"eh enggak kok beb, aku suka, sukaaaa banget, dan sekarang kamu harus bantuin aku untuk mengembalikan Dinda yg dulu dan kita bakal bisa sama-sama lagi kayak dulu beb" kata ku pada Nia
"sulit beb" kata Nia yg terdengar lucu di telinga ku, aku pun tersenyum geli
"tu kan kamu ketawa beb, awas ya" kata Nia sambil menggelitik pinggang ku
"m maaf beb abis aku belom biasa kamu panggil itu, tapi aku suka kok" jawab ku sambil menahan geli
Nia lalu berhenti menggelitik, dan duduk di sebelah ku
"kak Dinda itu udah di jodohkan beb" kata Nia datar
"haaaahh? kamu gak lagi bercanda kan beb?" tanya ku benar-benar kaget
"ini serius beb, dia dijodohin sama anak temen papah, sebenarnya aku gk kenal tapi kata papah orangnya baik, soalnya papahnya orang baik dan dia teman papah waktu kuliah di luar negri, papahnya orang indo tapi mamahnya bule jadi mereka tinggal di luar negri, tapi cowok itu sendiri ada di sini, dia satu kampus sama kamu dan kak Dinda" penjelasan Nia panjang
"kamu udah ketemu cowok itu beb?"
"belum, tapi kalau kak Dinda udah beberapa kali" jawab Nia
"kamu tau namanya?"
"tau beb, namanya Riki"
"ah? Riki? kayaknya aku pernah denger nama itu, tapi dimana ya?" kata ku sambil berfikir
"kok kamu bisa tau nama itu beb kamu kenal dia?" tanya Nia
"enggak beb aku gak kenal tapi aku layak pernah denger tapi gak tau dimana, oh iya aku ingat beb, di kampus tadi waktu aku lagi cari temen aku, aku gak sengaja ketemu cowok yg gak ada sopan santun dia hampir nyentuh aku beb untung ada Adam dan Hendra yg bantuin aku, dan kamu tau beb nama cowok itu siapa? R i k i beb, oh iya beb sebelum aku jemput kamu tadi, aku juga liat Dinda ngasi sesuatu ke cowok itu, makanya aku mau tanyain ke kamu" kata ku menjelaskan
"wah fix kalau gitu itu memang Riki yg sama, kak Dinda pasti bawain makanan atau hadiah apa gitu dari papah mamah buat Riki, tapi kamu bilang dia gak ada sopan santun?"
"iya beb, hampir saja dia nyentuh aku tadi, aku juga liat dia tadi coba nyium Dinda di tempat umum" kata ku menjelaskan dengan jengkel
"kalau bener yg kamu bilang beb, kita harus cari cara buat batalin perjodohan kak Dinda sama si Riki itu" kata Nia
"tapi beb, caranya gimana?" tanya ku
"tenang beb kita pikirin itu nanti, sekarang aku punya hal yg lebih seru" kata Nia dengan seringai licik
aku bener-bener gak nyangka bocah enam belas tahun, adik sahabat ku, eh pacar ku, eh mantan ku, aku jadi bingung dengan hubungan ku dengan Dinda, biarin lah, pokoknya adiknya Dinda yg selalu ku anggap anak kecil, sekarang seperti sudah melampaui kecerdasan, kelicikan, dan kedewasaan ku, apa lagi kalau soal gituan Nia itu best banget pokoknya
"apaan beb?" tanyaku penasaran
"sini aku bisikin" kata Nia seraya melambaikan tangan pada ku
aku mendekat ke arah Nia, lalu mendekatkan telinga ku, kemudian Nia berbisik
"kita culik Dinda lalu kita threesome, kamu mau kan?" kata Nia yg mengagetkan ku
"apa?" tanya ku kaget dan penasaran
"gak usah mikir aneh-aneh beb, pokoknya kamu serahin sama aku semuanya" kata Nia
. . .
kemarin sore aku sudah mengantar Nia pulang, setelah kami melakukan pertarungan melelahkan sejak kemarin siang
hari ini kami berdua janjian ketemu di cafe dekat sekolah Nia, lalu kami akan membicarakan tentang rencana Nia untuk menculik kakaknya, aku ingin tau apa sebenarnya maksud Nia
siang itu aku sudah duduk di sebuah kursi disalah satu meja pengunjung di sebuah cafe kecil namun bersih dan rapi, pelayanannya juga memuaskan, aku sudah memesan minuman dan beberapa makanan ringan, yg ku santap sambil menunggu Nia datang, rasa Makanan dan minumannya cukup unik dan luar biasa terasa agak beda di lidah tapi nikmat dan cukup bikin penasaran, tak heran banyak pengunjung yg datang ke cafe ini di samping juga di cafe ini tidak mematok harga yg terlalu tinggi, aku baru pertama datang kesini jadi aku belum begitu tau, tapi memang harga-harga itu tertera di daftar menu makan
. . .
tak lama kemudian datanglah Nia dari kejauhan, aku bisa melihat kehadiran Nia dari jendela kaca di sepanjang dinding cafe ini, Nia terlihat melintas di sana menuju ke arah pintu, dan kemudian membukanya
"hai beb" sapa Nia segera saat pertama melihat ku
"hai" jawab ku singkat seraya melambai
Nia lalu mendekat dan mengecup lembut kedua pipi ku
"kamu udah lama beb?" tanya Nia pada ku
"gak kok beb, paling baru lima menit" jawab ku jujur
"udah makan beb?" tanya Nia lagi
"hehe, udah beb tapi abis" kata ku sambil menggaruk bagian belakang kepalaku yg tidak gatal
"ihhhhhh dasar, awas ya kalau gendut" kata Nia sambil memasang wajah yg pura-pura kesal
"kenapa yang? kalau gendut kamu bakal tinggalin aku ya?" tanya ku sedih
"gak lah yang, eh. . . yang? kamu panggil aku yang? ini gak mimpikan?" tanya Nia sambil menepuk pipinya
"kenapa beb? kamu gak suka ya?" tanya ku ragu
"iiiiiiiih gemes banget aku sama kamu tau, mana ada sih orang yg suka dipanggil sayang sama pacarnya!?" kata Nia sambil mencubit pipi ku dengan lembut dan tersenyum
hari ini untuk kedua kalinya aku merasa menemukan orang yg tulus menyayangi ku sepenuh hatinya, lucunya orang yg pertama melakukannya adalah Dinda kakak kandung Nia, dan kini adiknya juga melakukan hal yg sama
aku menikmati perjalanan cintaku yg unik, meski aku tau benar ini salah dan melanggar hukum alam, tapi apalah daya ku merekalah yg berhasil mencuri hati ku, yg menunjukkan pada ku arti ketulusan, yg membuka mata ku tentang keindahan cinta
aku berharap mereka berdua akan selalu bahagia selama hidup mereka, kami bersama bukan untuk menikah karena di negara kami pernikahan sesama jenis itu melanggar hukum dan norma sosial, kami menjalaninya karena untuk saat ini itu membuat kami nyaman, tapi nanti jika saatnya pria yg akan menjadi jodoh sejati kami datang, kami akan hidup bersamanya, aku berharap Nia dan Dinda juga akan menemukannya dan kuharap jodoh kami nanti akan sama sifat dan hatinya seperti kami bertiga, intinya aku berharap akhirnya kami bertiga akan menemukan kebahagiaan kami di masa depan
. . .
"beb jadi kan kita lakuin rencana kita?" tanya Nia
"aku si terserah kamu aja beb" jawab ku pasrah
"ok ini rencananya" kata Nia, sambil mendekatkan bibir ke telinga ku, lalu membisikkan rencananya
setelah mendengarkan keseluruhan rencananya aku hanya bisa tertawa dan menggeleng
"kamu ya beb, jahilnya gak ketulungan banget, kalau Dinda marah nanti gimana?" tanya ku bingung karena rencana Nia benar-benar membuatku kaget dan bingung
"tenang aja beb, aku tau Dinda kayak gimana dan aku jamin dia gak marah, lagian siapa suruh dia cuekin kamu, biar dia rasa sekarang, pokoknya kita bikin dia lemas kali ini beb" lanjut Nia dengan ekspresi liciknya
setelah selesai membahas rencana Nia, kami pun melanjutkan makan dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 20