PROLOG
Tersenyum adalah hal sederhana namun mampu membahagiakan siapapun yang melihatnya. Meski sakit, walau sedih, Nesya tidak pernah membiarkan satu hal pun merenggut senyum dari wajahnya atau ia akan benar-benar kalah dalam hidup. Nesya bisa saja tidak menang dalam segala hal, tapi dalam urusan bertahan maka ia lah juaranya.
Nesya Lituhayu, gadis yang baru saja menyelesaikan studi S1-nya di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Tidak banyak orang tahu mengetahui kehidupan pribadinya. Ibunya yang memiliki gangguan jiwa, Ayahnya yang telah hilang sejak lama, juga mengenai dirinya yang selama ini hidup dengan cara menumpang.
Meski begitu, ketidakberuntungannya sama sekali tidak menjadi halangan. Bukan karena tidak terbebani, hanya saja semua akan baik-baik saja ketika ia menjalani segalanya dengan sukacita. Maka yang terjadi adalah seperti hari ini. Nesya berhasil melampaui dirinya lagi. Ia berhasil lulus dengan hasil yang memuaskan. Meski predikat tertinggi tidak jatuh padanya, namun fotonya ikut terpampang pada layar besar yang ada di hadapan semua orang.
Sekedar informasi, gadis ini memiliki satu penyakit parah yang kesembuhannya hampir dianggap sebuah ketidakmungkinan. Ceroboh. Ya, ceroboh akut adalah penyakitnya yang sudah menjadi rahasia umum. Untung saja wajah cantiknya sedikit menolong, setidaknya tidak akan menjadi masalah bagi orang yang ingin membuat perkenalan pertama kali dengannya. Walaupun yang terjadi terakhir kali adalah ia membuat seseorang dikejar anjing peliharaannya sendiri.
“Congrat’s!” seru Dimas dengan disertai buket bunga berukuran jumbo yang diarahkan pada Nesya.
“Nesya kira Kakak nggak akan dateng,” ucap Nesya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sekuat apapun ia menahannya, tapi butiran bening pada ujung matanya terus saja mendesak meminta keluar.
“Kapan gue ingkar janji?” Ujung jari Dimas terulur, mengusap butiran air mata yang mulai menetes pada pipi Nesya. “Nggak akan pernah. Cuma gue telat dikit, sih. Sorry..”
Cup!
Sebuah kecupan singkat mendarat pada pipi Dimas, membuat perkataannya terhenti.
“Makasih!” ucap Nesya.
Dimas menggelengkan kepalanya, “nggak ada kata makasih antar saudara.”
Dimas Nuraga, berumur 5 tahun lebih tua dari Nesya. Walau tidak ada ikatan darah, namun ia amat sangat menyayangi Nesya dan sudah menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Berbanding terbalik dengan Nesya yang selama ini menginginkan hal yang lebih, gadis itu bahkan sudah seringkali mengungkapkan perasaannya sampai-sampai membuat Dimas bosan sendiri dengan tingkahnya yang dianggap tidak masuk akal. Namun meski begitu, keduanya tetap tidak terpisahkan.
“Lo nangis cuma karena liat gue dateng?”
Nesya mengukir senyum pada wajah sendunya. “Kali ini Kak Dimas salah,” memperlihatkan layar ponsel yang menampilkan laman surel miliknya. “Nesya dapet panggilan kerja!”
***
Hidup adalah kesalahan, maka jangan menambah masalah dengan hidup yang tak tentu arah. Di dunia ini tidak ada satu pun yang Kavin sukai, termasuk hidupnya sendiri. Itu adalah alasan mengapa Kavin tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun dalam hidupnya. Ia menjauhi segala macam persoalan yang tidak menguntungkan dan tidak bergaul dengan para manusia pembawa masalah. Bukan Kavin yang meminta, hanya saja mereka yang ingin mendekat selalu berkaca telebih dulu. Sudah cukup pantaskah ia menjadi rekan, teman, atau hubungan lain yang ingin mereka tawarkan. Jika tidak, maka menarik diri adalah jawabannya.
Kavin Ardana, satu-satunya penerus Ardana Group’s. Sebuah Perusahaan Real Estate yang telah memiliki banyak cabang yang tersebar luas di seluruh Asia-Tenggara. Menaungi beberapa bangunan perkantoran, hotel, apartement, perumahan elit, juga masih banyak lagi bangunan mewah lainnya.
Selama hampir 10 tahun berkecimpung langsung di dalam perusahaan, tak sekalipun Kavin membuat sesuatu yang merugikan selain hanya peningkatan pesat. Ketika terakhir kali ia belum mendapat kepercayaan untuk memegang kendali perusahaan sepenuhnya hanya karena faktor usia yang dianggap belum mumpuni, maka tidak lama lagi para pemegang saham yang beberapa tahun lalu melakukan petisi untuk menolak pengangkatannya menjadi tidak lagi bisa mengelak.
Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu ruangan Kavin.
Cklek!
Pintu ruangan Kavin terbuka.
“Kosongkan jadwal kamu pukul 10 pagi besok!”
Kavin menoleh ke arah suara, “nggak bisa! besok ada meeting.”
“Meeting mingguan internal perusahaan maksud kamu, Kav?” sahut pria paruh baya itu sembari berjalan menghampiri Kavin. “Om ke sini cuma mau ngasih tau kamu, bukan minta persetujuan.”
“Kalau ada hal yang lebih penting, mungkin bisa Kavin pertimbangkan.”
“Posisi sekertaris kamu sudah waktunya terisi, dan Om sudah..”
“Untuk masalah itu Kavin bisa handle sendiri,” sela Kavin sambil kembali membuka berkas yang sedang ia periksa.
“Dan sudah Om bilang, ini bukan permintaan tapi perintah,” ucap Abi tanpa bisa dibantah. Tak ada penekanan dalam nada bicaranya, namun jika memikirkan pada kesimpulan dari ucapannya maka yang harus lawan bicaranya lakukan adalah mengikuti arahannya tanpa ada pilihan.
Ray Abiputra, wali Kavin sepeninggalan orang tuanya. Pria ini lah yang mengurus Ardana Group’s sebelum akhirnya jatuh ke tangan Kavin, seseorang yang telah ia siapkan untuk menjadi sosok yang pantas sejak terakhir kali kakaknya menyerahkan tanggung jawab Kavin kepadanya. Tanpa seorang Ray Abiputra, Ardana Group’s tidak akan menjadi sebesar ini, namun tanpa kepercayaan pemilik sebenarnya pula ia tidak akan pernah berada pada puncak ini.
Kavin melenguh, ketika semua orang selalu mengikui perintahnya, maka satu-satunya orang yang bisa memerintahnya hanyalah pria ini. Sekalipun ia ingin membantah, tapi Abi tidak pernah mempersilakannya karena apapun yang ia lakukan adalah untuk kebaikan Kavin, karena itu pula lah Abi merasa kalau Kavin tidak perlu menolak.
Kavin Ardana, pria yang terlalu sempurna untuk Nesya hadapi.
Nesya Lituhayu, gadis yang terlalu di luar kriteria untuk Kavin temui.
Akankah pertemuan keduanya berjalan mulus? Namun, bukankah segala ketidakmungkinan akan menjadi mungkin kalau takdir menginginkan? ketika seseorang mengharapkan takdir agar bisa bersama, teruntuk yang satu ini takdir lah yang mengharapkan mereka bersama. Bukan tanpa alasan, takdir ingin sesuatu yang belum usai harus kembali diselesaikan.
~End Prologue~
Buat yg mau liat visual karakternya bisa langsung cuss ke ig @lovelyliy_ yaa ?