Happy reading.
Typo koreksi.
____
Bianca tengah duduk di ruang tv rumahnya, menatap lurus kearah layar kotak persegi menyala di depannya. Di pahanya ada Bulan yang tertidur di sana. Putrinya tampak terlihat sudah sangat pulas, jemari lentik Bianca mengusap surai Bulam penuh kelembutan. Di rumah yang hanya di tinggal berdua saja, membuat Bianca terbiasa.
Sebelum mendiang orangtuanya meninggal, Bianca ingat betul dia sempat tinggal di rumah berlantai dua. Namun, rumah itu sudah di jual sebelum orangtuanya pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan Bianca dan juga Bulan di rumah ini. Tempat tinggal yang mereka beli untuk dirinya dan Bulan.
Bianca menatap bingkai berukuran sedang di dekat rak tv, itu photo mendiang orangtuanya. Kedua sudut bibir Bianca tertarik sendu, merindukan keduanya.
"Ma, pa, Bi kangen sama kalian." Bisiknya lirih.
Lalu tatapannya beralih kearah wajah polos Bulan putrinya. Kepalanya merunduk mengecup pucuk kepala putri kesayangannya sayang.
"Bunda sayang kamu Nak. Bunda pasti bisa bahagiain kamu kan, Sayang."
Untuk sekarang kebahagiaan putrinya menjadi keinginan terbesar Bianca, Bulannya yang manis, Bulannya yang cantik, semua tentang Bulan pelita hatinya.
Di jam dan tempat berbeda, seorang laki-laki bersetelan jas putih kebesarannya terlihat berjalan melewati lorong yang mulai sepi, hanya ada beberapa petugas rumah sakit berjalan di koridor tersebut.
Terdengar langkah kaki mendekatinya, seorang dokter shift jaga yang sama dengannya datang dengan dua gelas kopi di tangannya.
"Ini Dok."
"Terima kasih," balasnya mengambil gelas kertas itu lalu menyecap kopi sedikit demi sedikit.
"Kenapa Dokter Darren selalu ambil shift malam sekarang. Dokter Hanna selalu ambil jadwal pagi?"
Darren lelaki itu tersenyum simpul.
"Tidak apa-apa, saya juga harus bisa adil dalam pembagian schedule dengan dokter Hanna. Lagipula, dokter Hanna sedang hamil tidak mungkin saya memberinya jadwal masuk malam."
Dokter muda di sebelahnya terlihat mengangguk.
"Bagaimana ruang UGD apa ramai juga kalau malam?"
"Tidak terlalu, Dok. Kami lebih banyak menerima pasien luka ringan saja."
"Syukurlah."
"Dokter Darren boleh saya tanya sesuatu?"
"Apa itu, Dokter Juna?"
Dokter muda yang di panggil Dokter Juna terlihat menggaruk kepala belakangnya kikuk.
"Maaf, Dok sebelumnya. Saya hanya mau langsung menanyakannya daripada termakan gosip dari petugas di rumah sakit ini. Anu ... maaf apa Dokter tidak menikah karena sebenarnya dokter itu gay?"
Uhuk.
Darren tersedak kopi yang tengah di minumnya, lelaki tampan itu memukul dadanya kembali terbatuk, matanya yang sedikit berair memandang Dokter Juna dengan sorot mata tidak percaya.
"Apa kamu bilang?" Tanyanya di sela sisa batuknya.
"Maaf, maafkan saya Dok. Saya ... saya tidak bermaksud kurang ajar, tapi saya--"
"Jangan minta maaf, saya tidak marah sama kamu, hanya saja saya cukup terkejut mendengarnya langsung dari kamu. Tadi kamu bilang apa saya GAY?" Darren bertanya menekankan kalimat 'gay' di akhir kalimatnya.
Cukup membuat lelaki itu kaget kalau ternyata ada gosip jelek mengenai dirinya.
"Saya tidak gay, semua hal yang kamu dengar tentang saya itu hanya gosip belaka. Saya masih penyuka wanita, dan saya sudah memiliki seseorang yang saya cinta. Namun, cinta tidak harus memiliki benarkan? Saya mencintainya apa saya harus memaksa mencintai saya juga."
"Hidup saya tidak bisa saya putuskan sendirian, saya sudah memiliki anak. Kebahagiaan dan kenyamanan putra saya, jelas itu adalah hal yang nomor satu bagi saya sekarang."
Dokter Juna terlihat spechless mendengarnya, menatap kagum sosok Darren. Dokter kandungan yang menjadi rebutan para petugas di rumah sakit mereka, tampan, tinggi, mapan, ramah jelas siapa yang tidak tergoda. Juna saja, sebagai laki-laki mengakui ketampanan Darren.
"Wanita itu pasti beruntung sekali dicintai sama Dokter Darren dengan sangat tulus."
"Dia tidak tahu saya mencintainya, entah mengapa saya selalu merasa kalau diri saya masih membuat tembok penghalang diantara kami."
"Kenapa seperti itu, Dok?" Tanya Juna tidak mengerti.
Mengapa dokter Darren harus terus membangun temboknya untuk wanita yang dicintainya tersebut.
Mengapa mereka tidak bersama, padahal Dokter Darren adalah sosok yang sempurna menurutnya. Pikir Juna dalam hati.
"Saya tidak mau hubungan kami menjadi canggung kalau saya justru menyatakan perasaan saya yang sebenarnya. Saya takut dia tidak mau bertemu lagi dengan saya dan itu hanya akan menyakiti putra saya."
Juna terdiam, memandang duda beranak satu itu dengan sorot iba.
Kasihan.
Sebab, lelaki itu harus menahan perasaannya untuk seseorang yang di cintainya.
"Saya berdoa yang terbaik untuk Dokter," ucap Juna tulus.
Darren tersenyum tipis, seraya menganggukkan kepalanya pelan.
"Terima kasih, Dokter Juna," balasnya.
Waktu berjalan terasa sedikit lambat bagi seorang Zaviar Alstair yang merenung selama seharian ini. Deka entah sudah pergi kemana, lelaki itu sepertinya sedang menikmati waktunya untuk bersantai. Zavi melangkahkan kakinya kearah dapur, membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol bir dan membawanya keruang televisi. Duduk di sofa dan menegak perlahan cairan berakohol itu masuk ke dalam tenggorokkannya.
Zavi membuka ponselnya, lalu mencari berita kecelakaan yang sudah terjadi 10 tahun lalu. Tidak ada berita kecelakaan yang menimpa Bianca dulu.
Apa mungkin orangtua Bianca sudah memblok semua beritanya.
Keluarga Bianca pasti tidak akan membiarkan berita jelek tentang keluarganya mencuat, wajar jika tidak ada berita apapun mengenai kecelakaan 10 tahun lalu.
Zavi teringat, saat ibu Bianca menampar dan mengusirnya tanpa peduli perasaan khawatirnya kepada Bianca saat itu.
Pikirannya kembali beralih pada sosok laki-laki asing yang terlihat sangat dekat dengan wanitanya kemudian teringat sosok anak kecil itu lagi.
Mengapa semua semakin rumit, apa kedatangannya benar-benar sudah terlambat.
Zavi mendesah gusar, menyandarkan kepalanya ke sofa. Pusing, bingung dan juga sedih. Tidak mau menyerah, namun hatinya pun tidak mau menghancurkan kebahagiaan Bianca yang sekarang.
Jika Bianca sudah menikah dan anak itu adalah anak kandung wanita cantik itu. Bukankah Zavi harusnya mengalah?.
Huh.
Kepala Zavi rasanya berdenyut sakit memikirkan tindakan apa yang harus di lakukannya. Roy, ayahnya saja tidak bisa lelaki itu beritahu masalah yang menimpanya sekarang. Bagaimana jika Roy memintanya untuk melepaskan Bianca.
Tidak, tidak.
Membayangkan hal itu saja rasanya seluruh jiwa Zavi seperti di paksa keluar dari raganya.
Terlalu sakit jika ia harus merelakan Bianca disaat ia terlupakan oleh wanita itu.
Bi apa yang harus aku lakukan, aku ingin kamu bahagia, tapi ... apakah bisa aku melihatmu bahagia dengan orang lain dan menerima kamu telah melupakanku. Bisakah aku menghapus semua kenangan diantara kita. Bisakah aku tidak kembali terluka seperti 10 tahun lalu lagi jika kali ini melepasmu.
Tidak tahu, Zaviar Alstair sendiri tidak bagaimana dirinya mengambil keputusan.
Apa jika ia melangkah maju akan tetap ada kebahagaiaan untuknya atau jika ia mundur menjauh dirinya bisa melakukan semua dengan benar tanpa kembali menyakiti Bianca dan membuat wanita yang dicintainya tidak terluka lagi karenanya. Zavi tidak mau, jika sampai kebodohannya membawa rasa sakit untuk Biancanya lagi.
TIDAK BOLEH.
_____
Bersambung...