21 Prank

1164 Kata
kami pun melaju cepat ke rumah ku, setelah sampai di rumah, aku segera membuka pintu dan aku segera membantu Nia membopong Dinda ke kamar, setelah sampai di kamar ku, kami membaringkan tubuh Dinda di atas ranjang, Nia segera melepas semua pakaian Dinda, dan memintaku mengambil seutas tali, aku heran dan bingung, melihat tingkah laku Nia yg semakin tak terduga, Nia lalu mengikat kedua tangan dan kaki Dinda ke empat ujung ranjang, lalu Nia menutup mata Dinda dengan kain "beb sini deh" kata Nia memanggil ku "kenapa beb?" kataku sambil berjalan mendekati Nia "kita prank kak Dinda, sekarang kita pura-pura jadi penculik, kita buat kak Dinda berpikir kalau kita bertiga di culik" kata Nia menjelaskan dengan ekspresi jahil yg terlihat mengerikan di wajahnya "tapi caranya? apa Dinda gak akan marah beb?" lagi-lagi aku bertanya "tenang. . . ini caranya. . ." lanjut Nia, lalu membisikkan beberapa kalimat dialog di telinga ku, aku mengangguk beberapa kali pertanda mengerti, lalu tak lama kemudian Dinda mulai sadar "eh aku di mana ini? kenapa aku di ikat begini?" tanya Dinda bingung belum tau apa yg terjadi "hahaha, bos akhirnya dia bangun juga" kata Nia berpura-pura sambil mengedipkan mata padaku dan meletakkan jari telunjuk di bibirnya, tak lupa dia sudah merubah suaranya seperti laki-laki dengan menutup mulut dengan handuk tipis "adik sama temen nya yg tadi berusaha menolong mereka sudah kita ajak main sampai lemas, sekarang giliran "makasih ya yank, aku sayang banget sama kamu' kata ku terharu "iya yank aku tau, aku juga sayang banget sama kamu" setelah itu aku mengangkat tubuh ku sedikit dan. . . bersambung. . . sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 34 bos, lihat mahkotanya sudah terpampang di depan kita bos, hahaha" lanjut Nia "j j jangan apa-apakan kak Dinda, dia itu masih perawan" kata Nia pura-pura menangis, lalu ia berkedip memberi kode "i iya, jangan Dinda, kalian nikmati tubuh ku saja, toh juga keperawanan ku sudah kalian ambil" kata ku mengikuti permainan Nia setelah di beri kode, dialog yg ku ucapkan juga Nia yg ngajarin, emang tuh anak ada-ada aja kegilaannya "Nia, Riri, kalian juga di culik" tanya Dinda yg terkejut setelah mulai membaca situasi "iya beb kamu tenang aja, biar aku sama Nia yg mereka nikmati biar kamu tetap perawan" kata ku pura-pura sedih "maaf beb kamu jangan marah sama aku ini ide adik kamu" batin ku "gak ada, kalian gak boleh korban buat aku" kata Dinda terharu "kenapa kak? kakak udah gak sayang sama Nia dan kak Riri?" "kakak sayang, sayang banget sama kalian, heh penculik, kalian boleh nikmatin tubuh ku sepuasnya tapi lepasin adik dan pacar ku" kata Dinda gemetaran "pacar?" batin ku berbunga-bunga dan terharu mendengar Dinda terang-terangan membelaku dan mengakui ku sebagai pacarnya "oh jadi kalian ini lesbi, aku nikmatin aja sekalian" kata Nia berpura-pura lagi "jangan aku aja yg kalian nikmati lepasin mereka berdua" kata Dinda mulai menangis ketakutan sebenarnya aku gak tega melihat tangisan Dinda, tapi tanggung, aku udah masuk ke rencana Nia "ok kalau begitu ami akan menikmati tubuh mu saja, tapi awas kalau kamu teriak atau melawan, aku akan buat kalian bertiga menangis malam ini" kata Nia mengancam, padahal ini masih sore baru juga jam tiga "Nia kamu ada-ada aja" benak ku seraya menggelengkan kepala dan melirik ke arah Nia nia hanya tertawa kecil, dan mulai menarik ku mendekati tubuh Dinda "kalau mau kamu bisa mendesah, tapi jangan keras-keras" kata Nia mengingatkan lalu Nia mulai menjilati puncak bukit Dinda yg berwarna merah muda "emmhhhhh" lenguh Dinda saat jilatan dan hisapan Nia makin intens di puncak bukitnya lalu Nia memberi ku kode agar menghisap mahkota Dinda, aku pun mulai memposisikan tubuh ku di bagian bawah Dinda, dan bibir ku sudah berada tepat di mahkota Dinda yg sudah mulai basah mungkin karena permainan Nia "slepppp sleepppp sleeeppp" suara bibir ku yg beradu dengan bibir mahkota Dinda "ahhhhhhhh beb enak beb, masukin lidah kamu sayang" desah Dinda di sela permainan lidah ku di mahkotanya, aku pun makin panas menjilati mahkotanya seolah tertantang dengan kata-kata yg di ucapkan Dinda "eh tapi. . . kok Dinda panggil beb?" pikir ku saat tersadar dengan panggilan Dinda "kenapa berhenti beb, jilat lagi sayang enak banget" kata Dinda lagi saat aku berhenti aku kaget, aku diam dan melirik ke arah Nia sambil memasang ekspresi bingung penuh tanya "udah lah gak usah pandang-pandangan kayak gitu, ayo lanjutin enak banget nih beb, Nia buat kakak o*****e" lanjut Dinda meminta ku dan Nia melanjutkan, padahal matanya masih tertutup aku dan Nia hanya diam "kalau gak lanjut aku marah ni" ancam Dinda aku dan Nia pun kembali melanjutkan aktifitas kami dengan rasa penasaran, kenapa Dinda bisa tau "emhhhhhh" desah Dinda saat aku melanjutkan aktivitasku lagi di mahkotanya, Nia pun kini mulai menciumi dan melumat bibir Dinda "emmmmm, manis, rasa stroberi, kecil mungil, ini pasti Nia kan!?" tebak Dinda lagi, yang kembali tepat "kalian bisa bohongin aku dengan kata-kata, tapi gak dengan perlakuan kalian, aku sudah hafal dengan tingkah kalian saat bercinta, tapi gak apa-apa, aku suka ini, ini nikmat banget, aku juga kangen kalian, sekarang lepasin ikatannya ya, kita main sama-sama biar tambah enak" pinta Dinda lalu kami pun melepaskan ikatan Dinda, Dinda lalu tersenyum dengan sangat manis "kalian memang super baik, maafin aku ya beb udah menjauhi kamu dari kemarin" kalimat Dinda berhenti saat aku meluapkan rasa rinduku dengan melumat bibir indahnya "kamu jangan banyak omong dulu, sekarang kita lanjutin dulu mainnya nanti baru cerita" kata ku pada Dinda lalu Dinda memeluk ku erat seraya berkata "makasih ya beb" kata Dinda sambil meneteskan air mata "iya sayang ku, sama-sama" kata ku menenangkan hati Dinda akhirnya kami pun melanjutkan permainan kami, hingga kami berkali-kali o*****e, tak terasa kami tertidur sampai waktu makan malam pun kini sudah tiba, bunda mengetuk pintu kamar ku dan memanggil kami untuk makan bunda pasti tau ada Nia dan Dinda disini karena sepatu mereka di lepas di luar kami pun keluar untuk makan malam, bunda, ayah, dan nenek sudah ada di meja makan "eh ada Nia sama Dinda, sini ikut makan sama kami" sapa nenek pada Nia dan Dinda "iya nek, makasih" jawab Dinda ramah "Nia udah besar ya, udah hampir sama tingginya kayak Dinda" komentar bunda "iya mana wajahnya mirip, udah kayak kembar" tambah ayah "kesini udah telpon mamah papah belum Din?" tanya nenek "hehehe, belum nek, tadi ketiduran" jawab Dinda jujur "tapi Nia udah izin kok kak" jawab Nia mengklarifikasi "oh syukur kalau gitu, kalian nginep sini aja malam ini, nanti biar tante yg telpon mamah kalian, lagian udah malem juga kalau pulang sekarang" sambung bunda lalu kami bertiga pun makan malam bersama dan. . . bersambung. . . sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 22
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN