Bab 11. Baby Breath

1021 Kata
Happy reading... Typo koreksi.. ____ Zaviar akhirnya memilih kembali ke kantor lebih cepat dari waktu yang di berikan Deka kepadanya. Deka sahabatnya jelas senang, namun melihat raut suram Zavi membuat lelaki itu mendesah pasrah melihatnya. "Datang-datang ke kantor itu harus cerah dong, nanti karyawan perusahaan pada kabur gara-gara liat atasan mereka nyeremin kaya gini. Ada apa lagi? Bukannya elo bilang udah ketemu dia, yah walaupun nggak semulus harapab seenggaknya elo nggak perlu waktu lama buat cari dia bukan? Tinggal mikirin gimana caranya balikin ingtan dia tentang elo, simple kan." "...." Zavi mengabaikan ocehan Deka. Tangannya tetap berkutat pada keyboard laptop yang menyala di depannya. Memeriksa semua file dan email dengan seksama. "Zav, elo ngapain sih? Dari tadi diam aja?" "Sssttt, diam." Bisiknya tanpa menoleh kearah sahabatnya tersebut. Deka mendengkus, memilih berjalan kearah kursi Zaviar berdiri tepat di belakang lelaki itu dan kembali mendengkus melihat apa yang sesnag di lihat lelaki itu. "Ck, gue kira elo lagi periksa apaan. Nggak mau coba cari kiat-kiat supaya membantu mengembalikan ingatan aja." "Deka, gue nggak mau maksa kondisi dia yang sekarang. Gue nggak tahu apa nantu ada akibat fatal kalau gue sampai maksa ingatan dia buat kembali. Gue mau pastiin dulu kalau gue nggak gegabah kali ini. Lagipula, sepertinya semua emang sudah nggak sama. Rasanya aneh pas gue ketemu dia, dan dia nggak merespons apapun. Bahkan menyapa gue aja nggak. Miris kan?" Deka terdiam, merasa kasihan dengan hal yang sedang di hadapi sahabatnya. "Zav, kalau elo percaya dia bisa kembali lagi ke sisi elo. Gue harap elo nggak mudah nyerah." "Ada laki-laki yang dekat sama dia," ucap Zavi menceritakan tentang pria yang di lihatnya kemarin. "Gila! Beneran, wah parah. Berarti elo harus lebih hati-hati juga, jangan kasih kendor Zav. Siapa tahu aja itu cowok calon suami atau tunangannya. Secara gue yakin siapa namanya Bi-- Bianca. Ah! Iya Bianca, gue yakin dia perempuan cantik kan sampai-sampai bikin sahabat gue nggak bisa move on." Zavi mendelik malas. "Bukankah cinta pertama itu lebih berkesan? Salah kalau gue nggak bisa ngelepasin dia, lagi pula hubungan gue sama dia nggak pernah ada kata putus, Ka. Gue sama dia masih berstatus kekasih." "10 tahun, nggak ngejamin dia mau bertahan nungguin elo Zav. Apalagi sekarang elo tahu sendiri, dia nggak ingat elo. Bisa jadi kejadian yang elo ceritain dulu penyebab dia hilang ingatan. Dan elo harus ingat Zav, 10 tahun. Dia sendirian ngelaluin itu semua tanpa ada elo di sisi dia. Bukannya gue nggak mendukung elo mau buat dia balik ke sisi elo, tapi gue yakin kenangan elo di hidup dia mulai menghilang. Kalau elo nggak mau kehilangan dia, cepat bertindak jangan sampai elo lebih menyesal lagi seperti dulu. Gue dan bokap elo, nggak mau elo balik lagi kaya dulu. Nggak punya semangat hidup, Zav sekarang elo udah sukses, tampan, mapan, punya perusahaan, bahkan gue yakin di luaran sana banyak perempuan mau melempar diri mereka ke elo suka rela. Tapi sayangnya percuma karena hati elo cuma buat Bianca bukan." Zavi terdiam lama, ucapan Deka membenarkan semua. 10 tahun. Jelas itu bukan waktu yang sebentar, ada yang datang dan pergi ke dalam kehidupan Bianca kekasihnya. Melupakannya jelas semakin membuat posisi Zavi akan tersisih dengan sendirinya. "Gue keluar sebentar." Deka mengulum senyumnya, Zavi menoleh saat lelaki itu berhenti di depan pintu memandang Deka lekat sebelum mengucapkan hal yang jarang lelaki itu katakan kepada Deka selama ini. "Thank you, Deka." Brak. Deka tersenyum lebar mendengarnya, matanya berbinar senang, sebelum menepuk tangannya sekali seakan bangga pada dirinya sendiri. _____ Jangan menyerah. Benar, Zavi tentu tidak akan menyerah. Meski tidak tahu berapa persen kenangan dirinya masih tersimpan di memori otak Bianca. Zavi jelas tidak akan melepaskan wanitanya dengan mudah. 10 tahun, mereka berpisah bukanlah hal yang mudah bagi Zavi lalui selama ini. Menahan kerinduannya untuk Bianca, membangun diri agar terlihat lebih baik lagi dan cocok untuk Bianca bukanlah hal singkat bagi Zavi. Dia pantas bahagia bukan. Pengorbanannya selama ini pasti bisa membuhkan hasil yang baik untuk mereka bukan. Bianca pasti bisa kembali mengingat, jika tidak biarlah kenangan baru akan Zavi buat bersama Bianca. Jalan raya yang padat di jam makan siang jelas membuat Zavi menggeram karena harus terjebak macet. Tepat pukul 14.15 Zavi sampai di toko 'Shining Star' milik Bianca lagi, lelaki itu turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam toko tersebut. Kedatangannya di sambut langsung oleh Bianca, wanita itu terlihat canggung menyapanya. "Ada yang bisa saya bantu?" "...." Di tempatnya Bianca menatap Zavi bingung, lelaki itu bukannya menjawab justru hanya diam saja seperti patung memandang lekat kearahnya. "Maaf, Pak Zaviar ada yang bisa saya bantu?" Zavi tersentak terlalu fokus menatap wajah wanita yang di rindukannya sejak tadi sampai tidak sadar kalau Bianca berbicara kepadanya. "Ah, maaf," ujarnya meringis. Zavi menatap raut Bianca sejenak sebelum menoleh ke sekitar deretan bunga yang ada di sana, pandangannya jatuh pada bunga Baby Breath yang berada tepat di rak meja samping Bianca. Wanita itu mengikuti arah pandangan pelanggan tokonya dan tersenyum tipis. "Anda mau bunga ini?" "Apa artinya?" "Iya," Zavi memandang Bianca dalam, membuat Bianca salah tingkah di tatap terlalu intens oleh lelaki itu. Ingatkan Bianca untuk tidak terpesona, karena ketampanan Zaviar terasa mengganggunya. "Baby Breath ini." seru Bianca melihat kembali kearah bunga yang sedang mereka bicarakan. "Iya, apa arti bunga itu?" tanya Zavi, masih menatap Bianca dengan tatapan yang sulit di jelaskan. "Bunga yang memiliki makna ketulusan, kemurnian, dan cinta sejati. Makanya bunga ini sering di pakai untuk bunga utama pengantin wanita dalam acara pernikahan, juga sering dipakai untuk dekorasi acara." jelas Bianca dengan binar senang saat membicaran tentang bunga. Kepalanya menoleh dan tersipu malu, saat memergoki Zaviar terus memandangnya lekat tanpa kedip. Bianca menatap sosok di depannys heran. Karena sorot mata asing dari sosok pelanggan tokonya itu membuat Bianca merasa seperti tertarik oleh sesuatu yang sudah lama ia tunggu. Tapi entah apa itu. "A-- anu Pak Zaviar, bagaimana?" tanya Bianca gugup memutuskan pandangan mereka secepatnya. Zavi tidak menjawab, hanya melangkah mendekat kearah rak bunga tersebut lalu menyentuhnya perlahan dengan sangat hati-hati, perbuatannya tidak lepas dari perhatian Bianca yang sejak tadi memperhatikannya. Bianca tertegun, saat Zavi mengambil tangkai bunga Baby Breath dan menyodorkannya kearahnya dengan senyum menawan. "Bolehkah aku memberikan bunga ini buat kamu." Deg. ______ Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN