Seorang lelaki tampan mengeluarkan diri dari gedung pencakar langit di Jakarta, langkahnya berlalu menuju parkiran luas di depan gedung, dimana seorang lelaki berkacamata menungguinya dengan sabar sedari sejam yang lalu. Ele melirik sopir barunya yang duduk membeku di kursi setir, karena tahu posisi lelaki itu sama sekali tidak melontarkan protes ataupun bertanya kenapa Ele lama sekali. Ele tersenyum kecut, membuka pintu mobil dan menjatuhkan diri ke bangku belakang. Pengganti sopir lamanya ternyata tidak seburuk dan semalas yang dia pikirkan. Ele tidak menyesal merekrut orang baru dan sepertinya lelaki itu akan professional.
“Ke selanjutnya, Anda mau kemana Tuan?” Suara lelaki itu parau.
Ele belum menjawab, lelaki itu mengeluarkan sebatang rokok, melalapkan ujungnya dengan api lalu mengisapnya. “Pulang, ke rumah istriku. Ini kali pertama kamu bekerja menggantikan Bayu, jika ada yang belum kamu ketahui boleh kamu tanyakan. Seperti, dimana alamatnya dan seperti apa jadwal rutinku, atau Bayu sudah memberitahumu semuanya?”
Sopir barunya diam beberapa detik, lalu memutar kunci dan menyalakan kendaraan. “Bayu sudah memberitahu saya semuanya, Tuan.”
Ele mengangguk, tanpa berkata lelaki itu hanya fokus mengisap rokoknya, mengeluarkan asap dari lubang hidung dan mulutnya. “Siapa namamu?” Ele bertanya setelah bosan dengan rokoknya, kendaraan mewah yang dia tumpangi melaju perlahan ke jalan raya. Ele merekrut lelaki itu dari usulan Bayu yang mendadak memberhentikan diri dari pekerjaannya setelah sepuluh tahun lamanya mengabdi pada Ele. Ele sempat membaca nama dan identitasnya sekilas, tapi tentu saja orang sepenting Ele tidak memiliki banyak ruang di otaknya untuk mengingat-ngingat hal yang tidak penting.
“Dinar, Tuan.”
“Nama yang feminim.” Ele tertawa, Dinar hanya tersenyum tipis.
“Sebelum menjadi sopirku, hari-hari sebelumnya kamu bekerja menjadi apa, Dinar? Atau pengangguran?”
Dinar terdiam cukup lama, seperti berpikir untuk mencari-cari alasan.
“Dinar?” Ele terlalu kepo untuk tidak ditanggapi.
“Pelayan, Tuan. Tapi saya dipecat karena tidak sengaja mengotori pakaian pelanggan VIP.”
“Benarkah?” Ele terlihat meragukan. “Kamu terdengar seperti menyontek adegan sinetron saat mengatakan itu?”
Dinar terdiam lagi. Ele terkekeh, sadar lelaki itu berbohong. “Apa pekerjaanmu sebelumnya, Dinar? Jujur saja kalau kamu pengangguran dan beban keluarga, aku tidak akan mengejekmu. Bahkan aku bangga kepadamu, jika kamu berani merubah tabiat burukmu dengan bekerja.”
Dari kaca spion Ele melihat Dinar tersenyum lagi. Mata Ele menyipit, merasa aneh dengan setiap senyuman Dinar. Lelaki itu terlalu banyak tersenyum daripada bicara. Ele mulai memerhatikan hal lain, memang kebiasaannya saat tidak ada yang bisa dikerjakan, Ele akan memerhatikan orang-orang yang satu tempat dengannya. Ele tidak senang mengakui kalau Dinar tampan, tapi daripada rupa yang berhasil menyaingi rupanya, ada hal yang lebih menarik dari Dinar yang Ele dapatkan.
Kedua tangan Dinar.
Saat mencekram setir, memutarnya untuk mengendalikan mobil, tangan Dinar gemetar seperti memiliki gangguan di syaraf tangannya. Hal itu membuat Ele tidak tahan untuk bertanya. “Kamu pernah mengalami kecelakaan, Dinar? Membuat tanganmu menjadi gemetar seperti itu?”
Dinar mengangguk. “Ya, Tuan. Saya mengalami kecelakaan saat di Saudi, membuat tangan saya terluka. Karena tangan saya sudah seperti ini, tidak normal lagi, saya kehilangan pekerjaan saya dan menganggur sampai sekarang.”
“Sebenarnya pekerjaan sopir masih terlalu berisiko untukmu. Kamu bisa saja membuatku mati kecelakaan di mobil yang kamu kendarai.” Ele mencairkan suasana dengan candaan dan tawanya, tapi apa yang dia katakan malah membuat Dinar gugup karena takut dipecat dan kehilangan pekerjaannya.
“Kenapa tidak melakukan operasi agar tanganmu kembali normal? Tidak ada biaya?”
Dinar diam lagi. selain suka tersenyum tanpa alasan, saat Ele amati Dinar suka sekali terdiam. Seperti berpikir dan yang keluar dari mulutnya selalu meragukan, seperti bukan memberitahu tentang dirinya tapi dibuat-buat.
Akhirnya lelaki itu mengangguk, membuat Ele semakin tidak yakin. “Saya sekarang tengah menabung, agar bisa melakukan operasi.”
“Aku suka tekadmu.” Ele memuji.
“Jadi, sebelumnya apa pekerjaan aslimu? Ingat, jangan berbohong lagi.” Ele masih penasaran akan itu.
“Saya mantan dokter, Tuan. Setelah tangan saya seperti ini, saya tidak bisa melakukan operasi lagi.”
***
“Apa kabar, Gas?” Sesekali Najwa menghubungi Bagas yang sudah tinggal di lain kota. Tidak lagi di Jakarta, berbeda dari Najwa yang menetap di kota besar ini karena setelah menikah Najwa harus mengikuti suaminya kemanapun lelaki itu pergi.
Di seberang sana Bagas tersenyum, jawabannya lirih. “Baik … kamu apa kabar, Naj?”
“Syukurlah, aku baik-baik aja.”
“Bagaimana dengan suamimu?” Suara Bagas berat saat menanyakan hal itu.
“Ele juga baik-baik saja. Kapan kamu ke Jakarta? Sayang loh bengkelmu nggak ada yang urus.” Najwa berbasa-basi. Sebenarnya wanita itu sangat merindukan lelaki ini, sebagai teman yang selalu ada untuknya. Tapi entah kenapa, semenjak Najwa menikah lagi tiga tahun yang lalu, Bagas meninggalkan Jakarta dan kembali ke kota asal keluarganya, entah kerja apa Bagas di sana.
“Aku sibuk di sini, Naj. Orangtuaku memaksaku untuk mengurus bisnis mereka … yah, jadi kupikir selamanya aku akan di sini. Jakarta bukan rumahku lagi.”
Najwa cemberut. Wanita itu meninggalkan meja makan setelah menyantap makanannya dan pergi ke teras depan rumah megah suaminya. Najwa mengedarkan mata ke jalanan depan, tidak sabar menunggu Ele pulang. Sesibuk apapun Ele, lelaki itu selalu menomorsatukan Najwa, selalu pulang, dan jika Najwa meminta rapat penting dengan klienpun akan dia batalkan. Najwa bersyukur bertemu lelaki yang tepat, yang mengutamakannya lebih dari apapun termasuk pekerjaan, meskipun Ele orang penting.
“Kapan-kapan kalau aku ke Palembang, aku boleh mampir ke rumahmu ‘kan?” Najwa bertanya.
Bagas terdengar keberatan, tapi lelaki itu memilih untuk mengiakanannya. “Pintu rumahku terbuka untukmu, Naj. Jika kamu ada masalah juga dengan Ele, jangan sungkan untuk memberitahuku, ya?” Ditawari hal itu Najwa mengangguk semangat. Sejauh apapun jarak mereka, Bagas selalu ada untuknya. Selain bersyukur memiliki Ele, Najwa juga sangat bersyukur memiliki teman sebaik Bagas. Sebelum bertemu Ele Najwa sempat berpikir, jika Bagas mengajaknya menikah, maka Najwa akan menerimanya karena meskipun di antara mereka cuma ada rasa sayang sebagai teman, Bagas tetap lelaki terbaik yang selalu ada. Sayangnya, sepertinya Bagas tidak memiliki niat ke jenjang lain bersama Najwa. Selamanya mereka hanya teman.
“Udah, ya Naj? Bapak nyuruh aku nemanin dia rapat dengan klien.”
“Dah, Gas. Aku sayang kamu.”
Di seberang sana tanpa Najwa tahu Bagas tergugu di tempat, d**a lelaki itu menjadi perih, suaranya semakin pelan dan parau. “Aku juga sayang kamu, Naj. Sebagai teman. Dah.”
Sambungan mereka terputus. Najwa duduk di tangga teras, memangku wajah dengan dua telapak tangan, menunggu Ele dengan sabar. Tak lama yang ditunggu akhirnya datang. Mobil mahal tersebut masuk melewati gerbang dan terparkir di halaman depan. Najwa langsung bangkit, berlari gembira, dan memeluk Ele yang baru saja mengeluarkan diri dari mobil. Ele mencium keningnya, Najwa menenggelamkan kepalanya ke d**a suaminya yang bidang.
Najwa melirik lelaki yang memerhatikan mereka dari mobil. Sontak Najwa membelalak. Lelaki tampan itu menatapnya lurus untuk beberapa saat lalu membuang muka, tak ada kata yang keluar dari mulutnya, selain mata yang mencerminkan kesedihan dan kecemburuan. Tubuh mungil Najwa tidak sengaja menjauh dari Ele, tatapan Najwa tidak bisa terlepas dari lelaki itu, yang pura-pura tidak mengenalnya, yang pura-pura menjadi orang lain dan pura-pura lupa dengan semua masa lalu mereka.
Loco, kenapa kamu ada di sini? Setelah empat tahun tidak bertemu. Saat dulu Najwa menunggumu datang lebih dari setahun sampai Najwa bertemu lelaki lain.