22. Antagonis is back!

1921 Kata

Elisa membuang napas cuma-cuma. Melihat pertarungan yang memanas, ia jadi mager. Cewek itu tak lagi berdiri di ambang kantin, sebagai gantinya duduk santai di meja yang terjungkal akibat perkelahian dua kubu tokoh fiksi itu. Entah dapat dari mana dia malah asik menyesap teh manis hangat di gelasnya. Tidak tau saja Elisa kalo kelakuannya yang jadi pusat perhatian orang-orang di kantin. “AKH!” Shami terjatuh dengan menjerit. “Sham, kenapa?” Cemas Lily. Shami pucat, meringis ngilu memegangi pinggangnya. Elisa yakin bahwa penyakit Shami kambuh saat ini. Lain hal itu, Kayla berekspresi berbeda. Dia berpikir Nadin lah yang menyebabkan Shami menjadi kesakitan seperti itu. Dengan penuh kekesalan dan ketidakterimaan, Kayla langsung menerjang Nadin dengan pukulan kuat dari kepalan tangannya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN