Happy Reading . . . "Apa?" Jafar bangkit dari kursi pijat, padahal baru beberapa menit ia merasakan titik nyamannya. "Kamu menolak lamaran Pak Kavin lagi?" Bukan hanya suara Jafar yang melengking--membuat semua mata menatap heran ke arahnya, tapi juga gestur tubuhnya yang begitu tak beraturan--melampiaskan kemarahan kalau saja ia berada di posisi Kavin. "Sebetulnya mau kamu itu apa, sih? laki-laki juga punya batas kesabaran. Bukannya jelas kalau Pak Kavin memilih kamu dibanding yang lainnya, tapi kenapa kamu malah buat Pak Kavin menyesal dengan pilihannya?" "Apa?" Sekarang giliran Nesya yang bangkit dari kursi pijatnya, "menyesal kamu bilang?" Jafar mengerjap, sepertinya ia terlalu mendalami peran. Amarahnya terlalu berlebihan, lagipula walaupun ia rasa ia akan menyesal kalau berada d

