mobil Dinda pun mulai melaju dan menjauh dari halaman rumah ku
"yeiii" sorak ku dalam hati, sambil melirik ke arah Dinda yg sedang menyetir,, aku yg duduk di kursi belakang saling beradu pandang dengan Dinda lewat kaca spion Nia yg duduk di sebelah Dinda sudah tertidur saat aku dengan tidak sabar mencium pipi Dinda dari samping
"awas nanti si Nia bangun" sungut Dinda sambil menggigit bibirnya
. . .
setibanya di rumah Dinda, kami langsung mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar, kami tidur bertiga di satu ranjang besar, aku dan Dinda berada di kedua pinggiran ranjang di samping Nia yg tidur di tengah
baru saja aku hendak tidur, tiba-tiba terasa sesuatu menekan buah d**a ku lembut, aku tau pasti itu adalah tangan Dinda, aku membuka mata dan menoleh ke arahnya
"beb kita main yuk?!" ajak Dinda
"mana bisa ada Nia kan?" tanyaku berbisik
"di bawah" kata Dinda pendek
lalu aku pun mengangguk setuju, entah mengapa begitu sulit rasanya menolak gejolak birahi ini, entah sejak kapan tapi kami sama-sama ketagihan
. . .
kami berdua sekarang sudah telanjang bulat bergumul di lantai hanya beralaskan selimut
berulang kali kami saling jilat, saling hisap bergantian,, tapi kami berusaha menahan desahan dan teriakan kami agar tidak membangunkan Nia
"emhhhh beb hisap beb, gigit" suara Dinda mengarahkan ku
"emhh slepp slepp slepp" suara hisapan dan jilatanku pada mahkota Dinda
"ahhhh ahhhh ahhhh" suara desahan Dinda makin intens, tapi tetap dalam mode silent
tak lama kemudian, tubuh Dinda menegang dan
"aahhhhhhhhhhhhhhhhh" lenguhan panjang yg cukup keras keluar dari mulut Dinda, beruntung aku sempat menutup mulut Dinda dengan tangan ku, jadi suaranya sedikit teredam
kami pun berbaring di lantai bersebelahan, ku biarkan Dinda menikmati sisa orgasmenya
lima menit berlalu, kemudian Dinda bangkit dan mulai naik ke atas tubuh ku
"makasih beb, sekarang giliran kamu" bisik Dinda lembut
aku hanya memejamkan mata dan menikmati permainan Dinda, dengan sigap Dinda sudah melaksanakan tugasnya, bibir manisnya mengulum bibirku lembut, kedua pasang buah d**a kami bergesekan
"emhhhhh" rintihan ku keluar, saat sekarang Dinda berada di belakangku, Dinda menarik tubuhku untuk bersandar di d**anya, kaki ku dibukanya lebar-lebar lalu tangan lembut Dinda mulai mengocok lembut mahkotaku yg bersih tampa bulu, dan sudah basah karena perlakuan Dinda
"ahhhhh ahhhhh ahhhhh, enak banget beb" desah ku lirih, saat bibir Dinda beradu dengan bibir mahkotaku
aku menggelinjang menahan rasa geli dan nikmat di tubuh ku, entah kenapa aku merasa ada yg sedang memperhatikan aktivitas kami, sampai tampa sengaja aku menoleh ke arah ranjang dan
"D D Dinda, gawat" gumam ku gemetaran
"kenapa yang?" tanya Dinda
aku tak mampu menjawab, aku hanya menunjuk ke arah ranjang, lalu aku dan Dinda melihat sepasang mata sejak tadi menatap kami dengan tidak berkedip
"N N Nia" Dinda terbata
kekagetan kami membuat kami berdua tidak bisa berkata-kata, aku dan Dinda hanya menatap Nia dengan rasa takut, malu, dan degdegan
"k k kamu bangun dek?" tanya Dinda terbata
"eh ketahuan ya?" tanya Nia polos seolah kami yg memergoki dia, padahal kondisinya kebalik dia yg sebenarnya memergoki kami yg sedang bercinta
"kamu udah dari tadi nonton kami?" tanya ku pelan, sambil menggigit bibir bawah ku
"dari saat mahkota kak Riri di jilat kak Dinda" jawab Nia enteng
"degg" d**a ku tiba-tiba sesak
"habis sudah, kalau Nia cerita sama om Irwan dan tante Mona (papah mamah Dinda) mati aku, pasti bunda sama ayah juga nanti tau, bisa-bisa aku di bunuh" batin ku
rasa takut yg teramat sangat menyelimuti hati ku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku kembali sadar kalau ini adalah kesalahan (yg sangat nikmat,, hehehe. . . maaf bercanda)
untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku kembali sadar kalau ini adalah sebuah kesalahan
"memangnya kakak dan kak Riri lagi ngapain? kok kakak hisap dan jilat mahkota kak Riri? iiiii kan jorok, bekas kencing!" Nia mulai bertanya dengan polosnya
"emmmm eh iya dek, tadi kak Riri mahkotanya gatel jadi minta kakak menggaruk kan sama kakak" Dinda menjawab sambil melirik ke arah ku
"iiiissss apaan sih, situasi kayak gini bisa-bisanya bercanda" keluh ku dalam hati, tapi entah bagai mana Nia percaya
"oowh gitu" jawab Nia yg percaya dengan ucapan Dinda, tapi dia kemudian berfikir sejenak lalu berkata
"eh, tapi tunggu, kalau memang gatel kenapa menggaruknya mesti pakai mulut, pakai tangan kan bisa, terus kenapa mesti di bantuin kakak, pakai tangan sendiri kan bisa nih kayak Nia nih" katanya sambil memasukkan tangan ke dalam celana kaus yg di pakainya
"ahhhhhh, geli" lenguh Nia keras seraya menarik tangannya keluar
aku dan Dinda masih terpaku menatap Nia, tingkah bocah enam belas tahun yg lucu tadi tidak membuat ekspresi kami berubah sama sekali
"owh jadi kalau sendiri geli ya kak, Nia baru tau" lanjut Nia yg tiba-tiba nyeletuk dengan polosnya
"eh iya dek" kataku cepat, melihat ada peluang
"terus sekarang masih gatel gak kak mahkotanya?" tanya Nia yg matanya menatap ke arah ku
"udah engg. . ." jawabku tanggung yg langsung di sambar Dinda
"masih, makanya nih kakak mau menggaruk lagi, udah kamu bobok gih" kata Dinda cepat
"ok deh kakak lanjutkan saja menggaruk mahkota kak Riri lagi Nia mau liatin caranya" jawaban Nia yg membuat pipi ku langsung merah
"s sebenernya mahkota kakak udah gak gatel lagi dek" kataku berusaha keluar dari situasi ini, sambil mencubit kecil paha Dinda meminta bantuan
"eh iya bener kata kak Riri" tambah Dinda yg mengerti kode yg ku berikan
"gak mau pokoknya Nia mau lihat, Nia gak akan bobok sebelum kak Dinda hisap lagi mahkota kak Riri" paksa Nia yg otaknya sudah di penuhi rasa penasaran
"aduh gimana ni?" batin ku, aku menggigit bibir dan melirik Dinda, tapi Dinda hanya diam tampa ekspresi
"ayo cepetan kak" lanjut Nia memaksa, sambil dia turun dari ranjang dan duduk di lantai di sebelah kami
"i iya dek" kataku terpaksa mengikuti kemauan Nia, takut dia curiga
aku membuka kedua pahaku lebar-lebar dan mengangkangi Dinda, mahkotaku yg sudah mulai mengering tampa bulu di sekelilingnya terpampang indah seakan menggoda Dinda untuk melahapnya
pelan-pelan Dinda memasang posisi menunduk di depanku, lalu Dinda mulai menjilat mahkotaku dan menghisapnya lagi, jantungku berdetak cepat saat kurasakan lidah Dinda menyapu mahkotaku
"emmmphhh" lenguh ku yg ku tahan agar tidak di dengar Nia
Nia menyaksikan aktivitas yg kami lakukan dengan penuh perhatian, beberapa kali matanya menatap kearah ku dan ke arah Dinda bergantian
"enak ya kak?" tanya Nia yg melihat ku sedang memejamkan mata dan menggigit bibir
"eh iya dek" kataku yg berusaha untuk menahan sekuat tenaga agar tidak mendesah
Nia menatap kami dengan ekspresi penasaran, dan penuh tanda tanya
"kalau cuma mahkota kak Riri yg gatal kenapa kak Dinda juga telanjang?" celetuk Nia tiba-tiba
"eh ini ini. . ." kata Dinda tak mampu berkata, tak punya jawaban yg tepat untuk pertanyaan Nia
"ini apa kak, kok diem?" kejar Nia bertanya
aku berpikir sejenak dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 15