#2 Rutinitas Rahasia Loco

1166 Kata
Loco menggusar rambut. Saat terbangun, hari sudah terik. Dia ucapkan lafaz Tuhan dan mendesis. Subuh terlewat, dan sebagai pemegang waktu terbanyak yang memborong banyak pekerjaan dan jadwal pengobatan maupun operasi, bisa dikatakan Loco terlambat masuk. Loco berlalu ke mushola yang ada di halaman rumah sakit. Persetan dengan pandangan aneh orang-orang Loco mengambil air wudhu dan beribadah dua rakaat. *** Najwa terbiasa bangun pukul setengah enam pagi, setelah itu beranjak salat Subuh dan membersihkan diri. Hal pertama yang membuatnya heran setelah membuka lemari dan mengecek pakaian bersihnya adalah, sepertinya pakaian bersih suaminya berkurang? Najwa kembali mengeceknya, membolak-balik lipatan baju. Ah, sepertinya benar. Tapi saat diceknya pakaian kotor, tak ada sama sekali. Di jemuran, pakaian yang dicuci dan dijemur juga tidak ada. Najwa menghembuskan napas, mulai merasa tidak nyaman. Jangan bilang ini ulah makhluk halus? Bulu kuduknya meremang. Najwa berusaha mengabaikannya, dan berpakaian. Setelah itu memasak sarapan, menunggu di meja makan. Dihidangkan dua porsi, untuknya dan suaminya. Barang kali, Loco pulang pagi-pagi buta. Nihil, lagi-lagi Najwa dihempaskan oleh harapannya sendiri. Sejam berlalu, Loco yang diharapkan kehadirannya tak pernah datang. Najwa menghabiskan satu porsi makanannya, dan menyisakan satu porsi yang tak terjamah. Najwa membawa piring penuh tersebut keluar rumah. "Bagas!" pekik Najwa membuat seorang lelaki yang tengah berkutat dengan mobil di bengkel sebelah rumah Najwa menoleh. Bagas dengan pakaian kotornya membangkitkan tubuh, bersender di tembok rumah Najwa dan mengangkat kedua alis. "Mau bersedekah lagi, Naj?" Diliriknya sepiring nasi dan gulai yang Najwa bawa. Lelaki dengan wajah kehitaman akibat oli tersebut tersenyum tipis. "Nih habisin, ya. Udah itu piringnya balikin lagi." "Baik banget, sih lu." Bagas menerima sodoran piring penuh lumuran kuah tersebut, lalu bersiap dengan telapak tangan kotornya, hendak makan sebelum mencuci tangan. "Bagas!" Najwa berteriak tertahan. "Cuci tangan dulu, gih. Jorok amat." Bagas tertawa, lalu menurut. Didekatinya keran yang tertancap di halaman beton bengkelnya. Setelah mencuci sebelah tangannya, mulai menyantap makanan yang dibawakan Najwa. "Alamat pengen curhat lagi, nih. Kalau udah baik gini." Bagas tertawa sambil mengunyah nasi. "Tahu aja!" Najwa menanggapi dengan senyum lebar. Sesudahnya senyum itu surut, Bagas mulai meliriknya prihatin. "Suami lu nggak pulang lagi?" Najwa mengangguk pelan. "Udah seminggu, ya?" Bagas menghitung hari dan terdiam saat Najwa menanggapi. "Belakangan pernah sebulan, tuh." Sebenarnya Bagas tahu sesuatu. Kadang, bengkelnya memang buka sampai larut malam bahkan tidak tutup semalaman. Saat berkutat dengan mesin mobil dan motor, dia menemukan mobil familier yang terparkir di depan rumah Najwa. Bagas melihat Loco keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Nyaris setiap malam Loco pulang larut tanpa sepengetahuan Najwa setiap kali Najwa menuduh Loco tidak pernah pulang berminggu-minggu bahkan pernah mencetak rekor sebulan. Tapi tidak pernah lebih dari pukul 03.30-04.00, Loco sudah keluar dari rumah dan kembali ke rumah sakit. Dari cerita Najwa selama ini, pastinya Najwa tidak tahu kalau Loco sebenarnya pulang tanpa sepengetahuannya. Bagas ingin memberitahu, tapi seperti ada yang menahan bibirnya. Diangkatnya kepala dan melirik wanita itu. Ah ... Bagas tidak mau wanita itu berubah dan berhenti mendatanginya jika tahu sebenarnya, suaminya ... tak seburuk perkiraannya. Jadi, Bagas memilih bungkam. Tidak berkata, dan menyantap makanan yang diberikan Najwa yang seharusnya untuk Loco dalam diam. Tentu Bagas merasa bersalah, namun ... dia tidak mau kehilangan momen-momen ini di kemudian hari. Sebagai teman sedari kecil, Bagas sangat mendambakan wanita ini dan terbiasa akan kehadirannya. Dia pikir, setelah Najwa menikah, kedekatan mereka akan renggang karena sibuk mengurusi urusan rumah tangga. Tapi beruntungnya Bagas, Loco hadir sebagai lelaki dingin yang memprioritaskan pekerjaan. Tak ada Loco, Najwa kembali kepadanya. "Lu betah diginiin mulu selama bertahun-tahun?" Bagas bertanya setelah menyantap makanannya sampai licin. Najwa meliriknya. "Betah tak betah. Andai aku bisa ubah tabiat suami, udah kumodif deh, kayak motormu." "Kadang nggak setiap motor-mobil bisa dimodif--begitu pula manusia atau suami, ganti ajalah." Saat Bagas menghidupkan keran dan membasuh piring kotornya seusai menyantapnya sampai bahas, Bagas melirik Najwa. Bagas tersentak diam, wanita itu menangis. *** Pukul satu malam, Loco kembali memarkirkan mobilnya di halaman luar rumah. Tepatnya, pinggir jalan. Lelaki itu baru saja dari laundry. Karena pakaiannya yang dititipkan di sana sudah menumpuk, pihak karyawan menghubunginya dan menuntutnya membawa semua pakaian bersihnya pulang. Akhirnya di tengah malam buta Loco mengambilnya sekalian dia pulang sehabis melakukan operasi di rumah sakit. Kali ini Loco tidak lupa mengambil kunci yang benar agar tidak perlu masuk ke dalam rumah melalui tempat tak biasa selayaknya bandit. Dengan perlahan dibukakannya pintu dan masuk ke dalam rumah. Langkahnya kembali mengendap sambil menyeret tas plastik transparan yang berisikan baju-baju bersihnya yang sudah tersetrika harum dan terlipat rapi. Loco masuk ke dalam kamar, meletakkan tas plastik tranparannya sejenak ke atas meja dan menaikkan selimut istrinya yang menyorot ke bawah tubuh. Loco mengusap dahi Najwa yang terlelap, lalu menjauh dari ranjang. Membuka lemari, dan merapikan pakaian-pakaiannya--satu-persatu, memasukkan setiap lipatan pakaiannya ke dalam lemari pakaian mereka. Setelah itu Loco menutup pintu lemari. Disorotnya Najwa yang menggeliat di atas ranjang, membuat bentangan selimut di tubuhnya menyurut ke bawah, setengah terlepas dari sekujur tubuhnya. Setelah duduk di atas ranjang, Loco kembali memperbaiki posisi selimut Najwa. Mengamati wajah istrinya dia terpana sejenak, lalu mendekatkan wajahnya. Sapuan bibir Loco mengenai lengkungan bibir Najwa yang pucat. Loco menarik wajah dan mengulanginya sekali lagi. Loco segera menjauh saat nada dering ponselnya memekik. Dengan gerakan sedikit panik Loco meraihnya dari saku celana dan bersembunyi di dalam kamar mandi. Loco menongolkan kepala, mengecek keadaan Najwa, untungnya sang istri tidak terbangun. "Halo?" Bibir Loco bergumam, menunggu sang penelpon menjawab. Setelah itu Loco mengangguk antusias. Sudut bibirnya sedikit bergetar cemas. Ditutupnya sambungan ponsel lalu menerobos keluar. Sedikit bantingan di pintu depan saat Loco melangkah tergesa dan dia terperanjat sendiri, berharap benturan yang cukup kencang tersebut tidak membangunkan Najwa. Loco sudah memasuki mobilnya dan melaju kencang. Atas telepon dari pihak rumah sakit, tentu saja sebagai petugas utama Loco akan panik. Bagaimana mungkin pasiennya mendadak kejang-kejang di tengah malam? Perawat yang menghubunginya barusan bilang, sang pasien sempat tak bernapas. Suara deru mobil yang menjauh, dan benturan keras barusan sedikit membuat Najwa sadarkan diri. Wanita itu membangkitkan tubuh dan menepuk-nepuk pipi, berusaha menghilangkan kantuk. Diceknya luar kamar, tidak ada apa-apa. "Lalu benturan keras barusan dari mana?: Najwa mengerut heran, lalu diceknya lemari yang sedikit terbuka. Pakaian suaminya yang akhir-akhir ini berkurang lebih memenuhi seperti sedia kala, kotak-kotak lemari yang tadinya lenggang kini dipersempit oleh baju-baju yang Najwa kenali. Satu helai Najwa raih. Sedikit mengusapnya yang rapi dan licin seperti habis disetrika, lalu mendekatkan hidungnya. Aroma semerbak harum membuat Najwa bergumam. Seperti habis dilaundry? Najwa kenal betul, aroma, lipatan, dan setrikaan rapi khas mengambil jasa hasil laundry. Karena jika Najwa yang melakukannya, tidak mungkin seharum, sebersih dan serapi ini. "Aneh," bisik Najwa. "Apakah Loco pulang?" Sekali lagi diceknya sekitar, lalu bergumam letih. "Sepertinya tidak." Najwa kembali melangkah memasuki kamar. Direbahkannya punggung ke atas ranjang, membentuk logo bintang dan secara berirama kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak untuk mengisi waktu luang di tengah malam. Mendadak kantuk Najwa hilang, diserbu oleh rasa kecewa dan rindu, perempuan itu hanya menatap kosong langit-langit kamar. "Ganti suami, ya?" Najwa teringat perkataan Bagas. Jika dipikirkan sekali lagi. Jika Loco memang tidak bisa 'dimodif', Bagas ada benarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN