lalu kami bertiga pun makan malam bersama dan ikut bercengkrama dengan ayah, bunda, dan nenek
malam ini Dinda dan Nia benar-benar menginap di rumah ku, aku menagih janjinya untuk bercerita tentang alasan dia menjauh, yg ternyata memang sesuai perkiraan ku dan Nia
"maaf ya beb, selama ini aku menjauhi kamu karena papah mamah udah menjodohkan aku dengan anak temennya, aku takut kamu kecewa sama aku" kata Dinda pelan dan mulai menangis
"pertanyaannya, kakak suka gak sama tu cowok? siapa namanya?" tanya Nia
"Riki" jawab ki cepat
"aku sih sebenernya gak suka, itu cowok gak ada sopan-sopan nya, gak tau malu banget, tapi gimana, kamu tau kan dek papah mamah gak bisa dibujuk dengan mudah" jawab Dinda dengan wajah makin muram
"tenang kak, Nia ada solusinya" kata Nia
"gimana beb?" tanyaku penasaran
Dinda yg mendengar ku memanggil meara adiknya terkejut tapi tidak bertanya
"gini beb kita jebak aja cowok gak tau malu itu, pertama kamu jalan di deket dia nantikan dia goda kamu tuh, nanti aku sama kak Dinda rekam apa yg dia lakuin ke kamu pakai ponsel, terus nanti aku juga lakuin hal yg sama gantian kamu yg rekam, gimana beb?" terus Nia
"pacar ku memang best" kataku sambil melumat bibir Nia
"pacar? jadi kalian selingkuh di belakang aku? kita kan belum putus beb?" tanya Dinda ngambek
"i iya beb aku lupa kasih tau kamu, aku terima Nia jadi pacar ku, abisnya kamu selalu menjauhi aku, tapi kan beb kita bertiga memang sudah terlibat cinta segitiga sejak kejadian di rumah kamu, jadi kenapa gak kita nikmatin aja" jawab ku ragu
"iya beb" kata Nia lalu mencium bibir kakaknya
"dek" kata Dinda terkejut dengan ciuman Nia yg mendadak di bibirnya
"mulai sekarang kamu cuma boleh panggil aku dek kalau depan papah mamah, kalau lagi di luar aku pacar kamu" kata Nia tegas
"emhhhhh" suara Dinda di tengah ciuman panas itu seraya mengangguk
"untung kamu setuju kalau gak" kalimat Nia tanggung, sambil tangannya meremas buah d**a Dinda keras
"aw ahhhhhh emhhhh" desah Dinda berkali-kali
"kalian curang, masak aku jadi obat nyamuk!?" seru ku, iri pada kemesraan mereka
"uuuuhhhhh sayang, sini-sini kita pelukan" kata nia sambil melambai, setelah aku berada di tengah-tengah mereka lalu mereka berdua mengecup pipi ku lembut secara bersamaan
"aku sayang kalian berdua" bisik ku lembut
"aku juga beb" balas Dinda
"Nia juga"
malam itu kami bertiga tidur dengan saling berpegangan tangan, aku tidur di tengah, Nia di kiri, dan Dinda di kanan
. . .
keesokan paginya, mata hari telah terbit, ini adalah hari sabtu jadi Nia libur, lalu kami putuskan untuk pergi bertiga ke kampus di kampus banyak pasang mata memandangi kami, bukan hanya karena kecantikan kami, tapi memang aku dan Dinda masuk dalam jajaran mahasiswi terpopuler di kampus, sekarang di tambah keberadaan Nia yg sudah seperti kembaran Dinda saja, mereka semua tampak makin bingung dan penasaran, bukan hanya pria, tapi para wanitanya pun memandangi kami, sudah seperti artis saja
. . .
ini adalah saatnya kami menjalankan rencana Nia, aku dan Nia sudah bersiap akting di depan kamera, lalu kami bertiga mencari keberadaan si biawak darat bernama Riki itu
hampir sepuluh menit berkeliling aku melihat Riki di dekat lapangan futsal ia tampak tengah mengikuti seorang gadis dari belakang, entah siapa yg dia ikuti
"Din coba rekam siapa tau ada kejadian tak terduga" kata ku
benar saja setelah Dinda menyalakan kamera ponselnya, tiba-tiba si biawak darat menoleh kiri kanan dan merogoh b****g gadis di depannya, lalu tiba-tiba
"plaaaaaaaakkkkk" suara tamparan keras
"sialan, dasar cowok gak tau aturan, pegang orang seenak jidat" kata gadis itu marah
"Friska ayo lah, jangan munafik, kamu juga suka kan di pegang sama aku" balas Riki dengan muka m***m
"sekali lagi kamu ganggu aku aku laporin kamu ke polisi" kata gadis yg ternyata bernama Friska mengancam
"uuuhhh, galaknya, jadi tambah gemes aku" kata Riki mengejek
Friska tak menggubrisnya dan hanya berlalu pergi, lalu saatnya rencana, yg pertama mendekati si biawak darat adalah aku, aku berjalan tepat di sebelahnya, lalu seperti yg di harapkan
"hai cantik ketemu lagi, jangan-jangan kita memang jodoh" kata si biawak darat yg bikin aku pengen muntah
"ih kamu siapa sok kenal?" kata ku menggoda dengan nada centil
"masak lupa sih dua hari lalu kita kan ketemu juga di sini, kamu cantik banget udah punya pacar belum?" si biawak darat mengingatkan
"oh iya, maaf aku lupa, maaf juga aku udah punya pacar" jawab ku
"gak apa-apa yg penting. . ." kata si biawak sambil mencoba meraba b****g ku
langsung saja ku tepis
"enak aja mau pegang-pegang, awas ya" kata ku maraj sambil menunjuk mukanya, lalu aku cepat-cepat menjauh, tapi si biawak darat hanya tertawa
sekarang adalah giliran Nia, dia lewat di depan si biawak, Nia benar-benar total, bahkan dia sengaja membusungkan bukit besarnya dia juga sengaja berjalan pelan agar biawak darat itu melihat bukitnya dengan jelas
"gila kamu beb" pikir ku
"hai cantik, banyak rejeki nomplok ya hari ini" kata si biawak
"hai ganteng" balas Nia
"boleh kenalan gak?"
"kenalan sih kenalan tapi mata di jaga mata, kaya gak pernah lihat bukit besar aja, awas tuh iler netes" kata Nia yg berhasil membuat si biawak darat gelagapan
"m maaf" balas si biawak darat grogi
"mau pegang? nih ku kasih" kata Nia sambil membusungkan bukitnya ke arah si biawak darat
tangan si biawak sudah mendekati bukit Nia, lalu
"plaaakkkk" tamparan kedua untuk si biawak hari ini
"memang li pikir gua cewek apaan?" bentak Nia lalu beranjak pergi
si biawak hanya berdiri mematung
aku dan Dinda yg berhasil merekam semua kejadian bersorak
"yes" bisik kami berdua
merasa semua bukti sudah cukup kami hendak pergi, tapi tiba-tiba
"Riki tunggu" suara seorang gadis memanggil si biawak
"Yuni!?" kata si biawak kaget
"aku hamil Rik, aku udah telat dua minggu" kata gadis bernama Yuni yg mengagetkan kami semua termasuk si biawak darat
"kamu bercanda kan?"
"enggak Rik, ini serius dan ini anak kamu, aku cuma ngelakuin itu sama kamu aja Rik" kata Yuni sambil menangis
"gak ada, gak ada, aku gak mau tanggung jawab aku udah di jodohkan sama anak temen papi ku, lagian kamu juga pasti lakuin itu sama banyak orang" kata Riki gak mau tau
tangis Yuni pun pecah, tiba-tiba Dinda mematikan rekaman video di ponselnya dan berjalan mendekati si biawak darat dan Yuni
"kamu harus tanggung jawab" kata Dinda
"tunggu Din, aku bisa jelasin" kata si biawak darat buru-buru
"gak perlu aku udah denger semuanya dengan jelas, perjodohan kita batal" kata Dinda lantang
"gak bisa gitu dong Din"
"bisa kenapa enggak?" kata Dinda ketus
"hahaha, silahkan aja kamu coba, papah sama mamah kamu gak akan izinin kamu batalin perjodohan" si biawak tertawa keras dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 23