#1 Suami Tidak Perduli
"Kita mau kemana, Nyonya?"
Saat lelaki itu bertanya Najwa enggan menjawab, merasa asing dengan sebutan 'Nyonya' yang ditujukan untuknya dari mulut lelaki itu.
"Nyonya?" Lelaki itu mengulangi dengan nada datar, menatap wajah Najwa di balik kaca spion.
"Arloco Saktiawan." Najwa memanggil dingin.
Lelaki yang menjadi sopir barunya tersebut menyahut. "Ya?"
"Berhentilah bersikap seakan kamu tidak mengenaliku."
Loco terdiam, membuat Najwa menahan kesal.
"Kenapa kamu di sini? Mendaftarkan diri ke suamiku untuk menjadi sopir pribadiku? Mana gelar dokter yang kamu agung-agungkan? Mana rumah sakit-rumah sakit yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluargamu? Kenapa kamu ada di sini, di mobil ini, menjadi sopirku, merendahkan diri dengan mengambil pekerjaan ini?"
Loco membuang napas, suaranya terbatah. "S-saya butuh uang, Nyonya... makanya saya mengambil pekerjaan ini."
"Butuh uang?" Najwa tergelak. Lucu sekali, seorang dokter bergelar spesialis membutuhkan uang dengan mengambil pekerjaan sebagai sopir. "Alasanmu tidak masuk akal. Ya Tuhan."
"Tidak lucu jika kamu mau berpura-pura lupa siapa aku, Loco." Najwa memperingatkan sinis.
"Aku, Najwa Ala'. Setidaknya jika kamu lupa nama panjangku, kamu tentu ingat nama panggilanku. Aku, mantan istrimu, yang sangat kenal siapa kamu. Aku pernah menjadi wanita yang kamu terlantarkan karena gelar dokter dan rumah sakitmu itu. Aku pernah mengisi hari sebagai istrimu tapi kamu tidak bisa selalu ada sebagai suami. Kamu datang saat kamu butuh saja, jika kamu ingin meniduri seseorang atau mengecek keadaanku seminggu sekali sebulan sekali, hanya untuk memastikan kalau aku tidak mati."
Mengatakannya, air mata Najwa lolos. Mendapati lelaki itu hatinya begitu terpukul. "Kamu membiarkan anak kita yang bahkan belum sempat lahir ke dunia keguguran, kamu membiarkan aku pergi padahal kuharap kamu akan menahan."
"Lalu kenapa kamu ada di sini, Loco Edge?!"
Najwa menjerit. Wanita itu terisak kencang
"Kamu di sini untuk uang? Apa, hah? Gelar doktermu dicabut? Tidak mungkin! Dunia medis sangat membutuhkanmu. Rumah sakitmu bangkrut? Tidak mungkin! Satu usaha hancur kamu masih memiliki bisnis lain."
Punggung Loco bergetar, lelaki itu ikut menangis. Isakannya yang sama sekali tidak terdengar maskulin begitu ngilu.
"Aku sangat menyesal, Najwa. . . aku datang, sebagai sopirmu, agar aku selalu ada untukmu selama 24 jam, mengantarmu dan menemanimu kemanapun kamu mau, karena sebelumnya aku tidak pernah melakukannya."
"Aku tidak butuh!" Najwa memaki.
"Wajar jika kamu tidak butuh aku, Najwa. Kamu sudah memiliki suami dan keluarga baru. Tapi aku yang butuh kamu, aku ingin ada di sekitarmu. Meskipun dengan peran lain yang sama sekali tidak ada artinya."
Kalimat tersebut membuat kepala Najwa berat, menghantarkan diri kepada masa lalu.
***
Beberapa tahun yang lalu ....
Jangan salahkan Najwa jika mengeluh, sebagai seorang istri dia membutuhkan waktu lebih dan kasih sayang dari suaminya. Tapi suaminya, Loco, bahkan nyaris tidak pernah ada waktu untuknya.
Satu hari full dalam seminggu, itu sudah beruntung sekali jika Loco ada di rumah. Tapi Loco bahkan nyaris tidak ada waktu untuk itu, atau setidaknya mampir di malam hari, menginap di rumah meskipun keesokan harinya pergi lagi.
Namun sayangnya Loco lebih memilih lembur di rumah sakit, mengurusi pasien, melakukan operasi, hingga melupakan istrinya yang tanpa Loco tahu selalu tidur di larut malam karena menunggu. Bahkan pernah menunggui Loco di atas teras depan rumah. Kedinginan, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.
Jika Najwa memberanikan diri secara langsung meminta waktu luang Loco untuk bersamanya. Satu kata ajaib meluluh-lantakkan semua angan-angan Najwa.
"Sibuk."
Singkat, jelas, padat.
Jawaban Loco saat Najwa menghubungi. Setelah itu sambungan terputus, Najwa terpaku sejenak. Menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu meringis. Helaan napasnya terdengar begitu berat.
Di awal pernikahan, Loco yang bahkan tidak menghadiri malam pertama mereka hanya untuk pekerjaan, Najwa berusaha memaklumi. Namun setelah sekian tahun menikah. Najwa rasa ... seharusnya dia yang dikasihani di sini. Najwa tidak bisa mengerti lagi.
Atau bahkan memang Loco yang tidak dapat dimengerti.
Najwa berusaha menghubungi Loco sekali lagi.
Nihil, Najwa menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya. Loco tidak mengangkatnya.
Helaan napas Najwa terdengar frustrasi. Setelah itu mengetik pesan, dan ragu-ragu mengirimnya. Sedetik pesan itu terkirim, Najwa mengerang menyesal. Loco tidak membalas bahkan tidak membacanya.
Muak sendiri Najwa menyerah dan mematikan ponsel. Sepertinya malam ini ... untuk kesekian harinya, dia akan tidur tanpa suaminya lagi ...
Puas menunggu di teras depan, ditemani selimut dan teh yang tadinya hangat kini mendingin, Najwa menyeret selimutnya dan masuk ke dalam rumah.
Saat kepalanya dibayangi wajah Loco yang jujur saja Najwa katakan sudah seminggu ini tidak pulang, Najwa meringis samar lalu menjatuhkan diri ke atas ranjang.
Ditatapnya ruang sebelahnya yang kadang jika Loco pulang selalu dibaringi oleh suaminya itu. Yang kini posisinya digantikan oleh satu guling putih. Saat Najwa berhalusinasi, sedetik terlihat seperti Loco yang memunggunginya.
Kedua tangan Najwa langsung menyambar guling tersebut, memeluk dan meremuknya. Membayangkan benda itu sebagai Loco.
Setelah sadar kalau dia sendirian di atas ranjang, tanpa pelukan atau belaian yang dia rindukan, Najwa menangis sambil memeluk guling.
Lain tempat, Loco menggusar rambutnya usai melakukan operasi. Lebih awal sudah dilepasinya masker dan sarung tangan, lalu berlalu masuk ke dalam ruangannya. Disorotnya ponselnya yang tergeletak di atas meja. Loco meraihnya, lalu membaca tiga pesan yang dikirimkan oleh istrinya, Najwa.
Dahi Loco sedikit mengernyit, lalu senyumnya terulas sedikit.
-Najwa-
[Aku merindukanmu]
[Aku akan kuliah lagi mengambil jurusan perawatan kalau kamu begini terus. Agar kita selalu bersama]
[Apa aku perlu menyewa ruang inap rumah sakit?]
Kepala Loco menggeleng samar. Senyum semringahnya diperhatikan oleh beberapa dokter yang memasuki ruangannya.
Jujur, para rekannya suka senyum itu.
Sebuah senyum manis dari Loco yang jarang terlihat. Hanya terpampang jika mengintip Loco yang tengah mengamati layar ponsel, entah membaca pesan dari siapa. Tapi meskipun senyumnya tipis, Loco terlihat sangat bahagia.
Dengan cepat, Loco mengetik jawaban.
[Aku pulang]
Tak ada balasan, Loco mendengus samar lalu menghapus pesannya. Loco melirik jam dinding. Wajar saja, sudah tengah malam.
Loco mulai mengganti pakaian. Sedikit dicucinya muka dan merapikan rambutnya. Digantungnya jas putih dokternya dan memakai setelan kemeja biru kotak-kotak yang senada dengan celana panjang yang dia kenakan.
Sampai di parkiran, Loco mengangguk saja saat beberapa tamu dan pasien menyapanya.
Terlebih para perawat dan rekan kerjanya ikut menegur. Loco mendekati sebuah mobil hitam, membawa tubuhnya masuk dan mengendarainya. Loco tidak tahu kenapa dia begitu terburu-buru--menginjak gas, dan melajukan mobilnya cepat, tepatnya mengebut.
Tapi hanya satu wajah yang terbayang di kepalanya.
Dia ... ingin bertemu Najwa secepatnya. Sesampainya, Loco memarkirkan mobilnya dengan perlahan di depan rumah. Keesokan paginya dia harus pergi lagi, jadi Loco tidak memasukkan mobilnya ke dalam garasi, hanya memarkirkannya di luar. Lebih mempermudahnya untuk pergi.
Loco tidak mengetuk terlebih dahulu, dia mengeluarkan kunci cadangannya dari saku. Jika menggedor pintu tengah malam, Loco takut jika harus membangunkan Najwa. Lima kali Loco mencoba kelima kunci yang dia simpan di saku celana, lalu mengerang samar.
Sepertinya dia salah membawa kunci. Pasti kunci rumahnya yang asli tertinggal di jas dokternya yang dia gantung di ruangan kerjanya di rumah sakit.
Loco ingin menggedor pintu, tapi ragu. Tidak mau membuyarkan mimpi indah Najwa, yang saat Loco membayangkan wajah istrinya ketika tertidur, Loco berakhir semringah sendiri.
Loco lebih memilih jalan lain. Ditelitinya setiap jendela dan pintu yang ada di sekeliling rumahnya.
Bibirnya sedikit tersenyum saat melihat jendela dapur terbuka.
Najwa benar-benar ceroboh! Jika ada yang berniat jahat, Najwa-nya sudah pasti dalam bahaya.
Loco menarik jendela dan masuk ke dalam rumah melaluinya. Layaknya bandit, Loco menyempurnakan perannya dengan kedua langkah yang mengendap-endap. Tangannya sedikit mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar.
Najwa sudah terlelap di atas ranjang.
Sepertinya nyenyak, tapi ada air mata kering yang membasahi pipinya. Loco duduk di sisinya, mengusap kening Najwa yang sedikit dingin, bertanya lirih, "apakah kamu mimpi buruk lagi, Najwa?"
Disapukannya bibir ke pucuk kepala istrinya, lalu menyingkirkan guling yang mengambil alih tempatnya. Loco membaringkan diri di sebelah Najwa. Menjadikan lengan kokohnya sebagai bantal, nyaris dua jam Loco terpaku, menatap wajah lelap Najwa yang tak kunjung terbangun, dan Loco 'pun tak kunjung tertidur.
Senyum tipis Loco terulas.
Nyatanya, karena terlalu terpaku oleh wajah istrinya hingga hanyut dalam pesona, Loco sekalipun mengantuk tidak kunjung tertidur sampai empat jam kemudian.
Pukul 04.00 pagi, biasanya Loco akan Tahajud, tapi mengingat dirinya tidak tidur sama sekali meskipun semenit, akhirnya Loco membangkitkan diri. Mengambil handuk yang tergantung di balik lemari, dan membersihkan diri di kamar mandi luar kamar.
Setelah guyuran air yang nyaris membekukan syarafnya, Loco mengambil pakaian bersihnya dan memakainya.
Setelah itu memungut kembali pakaian kotornya untuk ditempatkan di laundry.
Loco tidak mau membebani pekerjaan rumah Najwa. Karena sejak awal menikah Najwa bersikeras tidak mau menyewa pembantu karena berpikir Najwa bisa melakukan semuanya sendiri, sekalipun Loco pernah memaksanya.
Sebelum kembali berangkat ke rumah sakit, Loco memasuki kamar. Tidak membangunkan Najwa, Loco hanya menyapukan bibirnya ke pucuk kepala istrinya. Sejenak berpindah ke bibirnya, lalu bersuara lirih. "Aku pergi dulu, sayang."
Bagi Loco, wajah tidur Najwa terlalu disayangkan jika ingin dibangunkan.
Kembali lagi ke jendela yang terbuka di dapur, Loco pergi. Masuk ke dalam mobil dan mengendarainya.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Loco menitipkan pakaian kotornya ke laundry langganannya yang buka 24 jam. Sudah menjadi tumpukan baju bersih Loco dititipkan di sana dan belum pernah diambil dalam seminggu.
Setelah itu, sesampainya Loco di rumah sakit, diparkirkannya mobilnya di halaman parkiran. Loco merehatkan tubuhnya sejenak, bersender dalam di kursi jok, lalu merapatkan mata.
Ingin tidur ... hingga akhirnya Loco tertidur. Sejak awal dia mengantuk, tapi rasa kantuknya hilang jika dia berhadapan dengan Najwa.
Ini rutinitas harian Loco.
Meskipun di mata Najwa dia tidak pernah pulang bahkan berminggu-minggu sibuk bekerja, nyatanya tanpa sepengetahuan Najwa, Loco selalu pulang ke rumah setiap malam.
Datang larut malam, kadang memakai kunci cadangan atau memanfaatkan kecerobohan istrinya yang lupa menutup pintu atau jendela.
Berbaring di sebelahnya diam-diam, mengamati wajahnya istrinya sampai setidaknya pukul 03.30 atau 04.00, lalu berangkat lagi, dengan cara sembunyi-sembunyi pula.
Sudah selayaknya bandit, Loco hanya tidak ingin menganggu waktu tidur istrinya.