9. Hari yang indah

1560 Kata
Jemari Anna terus menggantung di atas papan keyboard ponselnya. Sesekali mengetikkan sesuatu di sana, namun tidak lama kemudian akan ia hapus. Memilih meletakkan ponsel ke atas nakas. Lalu sebisa mungkin mencoba memejamkan mata. Namun hanya bertahan beberapa detik, mata itu kembali terbuka, melirik ke arah ponselnya. Gadis itu menggigit bibir, netra hitamnya bergerak menatap langit-langit kamarnya. Di mana pada bagian paling ujung sudah hampir jebol. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya saat ini. Tapi ... Anna memutuskan untuk duduk, diliriknya lagi benda pipih yang sejak tadi hening. Sebenarnya Anna sedang bingung, apakah dia harus menghubungi Andre atau tidak. "Nggak usah mandang Andre siapa. Kalau memang lo suka sama dia, ya lo perjuangin dong, Na. Masak selamanya mau jomlo terus? Ingat, Na. Lo pantas untuk bahagia." Itu perkataan yang Sinta ucapkan tadi, sebelum mereka memutuskan untuk menutup jendela kamar masing-masing. Dan Anna masih mengingat dengan jelas, bagaimana wajah serius Sinta saat mengatakan kalimat panjang itu. Hal yang sangat jarang sekali Sinta tunjukkan. Gadis itu menghela napas saat dilema terus merajai hatinya. Jika ia mengirim pesan untuk Andre, itu tandanya ia mengizinkan beberapa kemungkinan datang. Salah satunya ada harapan yang dulu pernah ia kubur akan kembali lagi. Bagaimana kalau harapan itu tidak terbalas? Ponselnya berdenting menandakan satu pesan masuk. Awalnya Anna pikir itu pesan tidak penting dari Bima atau Edo yang memang sering mengirim pesan tidak jelas. Tapi matanya langsung melebar saat satu pesan dari nomor asing masuk. Anna. Kamu udah tidur? Ini nomor Andre. Anna menelan ludah dengan susah payah saat membaca pesan itu. Dari mana Andre bisa tahu nomornya? Lalu bibir itu berdecap saat yakin ini pasti ulah Sinta. Aku ganggu kamu, ya? Pesan itu kembali masuk, karena Anna tidak juga mengirim balasan. Gadis itu pun segera mengetik kalimat balasan. Nggak. Aku belum tidur. Tidak perlu menunggu detik berlalu, panggilan dari Andre langsung masuk ke dalam ponselnya. Dengan ragu gadis itu menjawab telepon dari seberang. "Kok belum tidur?" Anna menggigit bibir, bisa ia bayangkan lesung pipi itu pasti sedang tercetak jelas di wajah Andre saat ini. "Belum ngantuk," jawab Anna diiringi tawa kecil, yang terdengar sangat dipaksakan. Entah mengapa kegugupan kembali merajainya. "Emm, besok, kamu libur, kan?" Otak Anna segera bekerja untuk menerka-nerka maksud dari pertanyaan itu. "Iya," jawabnya singkat. "Ada acara nggak?" Otak Anna pun tidak bisa diajak untuk berhenti menduga-duga. "Kebetulan, si, lagi luang." Bukan kebetulan sebenarnya. Tapi memang Anna tidak pernah punya agenda untuk pergi ke mana-mana. Biasanya akhir pekan ia gunakan untuk membantu Sinta menjaga ibunya. Sementara sahabatnya itu, akan bekerja di sebuah restoran untuk menambah pemasukan. Tapi kemarin Sinta bercerita jika minggu ini ia libur karena kafe tempat ia bekerja tutup sementara untuk renovasi. Entah ini pertanda apa. Tapi seolah Tuhan sedang mendukung apa yang sedang terjadi. Mungkinkah ... Anna segera menggeleng, saat satu harapan yang ingin ia tepis kembali melintas. Tidak boleh berharap lebih pada sesuatu yang belum pasti. "Gimana kalau besok kita jalan?" Tapi saat satu harapan yang sedari tadi ia tepis makin menyarang dan membentuk keinginan yang lebih besar, Anna tidak lagi mengelak, jika memang ini yang ia inginkan. Ia ingin dekat dengan Andre. Dekat dengan maksud yang lebih spesial. Dan mungkinkah, ini semua akan mengarah ke sana? "Anna?" Panggilan itu menyentak kesadaran Anna. "Terserah kamu, sukanya ke mana?" Ada suara senyum, dan bayangan lesung pipi Andre kian jelas berada di depan matanya. "Kok bengong mulu, si? Kamu ngantuk, ya?" Kali ini terdengar kekehan dan Anna merasa konyol dengan tingkahnya. "Ah maaf, Mas. Iya ni, agak ngantuk." "Ya udah kita bahas besok aja mau ke mana, yang penting kamu mau, kan?" "Emm, okey," jawab gadis itu lirih. Lalu dengan senyum yang melebar ia menenggelamkan wajahnya ke atas bantal, setelah Andre memutus sambungan. * Pesan Andre masuk tepat setelah Anna selesai merias diri dengan sederhana. Bahkan tidak ada pakaian spesial yang ia pakai. Gadis itu segera turun setelah membaca pesan pria itu, yang ternyata sudah berada di depan rumahnya. Kening Anna mengernyit saat melihat Sinta sedang mengobrol dengan Andre di samping mobil pria itu. Tentu saja bukan cemburu, Anna lebih merasa waswas karena takut Sinta sedang bertindak yang aneh-aneh. "Woi Anna! Slow dong mukanya! Gue nggak bakalan nikung keles." Anna hanya mendesis kesal mendengar teriakan yang mampu membuat pipinya memerah itu. Andai saja tidak ada Andre yang tengah memandangnya dengan senyuman tertahan, tentu saja Anna sudah menjambak rambut Sinta sampai rontok. "Mau pada ke mana, si?" Sinta menatap Andre dan Anna bergantian. Namun keduanya malah hanya saling tatap tanpa memberikan jawaban. "Jangan-jangan asal jalan aja, nggak ada rencana mau ke mana," tebak Sinta yang langsung yakin jika apa yang ia katakan benar karena keduanya hanya diam. "Ya ampun, kalian ini kayak abege yang lagi kasmaran aja." Anna hanya bisa melotot kesal pada Sinta yang malah terkikik geli di tempatnya. "Mau gue kasih rekomendasi tempat nggak?" "Mendingan kita berangkat sekarang deh, Mas. Ayo!" Tanpa sadar Anna menarik lengan Andre, karena yakin rekomendasi yang akan Sinta ucapkan tidak akan terdengar baik. Ia sudah terlalu mengenal tabiat sahabatnya itu. Anna menoleh saat mendengar suara tawa kecil dari samping. Andre baru saja duduk di depan kemudi. "Temen kamu lucu juga," ujar pria itu sembari menoleh sebentar ke arah samping. Anna sempat menoleh ke arah Sinta yang masih berdiri di tempatnya dengan senyum menggoda ke arahnya. Buru-buru ia menghadap ke depan lagi. Dan saat mobil Andre sudah mulai melaju setelah memberi klakson pada Sinta yang dibalas lambaian tangan centil, Anna baru menjawab. Ada senyuman tipis yang Anna berikan, "Seringnya nyebelin tapi, Mas. Suka malu-maluin juga." Andre kembali tersenyum, "Tapi seru kayaknya punya sahabat kayak gitu. Kalian udah lama kenal?" Anna mengangguk, "Udah dari sebelum lahir," jawabnya. Rasa gugup itu perlahan luntur dan menghilang. "Dulu orang tua kita juga sahabatan. Dan memang sudah tetanggaan dari kita belum lahir," jelas Anna cepat saat menyadari ada kernyitan bingung di kening Andre. Pria itu ber-oh panjang sembari mengangguk-angguk. "Jadi gimana ini, kita mau ke mana?" Anna yang mendengar itu menoleh dengan pandangan bingung. Karena ia pun belum memikirkan akan pergi ke mana. "Kamu nggak ada tempat yang pengin di datengin?" Anna menggeleng. Jangankan memikirkan untuk jalan-jalan. Memikirkan hidupnya saja sudah menyita waktu. Andre yang melihat gelengan kepala Anna pun mulai berpikir, tempat apa yang kira-kira disukai oleh Anna. * "Dufan?" ujar Anna sembari menoleh ke arah Andre yang baru saja memarkirkan mobil. "Sebenernya, tadi teman kamu sempat bilang kalau kamu pengin ke sini." Mata Anna melebar, lalu ada decak lirih yang keluar. Sinta memang pantas untuk menjadi pemain sinetron. "Memangnya tadi kalian ngobrol lama?" "Enggak, si. Cuman beberapa menit sebelum kamu keluar." "Dia ngomong apa aja?" Anna sudah bisa membayangkan mulut Sinta yang pasti akan langsung membeberkan banyak hal. Ia takut ada hal privasi yang tidak sengaja Sinta ceritakan pada Andre. Andre terkekeh geli melihat ekspresi khawatir yang kini Anna tunjukkan. "Nggak banyak. Tadi sempet nanya mau pergi ke mana. Terus pas saya bilang kalau belum ada rencana, dia bilang kalau kamu sebenarnya pengin ke dufan. Tapi belum terealisasi sampai sekarang." Anna hanya bisa menggelengkan kepalanya takjub dengan akting Sinta. Padahal sudah berbicara dengan Andre. Tapi masih sok pura-pura tidak tahu dan menanyakan hal sama saat dia muncul tadi. "Ya udah, yuk! Nanti keburu panas." Anna mengangguk dan ikut keluar mobil setelah Andre terlebih dulu keluar. Sepanjang perjalanan tangan Andre terus menggenggam jemarinya. Anna yang awalnya gugup lama-lama mulai terbiasa, dan menikmati apa yang sedang terjadi. "Dari yang ekstrem dulu?" tanya Andre dengan tatapan ngeri saat melihat wahana tornado di depannya. Anna yang melihat itu sempat mengerutkan kening sebelum akhirnya tertawa. "Mas Andre takut?" "Emm, agak ngeri si sebenarnya. Tapi, kayaknya harus dicoba!" "Kalau memang takut mending nggak usah." "Kamu nantangin saya?" "Eh, nggak gitu!" Andre yang melihat wajah panik Anna langsung tertawa. "Ayo kita mulai tantangannya." Anna pun ikut menyunggingkan senyum. * "Mas Andre beneran nggak papa?" tanya Anna cemas saat Andre tampak pucat setelah mereka menaiki wahana histeria. "Kamu itu, memang nggak takut beneran?" Meski bingung, karena Andre malah menanyakan hal itu, Anna memilih menggelengkan kepalanya. Karena faktanya memang dia tidak takut sama sekali dengan semua wahana ekstrem di sini. "Oke, saya ngaku kalah Anna." Mau tidak mau Anna tertawa kecil melihat hal itu. Dan saat tawa itu tertangkap mata Andre, ada senyum yang pria itu tunjukkan. Ia baru sadar, jika gadis ini jarang sekali tertawa. Anna yang sadar jika sedang diperhatikan langsung berdeham. "Udah mendingan? Nggak mual lagi?" tanya Anna saat melihat kondisi Andre yang pucat seperti sudah mulai membaik. Andre mengangguk sembari berdiri tegak. "Kita lanjut, ayok!" "Tapi jangan yang ekstrem lagi," ujar Anna yang merasa khawatir dengan kondisi Andre. "Lalu?" "Kita naik itu aja!" Anna menunjuk ke arah biang lala. Dan keseruan itu pun berlanjut hingga sore menjelang. Keduanya memutuskan untuk mencari tempat makan setelah selesai dengan beberapa wahana. Tidak sempat semua dinaiki, karena antriannya yang sangat panjang, juga karena Andre tidak sanggup lagi menandingi semangat Anna. "Saya nggak nyangka, ternyata nyali kamu besar juga Anna." Anna tersenyum, lalu menatap langit yang mulai menggelap. "Itu nggak semengerikan hidup yang sudah saya alami," bisik Anna namun masih bisa terdengar oleh telinga Andre. Ada rasa ingin tahu kehidupan macam apa yang sebenarnya kini gadis itu jalani. Tapi Andre merasa hubungan ini masih terlalu singkat untuk menanyakan banyak hal. Selanjutnya keduanya mengalihkan topik, mengobrolkan banyak hal-hal ringan sembari menunggu pesanan mereka datang. Yang jelas, hari ini sangat indah untuk Andre, semoga saja Anna pun merasakan hal yang sama. ----""""----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN