Happy Reading ...
“Ayo berangkat!” Nesya meraih lengan Dimas yang baru sampai di pintu kamarnya.
“Udah selesai?” tahan Dimas.
“Apanya?”
Dimas membawa kembali Nesya ke dalam kamarnya lalu membuatnya menghadap cermin. “Terlalu polos. Sisi kedewasaanya kurang menonjol. Lo bukan lagi mahasiswa.”
Tanpa berkata lagi, Dimas pun membuka sebuah kotak yang terlihat usang, kado ulang tahunnya untuk Nesya waktu pertama kali masuk ke perguruan tinggi yang sayangnya tidak pernah digunakan dengan baik.
“Gue beliin lo ini bukan buat dipajang, tapi dipakek,” ujar Dimas sambil mengoleskan lipstik berwarna merah muda pada bibir Nesya. “Penampilan itu hal pertama yang diliat sebelum kemampuan. Jadi, kalau lo bisa bagus di dua bidang itu, pasti bakal jauh lebih disukai.”
“Termasuk Kak Dimas ke aku juga?” celetuk Nesya, membuat aktifitas tangan Dimas terhenti.
“Kalo diem berarti iya,” Nesya mengambil alih benda yang masih Dimas pegang lalu mengoleskannya sendiri dengan sangat fokus.
“Udah, cukup!” Dimas meraih lengan Nesya, “penampilan nggak begitu penting.”
“Eh?!” Tubuh Nesya tertarik begitu saja tanpa bisa tertahan.
“Udah mau berangkat? Masih pagi banget, loh. Sarapan dulu.” Nela membuat Nesya terduduk di kursi untuk sarapan.
“Selama ini Nesya nggak pernah melewatkan sarapan, jadi kali ini aja Nesya absen ya? Plis kali ini aja Bun, ya? Cup!” Nesya mengecup kedua pipi Nela, “do’ain Nesya keterima kerja, ya. Dah Bunda.”
Sebanyak apapun umur Nesya bertambah, nyatanya Nesya tetaplah Nesya. Gadis yang tidak pernah dewasa bagi Dimas, tetap gadis kecilnya yang akan selalu ia lindungi sampai kapanpun.
“Dimas pamit ya, Bun.”
Nela mengangguk, “yaudah, deh, kalau gitu. Hati-hati di jalan.”
Butuh waktu 30 menit untuk Nesya bisa sampai di perusahaan tempat di mana ia akan bekerja. Ya, Nesya sudah sangat percaya diri untuk ini. Kalau sudah begini maka tak ada jalan untuk mundur, sebanyak apapun rintangannya nanti, Nesya akan mengingat saat ini, saat di mana ia merasa senang mendapat kesempatannya.
“Eh, Kak Dimas mau ke mana?” tahan Nesya.
“Nemenin lo. Ini, kan, pertama kali...”
“Big No!” sela Nesya segera mengangkat kedua jari telunjuknya, menandakan ketidaksetujuan. “Emangnya mau daftar sekolah, pakek ditemenin segala.”
“Ya nungguin di luar, sampe lo kelar.”
Nesya menggelengkan kepalanya. “Kak Dimas harus kerja, dan aku bukan anak kecil lagi,” mendorong tubuh Dimas agar kembali masuk ke dalam mobilnya.
“Tapi..”
“Nggak ada tapi-tapian!”
“Oke!” Dimas menahan pintu mobilnya yang hendak nesya tutup. “Tapi kalau ada apa-apa lo harus hubungi gue!”
Nesya mengangguk, “iya.”
“Nggak peduli apapun, harus langsung telpon!”
“Iyaaa.”
“Jangan sampe lupa.”
“Iya Dimas, iyaaaaa!” Nesya menutup pintu mobil, tak memberi kesempatan untuk Dimas kembali berbicara.
Tak kehabisan akal, Dimas pun menurunkan kaca mobilnya.
“Apa lagi?” delik Nesya yang hampir habis kesabaran.
“Semangat!” Dimas mengacak lembut rambut Nesya lalu kemudian melajukan mobilnya dan mulai menghilang dari pandangan.
“Liat aja, setelah ini dia nggak akan bisa nganggap aku anak kecil lagi sekalipun dia mau,” gumam Nesya bertekad, “gimana bisa dia nikah sama anak kecil, kan?” Nesya mengulum bibirnya menahan senyum.
Selama ini pria itu selalu menuruti keinginannya, tapi tidak dengan yang satu ini. Maka dari itu, Nesya merasa harus turun tangan untuk membuktikan kalau ia bukan lagi anak kecil yang perlu dilindungi, tapi sosok gadis yang bisa menjadi pendamping hidupnya. Ya, perlu sedikit waktu lagi untuk Nesya membuktikan kalau ia sudah cukup dewasa dan pantas menjadi seseorang yang mendapatkan cintanya.
“Ibu Nesya?” seseorang menghampiri Nesya.
Kedua alis Nesya saling bertautan, “i-ibu?” ulangnya lagi merasa aneh dalam penyebutannya.
“Iya, bu Nesya, kan?” sahut Wanita itu lagi semakin memperjelas, “mari, Bu, lewat sini. Pak Abi sudah menunggu.”
“Ah, iya.” Nesya mengikuti wanita itu.
Baiklah, sepertinya Nesya harus mulai terbiasa dengan sebutan itu. Toh, ini bukan dunia perkuliahan lagi, jadi tidak usah tersinggung karena merasa dianggap tua tapi sebuah sikap dewasa yang dianggap saling menghargai satu sama lain. Entah itu kepada yang lebih muda ataupun pada yang lebih muda, sikap yang diberikan tetap sama. Karena yang membedakan dan menjadi pemisah di sini hanya tingkatan jabatan.
“Silakan,” wanita itu membukakan pintu sebuah ruangan untuk Nesya.
Kaki Nesya sudah melewati batas pintu dan pintu pun kembali tertutup begitu pula dengan wanita yang mengantarnya tadi yang ikut menghilang. Nesya menelan salivanya berat, kini di ruangan ini hanya ia sendiri dan seseorang yang duduk di sebuah kursi dengan membelakanginya. Apa yang harus Nesya lakukan sekarang? Apakah membuat suara agar pria itu menyadari kedatangannya? Ataukah ia harus menyapa, agar kesannya sangat sopan? Atau mungkin ia harus berjalan ke arahnya sekarang juga?
“Mau sampai kapan kamu berdiri di sana?” sebuah suara menyentak keterdiaman Nesya.
Belum sempat Nesya membuat pilihan atas apa yang dipikirkannya yang begitu banyak, ia pun terpaksa memilih yang pria itu utarakan, yaitu berjalan menghampirinya. Namun tak sampai di situ, nyatanya bukan hanya Nesya yang berjalan mendekat, tapi pria itu juga berjalan menghampirinya, membuat keduanya bertemu di tengah-tengah.
“Nesya Lituhayu,” sebut pria itu, membuat pemilik nama yang sedari tadi memilih untuk menunduk, mendongakkan wajahnya. “Nama kamu?”
Nesya mengangguk pelan, entah mengapa ia merasakan sebuah suasana yang begitu dingin, bukan AC ruangan, tapi faktor lain yang tidak dapat terlihat namun dapat terasa. Tubuh Nesya dibuat bertambah tegang ketika tatapan pria yang sejak tadi mengabsennya dari ujung kaki hingga ujung kepala, kini membuat Nesya merasa seluruh tubuhnya seakan ditelanjangi saat pria itu berjalan mengitarinya secara perlahan tapi pasti.
Tangan Kavin terulur menyentuh ikat rambut Nesya lalu menariknya, membuat rambut Nesya kini terbebas. “Harus saya yang rapikan?”
Kata-kata yang pria itu ucapkan membuat keterkejutan Nesya atas apa yang didapatnya tadi segera teralihkan. Kini Nesya sibuk menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. Seakan belum cukup, fokus Nesya kembali dialihkan dan terus terjadi berulang kali.
“Terlalu bercorak, terlihat murahan!” komentarnya pada kemeja yang Nesya pakai.
“Tubuh kamu nggak akan tumbuh lagi, jadi nggak perlu lagi beli baju kebesaran biar terpakai 5 tahun ke depan. Kecuali kalau kamu gendutan, saya pikir kamu nggak berniat untuk melakukannya.”
“Tinggi 160cm, berat badan kamu saya perkirakan 52 kg? Kurangi 2kg lagi, itu baru ideal.”
“Kamu ini perempuan, bukan? Gimana bisa percaya diri dengan wajah pucat begini? Jangan seperti mayat.”
Sejak tadi Nesya berusaha menahan dirinya, tapi tetap saja hatinya bergejolak, kepalanya pun mendidih. Untung saja pria itu sudah tak kembali bersuara, kalau melakukannya sekali lagi, maka Nesya tidak berjanji untuk tidak melupakan tujuannya kemari.
Nesya kembali dibuat terhenyak, ia mundur beberapa langkah ketika pria itu merendahkan tingginya sampai lututnya pun kini telah menyentuh latai. Nesya memang marah dan merasa terhina, tapi ia sungguh tidak merasa untuk mendapat permintaan maaf yang sampai segininya. Cukup dengan mengakui kesalahannnya saja, itu sudah lebih dari cukup bagi Nesya.
“Yang kamu injak di sini bukan lagi aspal, nggak perlu lagi pakai sepatu lapangan begini!” pria itu mengetuk-ngetuk ujung telunjuknya pada sepatuyang Nesya pakai.
Nesya menutup rapat kedua matanya guna menahan amarah, tapi sepertinya tidak ada lagi yang bisa ia kendalikan. Cukup! Nesya tidak tahan lagi berada di sini. Namun saat kedua matanya terbuka, wujud mengerikan di hadapannya sudah menghilang.
Cklek!
Suara pintu ruangan yang terbuka membuat Nesya memutar tubuhnya.
“Selamat pagi, Nesya! Maaf sudah membuat kamu menunggu lama,” ujar seseorang yang baru saja masuk.
“A-anda siapa?”
“Ray Abiputra, yang mengirimi kamu e-mail.”
“Bapak serius?” kedua mata Nesya membelalak sempurna dengan menampilkan binar-binarnya yang harapan.
“Kebetulan saya tidak bisa bercanda, jadi semua yang saya katakan pasti benar.”
Entah berapa kali Nesya mengucap syukur, siapapun orang yang tadi mengomentarinya habis-habisan, setelah resmi menjadi karyawan di perusahaan ini, ia pasti akan menemukan orang itu dan membalas perlakuan isengnya.
“Jadi, kapan kamu siap mulai bekerja?”
“Sekarang juga saya siap!” jawab Nesya penuh semangat.
Abi mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyukai aura yang Nesya miliki. Penuh semangat, percaya diri, dan kelihatannya gadis ini pantang menyerah. Sangat serasi dengan sosok Kavin yang suka menjatuhkan, hanya orang yang bermental kuat yang dapat bertahan di sisi keponakannya itu.
“Kalau begitu, tanda tangani kontrak kerjanya, kamu bisa...” ucapannya terjeda saat Nesya segera menandatangani surat kontraknya tanpa mendengar penjelasannya, bahkan tanpa membaca apa yang tertera di dalam surat kontraknya sama sekali. “Seharusnya kamu baca dulu.”
“Pak Abi bilang tadi, semua yang bapak katakan itu pasti kebenaran, jadi saya percaya sepenuhnya sama Pak Abi dan nggak perlu capek-capek baca lagi.”
Mendengar ucapan polos Nesya, sontak membuat Abi tertawa, hal yang sangat jarang Abi lakukan. “Baiklah, tapi saya tidak bilang, apa yang saya lakukan pasti baik, kan?”
“Huh?”
Abi kembali tertawa karena ekspresi yang Nesya tunjukkan, “kali ini saya bercanda!” ucapnya, membuat gadis di hadapannya tak lagi menegang, “saya orang baik, kamu bisa mempercayai saya. Tapi, tidak semua orang di dunia ini baik, contohnya di kantor ini, ada banyak orang yang menghalalkan segala cara hanya demi mendapatkan tujuannya, tidak peduli bisa merugikan orang lain atau tidak. Kamu tidak bisa mempercayai sembarang orang dan melakukan apa yang kamu lakukan seperti hari ini.”
Nesya mendengarkan penuturan Abi begitu serius, ia seperti kembali berada di tengah-tengah kelas lagi. Begitu pun dengan Abi, entah mengapa ia tidak merasa berhadapan dengan orang baru yang baru saja ia terima kerja, tapi kali ini ia tidak sungkan memberikan banyak wejangan. Tentang apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan di perusahaan, mengenai kehidupan perkantoran yang akan jauh berbeda dengan dunia perkuliahan.
“Kalau ada apa-apa, kamu bisa temui saya kapan saja,” akhirnya kalimat itu pun keluar dari mulut Abi. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah Abi suguhkan pada siapapun, termasuk Kavin.
Nesya sangat berantusias, ia segera mengeluarkan ponselnya. Namun saat Abi hendak meraihnya, sosok lain sudah terlebih dulu mengambil alih ponsel Nesya.
“Pak Abi tidak usah repot-repot, saya atasannya, jadi biar Nesya hubungi saya saja,” pungkas Kavin setelah berhasil menyimpan nomornya pada kontak ponsel milik Nesya
Tbc~
Jangan lupa ...
like
comment
tap tap love ლ(ಠ_ಠლ)