05 Penyelidikan Yg Gagal

1227 Kata
aku hanya memasang ekspresi bingung dan bilang "ok lah, gimana kamu aja" "balik yuk, udah sore nih" kata Dinda sambil sudah berdiri dan merapikan buku-bukunya aku kuga segera berdiri lalu kami berdua berjalan pulang . . . esok harinya kami bertemu lagi di kantin, siang itu kami hanya memesan minuman dan beberapa makanan ringan "ok Ri, hari ini penyelidikan kita mulai, pertama kita ikutin Wahyu dari jauh sambil kita perhatiin gerak-geriknya, kalau nanti ada yg mencurigakan baru kita selidiki makin deket" Dinda mengutarakan pendapatnya dengan lantang "ok aku setuju, tapi jangan keras-keras juga ngomongnya nanti kedengaran orang kan malu" kataku meminta dinda mengecilkan suaranya dinda lalu menggaruk kepalanya dan bilang "sorry beb kelepasan. . . hahaha" setelah itu aku berdiri bermaksud membayar minuman dan makanan yg kami pesan karena kami sudah selesai makan, baru saja aku berdiri dari kursi tiba-tiba ada sosok besar menabrak ku dan aku terlempar kesamping kepalaku membentur dinding dan "bukkk", seketika semuanya gelap, aku hanya bisa mendengar sedikit suara Dinda yg berteriak memanggil namaku sebelum aku kehilangan kesadaran dan pingsan . . . hampir tiga jam, aku tidak sadarkan diri karena kepalaku terbentur cukup keras ketika kesadaran ku mulai terkumpul dan aku membuka mata, aku melihat Dinda duduk di kursi di sebelah tempat tidurku, dibelakangnya terlihat Adam dan Hendra sedang menatap kearah ku "udah bangun Ri?" tanya Dinda saat melihat mataku terbuka "aduh Din kepalaku pusing" kataku sambil memegangi kepalaku "kamu gak amnesia kan?" kata Dinda dengan nada cemas "ya nggak lah Din, kalau amnesia gak mungkin aku ingat nama kamu" kataku lemah "iya juga ya" kata Dinda sambil menggaruk kepalanya "udah baikan Ri? gimana rasanya?" Adam kemudian menimpali "udah Dam, tapi masih pusing sedikit" jawabku mengungkapkan apa yg aku rasa "syukur deh kalau udah baikan, tadi Hendra cemas banget" kata Adam menggoda Hendra Hendra langsung menepuk dan sedikit mendorong bahu Adam "apaan sih Dam?!" tanya Hendra yg salah tingkah karena ucapan Adam Adam dan Dinda hanya tertawa melihat tingkah Hendra, aku sendiri hanya tersipu mendengar perbincangan meraka "aku kenapa Din?" tanyaku masih belum bisa mengingat kejadian yg menimpaku "kamu tadi pingsan ketabrak sama Rian" kata Dinda memberi tau "Rian?" tanyaku "iya Rian kapten tim futsal kampus kita" lanjut Dinda oh iya aku lupa memberi tau, Adam adalah kapten tim basket di kampus, sedangkan kapten tim futsal adalah Rian, banyak gadis-gadis di kampus ini mengidolakan mereka berdua banyak juga yg membandingkan keduanya karena Adam dan Rian memang sama-sama memiliki kelebihan di banding mahasiswa lain di kampus ini, bedanya Adam ada di fakultas bahasa sedangkan Rian ada di fakultas ekonomi tapi kami semua dulu satu sekolah selama SMA. Aku, Dinda dan Rian teman sekelas sejak SMP sedangkan Adam, kami bertemu setelah masuk SMA dan sampai sekarang kami kuliah di tempat yg sama meski beda jurusan, sedang kan Hendra, dia dulu teman SMP Adam tapi mereka masuk di SMA yg berbeda dan sekarang dia juga satu kampus dengan kami "owhh, Rian yg itu" jawabku setelah tau siapa Rian yg dimaksud aku berpindah ke posisi duduk dengan masih memegangi kepala ku "hati-hati Ri" suara Hendra mengingatkan "cieeeee yg perhatian" goda Adam dan Dinda kompak sambil tertawa Hendra pun salah tingkah lagi, mendengar godaan mereka "udah ih kalian ini, kasian kan Hendra kalian godain terus" kataku kasihan melihat Hendra tertunduk malu "cieeeeeeeee yg belain" kata mereka berdua hampir berbarengan lagi, sekarang giliran aku yg salah tingkah dibuat mereka "kalian memang jodoh kayaknya, lihat aja bisa kompak gitu" kata Hendra mengalihkan topik dan mencoba mencairkan suasana yg mulai canggung "kalian tuh yg jodoh, liat aja cocok banget sama-sama malu-malu meong, ya kan beb!?" jawab dinda membalikkan keadaan "pas banget tuh beb, semoga mereka cepat jadian ya beb, jadi kalau malam minggu bisa doble date" jawab Adam menimpali Dinda "amiiiiiin" jawab Dinda mengaminkan do'a Adam entah kenapa ada rasa nyaman di hatiku mendengar percakapan mereka dan bercandaan mereka tentang aku dan Hendra "apa aku mulai merasakan apa itu cinta? dan Hendra? " batin ku bertanya sambil mataku menatap ke arah Hendra yg masih malu-malu. "Hendra memang laki-laki yg baik, tapi kan dia gak pernah bilang suka sama aku, masak sih aku udah suka duluan sama dia? nanti kalau dia gak beneran suka kan malu" batin ku masih terus berkecamuk "heh. . . ngelamun, ntar kesurupan loh" kata Dida mengagetkanku yg memecah lamunan ku "eh, engg. . . enggak kok" jawab ku terbata masih belum sepenuhnya menguasai diri ku "kalau udah baikan kita pulang yuk udah sore nih" ajak Dinda "nanti biar aku sama Dinda anterin kamu, motor kamu biar Hendra yg bawa, besok dia biar nebeng sama aku" lanjut Adam menambahkan "gak usah deh, aku udah gak apa-apa kok" kataku menolak tawaran Adam "udah gak usah nolak, Hendra Nya juga pengen tau rumah kamu nanti kalau mau main biar gak tersesat, ya kan Ndra?" kata Dinda menolak penolakan ku. Hendra hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya "jam berapa ni Din?" tanya ku pada Dinda "udah jam sengah lima Ri" kata Dinda setelah melihat jam di tangannya "ok deh kalau gitu, tapi gak ngerepotin kan?" tanya ku ragu "ngomong apaan sih Ri!? kayak sama orang lain aja" kata Dinda sedikit menaikkan nada suaranya aku hanya tersenyum lemah dan menggaruk kepalaku . . . "tok tok tok. . . Riri sayang kamu udah bobok nak?" terdengar suara bunda mengetuk pintu kamar ku "masuk aja bunda, pintunya gak di kunci" kataku yang sedang menyalin catatan dari buku Dinda, tadi kan aku pingsan tiga jam, aku ketinggalan kelas tadi siang jadi aku pinjam buku catatan Dinda untuk disalin "kreeeeeeeeeekk" suara pintu yg didorong bunda "Riri gak apa-apa kan nak?" tanya bunda khawatir "gak apa-apa kok bunda, cuma masih sedikit pusing" jawabku agar bunda gak khawatir "lagian kok bisa sih kamu sampai ketabrak?" tanya bunda lagi "iya bunda tadi itu kan Riri mau. . ." kataku terhenti ketika hampir keceplosan tentang niat ku dan Dinda untuk memulai penyelidikan yg gagal pada akhirnya "mau apa sayang? kok diem?" tanya bunda saat aku tidak menyelesaikan kalimat ku "mau bayar minuman bunda, terus tiba-tiba ada yg nabrak Riri bunda, karena gak seimbang Riri jatuh dan kepala Riri ke bentur tembok jadi pingsan deh" kataku menjelaskan kronologi kejadian pada bunda "harusnya Riri hati-hati dong sayang, untung gak kenapa-napa anak bunda" kata bunda sambil mengelus rambutku "bukan Riri bunda, cowok itu tuh yg gak hati-hati" kataku dengan raut kekesalan "cowok?" tanya bunda tampak terkejut "iya bundaaaa, cowok yg nabrak Riri" kata ku memperjelas "bisa tabrakan gitu jangan-jangan. . ." kalimat bunda terhenti tapi aku tau yg akan dikatakan bunda selanjutnya "jangan-jangan apa? mulai deh, mulai, bunda ih anak lagi sakit malah digodain" kata ku pura-pura ngambek "kenapa sayang? bunda kan belum ngomong apa-apa" kata bunda membela diri "iya tapi Riri tau bunda mau ngomong apa, jangan-jangan jodoh kan?" kataku langsung menebak "ih sok tau" kata bunda sambil tertawa kecil "tu kan bunda ketawa, berarti bener" protes ku dengan nada semakin manja "udah Riri istirahat sana, besok pagi biar badannya seger, bunda keluar ya sayang, muachhz" kata bunda seraya mencium keningku lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu "ia bunda" jawab ku singkat "selamat malam sayang" "malam bunda" lalu bunda berjalan ke pintu, mematikan lampu dan. . . bersambung. . . sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 6
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN