"Aku tidak suka kebohongan, kamu tahu' kan?" Risti menatap serius wajah calon suaminya yang mendadak pucat. "Siapa yang berbohong, Sayang. Itu maksudnya adalah milik keponakan mamah, sepupuku Nabila, tadi pagi aku mengantarkannya ke dokter kandungan." Munos beralasan tanpa berani menatap Risti. Risti menatap Munos dengan perasaan ragu lebih dominan daripada rasa percaya. "Oke ... kita telpon Nabila sekarang ya." Munos memencet no ponsel Nabila sepupunya, sebuah kebetulan Nabila memang sedang hamil. "Tidak perluu, aku percaya," sahut Risti akhirnya menyerah. Munos menghela napas lega. Hampir saja Risti mengetahui kebohongannya. Mata Risti tak dapat terpejam, pikirannya melayang jauh, tak lama lagi ia akan melepas status jandanya namun masih ada yang mengganjal dengan perangai Munos ha

