06 Salah Paham (bagian 1)

1185 Kata
lalu bunda berjalan ke pintu, mematikan lampu dan menutup pintu aku berusaha memejamkan mataku tapi aku tidak bisa tidur, banyak hal yg mengganjal pikiran ku kemudian aku teringat pada rencana penyelidikan ku bersama Dinda aku melihat jam weker di atas meja di sebelah tempat tidurku, ternyata sudah jam sembilan "apa aku telpon Dinda aja ya?" pikir ku dalam hati "tapi ini sudah malam, Jangan-jangan Dinda sudah tidur" terdengar suara lain dalam hatiku akhirnya aku tetap mengambil ponsel dan mengetik nomor Dinda, namun tak seperti yg ku harapkan, yg terdengar hanya suara operator "nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi" "the number you're calling cannot be reached at the momen, please try again latter" "huft" aku menarik nafas panjang lalu meletakkan kembali ponselku di atas meja lalu menarik selimut dan merebahkan tubuhku untuk segera tidur . . . pagi ini aku bangun agak siang, entah kenapa juga bunda tidak membangunkan ku, aku melirik jam weker ku sudah jam delapan kurang lima belas menit "kenapa jam weker tidak berdering tepat waktu?" tanya ku dalam hati "oh. . . mungkin tadi malam aku lupa memasang alarmnya" lanjut benak ku bergumam sendiri aku keluar dari kamar lalu turun ke meja makan, dan benar saja meja makan sudah rapi pertanda yg lain sudah selesai sarapan, aku berjalan kearah dapur mencoba mencari keberadaan bunda atau nenek tapi tak ada siapapun disini "bunda kemana ya?" hatiku bingung aku membuka kulkas dan meraih sebotol air putih, lalu menuangkan isinya ke gelas untuk meminumnya, tepat saat aku meneguk air putih dari gelas terdengar suara pintu depan dibuka "kreeeeek. . ." suara engsel pintu yg bergeser terlihat dua bayangan berjalan beriringan memasuki rumah "buda dan nenek dari mana?" tanya ku pada dua sosok yg ternyata adalah bunda dan nenek "eh. . . sayang udah bangun" suara bunda yg sedikit terkejut "nenek dan bunda mu dari pasar, belanja" nenek menjawab pertanyaan ku sebelumnya "udah bunda, baru aja, kok bunda gak bangunin Riri?" "ya soalnya bunda pikir Riri masih sakit, terus Riri juga gak pasang alarm jadi bunda biarin aja Riri istirahat lebih lama, toh juga tadi bunda sudah telepon Dinda katanya kalian gak ada kelas pagu hari ini" jelas bunda panjang lebar "kamu sudah makan sayang?" tanya nenek "belum nek" jawab ku singkat "lho kok belum? itu kan nasi sama lauknya sudah bunda siapin di meja" kata bunda menanggapi "iya bunda sekarang Riri sarapan" lalu aku berjalan ke meja makan . . . setelah makan aku mencuci piring lalu kudengar bunda memanggil ku "Riri, tadi bunda lupa kasih tau katanya Dinda mau main kesini sama Nia" bunda memanggil dari ruang tengah dengan suara agak keras "iya makasih bunda" jawabku sambil membawa piring yg sudah kering dan menatanya kembali di rak, kemudian berjalan menuju ruang tengah "kok Dinda kesini nya sama Nia bunda? memangnya Nia gak sekolah?" tanyaku pada bunda "kayaknya gak deh, ini kan hari sabtu" jawab bunda oh iya, SMA tunas harapan tempat Nia bersekolah, yg juga sekolah ku dan Dinda dulu, memang hari liburnya dua hari soalnya lima hari sisanya jadwal pelajarannya padat, kadang bisa sampai sore masih di sekolah, apalagi kalau anggota OSIS bisa malam baru pulang, tapi sekolah di situ enak, peralatannya lengkap banget, mulai dari perpustakaan, ruang komputer, lapangan sepak bola, lapangan voli, lapangan basket, lapangan baseball, gedung olahraga, kantin, tempat ibadah, sampai rumah sakit mini yg mempekerjakan seorang dokter khusus juga ada. Selain itu ekskulnya juga macam-macam, mulai dari olah raga, pramuka, bela diri, sampai seni, semua ada dan banyak macamnya "oh iya,, ini hari sabtu ya bunda?" tanyaku lagi "iya sayang, kamu gak amnesia kan?" tanya bunda khawatir "hehehe. . . gak kok bunda" jawabku sambil menggosok ujung hidung dengan jari telunjuk . . . "tok tok tok. . . assalamu'alaikum" terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari luar "wa'alaikumsalam" jawab ku, bunda, dan nenek serempak "pasti Dinda dan Nia bunda, biar Riri yg buka pintu" aku berdiri dan menghampiri pintu "kilk. . ." suara slot pintu terlepas saat aku membukanya "hai cantik, udah sembuh?" sapa Dinda seraya memeluk dan mencium pipiku lembut "hai beb, hai dek kamu apa kabar?" tanyaku pada Nia yg sedang berdiri hampir bersebelahan dengan Dinda "baik kok kak, kak Riri udah sembuh? nih ada buah dari mamah kak, mamah juga titip salam" tanya Nia balik sambil memberikan katung plastik berisi buah-buahan "aduh repot-repot, makasih ya dek, salam juga sama mamah ya dek,, ayo silahkan masuk" kata ku ramah pada Nia "ayok dah, aku juga udah haus banget nih" Dinda nyeletuk "ih kakak gak sopan" Nia menginterupsi ucapan kakaknya "hihihi. . . iya dek, kakak mu memang udah biasa gitu gak ada adab" aku tertawa kecil dan memasang wajah jahil "ihhh. . . dasar, gak kok dek kakak cuma gitu sama kak Riri aja, dia kan sahabat baik kakak" Dinda membela diri aku dan Nia hanya tersenyum "mau minum apa? air putih atau sirop?" tanyaku lembut "air putih aja Ri tapi kasih pemanisnya ya!" seru Dinda "itu namanya sirop kak" jawab Nia polos yg diiringi dengan tawa kami bertiga baru saja aku berjalan ke dapur, bunda dan nenek keluar dan melihat ada Dinda dan Nia "eh ada tamu" bunda menyapa "iya nih, assalamu'alaikum tante" ucap Dinda dan Nia serempak, lalu bersalaman dengan bunda dan nenek "wa'alaikumsalam" jawab bunda dan nenek "ya udah kalian main-main dulu tante tinggal kebelakang dulu ya" lanjut bunda "nenek juga mau nonton tv dulu" tambah nenek dengan senyum tersungging di bibirnya "iya tante, nek,, silahkan" jawab Dinda ramah . . . aku keluar membawa nampan berisi tiga gelas minuman dan makanan ringan, lalu membawa ke meja tempat Dinda dan Nia duduk "diminum dek" aku mempersilahkan Nia, sedang si Dinda tampa di suruh sudah meminum semua isi gelasnya sampai kosong "ih beb, kamu haus apa doyan?" tanyaku keheranan melihat tingkah Dinda "dua-duanya" jawab Dinda enteng "gimana perasaan kamu Ri?" sambung Dinda bertanya "udah baikan Din" jawab ku sambil berfikir tentang kejadian yg menimpaku kemarin aku jadi kepikiran Rian cowok yg menabrak ku, gak bertanggung jawab banget tuh cowok, udah nabrak, gak minta maaf, langsung pergi lagi,, aku tiba-tiba kesal sendiri "terus si Rian itu kemana setelah nabrak aku Din" tanyaku dengan nada tinggi dan memasang mode marah "dia langsung. . ." Dinda mencoba mengatakan sesuatu yg langsung ku potong "tu kan bener dia langsung pergi, dasar cowok gak bertanggung jawab" kata ku lagi dengan nada lebih tinggi lagi "tapi Ri. . ." Dinda mencoba bersuara lagi tapi kembali ku potong "alah gak ada tapi-tapi, cowok kayak gitu gak usah di belain, gak peka banget jadi cowok" aku terus marah-marah gak karuan dan melampiaskan emosi ku ke Dinda "udah ah jangan marah-marah terus, tarik nafas dulu, nih minum" Dinda menyerahkan gelas berisi sirop kepadaku "ia kak Riri kalau lagi mode marah serem" kata Nia yg lagi-lagi berhasil membuat kami bertiga tertawa "abisnya kakak kesel banget" lanjut ku dengan nada yg sudah lebih rendah dan. . . bersambung. . . sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 7
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN