Happy reading...
Typo koreksi ya...
____
Rapat sudah selesai, Deka menatap lurus dengan alis terangkat kearah Zaviar yang masih duduk di kursinya. Lelaki itu terlihat termenung melamun, bahkan Deka bisa menjamin kalau atasan sekaligus sahabatnya itu tidak mendengar hasil rapat untuk pembangunan hotel mereka yang ada di pusat kota.
Deka berdehem keras membuat Zavi tersentak.
"EKHM."
Mata Zavi mengerjap sekali dan meringis ketika melihat ruang rapat sudah sepi hanya ada dirinya dan Deka saja.
"Maaf, Bos, mengganggu lamunanya. Boleh saya keluar ruangan Bos." Ejek Deka membuat Zavi berdiri lelaki itu berdehem menetralkan suaranya dari rasa malu kepergok melamun.
"Ekhm, ayo balik," elaknya bergumam cepat.
"Baik, Bos, ayo balik." Detik berikutnya terdengar suara mengaduh seseorang, ternyatanya Zavi baru saja menyikut perut Deka kesal.
Deka lalu terbahak keras membuat mereka jadi tontonan karyawan lainnya, lelaki itu menatap geli sahabatnya yang wajahnya sudah merah hingga ketelinga.
"Hahaha ... ngelamunin apa sih elo. Gila lagi rapat bisa-bisanya elo ngelamun njir. Bikin gue pengen jitak, tahu nggak."
Zavi mendengus berjalan lebih dulu, di koridor kantor beberapa pegawai menyapanya sopan. Kantor Zavi bahkan lebih banyak di huni kaum adam daripada kaum hawa. Sampai sekarang Zavi juga belum memakai sekretaris lelaki itu lebih senang memberi pekerjaannya kepada Deka sahabatnya. Yang jelas membuat Deka mengumpati lelaki itu.
"Zav, nanti malam kita ada acara makan malam sama anak-anak yang lain. Gue udah kasih lokasi kita nanti malam."
Zavi menoleh, melihat Deka yang cengengesan kearahnya. Helaan napas Zavi terdengar kasar.
"Jam berapa?"
"YES! Jam sembilan. Gue udah kirim chat ke mereka semua di grup. Pokoknya nanti malam elo harus datang, gue jemput elo deh kalau elo males bawa mobil."
"Gue bisa sendiri," sahut Zavi.
Mereka sudah sampai di ruangan milik CEO, Deka memandang sangsi kearah Zavi. Lelaki itu selalu bisa mengelak buat datang keacara bersama teman-teman mereka.
"Ngapain elo liatin gue kaya gitu?"
"Zav, jujur gue nggak yakin elo bakalan dateng nanti malam." Jujur Deka membuat Zavi mendengus mendengarnya.
"Gue dateng."
"Bohong dosa loh. Dosa gue buat elo semua, kalau elo sampai nggak datang."
Zavi hanya menggeleng heran, lelaki itu kembali duduk di kursinya membuka laptop dan kembali bekerja.
"Elo mau sampai kapan berdiri di situ, sana balik atau gaji elo gue potong dua bulan."
Deka menekuk bibirnya cemberut, namun tetap mengikuti perintah Zavi yang notabenen adalah atasan di kantornya.
Brak.
Suara pintu di tutup membuat Zavi mendongak tangannya terangkat menjauh dari keyboard laptopnya, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi keberan miliknya.
Samar-samar bayangan mimpi singkat tadi pagi kembali muncul dalam pikirannya.
Sosok anak kecil yang masih terlihat samar, namun hati Zavi mengatakan wajah itu terlihat sangat ceria di mimpinya. Yang membuat jantung Zavi rasanya berhenti berdetak adalah saat sosok anak kecil itu memanggilnya 'ayah', nama yang mungkin tidak terpikirkan olehnya saat bermimpi.
Bagaimana suara riang itu memanggilnya demikian, membuat hati sakit sekaligus hangat.
Andai, andai Zavi bisa mengingat wajah anak kecil itu. Zavi pasti akan bahagia, membayangkannya saja berhasil membuat hati Zavi kini berdebar dengan ritme kuat.
"Kamu siapa nak. Kenapa kamu memanggilku ayah? Apa kamu hanya bunga tidur saja?" Bisik Zavi menatap kosong kearah depan.
_____
"Om!"
Seorang lelaki berperawakan tinggi dan gagah dengan kemeja biru tua yang tangannya di gulung hingga siku itu tersenyum saat mendengar suara melengking bocah perempuan yang baru saja keluar dari gerbang di depannya dan berlari kearahnya. Di belakang anak perempuan itu ada bocah laki-laki yang memasang wajah datar.
Darren Atmajda menatap putranya lekat sejenak, sebelum kembali menatap Bulan yang kembali berbicara kepadanya.
"Om! Om kok jemput Ulan sama Kak Bagas?" Tanya bocah itu.
"Iya, Sayang. Om kebetulan baru pulang dari rumah sakit. Om mau ajak Ulan sama Kak Bagas makan siang bareng."
"Yey! Asyik makan bareng sama Om." Darren terkekeh mendengar antusias Bulan putri Bianca.
Tangan kekarnya terangkat menyentuh pucuk kepala Bulan dan mengusapnya lembut.
"Bagas mau kan makan sama Papa?"
Hubungan Darren dan Bagas sedang sedikit canggung sejak lelaki berprofesi dokter kandungan itu lebih sering berada di rumah sakit, karena lembur kerja. Membuat Bagas sedikit menjauh dan memilih menjaga jarak dari ayahnya.
Bulan menatap Darren dan Bagas bergantian.
"Mau kok Om, Kak Bagas mau kan makan bareng Papa Kakak." Bagas menoleh lalu mengangguk kecil saat Bulan mengatakan hal demikian. Bagas selalu menuruti apapun keinginan Bulan, sahabatnya.
Darren tersenyum lega, putranya terlihat masih ragu-ragu memandangnya. Darren mengulurkan tangannya kearah putranya, sebelahnya lagi sudah menggandeng jemari kecil Bulan lembut.
"Ayo Nak, kita beli makanan kesukaan kamu dan Ulan," ajaknya.
Bagas terlihat menatap tangan ayahnya sejenak, meski ragu tangan mungilnya terangkat dan menggenggam tangan besar milik Darren ayahnya.
Senyum lebar tercetak di wajah lelah Darren, lelaki itu membawa keduanya menaiki mobil meninggalkan area sekolah.
"Om beneran Ulan boleh pesan apa aja?" Bulan bertanya dengan raut polosnya, lelaki di sampingnya mengangguk mantap.
Kini ketiganya sudah berada di PizzaNut tidak jauh dari sekolah Bulan dan Bagas. Darren tahu kalau putranya sangat menyukai pizza, karena itu Darren membawa putra sekaligus putri Bianca ke tempat ini.
Seloyang pizza meat lovers yang berisi burger sapi, daging cincang, daging asap, sosis sapi, keju mozarella dan saus spesial, ada juga banana split dan Happy Melody sudah tersaji di depan mata membuat air liur terasa menetes. Mata Bulan berbinar menatap pizza kesukaan bocah perempuan itu.
"Ayo di makan, nanti dingin. Kalau kurang boleh pesan yang lain," seru Darren di balas anggukan antusias Bulan.
Darren terkekeh, lalu tersenyum tipis saat melihat putranya juga ikut melahap pizza tersebut.
"Om, ayo Om makan juga. Ulan sama Kak Bagas masa makan berdua aja." Lelaki itu mengangguk mengambil satu potoong slice pizza dan memakannya.
Bulan dan Bagas terlihat senang memakan hidangan yang di belinya.
Di luar gedung yang sama terlihat dua orang berdiri di ambang pintu, yang satu tampak malas melangkah masuk sedangkan yang satunya sudah menarik paksa dengan mata melotot agar sahabatnya mau ikut masuk juga. Deka dan Zavi menjadi tontonan karena keduanya masih berada di ambang pintu kaca bangunan tersebut.
"Njir, masuk Zav, gue lagi kepengen makan pizza, please deh Zav sekali ini aja."
"Nggak. Elo aja yang masuk." Tolak Zavi malas.
Deka terlihat berdecak, lelaki itu meringis saat melihat semua pasang mata pengunjung mengarah kearahnya.
"Ck, ayo lah Zav. Jangan keras kepala deh."
"Gue nggak suka, Ka." Keukehnya.
"Ya udah elo liatin gue makan aja. Please, gue udah laper nih."
Kesal, Zavi mengayunkan langkah kakinya masuk setelah lelaki tampan itu mulai merasa risih menjadi pusat perhatian gara-gara Deka. Lelaki itu menaikan kaca mata hitamnya dan mencari tempat duduk tepat di sebelah meja Darren yang saling berhadapan, punggung Zavi membelakangi punggung Darren.
"Buka kacamata elo napa Zav. Gila, udah kaya tukang urut aja elo pake-pake begituan di dalam ruangan."
Zavi menggertakkan giginya geram, jika boleh, Zavi ingin melempar muka Deka dengan seloyang pizza panas sekarang juga. Sedangkan, Deka jangan tanya lelaki itu terlihat puas mengerjai Zavi kali ini.
Brak.
Zavi membanting kacamatanya dengan mata mendelik tajam, Deka menutup mulutnya dengan telapak tangan cepat saat ia nyaris tertawa terbahak lagi karena melihat ekspresi Zaviar Alstair saat ini.
Dasar, Daki sialan. Umpatnya.
_____
Bersambung...