bc

Batas kesabaran seorang istri!

book_age16+
1.1K
IKUTI
7.5K
BACA
revenge
inspirational
drama
bxg
city
office/work place
wife
like
intro-logo
Uraian

Zalia putri–wanita cantik dari keluarga yang cukup berada. Menikah dengan seorang lelaki yang begitu ia cintai. Demi cinta yang dia miliki, Zalia rela menentang kedua orang tuanya untuk tetap dapat menikah dengan sang pujaan hati. Namun cinta tulus yang Zalia miliki dimanfaat oleh suami hingga ia menjadi sapi perah suami, mertua serta ipar-iparnya.

Saat seorang suami tidak pernah sadar akan tanggung jawabnya. Akankah Zalia bisa terus bersabar menjalani takdirnya, dari tulang rusuk berubah fungsi menjadi tulang punggung untuk mereka selama bertahun-tahun?

Belum lagi sikap kasar serta bentakan yang diberikan suaminya. Membuat batin dan raga Zalia lelah. Sesabar-sabarnya seorang istri, bukanlah ia tetaplah seorang manusia?

Apa yang akan dilakukan Zalia saat sabar yang dia miliki sudah berada di titik akhir?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Jatah belanja
"Yur ... sayur! Sayuuuuurrr ...!" teriak Mamang sayur bertubuh gempal dengan lantang. Mang Malik Abdullah namanya, tapi ia meminta kami memanggilnya dengan sebutan Mang Charlie. Katanya biar berasa seperti penyanyi kegemarannya itu. Ahayyy ... Walau dari segi wajah tidak memadai dan jauh dari kata mirip. Namun, potongan rambut dan gaya, ok, lah. Sudah cukup menyerupai. Karena sering keseleo lidah menyebutnya. Akhirnya aku hanya memanggilnya dengan sebutan Mang Ari saja. Mang Ari berdiri di samping motornya, memencet terompet berulang kali. Ia berdiri di pinggir jalan, depan rumah tetangga di sebelah rumahku. Mendengar trompet tuet-tuet milik Mang Ari, membuat ibu-ibu komplek ini berhamburan mengerumuni Mang Ari. Pria itu berasa seperti seorang artis yang lagi dikerumuni penggemar. Membuat siapapun yang melihat tingkah alay Mang Ari menjadi terkekeh geli. "Ehh ... Neng Zalia, mau belanja apa Neng?" sapa Mang Ari saat aku menghampiri. Banyak ibu-ibu yang belanja sayur juga menyapa padaku, walau hanya sebatas senyuman atau anggukan kepala. "Ini Mang, saya minta tempe dua papan sama kangkung se-ikat, Mang!" pintaku pelan dengan menekan sedikit rasa maluku. Bagaimana tidak malu, hampir setiap pagi aku hanya berbelanja seadanya, hanya sebagai lauk pendamping agar perut jangan lapar. Terkadang aku merasa iri melihat nasib ibu-ibu yang ada di komplekku. Mereka bisa berbelanja aneka menu lengkap untuk makan siang mereka sekeluarga. Andai suamiku, yaitu Mas Yudha juga serajin suami ibu-ibu yang lain. Sebenarnya Mas Yudha bukan tak ada kepandaian, dulu ia bekerja di sebuah pabrik sepatu. Tapi karena sifatnya yang pemalas dan sering bolos kerja. Akhirnya ia di pecat. Sekarang, setiap ada tawaran pekerjaan ia selalu milih-milih dengan berbagai alasan. Yang gajinya kecil lah, kerjaannya tak sesuai, lah. Bahkan ia begitu gengsi untuk bekerja kerjaan yang asal, istilahnya pekerjaan yang tanpa seragam. Membuat aku sering-sering mengelus d**a melihat tingkah laku suamiku itu. Padahal selagi uang yang dihasilkan halal, apa salahnya? Entahlah, aku dan Mas Yudha sekarang sudah tidak sepemikiran lagi. "Itu aja, Neng?" tanya Mang Ari. Dengan wajah lesu aku mengangguk. Sebenarnya aku kepingin membeli sekantong ayam serta kentang untuk dibuat pergedel, tapi karena uang yang ada di tangan tidak seberapa, jadi kuurungkan saja niat ini. Mang Ari menyerahkan plastik belanjaanku. Aku menerimanya, sambil menyodorkan uang empat ribu rupiah. Nominal yang sangat kecil, bahkan jajan anak sekolah dasar saja lebih banyak dari pada ini. Bisik-bisik para Ibu-ibu komplek mulai terdengar di telingaku. Namun kucoba untuk tak menghiraukan dan berlalu pulang ke rumah. Walau terkadang hati ini sering tercubit nyeri mendengarnya. Aku yakin, mereka pasti sedang membicarakan aku yang hampir setiap hari yang mampu hanya belanja dengan nominal tidak lebih dari lima ribu rupiah. Untung saja ada tanah sepetak tak lebih dari satu meter setengah kali dua meter. Lebar sedikit dari liang lahat, yang terletak di sudut kamar mandi, yang bisa ditanami; cabe, tomat, dan daun bawang. juga beberapa batang singkong yang dapat kuambil pucuknya sebagai sayur. Sebenarnya semua itu tak cukup, tapi harus dicukup-cukupi untuk mengganjal perut kami yang lapar. Upahku sebagai buruh cuci dan gosok tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluargaku. Walau aku sudah berusaha dengan giat. Apa boleh buat! Aku tak ada pilihan lain. Punya suami pemalas begitu menyiksa lahir dan batinku. Saat suami orang lain pagi-pagi buta sudah berangkat kerja menyongsong rezeki. Suamiku justru masih bergelung dalam selimut hingga matahari meninggi. "Bunda mamam," pinta Alia. Putri kecilku yang baru berumur 3 tahun seraya mengusap perutnya yang datar. Hatiku terenyuh, kugendong tubuh kecil yang menghampiriku ini, lalu aku ajak putriku pergi ke dapur. Ada dua butir telur ayam kampung yang baru saja bertelur beberapa hari yang lalu. Masih sangat bagus yang aku ambil dari kandang kemaren. Aku sengaja menyembunyikan di dalam rak bertutupkan baskom agar tidak diambil suamiku, Mas Yudha. Aku merasa kasihan dengan putriku, sudah tak mendapatkan asupan gizi lengkap dari s**u, makanan yang dimakan pun gizinya juga sangat kurang. Aku goreng seadanya telur itu, lalu kusiapkan pada piring yang berisi nasi dingin dan kusajikan untuk Alia. Putriku ini makan dengan lahap sekali. Sedangkan sayur kangkung seikat ditumis dengan bawang seadanya dan tempe, aku oseng-oseng kering. Jadilah untuk teman pelengkap nasi kami. Aku memulai ritual makan pagiku dengan lahap lauk yang kubuat seadanya tadi. Tak kuhiraukan rasanya yang kurang pas karena bumbu yang tak lengkap. yang terpenting saat ini perutku terisi penuh pagi ini. Biar tubuhku bertenaga untuk menyambut pekerjaan yang telah menumpuk minta untuk dikerjakan. Sedangkan suamiku, Mas Yudha? Ah ... entahlah, dibagunin juga percuma yang ada bikin sakit kepalaku mendengar omelan dan caciannya. Jika sebagian wanita berjibaku di dapur dengan aneka bahan makanan yang dimasak, agar berubah menjadi menu istimewa di atas meja atau sebagian lagi ada yang sedang santai sambil berselancar di sosial media. Maka hal itu tidak berlaku untukku. Pagi-pagi sekali hingga siang menjelang, aku justru masih berjibaku dengan setumpuk tinggi tegak cucian kotor di kamar mandi. Kulit jemariku sudah tampak putih mengeriput karena kelamaan berendam di air. Tubuhku juga sudah merasa dingin berkutat dengan air yang membuat bajuku ikut basah. Tak jarang aku masuk angin. Namun apa boleh buat, aku tak mampu mengeluh karena itu semua harus aku lakukan agar lambung kami bisa terisi. Jika mengingat kedua orang tuaku dulu memperlakukanku saat aku masih bersama mereka. Kembali air mata ini menetes merasakan sakit di hati yang tak berperih. Belasan tahun dibesarkan oleh mereka dengan penuh kasih sayang. Aku tak pernah mengenal kata lapar dan susah. Namun saat menikah, dua kata itu menjadi sahabat teman setia untukku mengawali hari. Mau menyesal tak ada guna, mau mengeluh pun. Entah pada siapa? Berharap menjadi diratukan dalam pernikahan. Namun nyatanya bukan raja yang aku dapat melainkan keledai yang menggantungkan hidupnya di kandang. Bahkan keledai pun masih berguna untuk tuannya. Sedangkan suamiku? Ya Tuhan ... jodoh apa yang Engkau kirimkan untuk pendamping hidup hambamu ini. Ingin rasanya hati ini menjerit sekuat tenaga. Andai waktu dapat diputar kembali, aku tak akan pernah jatuh hati dan memilih Mas Yudha sebagai pendamping hidupku. Janji yang ia berikan padaku hanyalah manis tebu yang sesaat. Sisanya hanya ampas yang tak berguna. Terkadang aku bingung, takdirkah yang salah atau memang aku yang terlalu bodoh sebagai seorang wanita. Brak! Prang! Suara piring dan sendok yang jatuh mengagetkanku. Ya Tuhan, Firaun itu telah bangun.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook