8. Bantuan Sinta

1460 Kata
"Jadi tadi lo ke bengkel naik apa, Na?" tanya Sinta, karena tadi dia memang pulang lebih dulu. Seperti biasa, mereka akan membagi cerita yang terjadi hari ini sembari duduk di tepian jendela masing-masing. Walaupun seharian di kantor terus bersama, tapi hanya di tempat ini mereka bisa berbicara apapun tanpa memikirkan akan terdengar oleh yang lain. "Dianter Mas Andre." Sinta yang mendengar itu langsung memutar tubuh. Nyaris terjungkal jika tidak sigap berpegangan pada pengait jendela. "Beneran?" Anna mengangguk dengan senyum tipis. "Terus baliknya? Dia bawa mobil, kan?" "Dia ngikutin gue di belakang." Ada senyum yang kembali hadir saat bayangan Andre melintas di depan matanya. "Dia mau mastiin lo baik-baik aja, Na." Anna kembali tersenyum, karena yang ia rasakan memang seperti itu. "Andre sweet banget si, Na," ujar Sinta sembari mengerucutkan bibir selesai mendengar cerita Anna. Anna yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Ada perasaan senang memang, tapi entah mengapa ia tidak mau berharap lebih. Anna tidak akan lupa siapa Andre. Anak dari seorang yang cukup terpandang. Dan mengharapkan pria itu sama saja memimpikan kisahnya seperti di negeri dongeng. "Jadi, rencana lo apa selanjutnya, Na?" "Rencana apaan?" tanya Anna sembari memandang bulan yang bersinar penuh malam ini. Warna oranye yang membulat tinggi di angkasa itu mendamaikan sedikit hatinya. "Ya, soal Andre." Anna berdecak lirih, lalu menoleh ke arah Sinta. "Gue masih belum lupa siapa Andre, Sin." Sinta yang tidak mengerti dengan maksud dari kalimat itu melipat dahi, bingung. "Makdus lo? Dia kakak kelas kita dulu, gue juga masih inget kalau itu." Anna berdecak karena bukan itu maksud dari kalimatnya. "Bukan itu maksud gue, Sinta!" "Terus?" Sinta menggaruk kepalanya yang memang mendadak gatal. "Dia siapa, gue siapa. Gue cukup tahu diri, Sin. Dulu jadi pengangum rahasianya dia. Dan sekarang ...." Anna sengaja tidak melanjutkan kalimatnya karena yakin Sinta sudah mengerti yang dia maksud. "Ya ampun, Na! Masih jaman mikirin kasta?" Anna tertawa kecil, "Ya memang seperti itu kenyataannya kan, Sin? Keluarga Andre mana mau, nerima orang biasa untuk masuk ke dalam keluarga besar mereka?" "Kalau mereka mau?" Anna menggeleng yakin, "Gue nggak yakin. Dan ini bukan novel, Sinta. Gue nggak mau jadi tukang halu kayak lo." "Terus? Ceritanya cuman sampai di sini?" Anna kembali menggedikkan bahu tanpa mau menjawab. "Ih! Nggak asik lo, Na." "Gue cuman mau realistis, Sinta." "Tetep aja gue nggak sepemikiran sama lo. Kalau memang lo cinta sama Andre, harusnya lo kejar!" ujar Sinta menggebu-gebu. Tapi Anna seperti enggan meladeni. "Udah, ah, Sin. Gue ngantuk, mau tidur!" Anna pun segera turun dari tepi jendela. "Na! lo, mah! Gue belum selesai ngomong lho, Na!" "Ngomong aja sama nyamuk Sinta!" ujar Anna sembari terkekeh, lalu menutup pintu jendela. Membiarkan Sinta yang kesal sembari memanyunkan bibir. Namun tanpa Anna sadar, ada seringai jahil yang saat itu menggantikan wajah kesal Sinta. "Lo nggak bergerak, gue yang bakalan bantu lo bergerak, Na," gumamnya sembari cekikikan, lalu ikut menutup jendela kamar. * Pagi harinya, seperti biasa Anna dan Sinta berangkat dengan motor matik milik Anna. Pulangnya nanti, kalau tidak dijemput Raldi, biasanya Sinta juga akan menebeng sahabat sekaligus tetangganya itu. Hari berjalan lancar sebagaimana mestinya. Namun ada yang sedikit membuat Anna merasa aneh. Yaitu sikap Sinta yang mendadak menjadi sedikit pendiam. "Lo lagi sakit gigi ya, Sin?" Sinta yang sedang fokus membaca berkas di tangannya pun menoleh dengan alis terangkat. "Tumben dari tadi anteng," celetuk Anna lagi karena Sinta tidak menjawab. "Kerjaan gue lagi banyak, Na," gumam gadis itu pada akhirnya. Namun tetap saja itu tidak membuat kebingungan Anna memudar. Karena biasanya, walaupun banyak perkerjaan yang harus diselesaikan, sahabatnya ini pasti sesekali akan mengoceh. Yang katanya capeklah, ngantuklah. Atau sesekali melempar pulpen atau penggaris ke arahnya. Dengan alasan mengusir bosan. Tapi kali ini Sinta benar-benar duduk diam dengan konsentrasi tinggi. Dan entah mengapa Anna malah mencurigai jika Sinta sedang merencanakan hal yang tidak-tidak. "Lo nggak lagi ngrencanain hal aneh kan, Sin?" Sinta berdecak gemas, "Lo itu bawaannya curigaa mulu sama gue." "Ya abisnya lo kaya orang abis kena sawan gitu," celetuk Anna sekenanya. "Emang lo pernah lihat orang kena sawan kayak apaan?" "Belum si," jawab Anna sembari nyengir. Namun kebingungan yang ia simpan akhirnya terjawab saat menjelang jam makan siang tiba. Seorang pelayan rumah makan milik Andre membawakan dua bok makanan yang ditujukan untuk Anna. "Saya nggak pesen apa-apa lho, Mbak," ujar Anna tanpa mau memegang kotak makanan yang disodorkan ke arahnya. "Tapi Mas Andre bilang ini buat Mbak Anna. Ada pesan dari Mas Andre juga kok di dalamnya," terang pelayan wanita itu membuat dahi Anna mengernyit bingung. "Udah terima aja kenapa, si, Na. Rejeki nggak boleh ditolak," ujar Sinta yang meski masih fokus ke arah laptop, namun masih sempat nimbrung. "Beneran, ini buat saya?" tanya Anna sekali lagi untuk memastikan. Pelayan wanita tadi mengangguk dengan senyuman ramah. "Kalau gitu saya permisi ya, Mbak," kata pelayan itu saat akhirnya Anna mau menerima makanan yang ia bawa. Anna pun segera membaca tulisan tangan yang ada di atas salah satu bok makanan itu. Terima kasih buat kopinya. Semoga makanannya cocok, ya. Andre. Anna mengerutkan kening. Tidak mengerti dengan maksud Andre mengucapkan 'terima kasih untuk kopinya'. Kapan dia mengirim kopi untuk pria itu? Dan saat satu kecurigaan melintas, gadis itupun memicingkan mata curiga ke arah Sinta, yang rupa-rupanya sejak tadi terus mencuri pandang ke arahnya. * Andre masih memandang dengan senyuman segelas kopi yang kini ada di ujung meja kerjanya. Kopi yang tadi pagi tiba-tiba saja ada di tempat itu. Dan menurut karyawannya, itu adalah kopi pemberian gadis bernama Anna. Makasih buat pertolongannya yang bertubi-tubi. Anna Itu adalah tulisan yang tertera di atas kopi tersebut. Agak aneh dengan bahasa yang Anna tulis, tapi Andre memilih untuk tidak memikirkannya. Hanya segelas kopi, namun mampu membangkitan semangatnya yang sempat terpuruk akhir-akhir ini. Bahkan karena Anna pula, untuk pertama kalinya, semalam Andre melewati tidur dengan kualitas yang baik. tidak ada mimpi buruk seperti biasa. Itu juga mungkin yang membuat pagi ini semakin terasa istimewa. Sementara di tempat lain, tepatnya di kantor notaris depan rumah makan miliknya sedang terjadi perdebatan sengit antara dua gadis. "Ngaku deh, Sin! Lo kan yang ngasih kopi ke Mas Andre atas nama gue?" "Kopi apaan si Anna? Gue kagak tahu!" Sinta masih berusaha mengelak, namun Anna yakin Sintalah pelakunya. "Mata lo nggak bisa boong, Sin." "Yaiyalah, Anna. Mata gue kan nggak bisa ngomong, mana bisa bohong," potong Sinta sekenanya. Anna merasa gemas sendiri dengan jawaban yang Sinta ucapkan. "Lo itu malu-maluin gue, Sinta! Semalam gue ngomong apa coba!" "Abisnya gue gemes karena lo ngalah sebelum berjuang Anna!" Sinta langsung membekap bibir dengan telapak tangannya, saat merasa keceplosan. "Tuh kan! Udah gue duga pasti lo!" Untung saja hanya ada mereka berdua di kantor. Akhirnya Sinta menyerah dan mengacungkan dua jari menbentuk huruf V. "Sorry," katanya tanpa suara. "Sin ... lo tuh!" Anna menjatuhkan diri di kursi karena merasa kesal. "Sorry, Na. Jangan ngembek, dong!" Sinta menggerakkan kursi beroda yang ia duduki ke arah meja Anna. "Gue nggak ngambek, tapi marah." Sinta malah terkikik mendengar kalimat itu. "Beneran, deh. Besok nggak lagi." Nggak lagi berhenti maksudnya, lanjut gadis itu di dalam hati. "Awas aja kalau lagi!" Mata Anna memicing tajam. Tapi sama sekali tidak terlihat seram di mata Sinta. Akhirnya gadis itu mengangguk sembari mengucapkan kata janji palsu tanpa suara. "Gue laper ni, Na." Anna menghela napas sembari menyorongkan satu kotak makanan ke arah Sinta. "Rejeki anak soleha mah nggak ke mana," gumam gadis itu yang merasa beruntung karena uang yang ia pakai untuk membeli kopi terganti dengan makanan enak hari ini. Yah, untung saja Andre tidak mengirim satu kotak makanan. "Lo kasih nama waktu ngasih kopi ke Andre?" Sinta mengangguk sembari menyuapkan makanan ke mulut. "Gue titipin sama karyawan dia. Tapi tenang, gue bilangnya itu ucapan terima kasih, karena dia udah nolong lo bertubi-tubi." Mau tidak mau Anna tertawa mendengar kalimat yang Sinta ucapkan. "Lo nulis bertubi-tubi?" Angguk sinta polos, merasa tidak ada yang salah. Tawa Anna seketika pecah. Antara malu karena Sinta mengirim tulisan itu atas nama dia, dan juga lucu dengan sikap Sinta yang memang seringnya konyol. "Ada yang salah?" Anna berusaha meredam tawa. "Bahasa lo, Sin! Nggak banget tahu! Nggak bisa lebih bagus apa? Malu-maluin gue aja," gumam Anna di akhir kalimat. "Mananya yang nggak banget, si? Perasaan simple dan mudah dimengerti." Anna yang malas menjelaskan hanya menggeleng, lalu membuka kotak makanannya. Ternyata di dalam kotak tersebut ada satu lembar kertas lagi. Ini nomorku, tolong di-save dan hubungi aku balik. 0812888xxxxxx Tanpa sadar kedua bibir Anna tertarik membingkai senyuman. Lalu segera disalinnya deretan nomor itu ke dalam ponselnya. Tadinya ingin langsung menghubungi Andre tapi urung saat melihat jam istirahat sudah habis. Sementara pekerjaannya masih menumpuk dan harus segera diserahkan ke Bu Mila hari ini juga. Jadi, Anna segera melahap makanannya agar tidak lagi lembur sendirian di kantor hari ini. ----"""----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN