2. Kecurigaan tak mendasar

1447 Kata
“Bener kata Pak Abi, ada beberapa orang licik di perusahaan ini.” Nesya bangkit dari duduknya. “Apa? licik?” Kavin mendelik ke arah suara, “maksud kamu, saya?” “Kebetulan aku nggak nyebut nama siapa pun, tapi kalau kamu merasa, berarti itu benar,” sahut Nesya, membalas tatap Kavin tak ada keraguan. “Apa buktinya?” “Sebelum Pak Abi datang, kamu sengaja pura-pura jadi Pak Abi buat ngerjain aku, kan? Saya memang baru, tapi kamu nggak punya hak untuk berkomentar apapun tentang penampilan saya, tapi..” "Apa? ngerjain kamu?" Kedua alis Kavin saling bertautan. “Kavin, sebentar,” sela Abi, “tadi kamu ke sini?” tanyanya kemudian. Kavin mengangkat bahunya, “saya cuma merasa harus mempersiapkan calon sekertaris saya sebaik mungkin,” melempar tatap ke arah Nesya, “karena saya tidak menerima kekurangan sedikit pun.” “Bagus!” Nesya semakin dibuat bingung dengan apa yang ada di hadapannya saat ini, terlebih lagi satu-satunya orang yang ia percaya di ruangan ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaksetujuan atas ucapan pria yang Nesya anggap sebagai orang yang hanya mengaku-ngaku saja. “Oh, iya. Nesya, perkenalkan, ini Kavin, calon atasan kamu.” “Apa?” kejut Nesya, “Di-dia? bukannya Pak Abi?” “Ini,” Abi menunjuk nama pemilik tanda tangan yang tertera dalam kontrak, “mulai sekarang kamu resmi menjadi sekertarisnya Kavin.” “Itu artinya..” gumam Nesya, menjatuhkan bokongnya ke atas kursi. “Kamu harus mengikuti apa yang saya minta tadi,” Kavin bersuara, menambahkan apa yang hendak Nesya ucapkan, lalu ia pun mengulurkan tangannya pada gadis yang tak telihat bersemangat setelah mengetahui kebenarannya itu. “Kavin Ardana, selamat bergabung!” Nesya menelan salivanya berat. Apakah ia bisa membatalkan kontrak yang baru saja terjalin? Nesya melempar tatapnya pada Abi, sosok yang siap membantunya dalam kesulitan, tapi mana mungkin ia akan membantunya keluar dari perusahaan ini? bahkan memulai bekerja saja belum, tapi untuk tetap di sini pun membayangkannya saja Nesya sudah tidak sanggup. “Ada apa, Nesya?” suara Abi menyadarkan lamunan Nesya. “Ah, nggak apa-apa, Pak,” kesadaran Nesya dipaksa kembali pada kenyataan untuk keharusan menerima jabatan tangan yang masih terulur padanya. Bukannya menerima uluran tangan Kavin, Nesya malah saling menautkan kedua tangannya di hadapan Kavin. Ya, ia sadar atas kata-k********r yang sudah ia lontarkan pada Kavin, tadi. Dan karena kebodohannya itu pula, kemungkinan besar masa depannya di perusahaan ini tidak akan berjalan baik. “Maaf! Saya minta maaf, saya nggak bermaksud buat..” “Mulai besok kamu bisa mulai bekerja,” Kavin menyela permintaan maaf tulus dari Nesya, “jam 7 pagi, jangan sampai telat.” “Sudah!” Abi mengintruksi Nesya agar menyudahi sikap memohonnya. “Kavin bukan orang pendendam, lagipula kamu nggak sengaja, kan?” Nesya mengangguk cepat, ia memang benar-benar tidak sengaja. Tapi, kalau saja pria itu bukan atasannya maka ia tidak akan meminta maaf seperti ini karena apa yang dilakukan Kavin memang tidak bisa Nesya terima. Berhubung takdir sedang tidak mendukungnya, maka mau tak mau Nesya harus mengikuti dan bahkan harus menuruti segala aturan yang Kavin berikan padanya secara tersirat tadi. “Bisa, saya meminta satu hal?” Abi kembali bersuara, sebagai penutup dari pertemuannya kali ini. “Bertahan lah di sisi Kavin.” “Maksud Pak Abi?” “Ehmm, maksud saya, bos kamu itu sedikit arogan, jadi kamu cuma perlu satu keahlian, bertahan, maka kamu yang menang.” Seakan termotivasi, senyum pada wajah Nesya pun mulai kembali tergambar. “Saya mungkin bisa kalah dalam segala hal, tapi untuk urusan bertahan, Nesya juaranya.” Penuturan Nesya membuat Abi kembali tersenyum. Sepertinya ia tidak salah memilih orang. Lagipula selama ini ia memang tidak pernah melakukan kesalahan dalam memberi kepercayaan pada seseorang. “Baik. Saya anggap ini janji kamu dan saya akan menagihnya nanti.” *** “Gimana wawancaranya?” tanya Dimas pada gadis yang baru saja duduk di kursi penumpang. Hening. “Nes?” Dimas menyentuh punggung gadis di sampingnya yang masih saja terdiam. "Kak Dimas harus bantu aku!" "Maksud lo?" Melihat raut wajah tak biasa milik Nesya, sontak membuat Dimas cemas. "Ada yang gangguin lo? siapa orangnya, biar gue kasih pelajaran." "Eh?!" Nesya menahan pergerakan Dimas, "bukan di sini!" Tanpa butuh banyak penjelasan, Dimas segera mengikuti apa yang Nesya arahkan. Namun, ia mulai bertanya-tanya ketika tempat yang ia datangi sekarang adalah sebuah toko yang berada di dalam sebuah Mall. "Orang yang gangguin lo, sering dateng ke sini?" Nesya menggeleng. "Yang punya toko?" Nesya kembali menggeleng. Dimas diam sejenak, "yang punya Mall?!" Bukannya menjawab, Nesya malah sibuk dengan keperluannya yang sebenarnya. Ia menelusuri satu demi satu setelan yang terpampang dari sudut satu ke sudut yang lainnya, namun apa yang ia tahu mengenai hal ini? bahkan selama ini Nesya tidak pernah memperhatikan penampilannya. Selama ia nyaman, maka ia memakainya, tidak peduli orang suka atau tidak, karena ia hidup bukan untuk membuat orang lain senang. "Lo ke sini mau nyari orang atau belanja?" "Belanja!" sahut Nesya dengan wajah yang sama sekali tak menyiratkan rasa bersalah. "Jadi, Kak Dimas harus.." "Boleh minta sesuatu?" sela Dimas. "Huh? apa?" "Jangan bikin gue khawatir." Nesya tersenyum tipis, "iya, iyaa, makanya jangan overthinking, jadi sekalian aja aku kerjain." "Jadi lo sengaja?" balas Dimas dengan nada suara yang sudah berubah datar, membuat senyum usil pada wajah Nesya memudar. "Kak Dimas marah?" Nesya menghadang tubuh Dimas yang sudah berbalik arah, " lagian aku nggak bohong, kok. Aku emang butuh bantuan Kakak, aku.." Dimas terkekeh, menyudahi suasana menegangkan yang mulai Nesya rasakan. "Bercanda!" mengacak puncak rambut Nesya, "makanya jangan overthinking." Mulut Nesya terbuka lebar, kalimat yang ia ucapkan dengan enaknya pada akhirnya kembali lagi padanya. Sedangkan Dimas yang cukup puas dengan pembalasannya, telah sibuk memilih setelan untuk Nesya, sebagaimana apa yang gadis itu tujukan pada awalnya. Bagai sudah lihai dalam hal semacam ini, Dimas sama sekali tidak kelihatan kaku. Tangannya dengan lincah mengambil satu demi satu barang yang ia anggap pantas untuk Nesya pakai, entah itu pakaian, tas, sepatu. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, tak ada satu pun yang ketinggalan. "Kak!" panggil Nesya pada Dimas yang masih asik dengan aksinya, namun pria itu tak berniat untuk menyahut, apalagi menyudahinya. "Kak Dimas!!" panggil Nesya lagi, menambah intonasi suaranya. Kali ini Dimas menoleh, tapi sebelum Nesya berhasil mengucapkan sepatah kata dari mukutnya, pria itu sudah kembali sibuk dengan urusannya yang bahkan milik Nesya sebenarnya. Bruk! Nesya menjatuhkan semua barang yang ia bawa sepanjang ruangan toko, membuat para pegawai yang ada segera memungutinya. Lagipula ia tak punya pilihan lain, tangannya sudah penuh dan tanpa peduli pria itu masih saja menambah barang bagus yang ia temukan, lagipula masalahnya adalah uangnya tidak akan cukup untuk membeli semuanya. "Aku nggak mungkin pakek semua!" pungkas Nesya. Tanpa berucap lagi, Nesya pun hanya mengambil 3 setelan, 1 tas, dan sepasang sepatu, lalu membawanya ke kasir untuk melakukan pembayaran. "Semuanya jadi..." ucapan kasir dibuat terhenti karena dibuat bingung dengan dua orang di hadapannya yang sama-sama menyerahkan kartunya. "Barang ini punya aku, jadi aku yang bayar!" delik Nesya pada Dimas. "Mba pernah liat, ada kakak yang biarin adiknya bayar barang belanjaannya sendiri?" ucap Dimas pada kasir. "Ada, kok. Kalau adiknya mau bayar sendiri, kenapa kakaknya harus tetep bayarin?" kasir mengambil kartu milik Nesya. "Ppppfft!" Nesya terkekeh, "makanya.." "Dan kalau punya uang," kasir kembali bersuara, "maaf saldo punya Mbaknya nggak cukup. Boleh saya ambil kartu Masnya?" Dimas yang sedari tadi telah menyangka dengan apa yanv akan terjadi pun segera mengangguk, "silakan!" "Kok bisa nggak cukup, sih?" protes Nesya, membuat kasir kembali menjeda aktifitasnya. "Mana saya tau, itu kan punya Mbak," "I-iya, maksudnya saldo saya masih lumayan, kok. Harusnya.." ucapan Nesya terhenti ketika ia melihat harga yang tertera pada barcode yang menggantung pada salah satu setelan yang hendak ia bayar. Untuk satu setelan saja, saldonya masih kurang banyak. Nesya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Kenapa ia tidak menyadari sejak awal kalau ia telah masuk ke toko yang tidak biasa ia datangi? Bahkan suasana dan aromanya saja sudah sangat menandakan kalau memang tidak sesuai dengan isi dompetnya. "Jadi, gimana? jadi beli nggak?" ucap kasir yang sudah mulai habis kesabaran. "Kalau nggak jadi, bisa?" ujar Nesya sambil menampilkan senyum innocent miliknya. Wanita itu menghela napasnya berat, hal-hal semacam ini memang bukan terjadi pertama kali, tapi tidak sampai membuang waktunya sebanyak ini. "Ini udah sore, kita nggak punya waktu lagi buat ke toko lain." "Kalau gitu, besok lagi aja." Namun belum sekali hembusan napas, Nesya sudah kembali mengurungkan niatnya. "Jadi, Mbak!" Nesya tidak ada pilihan lain, atau jika tidak, maka ia akan mati di hari pertamanya bekerja. "Nanti uangnya aku ganti!" ucap Nesya pada Dimas setelah sampai di dalam mobil. Belum sempat Dimas menyahut, Nesya sudah dibuat heran dengan banyak kantung belanjaan yang ada di jok belakang. "Itu punya siapa?" "Punya gue," sahut Dimas. "Buat lo!" "Eh?" Nesya tak jadi bersandar punggung, "buat aku?" Dimas mengangguk. "Sebanyak itu?" Dimas kembali mengangguk, "hadiah karena lo udah keterima kerja." "Ini, kan, baju yang tadi nggak aku ambil?!" heran Nesya setelah melihat isi salah satu pemberian Dimas. Bersambung... Jangan lupa like dan komentarnya ya❤❤ Tap love juga biar tau update bab terbarunya❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN