bc

ISTRI YANG KUCAMPAKAN TERNYATA WANITA SUKSES

book_age18+
610
IKUTI
2.7K
BACA
family
sweet
like
intro-logo
Uraian

Dira, seorang wanita berusia 28 tahun. Dia menikah dengan laki-laki bernama Faisal. Selama ini, Dira menyangka Faisal adalah suami yang baik dan sangat setia, tetapi ternyata berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan selama ini. Ternyata, tanpa disadari, Faisal telah berkhianat, padahal selama ini Dira sudah melakukan kewajiban terbaik menjadi seorang istri. Namun, rupanya Faisal sangat pandai bersandiwara. Apalagi yang menjadi selingkuhan suaminya adalah adik kandungnya sendiri. Dira yang mengetahui semuanya pun merasa sedih, dia bertekad untuk membalaskan dendam. Mampukah Dira bertahan memiliki suami seperti Faisal, ataukah memilih pergi meninggalkannya?Pembalasan apa yang akan dilakukan oleh Dira?

chap-preview
Pratinjau gratis
BISNIS SAMPINGAN SUAMIKU
''Mas, jatah uang bulanan aku mana?" Aku mengulurkan tangan, Mas Faisal lalu mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah. "Kenapa cuma segini? Sisa uangnya mana Mas?'' tanyaku kembali. "Bulan sekarang gaji Mas dipotong oleh koperasi karena sebelumnya Mas pinjam uang untuk modal usaha sampingan,'' jelasnya. Aku heran. Sejak kapan Mas Faisal berkeinginan membuat usaha sampingan. "Masa sih? Memangnya usaha sampingan apa?'' "Biasa, Mas mau coba belajar bisnis, mudah-mudahan bisa menambah untuk kebutuhan rumah tangga kita. Apalagi sebentar lagi, kita mau punya anak. Jadi, harus punya tabungan untuk mempersiapkan anak kita nanti. Ingat ya, kamu harus hemat sampai akhir bulan,'' ujarnya tanpa memberitahu pekerjaan sampingan Mas Faisal. Aku menghela nafas dan berusaha percaya akan ucapannya. Semoga saja suamiku benar mempunyai pekerjaan sampingan demi bisa memenuhi kebutuhan kami nantinya. ''Ya sudah, tidak apa-apa. Aku terima uang ini dan akan berusaha menghemat.'' Aku tersenyum dan menyimpan uang pemberiannya ke dalam dompet. Walaupun kutidaktahu uang ini akan cukup atau tidak sampai akhir bulan. Setelah itu, Mas Fasial bangkit untuk pergi mandi karena katanya tubuhnya sangat capek dan gerah. Kulihat ponselnya digenggam erat olehnya, entah kenapa pikiranku curiga mengingat Mas Faisal tidak mau lepas dari ponsel yang digenggamnya. Sebelumnya sesaat kami menikah, tidak ada cinta di antara kami berdua. Tapi seiring berjalannya waktu Mas Faisal bisa membuktikannya bahwa dia memang tulus mencintai aku. "Sayang kenapa kamu masih di sini?" Mas Faisal datang kembali sambil membawa handuk. Nampaknya ia sudah selesai mandi. "Tidak apa-apa, Mas. Oh iya, kita makan yuk. Kebetulan aku sudah menyiapkan makanan yang spesial untuk kamu,'' ajakku padanya. ''Oke, siap!'' Mas Faisal mengangguk sambil tersenyum, lalu kami langsung berjalan ke dapur dan duduk berhadapan dengan meja makan. "Kamu setiap masak selalu enak, Dek. Mas jadi betah makan terus di rumah,'' Mas Faisal memuji. "Alhamdulillah, kalau kamu senang dengan masakan aku Mas.'' ''Iya, Sayang.'' "Oh iya Mas, sore ini aku bermaksud ingin mengunjungi Mama, apakah boleh?" "Boleh dong, masa iya Mas larang. Lagipula kamu hanya pergi ke rumah Ibu kandungmu sendiri,'' jawabnya memperbolehkan aku pergi, aku yang mendengarnya amat senang. "Terima kasih, Mas.'' Kami pun kembali melanjutkan kembali makan hingga tidak terasa sudah menjelang sore. Jam sudah sudah berganti, saat ini aku akan pergi ke rumah Mama mumpung pekerjaan rumah sudah selesai, aku sudah siap dan sekarang akan langsung berangkat. Kupesan taksi online lewat ponsel yang sudah terpasang di benda pipih. Zaman sekarang ingin kemana mana pun terasa mudah karena ada ponsel. Setelah lama menunggu, tak berselang lama taksi online yang kupesan telah tiba dihadapan. Degan cepat, aku masuk dan tak lama kemudian kendaraan roda empat pun mulai meninggalkan halaman rumah. Hingga tak terasa, mobil pun telah tiba di hadapan rumah Mama. Untung saja keadaan jalan tidak macet total. Dari kejauhan aku melihat Mama yang tengah sibuk menyirami bunga di halaman rumah. Aku bergegas melangkah sambil tersenyum ke arah Mama. "Assalamualaikum ....'' "Waalaikum salam, Dira, alhamdulilah kamu datang. Mama sangat kangen sekali terhadap kamu.'' Mama memeluk tubuhku erat. ''Maafkan Dira hampir jarang berkunjung menemui Mama, ya,'' ucapku meminta maaf pada Mama. ''Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kan kamu sudah menikah, jadi Mama maklum. Yang terpenting kamu harus jaga kesehatan dan bayi yang ada di dalam kandungan kamu.'' sahut Mama sembari tersenyum. ''Terima kasih, Ma.'' ''Ya sudah, sekarang kita masuk ke dalam rumah yuk.'' Aku mengangguk, kami melangkah masuk dan duduk di sofa ruang keluarga. "Bagaimana kandunganmu, Sayang? Baik-baik saja 'kan?'' tanya Mama sembari mengelus perutku yang sedikit buncit. "Alhamdulilah, baik kok, Ma. Hanya saja sedikit pusing setiap melakukan pekerjaan. Tapi, Dira sudah minum obat dan sudah konsul ke Dokter. Katanya tidak apa-apa dan janin kuat," sahutku memberitahu sembari tersenyum. "Alhamdulilah, Mama senang mendengarnya. Pokoknya harus bisa jaga kesehatan. Jangan banyak pikiran, harus sering kontrol ke Dokter biar kandunganmu selalu sehat, Dir, terus, jangan Lupa juga, kamu harus minum s**u hamil." "Iya, Ma, Dira ingat terus kok pesan Mama, pasti Dira lakuin kok.'' Aku tersenyum. Bahagia sekali mempunyai Mama yang sangat perhatian. Berbeda sekali dengan Mas Faisal, setiap hari ia tidak henti-hentinya bekerja. Apalagi katanya ia mempunyai kerjaan sampingan yang sama sekali aku tidak tahu pekerjaan sampingannya apa. "Ya sudah, sekarang istirahat saja dulu. Mama mau bikin kue kesukaan kamu dulu di dapur.'' Mama bangkit dan langsung pergi menuju dapur. Saat ini aku tengah terdiam menatap ke sekeliling ruangan. Kulihat pigura yang terpajang di dinding terpajang dengan rapi. Aku tersenyum sembari memandangi foto semasa kecil. Teringat sekali memory indah sewaktu aku masih tinggal di rumah ini. Samar-samar kudengar suara mixser menyala, aku ingin membantu Mama. Lalu aku ke dapur dan terlihat Mama tengah sibuk dengan adonan kue yang hendak akan dipanggang ke dalam oven. "Aku mau bantuin Mama buat kue, ya?" Aku hendak menyentuh adonan. "Tidak usah, Sayang, kamu diam saja istirahat. Mama takut kamu capek, apalagi Mama sangat takut akan terjadi sesuatu dengan calon cucu Mama. Sekarang kamu kembali tiduran saja.'' Mama melarang. Aku yang mendengar hanya menghela nafas. Mama memang seperti itu, setiap aku ingin membantunya Mama selalu menolak, aku hanya bisa pasrah saja dan diam sembari melihat Mama sibuk mengulangi adonan. Kemudian aku kembali ke ruang keluarga dan menyenderkan kepala di bahu sofa. Entah kenapa bayanganku teringat Mas Faisal, aku merasa tidak enak karena sampai sekarang suamiku belum mengabari. Biasanya ketika aku berada di rumah suamiku akan terus-terusan menghubungi karena mengkhawatirkan aku. Tapi sekarang, entah kenapa .... Aku meraih ponsel ingin menanyakan keadaan Mas Faisal saat ini. Kucari kontak ponselnya yang aku tulis dengan nama 'My Husband Sayang' dan langsung menakan log panggilan. [Nomer yang anda tuju sedang tidak aktip atau berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi.] Suara operator terdengar. Ternyata ponsel Mas Faisal sedang tidak aktip. Aku merasa sedikit resah, tidak biasanya ponselnya selalu dimatikan. Mas Faisal sama sekali tidak pernah jauh dari ponsel yang ia genggam. Namun entah kenapa sama sekali tidak bisa. Mungkinkah Mas Faisal sedang ... ah, kenapa pikiranku malah membayangkan Mas Faisal mempunyai wanita idaman lain? Lebih baik sekarang aku tenang karena tidak akan mungkin suamiku mendua. Itu hanya ada dalam sinetron atau cuma ada di beberapa novel saja. "Kamu kenapa, Sayang, kok Mama lihat wajahmu sangat resah?'' tanya Mama menghampiri dan duduk di sebelahku. "Tidak apa-apa kok Ma, aku hanya tidak enak badan saja,'' jawabku berbohong. Aku tidak ingin sampai membuat Mama merasa khawatir apalagi yang barusan kupikirkan hanyalah kecemasan saja. "Kamu jangan bohong, Dira, sejujurnya Mama ingin mengatakan sesuatu terhadapmu. Namun Mama hanya bisa menutup-nutupi. Entah kenapa setelah kamu dan Faisal pulang dari Bali. Mama rasa sikap perilaku suamimu sudah berbeda. Entah kenapa Mama berfikir bahwa Faisal ada wanita lain,'' ujar Mama yang membuatku tersentak. ''Maksud Mama Mas Faisal diam-diam berselingkuh tanpa sepengetahuanku, begitu? Tidak mungkin Ma, aku tahu sifat Mas Faisal seperti apa. Dia tidak akan mungkin mau menyakiti perasaanku, apalagi dia sudah berjanji tidak akan pernah melukai perasaanku.'' Aku menentang dan tidak mempercayai ucapannya Mama. Walaupun memang benar sejak kepulangan kami dari Bali Mas Faisal berubah sikap. Sampai saat ini pun aku menyangka ada sesuatu yang ditutupi olehnya. Namun aku tidak akan mungkin memberitahu Mama karena itu adalah aib suamiku sendiri. ''Iya, Dira. Tapi semoga saja itu hanya firasat buruk Mama saja. Mama tidak ingin kalian berdua sampai bercerai karena orang ketiga. Apalagi sebentar lagi kamu akan melahirkan. Tapi kalau boleh Mama tahu kenapa suamimu tidak mengantar kamu ke rumah ini?'' tanya Mama. "Mas Faisal bekerja Ma, makanya dia tidak mengantar aku ke sini. Nanti pulang dia akan menjemput kok," sahutku kembali. "Oh begitu, ya sudah. Alhamdulillah kalau rumah tangga kalian baik-baik saja, sebab dari kemarin Mama sangat kepikiran kamu terus sampai terbawa mimpi. Mama takutnya ada masalah dan jika ada pun lebih baik kamu bicarakan saja sama Mama,'' sahut Mama khawatir. "Mama tidak usah khawatir, yang terpenting hubungan rumah tangga aku dan Mas Faisal sakinah mawwadah warrohmah.'' Mama mengangguk sembari tersenyum. Untung saja Mama tidak curiga sesuatu terhadapku. *** Tak terasa hari sudah semakin sore, aku menatap kembali jam di dinding sekarang sudah pukul 16:15 WIB. Aku berniat akan pulang, takutnya Mas Faisal sudah pulang bekerja. "Ma, Dira pamit pulang dulu ya, takut nya Mas Faisal sudah pulang ke rumah," ucapku meminta izin pulang pada Mama. "Bukankah kata kamu Faisal akan menjemput ke sini?'' tanya Mama heran dan sudah mulai curiga. ''Sepertinya Mas Faisal lupa, Ma. Atau ia masih bekerja dan memilih lembur. Jadi sebelum waktu senja aku memilih untuk segera pulang saja. Takutnya sewaktu Mas Fasial pulang bekerja ia lapar,'' ujarku pada Mama tersenyum. ''Ya sudah, jika kamu mau pulang. Silahkan saja asal hati-hati di jalan.'' Aku mengangguk, ''Baik, Ma. Assalamualaikum.'' ''Waalaikum salam.'' Kedua langkah kakiku melangkah meninggalkan rumah Mama. Kuraih ponsel hendak memesan ojeg yang ada di sebuah aplikasi. Setelah itu, aku duduk menyenderkan tubuh menunggu ojeg yang kupesan tiba. Namun, tak lama berselang, tiba-tiba saja aku melihat sosok laki-laki kekar tengah menaiki motor bersama wanita yang duduk di belakangku. Amarah mengguncah sesaat mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Faisal—suamiku. Mereka terlihat sangat romantis seakan seperti sepasang kekasih. Aku berdiri dan menatap tajam ke arah sosok perempuan yang memeluk mesra Mas Faisal, betapa mendidihnya perasaanku ketika mengetahui sosok wanita itu ternyata--

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.4K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
3.5K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
46.8K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
9.5K
bc

The CEO's Little Wife

read
686.0K
bc

Pak Bos Duda Jadi Jodohku

read
34.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook