aku berpikir sejenak dan kemudian aku menjawab
"iya dek, tadi tuh kak Dinda bajunya sedikit basah kena air, makanya di buka" jawab ku mencari alasan
"bener kak?" tanya Dinda sambil melihat ke arah kakaknya
Dinda hanya mengangguk mengiyakan kata-kata ku
"owh gitu, terus kakak belajar menggaruk mahkota sama siapa? sama mamah ya?" tanya Nia polos
"e enggak dek, kakak belajar sendiri" kata Dinda gugup
"kok bisa kak?" tanyanya penasaran
"i iya dek, tau-tau bisa" jawab Dinda singkat
Nia lalu mengangkat alis dan tampak berfikir
"emmmmm. . . kak, Nia mau coba menggaruknya boleh?" tanya Nia ragu
"j j jangan dek" jawab Dinda ketakutan
aku hanya menggeleng, dengan menatap ke arah Nia
"ayo lah kak ajarin Nia please" rengek Nia
"tapi kamu masih kecil dek" Dinda berusaha menolak permintaan Nia
"masak belajar menggaruk aja mesti tunggu besar dulu? Nia mau belajar kak, nanti kalau mahkota kak Dinda atau temen-temen Nia gatal kan bisa Nia menggaruknya" kata Nia polos
"gak boleh" jawab Dinda cepat
"iiiiiiih, kok pelit sih kak?" tanya Nia manja
"pokoknya gak boleh" jawab Dinda tegas
"Nia sekarang belum saatnya Nia belajar kayak gitu dek" lanjut ku dengan lembut menambahkan kalimat Dinda, berharap Nia akan paham
"ok deh kalau gitu, nanti Nia belajar sama mamah aja" jawab Nia ngambek
mendengar kata-kata Nia aku dan Dinda serempak berteriak dengan spontan
"jangan dek" teriak kami barengan
"mati aku kalau Nia bilang sama mamah" pikir Dinda
lalu Dinda melirik ke arah ku, dan mengangguk kan kepala, meminta persetujuan, aku terpaksa menganggukkan kepala menyetujui
"oke deh dek, kamu boleh coba" kata Dinda setelah melihat persetujuan ku
"beneran kak?" tanya Nia dengan wajah sumringah, dan kembali duduk di sebelah kami
"ia tapi sebentar aja ya dek, dan ingat! Nia gak boleh bilang ke siapa pun" kata ku mengingatkan
entah bagaimana kami bisa terjebak di situasi seperti ini
"kak kok masih bengong ayo mulai" rengek Nia
"eh iya, Dinda" jawab Dinda yg sejak tadi tampak bingung, seraya menggeser posisi duduknya memberi ruang untuk Nia, aku hanya memejamkan mata dengan kebingungan
"Nia mulai ya kak!?" seru Nia padaku
aku hanya mengangguk dengan mata yg masih terpejam
sesaat kemudian aku merasakan lidah Nia sudah menyapu mahkotaku, aku terperanjat tak bisa menahan nikmat, sensasi debaran yg aneh terasa di d**a ku
"ahhhhh" desah ku tertahan sambil menggenggam tangan Dinda yg ada di sampingku
Dinda yg tau aku gak tahan, tampa pikir panjang langsung melumat bibirku menahan suara ku agar tak keluar
"Nia masih fokus dengan mahkotaku jadi dia tak mungkin melihat kami" begitu pikir ku, saat membalas ciuman Dinda
hampir tiga menit Nia menjilati mahkotaku dengan intens perlakuan Nia padaku bahkan lebih lembut dari Dinda, membuat ku benar-benar harus bekerja keras menahan desahan ku, beberapa kali desahan ku lepas juga, entah Nia mendengarnya atau tidak
"emhhhhhhh" lenguh ku lagi, kali ini ada sensasi geli yg mulai terasa, tak bisa ku tahan lagi, aku pun menggelinjang menggoyang p****t ku sampai mahkotaku menabrak bibir Nia berulang kali, aku segera melepas ciuman Dinda dan
"aahhhhhhhhhhhhhhh enak banget beeeeeb" desah ku panjang yg terdengar begitu keras dan jelas, tanganku menekan kepala Nia ke mahkota ku, rasanya nikmat banget
"uhuk uhuk, kak Riri Nia gak bisa nafas" terdengar suara yg tak asing mengagetkan ku
saat o*****e tadi aku sempat lupa kalau yg ada di s**********n ku adalah Nia bukan Dinda, suara Nia mengingatkan ku aku segera melihat Dinda dengan ekspresi kesal di samping ku, seolah dia ingin menelan ku bulat-bulat
aku benar-benar kaget dan takut pada tatapan Dinda
"lepasin kak Riri" pinta Nia yg tampa ku sadari bibirnya masih menempel di mahkota ku
aku pun segera melepasnya
"maaf ya dek kakak gak sengaja" kataku pada Nia
"kenapa kak Riri kencing di bibir Nia?" tanyanya dengan ekspresi jijik sambil mengelap bibirnya
"eh engg engg" aku bingung tak mampu bersuara
"bukan kencing sayang, itu namanya cairan kenikmatan, Nia mau ngerasain? sini kakak kasih" kata Dinda pada adiknya
Dinda yg sejak tadi melotot ke arahku dengan geram kini mengalihkan pandangannya pandangannya, lalu dengan kasar ia menarik celana Nia sekaligus celana dalamnya, Nia yg tidak siap dengan perlakuan kakaknya terperanjat kaget
"k kakak mau ngapain?" tanya Nia kaget dan takut
"udah diem" bentak Dinda yg masih dalam mode marah
lalu Dinda mulai menjilati mahkota adik kandungnya sendiri dengan lahapnya,
"ahhhhh kakak geli kak" lenguh Nia tak tahan
"sleppp sleppp sleppp" terdengar jilatan Dinda begitu intens di mahkota Nia, Nia yg belum sepenuhnya tau cara menikmati jilatan itu menggelinjang kegelian
"kakak ja. . . ahhhhh" kata Nia tak tahan
Dinda sesekali melirik ke arah ku, dengan tatapan jutek, aku tak mengerti apa salahku padanya
"ahhhhhh kak sudah kak" pinta Nia memohon
"beb sudah dong, kasihan Nia" kataku berusaha menghentikan kegilaan Dinda
"kasihan kenapa? dia ke kenakan kok!" jawab Dinda ketus
"enggak beb dia kegelian kamu liatin aja tuh" kataku sambil menunjuk ke muka Nia
"biarin siapa suruh dia bikin pacar ku o*****e di depan mata ku sendiri" kata Dinda makin marah
"oooohhhhh, jadi kamu cemburu ya beb?" tanya ku sambil memasang senyum di wajah ku
"gak, ngapain cemburu" jawab Dinda tak mau mengaku
"uhhhh sayang, jangan ngambek ya sini aku puaskan kamu juga" kata ku merayu
"gak usah, gak mau aku" jawab Dinda masih jutek, tapiiiiii saat ku dorong tubuhnya ke posisi tidur dan ku buka lebar kedua pahanya dia diem aja
"katanya ngambek tapi nurut" batin ku
lalu ku hisap mahkota Dinda dengan lahap, saat permainan tengah berlangsung tiba-tiba Nia bersuara
"kakak sama kak Riri lesbi ya?" tanya Nia di tengah rasa geli yg tak bisa digambarkan karena hisapan Dinda yg masih sangat intens di mahkotanya
"iya dan sekarang di depan mata kakak kamu hisap mahkota pacar kakak dengan mesra sampai dia o*****e, kamu jahat dek" jawab Dinda kesal
"tadi katanya gak cemburu" aku tertawa dalam hati mendengar kejujuran Dinda
"salah sendiri kakak bohong sama Nia, kakak pikir Nia masih bocah apa? bisa di perdaya gitu aja" jawab Nia
"bentar dek, jadi dari awal kamu udah tau?" tanya Dinda menuduh, dia duduk dan menghentikan permainannya di mahkota Nia
"em" jawab Nia pendek
"dasar nakal kamu dek" kata Dinda sambil mencubit paha adiknya
"biarin wlee" kata Nia sambil menjulurkan lidahnya
"sudah-sudah jangan bertengkar dong" kataku melerai kedua kakak beradik ini, sebelum semuanya menjadi tambah runyam
"gara-gara kakak sekarang Nia sudah ngerasain kenikmatan ini jadi kakak mesti tanggung jawab" tuntut Nia
"apa, tanggung jawab?" balas Dinda bertanya dengan nada tinggi
"iya, pokoknya mulai hari ini kak Riri juga pacar Nia, kakak harus setuju kalau gak Nia laporin ke papah" ancam Nia
"jangan seenaknya dong dek, kak Riri itu pacar kakak" balas Dinda dengan wajah muram dan hampir menangis
"ok deh gini aja, kak Riri tetep pacar kakak, dan semua perhatiannya milik kakak kalau kalian lagi berdua, tapi kalau pas ada Nia kalian harus mau threesome, gimana?" tawaran Nia untuk kakaknya
"sekarang Nia mau kakak hisap mahkota Nia lagi, nia mau o*****e juga,, satu lagi kak Riri bobok sini Nia mau hisap mahkota kakak" perintah Nia pada ku dan Dinda
aku melirik Dinda meminta persetujuan, setelah beberapa saat terdiam Dinda akhirnya mengangguk pasrah
lalu kami bertiga tidur membentuk segi tiga, bibirku mulai menempel di mahkota Dinda, bibir Dinda di mahkota Nia, dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 16