16 Menyesal

1185 Kata
lalu kami bertiga tidur membentuk segi tiga, bibirku mulai menempel di mahkota Dinda, bibir Dinda di mahkota Nia, dan bibir mungil Nia di mahkotaku kami bertiga sedang dalam mode on fire, dan malam panjang itu berlalu dengan beribu desahan nikmat dan puluhan kali o*****e terjadi, kami bertiga tak tidur semalaman, untungnya besok paginya adalah hari minggu jadi kami tidak harus bangun pagi sepuluh hari yg terasa singkat kami lalui dengan banyak sekali kenikmatan terutama Nia, diantara kami bertiga menjadi yg paling tak terkendali, berulang kali Nia memaksaku melayaninya, entah itu di dapur, ruang tamu, kolam renang bahkan halaman belakang yg cukup terbuka pun tak elaknya menjadi saksi pergulatan kami, belum lagi jatah Nia dari Dinda, pokoknya dalam sepuluh hari pengalaman Nia sudah jauh melampaui aku dan Dinda, mahkota Nia benar-benar sudah ketagihan dengan lidah ku dan kakaknya, saat kami hendak menolaknya Nia selalu mengancam akan mengadukan pada papah mamahnya, dan saat itu dilakukannya aku dan Dinda selalu kalah . . . sepuluh hari berlalu aku pun sudah kembali ke rumah, om Irwan dan tante Mona juga sudah kembali aku mejalani hari-hariku seperti biasa, tapi tidak dengan Dinda, dia yg dulunya selalu ada untuk ku kini mulai jarang terlihat, dia lebih suka sendirian saat di kampus, dia juga sering pulang cepat, dalam beberapa hal memang tak ada yg berubah tapi, aku yakin Dinda sedang menyembunyikan sesuatu dari ku "beb tunggu sebentar aku mau ngomong" "kenapa?" jawab Dinda pendek "kita jalan yuk!?" "maaf Ri aku gak bisa" jawab Dinda memanggil nama ku untuk pertama kalinya semenjak kami memutuskan untuk jadi pasangan kekasih "kenapa beb? ada apa?" tanyaku penasaran "gak ada aku cuma lagi males aja" jawab Dinda seraya berlalu meninggalkan ku dalam lamunanku "kamu kenapa sih Dinda? kenapa sikap kamu berubah? apa kamu sedang dalam masalah? kenapa kamu gak cerita? apa aku tak lagi berharga? kita masih kekasih kan?" rentetan pertanyaan itu terngiang dalam pikiran ku aku melamun dan tampa sengaja aku menabrak sesuatu "bukkkkk" suara tabrakan yg cukup keras, aku menabrak sesuatu yg cukup padat dan keras, tubuh ku yg kecil langsung jatuh kebelakang terpental hingga terduduk di lantai "aduh" pekik ku saat tubuh ku menyentuh lantai "hai, Riri lagi kan? kita jadi satu sama ya" suara yg mulai tak asing di telinga ku terdengar menyapa "R R Rian" kata ku saat melihat benda yg aku tabrak tadi yg tak lain adalah sesosok tubuh yg pernah membuat ku pingsan "iya Rian Putra Dinata" yg dulu lupa minta maaf sama kamu, dan mungkin sekarang adalah waktunya" jawab Rian sambil mengulurkan tangan beberapa saat aku hanya terpaku "hai kok malah bengong" kata Rian sambil melambaikan tangan di depan muka ku "eh i iya, aku yg mestinya minta maaf" jawab ku cepat "kok gitu?" "iya kan hari ini aku yg nabrak kamu, jawab ku malu" tapi memang tabrakan kali ini adalah salah ku "ayo bangun" kata Rian masih mengulurkan tangan nya aku pun meraih tangan itu dan bangkit dari duduk ku "lain kali hati-hati ya kalau kita tabrakan sekali lagi berarti kita jodoh" goda Rian yg melihat ekspresi wajah ku dengan pipiku sudah mulai memerah "eh engg engg" lidah ku kelu tak bisa berkata-kata "bercanda kok, jangan marah ya!" lanjut Rian memotong kata-kataku yg memang tak bisa keluar "i iya" jawab ku singkat, entah mengapa aku gugup sekali berhadapan dengan Rian "kamu sadar gak kita selalu satu kelas di SMP dan SMA?" tanya Rian dengan wajah ceria "iya aku ingat" jawab ku canggung "tapi kamu terlalu pendiam" kata Rian lagi "iya aku memang pendiam, eh tapi kamu juga pendiam" lanjut ku membalas perkataan Rian lalu Rian tertawa dan berkata "iya ya, berarti kita sama-sama pendiam" kata Rian sambil tertawa kecil "btw makasih ya Rian, kemarin kamu udah gendong aku waktu aku pingsan, terus katanya kamu juga nungguin aku sadar sampai sejam, tapi aku malah marah-marah gak jelas sama kamu di tempat umum lagi" kata ku dengan kepala menunduk dan jari kedua tanganku bertautan di depan paha "iya gak apa-apa, salah aku juga kan, aku kurang fokus waktu itu jadi nabrak kamu" jawab Rian santai "untung aja Dinda ngasih tau aku kejadian sebenarnya kalau gak mungkin aku masih salah paham sama kamu" lanjut ku "Dinda siapa? oh iya aku ingat dia temen kamu kan? kalo gak salah dia juga sekelas sama kita waktu SMP dan SMA kan?" tanya Rian menebak-nebak "iya bener" jawab ku singkat "nah waktu dulu kamu tuh deketnya cuma sama si Dinda itu aja" lanjut Rian "ah masak sih, aku juga punya kok temen yg lain" jawab ku tak setuju "iya sampai sekarang juga masih deket ya? apa jangan-jangan kalian pacaran?" celetuk Rian yg membuat ku kaget setengah mati "eh engg enggak kok" jawab ku gugup "gak perlu gugup gitu, bercanda bercanda, masak sih jeruk makan jeruk" lanjut Rian lagi aku hanya diam tak menanggapi perkataan Rian "btw kamu udah punya pacar?" tanya Rian "u eh belum" kataku hampir keceplosan tapi langsung ku koreksi "jadi gak apa-apa kan kalau kita temenan? gak akan ada yg marah kan?" tanya Rian lagi "enggak kok" jawab ku singkat "ok mulai sekarang kita temenan ya! terus temen kamu si Dinda kemana?" tanya Rian tiba-tiba wajah Dinda terbayang di benak ku "kenapa dia berubah dingin ya? apa jangan jangan Dinda marah sama aku? tapi aku salah apa?" aku melamun dan pikiran ku kemana-mana pertanyaan dari Rian belum ku jawab karena pikiran ku masih melayang jauh "apa gara-gara Nia? jangan-jangan Nia? ah tapi gak mungkin Nia kan juga suka melakukannya jadi gak mungkin lah dia ngadu ke om Irwan dan tante Mona, tapi apa yg kami lakuin itu salah? gara-gara hubungan ku sama Dinda yg kelewat batas dan gara-gara kami gak bisa nahan nafsu Nia yg belum cukup umur jadi terjerumus ke jurang dosa, dia juga jadi lesbi gara-gara perbuatan kami, yg lebih parah Nia dan Dinda melakukan i***s gara-gara aku, itu terjadi di depan mata ku dan aku membiarkannya, manusia macam apa aku?" tiba-tiba saja rasa gundah menghantui pikiran ku, aku menyesal sudah melakukan perbuatan b***t itu "kalau saja hari itu aku tidak meminta Dinda menjilati mahkotaku, udah tau Dinda lagi ada masalah, hatinya kan lagi sensitif, kenapa sih aku malah lakuin itu ke dia, sahabat macam apa aku ini? semuanya terjadi gara-gara aku, gimana kalau Dinda marah gara-gara itu? lalu persahabatan kami? duuuh sial Riri bego Riri bodoh" pikiranku kacau, aku tak bisa berpikir jernih, dalam hati aku terus mengumpat diri ku sendiri, sampai tiba-tiba "aduh-aduh" sakit banget pipi ku "bengong lagi, mikirin apa sih?" kedua tangan Rian mencubit pipi ku gemas, membuat ku tersadar dari lamunan "eh maaf udah sentuh-sentuh pipi kamu abis kamu ngacangin aku" kata Rian salah tingkah "gak apa-apa kok, maaf ya aku lagi banyak pikiran" bukannya marah aku justru malu dengan perlakuan Rian pada ku "maaf Rian aku harus pulang, kapan-kapan kita ketemu lagi ya" kata ku ramah "ok deh" jawab Rian singkat lalu kami pun berjalan ke arah yg berlawanan dan. . . bersambung. . . sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 17
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN