Happy reading.
Tupo koreksi ya...
____
Seharusnya Zaviar bisa menunggu sampai ia mengetahui siapa anak perempuan yang memanggil Bianca dengan sebutan 'bunda' tersebut. Bahkan melihat reaksi dari raut wajah Bianca yang berubah sangat cerah saat memandang anak tadi sungguh mengganggu perasaannya.
Sial, apa Bianca sudah menikah. Umpatnya menahan geraman dengan segudang tanda tanya.
Jika saja Deka tidak menghubunginya pada saat di toko tadi, mungkin Zavi bisa melihat dan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Dengan perasaan kesal yang tidak tertahankan, Zaviar akhirnya keluar toko membawa buket bunga baby breath, menaiki kendaraannya membelah jalan raya untuk kembali menuju ke kantor.
Berbeda dengan Zavi, Bianca justru terlihat senang dan bahagia karena bisa bercengkerama di toko kecilnya bersama Bulan, Bagas dan juga Andini, ibu Darren.
"Mama kenapa nggak kasih kabar kalau mau datang ke sini. Bi bisa jemput Mama tadi."
"Aduh, kamu kaya nggak tahu cucu-cucu Mama yang cantik dan ganteng ini saja, Nak. Tadi pas Mama jemput pulang sekolah mereka malah minta dibeliin pizza dulu terus mau mampir kesini. Ya sudah sekalian saja kami kesini, kebetulan Mama juga mau beli bunga anggrek buat di rumah Sayang."
Bianca mendesah pelan, menatap beliau dengan raut tidak enak. Andini sudah repot-repot menjemput putrinya dan sekarang harus ke tokonya karena permintaan putrinya juga, sedangkan Beliau justru balik memandangnya dengan raut teduh dan tenang seperti biasa.
"Maaf ya Ma, Bi jadi ngerepotin Mama." Sesalnya, selalu saja merepotkan Andini selama ini.
"Tidak apa-apa Nak," sahut Andini lembut.
Dua bocah di depan mereka tampaknya tidak peduli dengan obrolan sang ibu dan juga sang nenek. Bahkan seloyang pizza itu kini hanya tinggal tersisa 3 potong lagi. Bianca menggeleng geli melihat kedua bocah itu dalam hati karena begitu lahap memakan pizza tersebut.
Bulan dan Bagas sangat menyukai pizza, apalagi dengan topping keju dan meat yang banyak. Seloyang bisa habis hanya untuk mereka berdua saja.
"Kemarin Darren ada datang kesini Nak?"
Bianca sontak mengalihkan tatapan kearah Andini lagi, lalu memgangguk pelan. "Iya Ma. Mas Darren kemarin datang ke toko." Jawabnya jujur, memang benar putra beliau datang ketokonya bahkan Darren menepati janjinya makan siang berdua dengan Bianca.
Wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti.
"Bi," panggilnya kembali menarik eksistensi Bianca kepadanya.
"Kamu tidak tertarik untuk menikah?"
Eh.
Tubuh Bianca terkesiap kaget, mengerjapkan matanya, menggigit bibir dalamnya mendapat pertanyaan tidak terduga dari Andini.
"Astaga, maafkan Mama ya Nak. Mama tidak bermaksud ikut cam--"
Bianca menggeleng cepat di tengah kesadarannya.
"Maafkan Bianca Ma. Bi, belum bisa memikirkan hal itu." sahutnya tidak enak.
Andini menghembuskan napas pasrah, tidak mungkin memaksa wanita muda yang sudah sangat dekat dengan keluarganya ini, apalagi beliau berniat menjadikan Bianca menantu di keluarganya.
"Aduh, jangan minta maaf sama Mama Nak. Mama yang salah, karena sudah bikin kamu jadi mendengar hal aneh lagi dari Mama. Mama tidak bermaksud menyinggung kamu, Nak." Beliau menjeda sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, tatapannya sangat lembut kearah Bianca.
"Mama hanya mau kamu bahagia. Biarpun kami bukan keluarga kandung kamu, Mama tetap mau kamu bahagia."
"Ma, aku sudah bahagia. Bi bahkan senang bisa kenal keluarga Mama. Mama dan mas Darren sudah sangat baik sama Bi," ucapnya tulus.
Andini tersenyum hangat. "Kamu benar. Astaga, Mama ini bicara apa sih. Kenapa Mama jadi ikut campur urusan pribadi kamu. Pokoknya Bi ingat ya Nak. Jangan mudah percaya sama orang lain yang baru kamu kenal, Mama akan tetap ada di sisi kamu. Apapun keputusan untuk hidup kamu Mama akan selalu mendukungnya." "Mama harap kamu jadi menantu Mama, Nak." Lanjutnya dalam hati.
Hati Bianca menghangat, bersyukur di sekitarnya masih ada Andini, Bagas, Bulan dan juga Darren.
Sejak kepergian orangtuanya, Bianca merasa sedikit kesulitan terlebih dirinya harus mengurus Bulan yang masih kecil saat itu. Keluarga Darren lah yang menjaga dan membantu dirinya membesarkan Bulan Akiyala Putri, anak semata wayangnya. Perhatian dan kasih sayang keluarga Andini tidak bisa Bianca ukur sudah berapa banyak. Terlalu banyak sampai Bianca tidak tahu bagaimana cara membalasnya.
"Pekan depan kita makan malam bersama ya Nak. Nanti Mama bilang Darren buat ikut gabung sama kita."
"Tapi Ma ... mas Darren pasti sibuk kerja di rumah sakit."
"Kamu tenang saja, kalau sudah buat janji jauh-jauh hari Mama rasa Darren bisa kok ambil jadwal kosong buat pekan depan."
Bianca tidak bisa membantah, wanita itu hanya bisa mengangguk pelan mengiyakan saja ucapan beliau. Memang akhir-akhir ini Darren selalu lembur, membuat mereka jarang makan malam bersama. Bahkan lelaki itu juga jarang menghabiskan waktu bersama Bagas putra semata wayang lelaki itu.
Di lain tempat, Zavi menjatuhkan bokongnya ke sofa ruangan Deka. Tangannya terangkat menutup kedua matanya lelah. Deka hanya menatap sahabatnya itu dalam diam.
"Itu bunga buat siapa? Jangan bilang itu bunga buat gue, Zav?" Tanya Deka setengah bernada canda.
"Ambil aja."
"Hah?"
Deka bergidik, membayangkan jika benar bunga itu untuknya membuat perutnya mual.
"Njir, jangan becanda deh elo Zav. Buang sana, ngapain kasih ke gue."
"Buangin."
"Bangke, elo kenapa sih? Lesu banget." Deka memandang perubahan wajah Zavi yang kembali murung.
"Gue nggak tahu," sahutnya malas.
"Ya elah, di tanyain juga malah nggak tahu. Emang dia kenapa lagi? Bukannya elo bilang mau ke tempatnya tadi?"
"Deka, apa gue harus menyerah saja?"
Alis Deka terangkat bingung, menajamkan telinganya takut salah dengar.
"Kenapa tiba-tiba mau menyerah. Elo bilang dia itu cinta pertama, dan elo bilang masih cinta sama dia. Kenapa sekarang bilang mau nyerah. Oh come on Zav, mana semangat elo."
"Kalau dia udah punya anak dan suami, apa gue tetap harus kejar dia? Gue harus merebut kebahagiaan dia?"
Tubuh Deka tersentak, lelaki itu tertegun di tempatnya. Mata yang terhalang kaca mata miliknya melotot lebar, Deka memandang Zavi tidak percaya.
"Apa tadi? Zav, elo bilang apa?"
"Gue rasa dia udah menikah, Ka. Bahkan anaknya sudah besar, gue nggak tahu berapa usianya. Mungkin tujuh atau delapan tahunan. Dan elo tahu anak itu benar-benar mirip banget sama dia, manis. Astaga! Bisa gila gue sekarang, Ka. Gue bingung harus gimana lagi. Gue nggak mau merusak kebahagiaan dia sekarang. Gue nggak mau buat anak itu bersedih kalau gue tetap maju."
Deka terdiam cukup lama ucapan Zaviar membuat lelaki itu menarik napasnya kasar.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi. Mengapa wanita itu sekarang sudah memiliki seorang anak. Apa wanita itu benar-benar tidak mencintai sahabatnya lagi. Pikir Deka pusing.
Kepalanya nyaris pecah, memikirkan hal yang sedang di hadapi Zaviar sahabat baiknya.
"Zav, gue rasa elo butuh waktu buat nenangin diri dulu. Sementara jangan ketemu dia. Setelah elo yakin tindakan apa yang mau elo ambil. Gue bakalan bantu elo semampu gue. Dan sebaiknya, jangan sampai bokap elo tahu masalah ini dulu. Gue bakalan tutup mulut, sampai elo bisa yakinin hati elo lagi tentang langkah selanjutnya." seru Deka memberi nasihat.
Zaviar terlihat hanya diam saja di tempat duduknya, dahinya mengkerut. Dalam hati lelaki bertanya-tanya.
Siapakah anak itu? Benarkah Bianca benar-benar sudah berkeluarga? Apa pria yang kemarin dilihatnya itu suami Bianca?
Sial, sial.
______
Bersambung...