Bambang dan Fani duduk di meja makan minimalis itu. Tampak Bambang hanya mengaduk-ngaduk teh yang dibuatkan oleh Fani. "Hhmmm..jadi..apa yang akan kamu lakukan Bang?" tanya Fani dengan suara sangat pelan. "Tak ada, aku akan tetap membuat design undangan untuk Mbak Risti, anggap saja ini kado untuk mereka, apapun yang aku lakukan takkan mampu menghapus kesalahanku di masa lalu, dan aku tak ingin membuat Mba Risti terluka lagi. Mungkin dia bisa bahagia bersama Munos," ucap Bambang datar tanpa ekspresi, matanya masih merah dan hidungnya sedikit berair. Seketika mata Bambang menatap wajah Fani yang pucat ada rasa kasihan tersirat di hatinya. "Apakah kau yakin takkan minta pertanggung jawaban Munos?" Fani menggeleng dengan keras. "Aku dan bayiku bisa mati, Bang. Tidak, aku tak mau tahu la

