Bab 12. Mas Zaviar

1045 Kata
Happy reading. Typo koreksi. ____ "Bolehkah aku memberikan bunga ini buat kamu." Deg. Kedua mata Bianca melotot mendengar ucapan Zaviar. Wanita itu sampai mundur selangkah, saking terkejutnya. Tatapannya beralih pada bunga Baby Breath yang sedang di pegang oleh pelanggan tokonya tersebut. "Bu-- buat saya." ucapnya terbata menunjuk diri sendiri. Tersadar, Zavi buru-buru mengelak. "Ah! Maaf saya hanya mempraktekkan saja. Saya ambil buket bunga ini." Ragu, kepala Bianca terangguk pelan, masih dengan perasaan aneh yang menggelayutinya wanita itu pun hanya bisa terdiam cukup lama sebelum tangannya yang terbalut sarung tangan kain itu terulur menerima bunga baby breath tersebut dan mulai mengerjakannya, merangkai beberapa tangkai bunga itu lagi untuk di jadikan buket baby breath sesuai pesanan sosok Zaviar. Di tempatnya berdiri, Zavi masih memperhatikan Bianca lekat, dalam hati merutuki dirinya sendiri yang sudah melontarkan kata aneh kepada wanitanya tersebut. Telinganya sedikit merah karena malu, tidak tahu apa yang akan di pikirkan oleh Bianca setelah ini. "Maaf, boleh saya pinjam kamar mandinya," serunya ingin menghindar sebentar. "Oh, silahkan Pak Zaviar. Anda tinggal lurus lalu belok ke kanan saja." balas Bianca menoleh kearahnya dengan raut canggung. Zavi segera berbalik melangkah ke area samping toko, meninggalkan Bianca mendesah pelan lalu kembali sibuk merangkai bunga di dekatnya secantik mungkin. Tring. Lonceng berbunyi, seorang wanita paruh baya tampak masuk bersamaan dengan dua anak kecil di samping kanan-kirinya. Kedua anak itu berlari kearah Bianca, salah satunya memeluk pinggang wanita cantik itu erat. "Bunda!" Pekikkan itu menyentaknya hingga tubuhnya  sedikit terhuyung ke depan menabrak meja. "Astaga! Ulan. Bunda jadi kaget, ada apa Nak. Sebentar ya cantik, Bunda selesaikan pesanan ini dulu ya. Ulan tunggu di dalam ya. Mau kan?" Anak perempuan itu mengangguk kecil, Bianca mendongakkan wajahnya sedikit menatap wanita paruh baya ysng beberapa hari lalu bertemu dengannya. "Maaf Ma, Bi selesaikan ini dulu sebentar, tidak apa-apa kan Ma." Bianca tersenyum manis, ketika Andini wanita paruh baya itu memberi anggukan kepalanya kepadanya. "Bunda cepetan ya, Ulan tadi beli pizza sama Nenek." Suara melengking putrinya menyentak Bianca, wanita itu sedikit merunduk mengusap pucuk kepala anak semata wayangnya sayang. "Iya, Sayang. Sana ke ruangan Bunda ya. Ajak Kak Bagas sama Nenek juga ya. Nanti Bunda nyusul, oke." "Iya, Bunda." Bulan, Bagas dan juga Andini yang baru datang tadi itu pun segera melangkah kearah ruangan kerja kecil milik Bianca. Tak lama secara bersamaan sosok Zaviar keluar dari pembatas ruang kearah kamar mandi dengan wajah sedikit basah. Sepertinya lelaki itu membasuh mukanya tadi. "Apa sudah selesai?" Tanyanya saat melihat Bianca tidak lagi mengerjakan apapun lagi di dekat meja kasir tersebut. Mengangguk. "Ini sudah selesai, Pak Zaviar." Zavi menerima bunga baby breath itu cepat. Cantik. Rangkaian buket di tangannya saat ini sangat cantik, sampai-sampai membuat Zavi terkesima melihatnya. "Berapa?" "250.000 saja Pak." Zavi mengeluarkan dompetnya, memberikan tiga lembar uang merah kepada wanita di depannya. "Bianca," Bianca pun mendongak saat tangannya sedang membuka laci kasir, menatap menunggu Zavi yang baru saja memanggilnya. "Bisakah kamu tidak memanggil saya Bapak? Saya rasa usia kita hanya beda sedikit." Binca tidak langsung menjawab, wanita itu berdiri tegap seraya tangannya masih memegang uang satu lembar warna biru untuk kembalian. "Maaf kalau saya banyak permintaannya, saya hanya merasa jadi terlalu tua karena kamu memanggil saya dengan sebutan Bapak." Jelas Zaviar. Bianca mengangguk mengerti, menyodorkan uang yang ada di tangannya dengan senyum tertarik tipis. "Baik, ini kembaliannya Mas Zaviar." Deg. Flashback on. Seorang gadis memakai dress berwarna putih bertopang dagu menatap pemuda di depannya dengan senyum malu-malu dan pipi bersemu senang. Mereka sedang duduk di bangku kuliah yang mulai sepi. "Habis ini Kakak mau kemana?" "Kenapa kamu kesini? Apa tidak ada kelas lagi?" Gelengan kepala gadis itu berikan. Ia melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi mulai meninggalkan kelas tersebut. Hingga menyisahkan dirinya dan si pemuda tampan di depannya. "Nggak ada, aku lapar. Kakak mau makan apa? Jangan makan di kantin ya Kak. Bi bosan." Kepala pemuda di depannya mendongak lalu menyentil dahi gadis cantik yang sudah menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu gemas. "Dasar bilang saja kalau kamu maunya jajan di luar kampus." Tas sudah tersampir di pundak pemuda itu ia berdiri di ikuti pacarnya. Raut cengengesan di berikan gadis itu kepadanya. "Kapan lagi bisa di traktir sama Mas Zaviar." Kikiknya terkekeh, Zaviar menggeleng menarik hidung di depannya, sampai membuat Bianca memekik. "Aw, sakit. Ih, Mas Zavi jahat." Pemuda itu mendengus geli, Bianca selalu bisa membuat dirinya gemas kepada tingkah perempuan itu. "Kenapa kamu suka sekali manggil aku Mas?" "Hmm ... kenapa ya?" Cicit Bianca terlihat berpikir. Gadis itu menjentikkan jari jelunjuk dan jempolnya hingga mengeluarkan suara kecil, lalu memandang pemuda di hadapannya penuh binar cinta. "Ini namanya latihan sebelum kita menikah, Kak. Keren kan?" Zavi tergelak, terkekeh pelan kemudian melangkah lebih dulu di susul Bianca di belakangnya. "Ih, Mas Zavi tungguin dong." Pemuda itu membalikkan tubuhnya ke samping melihat kekasihnya tengah berlari kecil kearahnya dengan raut geli. Bugh. Bianca memukul bahu pemuda itu kesal, bibirnya menekuk kebawah. "Jahat, masa Bi di tinggal sih." "Maaf ya Sayang. Sini." Zavi menarik tangan Bianca dan menggenggamnya, lalu tergelak lagi saat Bianca berbisik kepadanya. "Kakak suka kan, di panggil Mas Zavi sama Bi. Ah, atau Kakak mau di panggil ayah, daddy, mmm papa?" Tidak kuasa suara tawa Zaviar pun akhirnya terdengar keluar, bahu pemuda itu sampai bergetar karenanya. Astaga, bisa-bisanya Bianca memikirkan  nama panggilan untuknya. "Aku suka nama apa saja yang kamu panggil, selama itu dari kamu Bi." ucap Zavi di sela tawanya. "Benarkah?" "Kalau begitu mau panggil Mas saja, bolehkan?" Pemuda itu berdehem pelan menngiyakan. Benar, apapun panggilan Bianca kepadanya semua terasa indah untuk Zaviar Alstair. Flashback off. "Mas Zaviar." Hah. Tubuh lelaki itu terkesiap kaget dari lamunannya, matanya mengerjap dua kali saat Bianca kembali memanggilnya dengan sebutan nama itu. "Kamu--" "Bunda! Ayo nanti pizzanya dingin." Zavi dan Bianca serentak menoleh kearah sumber suara, seorang anak kecil perempuan terlihat berdiri di ambang pintu yang jaraknya sekitar dua meter dari mereka dengan raut menggemaskan. Bocah itu menatap lurus kearah keduanya, tersadar arah pandangan bocah itu, kepala Zavi menoleh dengan gerakan dengan cepat, seketika mata hitam pekatnya membelalak lebar nyaris keluar saat Bianca membalas anak perempuan lucu itu dengan raut geli dan senyum lebar tulus. Belum sempat hilang rasa kagetnya, seruan Bianca membuat Zaviar tertegun di tempatnya dengan d**a berdesir kuat seakan waktu baru saja berhenti di sekitarnya. "Iya Sayang, nanti Bunda kesana." Jleb. Bunda. Batin Zaviar mencelos nyeri. _____ Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN