10. Janji Loco

1433 Kata
Sempat bergeming Najwa segera menyembunyikan test phack bergaris dua ke balik punggungnya saat Loco mengetuk pintu kamar mandi dari luar. “Ya?” Najwa menyahut, Loco langsung memutar handle pintu dan membukanya. Di ambang pintu lelaki itu tersenyum, tangan Najwa di balik punggung mengerat, semoga benda itu tidak disadari oleh suaminya. “Kenapa lama sekali di kamar mandi?” Loco mendekat. Tawa kecil Najwa terdengar pelan. Loco berjongkok di depan tubuhnya yang duduk di atas jamban. “Perutmu sakit lagi? Perlu kuperiksa?” Loco menyentuh perut Najwa, mengusapnya, lalu kepalanya mendekat, membenamkan wajahnya di sana. Loco menempelkan pipi ke dua paha Najwa, melirik istrinya dari bawah. “Atau jangan-jangan ada anak kecil di dalam sini?” Najwa ingin menggeleng, tapi kepalanya beku. “Perlu kubelikan test phack?” Loco bangkit berdiri dan menawarkan, Najwa masih menyembunyikan bukti kehamilannya di balik punggung. Agar lelaki itu pergi Najwa mengangguk, Loco keluar dari kamar mandi, memakai jaketnya dan kunci mobil. Tak lama terdengar deru kencang mobil di halaman. Najwa tidak tahu bagaimana bahagianya Loco dengan dugaannya sendiri, apalagi jika khayalannya menjadi nyata. Najwa mengambil tisu dan membungkus test phack di tangannya, dibuangnya ke tong sampah agar Loco tidak mengetahuinya. Sembari menunggu Loco pulang Najwa pergi ke rumah Bagas yang bersebelahan dengan rumah mereka. Najwa bingung pada dirinya sendiri, kenapa dia berbuat seperti ini? Padahal satu kata saja mengiakan kalau dirinya hamil, mereka akan berbahagia, Loco pasti lebih sering ada di rumah dan mereka bisa merayakannya. Mungkin mertuanya yang sempat menuduhnya merubah Loco juga akan berbahagia. Najwa mengetuk jendela kamar Bagas yang Najwa tahu betul dimana letaknya. Lelaki itu membuka jendela sambil menggusar rambut. “Najwa?” Bagas menjadi salah tingkah saat melihat Najwa. Najwa nyengir tidak enak, sebelah tangannya mengulur mangkuk ke Bagas. Bagas mengerjap bingung, wajahnya panas saat Najwa mengatakan niatnya. “Minta air kencingmu, boleh?” “Ngapain?” Bagas tentu saja malu. Meskipun Najwa yang terpaksa memintanya lebih malu. “Bukan untuk diminum ‘kan?” Pertanyaan Bagas membuat Najwa berteriak kesal, “tentu saja bukan!” Ekpsresi Najwa membuat Bagas tertawa. “Jadi untuk apa, Naj?” “A-aku hamil ….” berita yang Najwa sampaikan membuat Bagas termenung. Antara bahagia dan sedih mendengarnya. “Lalu? Apa hubungannya dengan meminta urinku?” Kepala Najwa semakin menunduk, tangannya yang menggenggam mangkuk semakin kuat. “Aku tidak mau Loco tahu soal ini ….” “Kenapa?” Bagas menyahut heran. Najwa menggeleng samar, tidak mau mengatakan alasannya. Dia ‘pun tidak mengerti pada dirinya sendiri. Padahal ini berita membahagiakan, kenapa Najwa harus menutupinya seakan ini aib yang buruk. “Baiklah, mana sini mangkuknya?” Bagas mengambil mangkuk yang diberikan Najwa. “Tunggu sebentar,” Bagas masuk ke dalam kamar mandi. Hanya tiga menit, cairan kuning yang mengisi setengah wadah yang Najwa berikan membuat keduanya sama-sama salah tingkah. “Jangan diminum, ya Naj.” Bagas terkekeh bercanda. “Tentu saja tidak,” Najwa mendelik kesal. Setelah berpamitan wanita itu berlari masuk ke dalam rumah. Disembunyikannya mangkuk berisi urin Bagas ke tepi bathub, Najwa hanya perlu menunggu suaminya pulang. Najwa menunggu di teras depan, cahaya lampu kendaraan dari kejauhan membuat wanita itu semakin gugup. Benar saja, Loco sudah memarkirkan mobil di halaman rumah mereka yang tidak terlalu luas. Bukan hanya membeli test phack, Loco juga membawakan makanan, buah-buahan dan semacamnya untuk Najwa. Tidak perduli bisa saja khayalannya semu, Loco sangat berharap hasil positif yang akan dia terima dari test phack yang akan dia berikan pada Najwa. “Cek deh,” Loco memberikannya pada Najwa setelah meletakkan semua makanan beliannya ke atas meja. Sebelum Najwa pergi ke kamar mandi, Loco mencegat langkahnya. “Jika kamu benar hamil, Naj, mungkin aku akan berhenti bekerja di rumah sakit. Aku ingin jadi dokter untukmu dan anak kita, di sini, di rumah ini, menemanimu setiap hari, sampai anak kita lahir ke dunia.” Pengakuan Loco membuat Najwa terenyuh, wanita itu mengangguk lalu pergi. Najwa termenung di atas jamban. Belum diambilnya urin Bagas yang dia minta. Najwa mengembuskan napas, bimbang dengan dua pilihan yang akan wanita itu ambil. Tidak mau mengecewakan suaminya dan sangat berharap dengan kebahagiaan baru yang akan dia dapatkan, Najwa membuang urin Bagas ke dalam toilet dan melakukan pengecekan ulang pada urinnya sendiri. Dua garis positif terukir manis di benda itu, Najwa yakin ini bukanlah khayalan atau kekeliruan. Najwa memberikan bukti kehamilannya pada Loco. Loco langsung memeluknya, mencium keningnya dan mereka bahagia. “Terimakasih, Naj. Terimakasih, sayang. Aku mencintaimu. Aku berjanji tidak akan menelantarkanmu lagi.” Najwa balas memeluk suaminya. Setelah nyaris satu bulan Loco membuang gelarnya dan mengantar kemanapun wanita itu mau, Najwa pikir pilihannya tidak salah jika memercayai Loco sekali lagi … *** “Kembali ke rumah sakit atau … kupaksa kamu bercerai dari istrimu.” Tubuh Loco membeku di tempat. Lelaki itu bimbang, adu tatapan tajam terjadi di depan toko buah yang biasa Loco kunjungi semenjak kehamilan Najwa yang ke lima minggu. “Istriku tengah hamil. Bisa ‘kah Papa memakluminya?” Loco berkata dingin. “Setelah Najwa melahirkan, aku janji akan kembali ke rumah sakit. Untuk sekarang, biarkan kami berdua dulu.” “Istrimu hamil?” Aaric terdengar tertarik. Lelaki itu menyeringai, “anak siapa?” Loco mengetatkan rahang. Ejekan ayahnya benar-benar membuatnya marah. “Tentu saja anakku, cucunya Papa.” “Kamu jarang pulang, bisa jadi itu anak tetangganya ‘kan? Sesuai pengamatanku, istrimu sangat akrab dengan tetangganya yang bernama Bagas itu.” “Bisakah Papa tidak berkata seperti itu?” Loco meminta tanpa memohon. “Kembalilah ke rumah sakit, Loco. Itu tanggung jawab utamamu. Atau jika memang kamu tidak bisa menangani banyak tanggung jawab secara bersamaan, buang tanggung jawabmu sebagai Ayah dengan menggugurkan bayi kalian dan buang tanggung jawabmu sebagai Suami dengan menceraikan Najwa. Bagaimana?” Loco membelalak, kedua tangannya mengepal. “Aku lebih baik membuang rumah sakit dan gelar dokterku.” Aaric tersenyum tipis mendengarnya, “baiklah. Tapi menjadi pengangguran bukan ‘lah hal yang bagus, Loco. Wanita mana yang mau menikahi lelaki yang tidak berpenghasilan? Dan anak mana yang mau memiliki Ayah yang tidak melakukan apapun?” Ancaman Aaric berhasil menakuti Loco. Tanpa gelar dan rumah sakitnya, Loco dan Najwa akan melarat. Sama saja melahirkan anak tanpa masa depan. “Papa memberikanmu pilihan. Buang gelarmu, kembalikan rumah sakitku dan temani ‘lah istrimu di rumah dengan statusmu sebagai pengangguran. Atau sebaliknya, datanglah ke rumah sakit, bekerjalah seperti biasanya, maka dengan gelar dan rumah sakit yang kupercayakan padamu, hidup Najwa dan anak-anak kalian akan sejahtera dengan masa depan yang tentu saja lebih terjamin.” “Silahkan menjadi Suami, silahkan menjadi Ayah, Loco. Tapi jadikan istrimu wanita yang mandiri. Dan jangan menjadikannya alasan untuk mengabaikan kewajibanmu di rumah sakit, karena nyawa ratusan orang ada di tanganmu, Nak. Kamu tidak akan menjadi pahlawan dengan memanjakan istrimu, tapi ribuan orang akan berterimakasih kepadamu jika kamu bisa menjadi Dokter bertanggung jawab yang tidak menelantarkan tugasnya.” Aaric mengambil keranjang buah-buahan dari tangan Loco, merebutnya dan Loco tidak berusaha mengambilnya kembali. Kalimat-kalimat kebapakan Aaric berhasil mencuci otaknya. “Aku akan mengirim seseorang untuk merawat istrimu di rumah. Kembali ‘lah ke rumah sakit. Kursi direktur menunggumu.” Aaric menepuk bahu Loco. Langkah Loco berat untuk masuk ke dalam mobil, helaan napasnya terdengar. Rumah sakit dan gelarnya, memang lebih penting dari Najwa jika Loco pikirkan sekali lagi. *** “Siapa kamu?” Suara Najwa terdengar ketus mendapati seorang wanita berambut sebahu datang ke rumahnya diantar oleh sopir Aaric. Wanita itu terlihat sopan, mendekat ke arah Najwa yang menunggui suaminya lalu memperkenalkan diri. “Saya Lana, Nyonya. Orang suruhan Pak Loco untuk merawat dan menemani Nyonya di rumah.” Di tangan wanita itu tergenggam keranjang buah-buahan yang tadi dibeli Loco. “Mana Loco, suamiku?” Najwa tidak perduli nama wanita itu dan apa yang dia bawa. Najwa hanya memperdulikan suaminya. “Pak Loco di rumah sakit, kembali bekerja.” Tubuh Najwa bergetar. Jelas kecewa. Mana janji Loco sebelumnya? Katanya akan menemani Najwa di rumah sampai melahirkan. Berhenti datang ke rumah sakit dan menjadi dokter pribadi untuk Najwa dan anaknya. “Kenapa dia ke sana?” Najwa bertanya tidak terima. “Seorang konglomerat asal Saudi mengalami kecelakaan, Tuan Aaric meminta Pak Loco menangani operasi rekan bisnisnya secara langsung.” Lana hanya menjelaskan apa yang dia tahu. “Kapan dia pulang?” Kejar Najwa. Lana menggeleng, mana wanita itu tahu. Najwa masuk ke dalam rumah, meninggalkan Lana yang langsung mengikuti arah punggungnya tanpa diminta. Najwa menghubungi Loco, dan sesuai dugaan tidak diangkat. Najwa sudah berusaha duapuluh kali, tapi percuma. Loco hanya memberi satu pesan. _Aku pulang besok. Tunggu aku, Naj. Besok? Yakin besok? Najwa tidak membalas pesan itu. Setelah besok, Loco benar tidak pulang. Dengan satu alasan yang selalu sama, 'sibuk'.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN