayuran tapi nggak dikasih garam. Harusnya, Harlan bersemangat karena dia bisa terbebas sejenak dari padatnya kota Jakarta. Besok, mereka semua akan kembali ke Jakarta dan Harlan akan memulai aktivitasnya kembali.             “Pagi-pagi udah ngelamun aja, lo. Kesambet baru tau rasa.”             Sebuah tepukan pada pundaknya membuat Harlan menoleh dan tersenyum kecil. Rivalnya datang. Meskipun Harlan tahu bahwa Rizan tidak menyukai Ine, namun gadis itu menyukai Rizan. Dan hal itu membuatnya kesal setengah mati.             “Elo, Zan...,” ucap Harlan pelan. Ditatapnya laki-laki itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebenarnya, apa kelebihan yang dimiliki Rizan tetapi tidak dimilikinya? Apa yang membuat Ine begitu menyukai Rizan disaat tunangan laki-laki itu sendiri yang notabene adalah Kakak kandungnya begitu membencinya?             Pagi ini, Rizan nampak keren walaupun hanya dengan kaus putih polos yang mencetak jelas lekuk-lekuk tubuhnya. Dia juga memakai celana jeans selutut. Sama seperti yang dikenakan oleh Harlan. Hanya saja, Harlan memakai kaus berwarna hitam dan memakai sebuah headband.             “Ingat, nggak, sama dance yang pernah kita mainkan dulu?” tanya Rizan.             “Ingat. Yang latihannya aja pakai acara ngumpet-ngumpet itu, kan?”             “Hahahaha... iya, yang itu. Sumpah, itu kocak banget.”             Rizan dan Harlan memang pernah mengikuti lomba modern dance yang diadakan di daerah Bekasi. Lomba dengan hadiah yang begitu besar. Mereka berdua bersama dua orang teman Rizan latihan secara sembunyi-sembunyi supaya tidak ketahuan oleh Shabrina dan Anna. Maklumlah, waktu itu, mereka masih kelas tiga SMA. Sudah mendekati ujian nasional. Bahkan Cecillia pun tidak tahu mengenai kegiatan Harlan tersebut.             “Mau nyoba ngelakuin itu lagi sekarang?” tantang Rizan.             “Disini?”             “Yup! Disini.” Rizan meringis geli. “Sekalian, bangunin orang-orang didalam. Udah jam setengah tujuh tapi masih pada tidur.”             “Boleh juga. Kebetulan, gue bawa lagu yang cocok sama gerakan dance itu. Sebentar, gue ambil dulu.” Harlan bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam villa. Sementara menunggu, Rizan mengecek sebuah SMS masuk di ponselnya dan mengerutkan kening ketika membaca isi SMS tersebut.   From: 08123456xxx Jauhin Cecillia! Dia milik gue!               Apa-apaan, ini?             “Yuk! Kita mulai mengguncang dunia.” Suara Harlan yang mengagetkannya langsung membuatnya bangkit berdiri. Rizan segera menaruh kembali ponsel tersebut ke saku celana pendeknya dan berjalan mengikuti Harlan ke halaman depan. Harlan sudah membawa sebuah tape yang kemungkinan besar diambil dari ruang keluarga. Laki-laki itu memasukkan sebuah kaset dan mulai mengalun sebuah intro lagu.             Suara lagu yang cukup nge-beat itu membuat Rizan dan Harlan saling pandang lalu menggosokkan kedua tangan mereka masing-masing. Di awal lagu, Rizan dan Harlan melakukan toprocks. Gerakan ini membutuhkan fleksibilitas, gaya , dan yang paling penting irama. Tarian ini biasa digunakan pada awal pertunjukkan sebagai pemanasan beberapa gaya akrobatik lain.             Setelah itu, Rizan dan Harlan melakukan gaya dowrock, dimana pada gaya ini, kedua laki-laki tersebut menampilkan perputaran tubuh dengan kecepatan kaki dan kontrol dengan cara mengkombinasi gerakan kaki. Kombinasi ini akan menampilkan gaya yang disebut power moves.             Power Move adalah gerakan yang membutuhkan momentum dan kekuatan fisik untuk menjalankannnya. Pada power move, Rizan dan Harlan lebih bergantung pada kekuatan tubuh bagian atas untuk menari, menggunakan tangan untuk bergerak. Power Move terdiri dari Windmill, Swipe, danFlare. Beberapa gerakan meminjam dari bela diri seperti buttertfly kick.             Meskipun keduanya masih asyik melakukan gerakan-gerakan dance yang begitu menguras tenaga hingga membuat mereka berkeringat dan kaus yang mereka kenakan semakin jelas mencetak otot-otot tubuh mereka, Rizan dan Harlan terpaksa berhenti ketika melihat sosok Ine dan Cecillia yang sudah berdiri di ambang pintu utama. Lagu What About Love-nya Austin Mahone itupun terpaksa dimatikan oleh Harlan ketika dia melihat tampang sangar sang Kakak.             Tapi... tunggu dulu! Harlan bisa melihat semburat merah yang muncul di kedua pipi Cecillia. Harlan menoleh ke arah Rizan dan tersenyum geli ketika sadar bahwa mungkin saja, sang Kakak sudah terpesona dengan gerakan dance Rizan barusan. Sementara Ine, gadis itu terlihat melongo. Kedua gadis itu bahkan masih mengenakan piyama tidur mereka.             “Elo berdua nggak punya sopan-santun, ya?!” omel Cecillia. Gadis itu berdeham pelan dan langsung menunjuk wajah Harlan dan Rizan secara bergantian. “Ini masih pagi tapi lo berdua udah joget-joget nggak jelas di halaman. Mau pamer, hah? Bangunin orang aja!”             Setelah berkata demikian, dengan gerakan yang sangat aneh menurut Harlan, Cecillia berlari masuk kedalam villa. Berani taruhan, Kakak tercintanya itu pasti sedang gugup dan deg-degan sekali karena baru saja melihat pertunjukkan yang begitu keren.             “Gue baru tau kalau lo bisa nge-dance,” ucap Ine tiba-tiba, membuat Harlan menatap gadis itu dengan cepat. “Bagus. Keren. Gue suka....” Gadis itupun kemudian memutar tubuhnya dan mengikuti jejak Cecillia masuk kedalam villa.             “Menurut lo... apa gue udah bikin Cecillia terpesona sama gue?”             Pertanyaan Rizan yang penuh semangat itu membuat Harlan menoleh. Rizan terlihat sedang tersenyum lebar dan memainkan kedua alisnya dengan lucu, membuat Harlan terbahak.             “Mungkin.”             “Lo setuju nggak kalau gue tunangan sama Kakak lo?”             Hening.             Harlan menatap kedua manik mata Rizan. Laki-laki itu bisa melihat kesungguhan dari pancaran mata Rizan. Sepertinya, laki-laki itu memang mencintai sang Kakak yang keras kepala dan masih saja ngeyel mengibarkan bendera perang terhadap Rizan.             “Asalkan lo nggak nyakitin dia dan beneran tulus sama dia, gue setuju aja.”             Sebenarnya, gue juga setuju supaya Ine menyerah soal lo, sambung Harlan dalam hati. @@@ Bagaimana ini?             Sejak melihat Rizan yang sedang nge-dance di halaman depan bersama adiknya, detak jantung Cecillia tidak mau berhenti. Maksudnya, jantung memang seharusnya berdetak, kalau berhenti berdetak, itu artinya manusia tersebut pasti sudah mati. Berhenti berdetak yang dia maksudkan disini adalah tidak mau berhenti berdegup dengan kencangnya. Wajah Rizan... senyumannya... gerakan tubuhnya yang lihai... keringat yang membuat kaus putih itu mencetak jelas tubuh laki-laki itu... semuanya masih terekam segar dan jelas didalam otaknya. Membuat angannya tiba-tiba saja meliar dan ingin membuka kaus putih laki-laki itu dengan tangannya sendiri.             Dia malas untuk mengakuinya tetapi... RIZAN KEREN ABIS!             Demi apapun yang ada di dunia ini, baru kali ini Cecillia melihat seorang laki-laki yang begitu menggoda imannya. Membuatnya hampir meneteskan air liur. Bagaimana bisa si kunyuk Rizan itu berubah keren dalam pandangan matanya? Tuhaaaaan... kembalikan kewarasan dirinya!             Merasa harus mengisi sesuatu yang segar kedalam tenggorokannya, Cecillia bangkit dari posisi duduknya dan bergegas keluar dari dalam kamar. Mungkin, dia memang harus meminum sesuatu yang segar supaya otaknya kembali jernih dan menghapus semua yang terlanjur dilihatnya tadi.             Begitu Cecillia sampai ke dapur, langkah kakinya terhenti. Pemandangan di depannya benar-benar membuatnya melongo maksimal. Rizan sedang meneguk air dingin langsung dari dalam botol dengan keadaan... telanjang d**a! Diulang, ya... TELANJANG d**a!             Ya Tuhan! Bagaimana bisa laki-laki itu sekarang mulai mengintimidasinya?! Lihat keringat itu. Keringat yang mengalir pada d**a bidangnya... terus mengalir ke bawah, ke bagian perut six pack nya. Kausnya disampirkan di bahu kanannya. Hal yang membuat Cecillia menelan ludah susah payah.             Merasa diperhatikan, Rizan menoleh. Laki-laki itu menghentikan kegiatan minumnya dan menutup botol tersebut. Dengan santai, Rizan berjalan ke arah Cecillia yang otomatis mengambil langkah mundur. Sialnya, di belakang Cecillia kini berdiri kokoh sebuah tembok yang membuat akses kaburnya tertutup. Cecillia hanya bisa menahan napas ketika dia melihat Rizan merentangkan kedua tangannya dan mengurung dirinya diantara laki-laki itu dan tembok di belakangnya. Aroma maskulin dari parfum axe yang dikenalnya, karena Harlan juga memakai minyak wangi tersebut, langsung menyerang indra penciumannya.             “Terpesona sama gue? Hmm?” tanya Rizan sambil menikmati ekspresi gugup Cecillia di hadapannya.             “Ka... kata siapa? Jangan ngaco!” bantah Cecillia. Suaranya diusahakan terdengar senormal mungkin, namun percuma saja sepertinya. Mau Cecillia menyangkal sekeras apapun, Rizan sudah tahu bahwa gadis itu gugup setengah mati.             “Oh... gue minta maaf kalau gitu.” Rizan menganggukkan kepalanya dan mengusap sebelah pipi Cecillia, membuat gadis itu merinding. “Maaf... udah bangunin lo pagi-pagi begini karena ulah gue.”             Selesai berkata demikia, Rizan menunduk sedikit karena tinggi Cecillia hanya sebatas dadanya saja. Dikecupnya pipi kanan Cecillia, hingga membuat gadis itu membeku. Setelah tersenyum tipis, Rizan memundurkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Cecillia sambil bersiul.             Dia sama sekali tidak tahu dampak ulahnya barusan bagi kesehatan jantung Cecillia saat ini. @@@ Sekembalinya ke Jakarta, hubungan Harlan dan Ine tidak terlalu bagus. Keduanya seperti saling menghindari satu sama lain. Mungkin, kejadian saat pernyataan cinta Harlan tempo hari itulah yang membuat situasi terasa canggung.             Saat ini, Harlan sedang berjalan bersama Mitha di sepanjang lorong kampus. Keduanya tengah membahas sesuatu. Sampai kemudian, langkah Mitha terhenti dan gadis itu memijat pelipisnya.             “Kenapa, Tha?” tanya Harlan cemas. “Lo sakit?”             “Mmm... Cuma sedikit pusing,” jawab Mitha sambil tersenyum. Harlan bisa melihat wajah sahabatnya itu begitu pucat.             “Tha! Hidung lo berdarah!” seru Harlan. Laki-laki itu langsung menggunakan kausnya untuk mengusap darah yang keluar dari hidung Mitha. “Lo sakit, Tha! Kita ke ruang kesehatan sekarang, ya?”             Belum sempat Mitha menjawab, gadis itu keburu tidak sadarkan diri. Dengan sigap, Harlan langsung menahan tubuh sahabatnya itu dan menggendongnya, lantas langsung membawa Mitha ke ruang kesehatan. Tanpa tahu, Ine memperhatikan dan mengikuti keduanya dari belakang.             Sesampainya di ruang kesehatan, Harlan membaringkan tubuh Mitha dengan sangat hati-hati ke atas kasur. Diselimutinya tubuh Mitha sampai sebatas perut dan dibelainya rambut sahabatnya itu dengan lembut. Ketika Harlan akan keluar dari dalam ruang kesehatan, laki-laki itu merasa lengannya ditahan. Harlan menoleh dan mendapati Mitha sudah membuka kedua matanya.             “Jangan pergi....”             Apa? Apa kata Mitha tadi?             “Harlan... gue mohon... jangan pergi...,” ucap Mitha lirih. Tiba-tiba saja, airmata gadis itu mengalir turun, membuat Harlan tertegun sekaligus terkejut. “Jangan pergi... tolong, sekali ini saja... liat gue. Hanya melihat ke arah gue. Gue... sahabat lo, sekaligus orang yang mencintai lo....”             DEG!             “Gue suka sama lo... gue sayang sama lo, Lan... gue cinta sama lo...,” ucap Mitha lagi. Isak tangisnya semakin terdengar. Cekalan gadis itu pada lengan Harlan terasa bergetar dan gemetar. Tubuh gadis itu berguncang hebat.             Astaga! Mitha... mencintainya?             Sejak kapan?             Tiba-tiba, terdengar suara benda terjatuh. Harlan dan Mitha terkejut dan otomatis menoleh. Harlan membeku ketika melihat Ine sedang memungut buku tebal yang baru saja terjatuh itu. Gadis itu mendongak dan kelihatan salah tingkah. Meskipun jarak keduanya terlampau jauh, tapi, Harlan bisa melihat kedua mata gadis itu yang berkaca.             “Maaf, Lan... gue nggak sengaja dengar... maksud gue... gue....”             Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Ine langsung memutar tubuh dan berlari ke luar ruang kesehatan tanpa memperdulikan seruan Harlan yang memanggil namanya. Harlan ingin mengejar, tetapi cekalan Mitha pada lengannya semakin menguat. Laki-laki itu menoleh dan menatap Mitha yang terus menangis dengan tatapan serba salah.             Apa yang harus dia lakukan? @@@
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN