Mobil milik Elisa sudah terparkir di pekarangan rumahnya. Dia keluar dengan wajah lelah tapi ketika mengingat kejadian balas dendam nya siang tadi, wajahnya menjadi semringah. “Kira-kira, tu tangan bisa nyambung lagi gak ya? Semoga aja nggak. Hihihi!” Cewek itu terkekeh seram. Melangkahkan kakinya memasuki rumah. Bersamaan dengan matanya yang semakin menyipit, keningnya turut mengerut melihat jajaran motor seperti milik Garvin terparkir rapi depan rumahnya. “Motor siapa?” Tanyanya bermonolog. Jari telunjuknya terangkat menunjuk motor itu satu-persatu dan mulai menghitungnya. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, seb—a*u! BANYAK BANGET GILA! PULUHAN ITU!” Sebentar ia melongo, lalu berlaku seperti biasa lagi. Acuh. “Udahlah, mending gue masuk.” Ia be

