9. Menikah

1425 Kata
"Assalamualaikum ayah." Risti mengucapkan salam sambil mencari keberadaan ayahnya. Bambang berjalan lemas mengekorinya di belakang dengan wajah kaku ditekuk. Ia tidak punya pilihan lain. "Wa'alaykumussalam calon pengantin ayah." Lelaki paruh baya itu memeluk Risti dengan hangat dan memperhatikan Bambang yang terpaku di belakang Risti. Sadar diperhatikan Bambang lalu dengan cepat mengajak calon mertuanya itu bersalaman sambil tersenyum. "Ayo duduk," ajaknya mempersilakan. "Bik, buatkan minum untuk anak dan calon menantu saya," seru Pak Hermawan kepada pembantu rumah tangganya. Lagi-lagi Bambang mengusap peluh yang bercucuran. "Bagaimana kabarnya Nak Bambang?" "Ehh ... iya Om, alhamdulillah sehat," jawabnya kikuk sambil menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Om bagaimana kabarnya?" Bambang berbasa basi. "Wah saya sehat sekali, apalagi dengar kabar kalian sudah menentukan tanggal," jawab Pak Hermawan sumringah. "Ayo diminum, Nak" "Terimakasih, Om" "Ehh ... jangan panggil om, panggil saya ayah sebentar lagi kan kamu jadi anak saya juga," ujar lelaki itu lagi dengan senyum merekah. "Ih Ayah, dari tadi yang diajak bicara masa Bambang terus, " Risti memberengut kesal. "Ha ha ha ... kamu lihat Bambang, umurnya saja sudah tua, tapi tabiatnya masih seperti bocah SMA, kadang alay kadang gemesin," ujar ayah Risti sambil tergelak. Bambang ikut tersenyum sambil sesekali memperhatikan Risti. "Ish, Ayah apaan, sih? belum tua Yah, tapi mendekati." Risti pun terkekeh. "Makanya Risti mau secepatnya Yah, boleh kan?" "Ohh tentu boleh banget," jawab ayah antusias. "Jadi rencananya tanggal berapa nih?" tanya pria paruh baya itu serius. "Mmmm ... tanggal 5 April,Om," jawab Bambang pelan. Entahlah, ia pun merasa ragu dengan ucapannya sendiri. "Wah, dua minggu lagi dong. Oke-oke, Ayah setuju, " pria itu mengangguk setuju. Mereka melanjutkan obrolan sambil makan malam. Risti memperhatikan Bambang yang makan tak berselera sambil melamun. Pikiran Bambang melayang teringat perkataan Risti tadi siang di rumahnya. "Sekarang terserah kamu Bang, mau ikut aku ke rumah ayahku malam ini, atau ikut aku sekarang ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu." "Apa?" "Hhhhhiufft...Baiklah kita akan menikah." Risti tersenyum puas. "Bambang, Nak Bambang," panggil Pak Hermawan menyadarkan Bambang dari lamunannya. "Masakannya apa tidak enak? Kok dari tadi nasinya cuma diaduk-aduk saja" "Mmmhh ... maaf Om. Eh Yah, bukan tidak enak, hanya saya sedikit tidak enak badan," ucap Bambang mengelak. "Kamu sakit, Yang?" tanya Risti tulus, berpura-pura romantis. "Sedikit pusing mungkin masuk angin," jawab Bambang asal. "Ya sudah selesai makan kalian langsung pulang saja, calon pengantin harus jaga kesehatan." "Baik yah," jawab Risti dan Bambang serempak. Sepanjang perjalanan Bambang masih membisu, pikirannya melayang entah kemana, dia merasa takut, kesal dan kebingungan sendiri, duit dari mana mau menikah, sedangkan untuk makan saja ia dan adiknya pas-pasan. Dan yang paling penting ia tak memiliki perasaan apapun terhadap Risti, bagaimana nanti menjalankan pernikahan. "Hhhuuffftt ...." Bambang mengusap kasar wajahnya. Risti memperhatikan Bambang dan menebak apa yang dikhawatirkan Bambang. "Udah, kamu gak usah khawatir soal persiapan pernikahan, biar semua urusan aku, kamu cukup duduk manis mengucap ijab qabul nanti," ucap Risti jelas. Bambang menatap Risti dengan wajah sendu, ia merasa sangat menyesal telah datang ke apartemen Risti waktu itu seandainya dia tak kesana tentulah hal ini tidak terjadi. **** Pagi 5 April 2019 Harusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi Bambang, namun yang terjadi sepanjang malam tadi, dia tak dapat memejamkan mata. Di rumahnya Bude Yati merasa sangat senang bersama beberapa tetangga, sudah bersiap mengecek semua seserahan yang akan dibawa, tak kalah semangat pak RT menyewa 5 angkot untuk mengangkut pengantin dan para tetangga. Lala dan Lulu tak kalah bahagia, mas kesayangannya akan segera menikah dengan wanita yang sangat cantik. Semua tampak bahagia kecuali Bambang. Dia mematut diri di depan cermin melihat tampilannya mengenakan kemeja putih dan setelan jas keren yang telah disiapkan Risti. Risti sudah bersiap di rumahnya ditemani para om dan tante serta para sepupunya, ada beberapa orang tetangga juga yang hadir disana. Ia memandang dirinya di depan cermin. "Perfect,"gumamnya memuji kecantikannya. "Karin, akhirnya kejombloan gue lulus juga," kekeh Risti sambil tersenyum bahagia menggoda Karin yang saat itu menemaninya dalam kamar pengantin. "Iya sih meskipun gue masih bingung si Bambang kesambet apaan sampe mau nikah sama lu Ris." Karin memutar bola matanya sambil merapikan kebaya pengantin berwarna putih milik Risti. "Udah jangan pake bingung, yang penting sekarang urusan beres," ucap Risti sembari memegang pundak sahabatnya. Semua tampak bahagia, kecuali Bambang dan seorang wanita muda disana yang bernama Fani. Fani teman kantor Bambang yang sama menaruh hati pada Bambang, tak bisa menyembunyikan luka hatinya, bagaimana bisa Bambang yang saat itu menolak dirinya dengan alasan Bambang tak ingin berkomitmen dan mengecewakan Fani, dengan keadaan ekonominya yang morat marit. Tapi yang ada saat ini lelaki yang dia cintai akan menikah. Lututnya lemas tak sanggup berdiri bagaimana dia bisa pergi mengantar lelaki yang ia cintai untuk menikah. Karena rombongan teman kantor Bambang akan pergi mengantar Bambang mengucap ijab qabul di rumah pengantin wanita. Dia mengambil HP lalu mengetik kontak. Bambang "Aku mencintaimu Bang, kamu tahu itu, tapi sekarang aku harus kuat berdiri di kakiku untuk mengantar kamu menikah dengan wanita lain." Bambang melihat sekilas HP-nya yang dari tadi berbunyi pesan WA. Ada banyak pesan masuk terutama dari teman-temannya dan om tantenya yang berada di kalimantan. Fani. Bambang tertunduk lemas membaca pesan Wa dari Fani, air bening itu menetes tanpa bisa ditahan. "Aku juga mencintaimu. Maaf Fani, maafkan aku," ucapnya pilu dalam hati Bambang terisak pelan di dalam kamarnya. "Saya terima nikahnya, Kamelia Risti Susatyo binti Hermawan Susatyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 20gram dibayar tunai. "Bagaimana saksi sah?" tanya penghulu "Sah," jawab ayah Risti dan beberapa orang disana secara bersamaan. Risti tersenyum bahagia dibalik selendangnya tidak dengan Bambang yang wajahnya masih terpaku saat berhadapan dengan Risti "Wah, pengantin lelaki tampaknya sangat terpesona nih dengan sang istri sampe bengong gitu," celetuk MC pernikahan yaitu Karin. "Ha ha ha ...." tawa para tamu menggema di dalam rumah besar Risti. "Ayo cium tangan suamimu, Nak," ucap ayah kepada Risti. Risti menarik tangan Bambang lalu mencium punggung tangannya. Sedangkan Bambang masih berdiri tanpa ekspresi. Lalu bergantian Bambang dan Risti yang sungkem kepada ayah Risti dan mereka menyalami semua tamu dan saudara yang hadir. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, para tamu satu persatu sudah pulang, hanya beberapa orang saudara Lala Lulu dan Bude Yati yang masih berada disana. "Bang, ayo istirahat, nanti malam akan ada resepsi untuk temen kantor ayah dan kolega bisnis aku,"ucap Risti yang memperhatikan Bambang banyak diam. Risti masuk duluan ke dalam kamar pengantin yang sangat cantik, ada taburan mawar di atasnya dan sepasang handuk yang berbentuk angsa di atas bantal love bewarna merah. Bambang masih di ruang tamu ngobrol dengan ayah juga beberapa sepupu Risti. "Bang, sudah istirahat dulu sana!" titah Pak Hermawan pada menantunya. Bambang mengangguk dan berjalan dengan malas memasuki kamar pengantin yang sudah disiapkan. Cklek! pelan dibukanya pintu kamar. Ada Risti yang tampak natural, karena sudah mandi dan berganti baju dengan dress selutut berbahan katun duduk di depan cermin sambil mencoba melepaskan anting. Wajahnya kelihatan semakin cantik dan fresh tanpa riasan. Risti menoleh ke arah pintu, Bambang masih ragu untuk masuk. "Ayo Bang, masuk." Risti melambaikan tangan, meminta Bambang untuk masuk ke dalam kamar. "Ganti baju lalu istirahat, itu bajunya ada di atas kasur," ucap Risti sambil melanjutkan aktifitasnya. Bambang masuk lalu mengambil pakaian di atas kasur dan menuju kamar mandi masih tanpa bersuara. Risti kesal dengan sikap Bambang yang tak bicara apapun seolah-seolah menganggapnya tak ada di dalam ruangan yang sama. Bambang keluar dengan wajah fresh setelah mandi dia lalu duduk di atas kasur cantik dengan pelan takut merusak hiasan bunga mawar yang bertebaran disana. Risti mencuri pandang ke arah Bambang duduk. "Mmmh ... ternyata dia tampan juga," gumam Risti tersenyum merona. "Kalau kau ingin tidur, tidur aja ga papa, gak perlu takut bunga- bunga itu rusak." ucap Risti "Aahh ... iya saya sedikit mengantuk," jawab Bambang lalu merebahkan dirinya di kasur king super empuuuk itu. Risti berjalan ke arah kasur, Bambang yang melihat kedatangan Risti langsung membalikkan badan dan mencoba memejamkan mata. "Ish, suamiku ini istrinya menghampiri bukannya disambut malah balik badan," umpat Risti kesal. "Apakah aku terlihat seperti kuman?" tanya Risti lagi sambil menarik kaos Bambang agar melihat kearahnya. "M ... anu, Mbak ... saya sedikit kaget saja," jawabnya terbata. "Mbak lagi? panggil aku dengan sebutan 'Yang' atau sayang atau baby atau apalah terserah kamu yang penting jangan panggil Mbak!" "Baik," jawabnya singkat lalu memejamkan mata kembali. "Meskipun kamu tidak suka denganku dan pernikahan ini, tapi kamu sudah resmi jadi suami aku, jadi bersikaplah sedikit manis dan tak mengacuhkanku." "Inget ya Bang, kalau semua ini terjadi juga karena perbuatanmu" umpat Risti kesal sambil turun dari kasur dengan wajah merah menahan marah. "Memangnya dia siapa berani mengacuhkanku. Awas kau Bambang!" gerutu Risti dalam hati ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN