Happy reading.
Typo koreksi.
___
Keesokkan paginya, wanita cantik itu berjalan memasuki kamar bernuansa putih-biru milik putrinya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Bianca tersenyum lebar saat melihat Bulan tampak masih terlelap tidur di atas tempat tidurnya sendiri sambil memeluk boneka kelinci kesayangan bocah manis itu.
Bianca membuka gorden dan juga jendela kamar tersebut membiarkan udara dan sinar mentari pagi masuk ke dalam ruangan mengganti polusi udara yang ada. Tubuh putrinya terlihat menggeliat lalu kembali diam dan tertidur.
Ia terkekeh kecil sebelum melangkah mendekati ranjang dan duduk di tepi kasur, tangannya terulur mengusap surai hitam panjang Bulan lembut.
Polos dan gemaskan.
Bianca terlihat bersyukur saat menatap putrinya, wanita itu menatap lekat wajah Bulan anak semata wayangnya dengan perasaan yang selalu berhasil menghangatkan dadanya. Bulan Akiyala Putri adalah nama yang di berikan oleh mendiang kedua orangtuanya. Mereka seakan mengharapkan suatu saat nanti Bulan bisa menjadi sinar terang di kehidupan Bianca yang gelap.
"Bunda sayang banget sama Ulan. Anak Bunda pasti akan jadi anak yang pintar," bisiknya pelan penuh harap.
Orangtua mana yang tidak menginginkan buah hatinya pintar dan menjadi pribadi yang baik. Bianca selalu berdoa untuk segala sesuatu yang terbaik bagi putri kesayangannya.
Tinggal berdua saja, membuat Bianca belajar untuk lebih menghargai waktu kumpul bersama orang terdekat termasuk putrinya.
Waktu siapa yang tahu, karena yang harus manusia lakukan hanyalah melakukan sebisa mungkin membahagiakan orang-orang di sekitarnya.
Bulan kembali menggeliat lalu menguap lebar sebelum mata bulatnya yang jernih terbuka perlahan, kemudian anak itu meringkuk memeluk lengan ibunya erat.
"Bun-- Bunda."
Bianca tersenyum lebar, tangannya yang lain mengusap pipi bocah menggemaskan itu sayang.
"Ayo anak Bunda bangun ... nanti telat loh." serunya di balas gelengan kepala Bulan yang masih betah meringkuk.
Bianca terdiam sejenak tidak memaksa putrinya yang tampaknya memang masih mengantuk pagi ini.
"Bunda, buatin s**u coklat mau ya. Ulan maukan siap-siap mandi lagi ya, Nak."
"Bunda." panggil putrinya pelan.
"Hmm."
"Ulan mimpi ketemu kakek sama nenek," ucap Ulan pelan.
Deg.
Tubuh Bianca menegang, wanita itu terduduk kaku di depan putrinya yang sudah mendongakkan lehernya menatap Bianca dari bawah.
"Kakek sama nenek?" Cicitnya lirih.
"Iya, kakek sama nenek itu bilang kalau Uulan itu cucunya. Mereka bilang kangen sama Uulan sama Bunda juga."
Hati Bianca berdesir mendengarnya, matanya mulai memanas. Baru semalam ia merindukan mendiang kedua orangtuanya, pagi ini justru Bulan mengatakan bermimpi beliau.
"Katanya Ulan harus jagain Bunda, kakek sama nenek bilang Bunda nanti sedih kalau Ulan jauh-jauh dari Bunda. Katanya Ulan juga nggak boleh nakal, mereka bilang Ulan bisa ketemu ayah kalau Ulan nggak nakal lagi."
Jleb.
Tertegun, mulut Bianca sedikit terbuka dengan mata terbelalak.
"A-- ayah," beo Bianca tersentak kaget.
"Bunda, Ulan benar punya ayah kan? Kakek nenek bilang ayah pergi jauh belum bisa pulang. Bun ... Ulan janji nggak nakal lagi, tapi ayah beneran pulang kan." ucap Bulan polos untuk kesekian kalinya menanyakan tentang sosok 'ayah' nya.
Bianca tidak menjawab, bibirnya terkatup rapat-rapat.
Ayah Bulan. Gumamnya dalam hati.
Tidak, Bianca bahkan tidak mengenalnya.
Tidak pernah ada laki-laki lain di sisi Bianca selain Darren Atmajda.
Lalu, siapa ayah yang selalu di maksud putrinya setiap bermimpi bertemu orangtuanya.
Ma, pa siapa ayah yang kalian maksud. Apa Bi sudah pernah menikah.
Tatapan Bianca beralih pada cincin yang melingkar di jari manisnya.
Z&B, apa ini cincin pernikahan kami. Lalu dimana dia sekarang.
Mengapa tidak pernah menemui Bi dan Bulan.
Sedih, kecewa dan rasa penasaran membuncah di dalam hatinya. Bianca hanya merasa asing setiap membayangkan rupa pemilik inisial di cincin tersebut.
Kapan kita bertemu, jika benar kamu ayah putriku.
____
Zaviar jatuh sakit, setelah semalam ia tidak bisa tidur dan dalam keadaan perut kosong lelaki itu justru hanya meminum bir saja.
Kepalanya sekarang berdenyut sakit, bahkan Zavi masih berada di sofa ruang santai apartementnya. Kaleng-kaleng bir berserakan di meja dan lantai. Lelaki itu memijat pangkal hidungnya sedikit kuat guna meredakan sakit kepalanya.
Sepi, apartementnya sangat sepi. Lelaki itu mendengus dalam hatinya.
Pasti Deka tidak pulang juga semalam.
Dengan langkah gontai Zavi berjalan menuju kamarnya, membanting tubuhnya yang masih terasa lelah di atas kasur king size miliknya. Hembusan napas panjang keluar dari mulutnya, Zavi mencoba memejamkan matanya berharap rasa pusing di kepalanya segera mereda agar ia bisa pergi ke kantor nanti.
Tring.
Tring.
Ponselnya yang berada di saku celana bergetar, Zavi merogoh sakunya perlahan dan mengeluarkan ponsel dengan logo apple tergigit itu. Menarik napasnya sejenak sebelum melihat notifikasi apa yang masuk.
Deka
Gue langsung ke kantor Zav.
Sorry semalam gue mabuk banget.
Jangan lupa ada rapat nanti jam 10.
(Read)
Zavi segera melempar ponselnya asal, benar ia akan mengadakan rapat. Sekarang ia harus segera beristirahat agar tubuhnya sedikit membaik menjelang nanti.
Mata Zavi terpejam rapat deru napasnya mulai beraturan, lelaki itu dengan cepat tertarik kedalam dunia alam bawah sadarnya.
Kaki kecil itu berjalan menyusuri pasir putih dengan bertelanjang kaki, tawa riang terdengar indah mengalun dengan bunyi derap kaki di atas pasir laut yang mengalun dengan sangat indah dk telinga. Wajah berseri itu terlihat senang dan bahagia saat mereka berlari saling mengejar satu sama lain di bawah langit fajar menyingsing.
"Ayo, ayo! Kejar!"
Sosok berperawakan tinggi, gagah dan tampan itu terlihat terkekeh geli menyambut teriakan semangat bocah di depannya. Anak itu terus saja berlari dan berlari membuat rambutnya yang di kuncir kuda bergerak mengikuti kaki kecilnya yang berlari menembus angin mengabaikan kalau langkahnya mulai terlalu jauh hingga sosok dewasa itu tidak bisa menyusul kaki kecil miliknya.
"Ayo kejar!"
"Tunggu!" Teriaknya seperti tercekat tidak terdengar oleh bocah berwajah riang itu.
Semakin lama jarak diantara mereka semakin menjauh, sosok tampan itu berlari kencang terengah-engah mengejar bahunya berguncang ketika ia berlari sangat cepat.
Sial. Umpatnya merutuki kakinya panjangnya yang seakan tidak bisa bergerak lebih cepat lagi saat ini.
"Ayo kejar! Ayo tangkap! AYAH! SEMANGAT"
Deg.
Kakinya seketika berhenti mendadak, membiarkan bocah yang sedang berlari di depannya semakin menjauh dan menghilang di balik kabut tebal yang muncul secara tiba-tiba.
Huh.
Napas Zavi terengah memburu, matanya terbelalak lebar menatap langit-langit kamar horor. Kepalanya menoleh, tertegun saat dirinya masih di tempat yang sama kamarnya.
Lalu kepalanya terasa seperti di hantam sesuatu keras, bibirnya bergumam dengan suara kecil saat tersadar apa yang baru saja di mimpikannya.
"A-- ayah." Cicitnya dengan tenggorakan yang tercekat kelu.
Siapa anak kecil itu.
____
Bersambung...