WASIAT YANG MEMPERTEMUKAN
Hujan hari ini begitu deras, perempuan berumur tujuh belas tahun itu begitu riang bermain hujan disore hari. Bukannya langsung pulang kerumah perempuan itu malah bermain hujan-hujanan. Perempuan memiliki proporsi tubuh yang tidak pendek namun tidak juga begitu tinggi, tidak gendut dan tidak juga kurus. Pada intinya menarik untuk dilihat. Bulu matanya juga lentik, rambutnya panjang bermodel segi layer. Perempuan itu juga memliki senyum yang begitu manis.
Perempuan ini adalah anak dari seorang supir disalah satu keluarga old money yang terkenal di Jakarta. Namanya adalah Shenna. Shenna tumbuh kembang tanpa adanya seorang ibu, semua itu akibat ibunya yang meninggal kala melahirkan dirinya. Sedari kecil Shenna sangat dimanja oleh Satrio, yaitu ayahnya Shenna. Satrio begitu sayang dan memanjakan Shenna karena Wajah Shenna mengingatkan ia pada mendiang istrinya. Akan tetapi bukan berarti Shenna tak memiliki ibu ia tak pernah merasakan peran seorang ibu, itu semua salah. Karena Shenna juga memiliki ibu susuan, yaitu Aning yang merupakan sahabat dari mendiang ibunya Shenna.
Pekerjaan Satrio yang menjadi seorang supir dari keluarga old money yang tentunya memiliki banyak aktifitas membuat Satrio harus beberapa kali menitipkan anaknya pada Aning, Satrio tak ingin menitipkan Shenna dipanti Asuhan, Aning yang juga begitu penyanyang dan tulus tentunya menjadi orang terpercaya yang Satrio jadikan untuk menitip anaknya.
"Assalamualaikum ayah." Ucap salam dari seorang perempuan yang sudah basah kuyup seragamnya. Satria hanya dapat menggeleng tak percaya kala melihat tingkah laku putrinya itu.
"Heheh, maaf ayah. Habisnya hujannya bagus banget buat dimainin." Ucapnya dengan cengengesan, ia tahu ayahnya itu tidak berani memarahinya. Karena sedari dulu Satrio selalu berlaku lembut pada Shenna.
"Sudahlah kalau begitu kamu cepat beres-beres sana, sedikit lagi ayah mau ajak kamu keluar."
"Oh yah? Mau kemana ayah?."
"Kita diundang sama majikan ayah untuk menghadiri acara penyambutan anaknya yang baru saja menyelesaikan S2nya diluar negeri."
"Wah hebat banget kuliah diluar negeri. Orang kaya emang beda yah ayah, kuliah aja harus diluar negeri."
"Kenapa? Kamu mau juga?."
"Ndak lah, Shenna kan setianya sama ayah. Ayah disini maka Shenna kuliahnya disini juga dong, tapi Shenna maunya kuliah sambil kerja, biar nggak nyusahin ayah terus."
"Nggak boleh ngomong gitu, ayah nggak suka kamu mengangapi dirimu beban ataupun sesuatu yang terlihat jelek. Kamu itu berharga, sangat berharga buat ayah."
"Ayahh." Rengeknya seperti anak kecil sambil memeluk ayahnya.
"Aduh, ini kok ayah dipeluk. Jadi ikutan basahkan ayahnya."
"Eh iya, maaf ayah."
"Yasudah sana beres-beres."
"Baiklah, siap komandan."
Tak lama membersihkan dirinya Shenna keluar kamar mandi. Dilihatnya sang ayah juga sudah nampak siap dengan setelan kamejanya dan duduk di sofa. Satu hal yang membuat Shenna terdiam, ayahnya itu tertidur. Bagi Shenna sangat tidak biasa melihat ayahnya tertidur disofa apalagi dalam keadaan duduk, mungkinkah secapek itu ayahnya sampai-sampai bisa tertidur disofa.
Selesai berdandan dengan mengenakan dress yang terlihat simpel namun tetap terkesan cantik, Shenna keluar. Lagi-lagi ternyata ayahnya masih tertidur, padahal shenna juga sering bolak balik keluar, dan ternyata tidak dapat membuat tidur ayahnya terbangun. Melihat ayahnya tertidur seperti ini, membuat Shenna tak yakin untuk membangunkan sang ayah untuk pergi acara tersebut. Daripada ia harus membangunkan sang ayah ia memilih duduk saja disamping ayahnya.
Saat duduk disamping sang ayah, Shenna sedikit mengeluarkan air bening dari matanya, untung saja eyeliner yang ia kenakan berbahan waterproof. Shenna memandangi wajahnya yang dulu kokoh sudah begitu keriput, tangannya yang dulu sering mengajak Shenna liburan, juga sudah keriput.
Disela-sela tatapan sendu nya Shenna merasa ada yang janggal, ia melihat perut ayahnya seperti tidak ada pompaan, ia pun memastikan yang ia lihat benar. Tak ingin berpikir yang aneh-aneh Shenna mencoba mendekatkan tanganya di hidung ayahnya. Shenna menarik tangannya itu dengan gemetar, menatap tak percaya apa yang ia rasa.
"Ayah, bangun yuk katanya mau ke acaranya keluarga Aditama? Kok tidur sih?." Panggil Shenna mencoba membangunkan ayahnya.
"Ayah, ayah, ayah." Ucap Shenna mencoba menepuk nepuk pipi Satrio, sungguh Shenna tidak mau jika ini terjadi. Baginya ini terlalu cepat jika ayahnya harus meninggalkannya sekarang ini.
"Ayah, jangan buat shenna kayak gini dong." Ucap Shenna frustasi hingga bahkan menggoyangkan tubuh ayahnya itu.
"Ayahhhhh." Teriak Shenna kala ia merebahkan kepalanya di d**a Satrio, denyut jantung ayahnya itu sudah tidak terdengar lagi. Tetangga yang mendengar teriakan Shenna segera berkumpul. Semuanya ikut memeluk Shenna ketika melihat Shenna memeluk Satrio dengan menangis tersedu-sedu.
Tujuh hari setelah kematian Satrio, Shenna masih tetap mengurung diri. Ia juga belum bisa masuk sekolah, rasanya sangat berat untuk menjalani kehidupan ketika seorang yang kita cintai atau mencintai kita pergi. Perempuan yang dulu ceria, yang dulunya sering tertawa, sering sekali bernyanyi, kini terlihat seperti perempuan yang hilang arah dan sangat rapuh. Lingkaran matanya begitu hitam menandakan tidak ada lagi tidur yang nyenyak, rambut berantakan menandakan tidak ada lagi semngat untuk memulai hari, matanya juga yang begitu sembab menandakan masih ada tangis disiang dan malam hari yang sering ia lakukan.
Toktoktok
Ketika pintu itu berhasil memecah lamunan Shenna akan dirinya yang dulu bersama sang ayah. Dengan langkah gontai itu membuka pintu, walaupun kini penampilannya sangat berantakan, ia sudah tidak peduli lagi. Kesedihan sudah benar-benar membuat seorang Shenna zahralia terlarut begitu dalam.
"Maaf cari siapa?." Tanya Shenna pada seorang lelaki yang tingginya mencapai seratus tujuh puluh tujuh Senti meter, gaya rambut undercut, memakai setelan serba hitam, tak lupa dengan kaca mata hitamnya yang Shenna lihat jelas bahwa yang ia kenakan barang branded semua. Walaupun dalam keadaan sedih bukan berarti Shenna buta.
"Apakah ini rumahnya pak Satrio?."
"Iya benar, akan tetapi ayah saya sudah meninggal. Ada apa yah?."
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya beliau, kami juga sudah mengetahuinya. Hanya saja saya kemari ingin bertemu dengan anda."
"Untuk?."
"Bolehkah saya masuk dulu? Tolong disini begitu panas."
"Astaga, mohon maaf sebelumnya silahkan masuk." Ucap Shenna yang baru sadar ia telah memperlakukan tamu dengan tidak baik.
>>>>>>>>>>>>>>>
Setelah Shenna membuatkan minum, lelaki itu mengeluarkan amplop coklat, dan menaruhnya diatas meja. Mata Shenna memicing, lalu kembali menatap lelaki tersebut. Meminta penjelasan apa maksud dari amplop coklat itu.
"Silahkan dibaca, isinya tentang wasiat ayah kamu." Jelas lelaki tersebut. Mendengar tentang ayahnya membuat Shenna segera membuka amplop coklat itu.
Lelaki yang duduk memerhatikan Shenna membacakan isi surat wasiat merasa curiga, curiganya karena melihat mata Shenna yang sudah mulai berair. Shenna yang membaca itu sampai habis tidak dapat membendung tangisnya lagi, alhasil lelaki tersebut mengeluarkan sapu tangannya yang ia beri pada Shenna untuk menghapus air matanya.
"Saya sudah membacanya dengan jelas. Akan tetapi saya tidak..." ucapan Shenna terhenti.
"Stop." Potong lelaki tersebut yang paham arah maksud dari ucapan Shenna.
"Tolong, untuk kali ini kamu ikutlah dengan saya. Perkara kamu menerima atau tidak dari isi wasiat itu kamu bisa bicarakan dengan papa saya." Ungkapnya.
Shenna langsung tak enak hati kala pria itu menyebutkan bahwa semua dibicarakan melalui papanya, yang artinya lelaki dihadapannya ini adalah anak dari majikan ayahnya.
Ya dia adalah anak dari majikannya Satrio ayah Shenna. Dia adalah Renal Prayaksa Aditama, Anak bungsu dari Ronny Aditama yang baru saja menyelesaikan S2nya di Australia. Sudah sering mendengar cerita ayahnya yang mana anak majikannya ini sangat cerdas dan memiliki segudang prestasi.
Dapat Shenna lihat lelaki yang dihadapannya saat ini sangat tampan, namun dari cara ia berlagak dapat Shenna baca dia adalah orang yang terlihat angkuh dan sedikit datar. Cara bicaranya pun terdengar seperti sombong. Entahlah mungkin semua orang kayak memiliki sifat seperti itu, yang jelas bukan urusan Shenna. Urusannya saat ini tentang isi wasiat ayahnya.
Shenna tidak habis pikir kalau ayahnya mempersiapkan kematiannya begitu cepat, selama ini ayahnya ternyata memiliki penyakit kronis dan itu ia sembunyikan dari Shenna. Yang lebih parahnya ayahnya malah mempercayakan dan menitipkan Shenna pada orang yang sama sekali Shenna tidak kenal, mungkin kenal secara nama dan cerita dari ayahnya hanya saja Shenna tidak begitu dekat dengan mereka, terlebih lagi mereka adalah majikan ayahnya. Apa mungkin ia yang hanya anak seorang supir bisa tinggal bersama mereka? Dari kasta saja sudah sangat berbeda.
"Ehem." Deheman Renal memecah lamunan Shenna.
"Maaf."
"Saya tidak butuh kata-kata itu. Yang saya butuhkan kita segera pergi, saya tidak punya banyak waktu. Untuk lebih jelasnya biar kamu diskusikan dengan papa saya." Ucap Renal, Shenna pun mengerti posisi Renal sekarang. Mau tak mau ia tetap harus ikut bersama Renal datang ke kediaman Aditama untuk menjelaskan semuanya.
>>>>>>>>>>>>>>
Sampai dikediaman Aditama Shenna menatap dengan kagum mulai dari memasuki gerbang utama, rumah itu bak istana dimata Shenna. Rumah nuansa putih yang terdapat air mancur di halamannya membuat Shenna merasa nyata novel-novel yang ia baca.
Pada saat menginjakan kakinya dirumah itu ia masih tidak percaya, dari halama depan sampai didepan pintu terlihat banyak sekali penjaga. Beginilah rumah orang kaya yang sering Shenna baca di novel-novel dan ternyata memang ada. Pada saat dibukakan pintu pun yang menyambut mereka para pelayan yang mengenakan seragam hitam putih, seperti difilm-film yang sering ia tonton.
"Selamat datang Shenna." Sapa pak Ronny dari atas sana. Shenna dapat melihat senyum hangat dan ramah dari pria paruh baya itu, tidak heran mengapa ayahnya betah bekerja dengan mereka puluhan tahun, itu semua karena majikan ayahnya memiliki sifat yang dermawan, serta hangat dengan semua orang.
"Saya Ronny Aditama, dan ini istri saya Renata. Ayo silahkan duduk." Ucap Pak Ronny memperkenalkan dirinya dan istrinya pada Shenna serta mempersilahkan Shenna untuk duduk.
"Shenna." Ucap Shenna memperkenal dirinya pada mama Renata.
"Panggil mama saja yah sayang." Ucap mama Renata yang menyarankan shenna memanggilnya dengan sebutan mama. Shenna pun duduk, Renal juga ikut duduk, namun ia sibuk dengan benda pipih ditangannya. anak muda memang seperti itu, sulit terlepas dari smartphone walaupun sedang dengan siapa.
"Langsung saja yah Shenna, bagaimana setelah kamu membaca isi wasiat yang ayah kamu tinggalkan?."
"Sebelumnya saya berterima kasih kepada bapak yang sudah mau ditinggalkan wasiat oleh ayah saya. Hanya saja saya ingin mengatakan maaf yang sebesar-besarnya bahwa saya harus menolak, saya kedepannya ingin hidup mandiri saja tanpa adanya intervensi orang lain, saya mengerti dengan niat baik bapak, akan tetapi saya punya pilihan dan tujuan hidup sendiri." Ucap Shenna. Ucapan Shenna berhasil mengambil atensi seseorang, dari yang sibuk menatap layar ponselnya kini beralih menatap Shenna dengan serius.
"Baiklah Shenna, saya paham dengan apa maksud kamu. Saya juga tidak akan memaksa, namun saya tidak ingin ayahmu disana tidak tenang nak, saya juga tidak enak jika tak menjalankan amanah yang ditinggalkan kepada saya. Untuk tujuan hidup kamu saya mengerti, namun alangkah baiknya kamu pertimbangkan dulu. Jika kamu ingin mandiri boleh saja, asalkan kamu tinggal bersama kami, dan dalam pengawasan saya. Sesuai dengan isi surat wasiat ayah kamu, saya boleh melepaskan kamu ketika kamu sudah dipinang oleh laki-laki yang baik." Mendengar semua yang pak Ronny katakan, membuat hati Shenna berubah pikiran. Benar juga dengan apa yang pak Ronny ucapkan, Setega itukah dirinya membiarkan sang ayah tidak tenang disana.
"Bismillah, saya menerima semua ini." Ucap Shenna setelah mengambil satu tarikan nafasnya. Terasa berat namun harus dijalankan, agar ayahnya disana tenang. Pak Ronny pun bernafas dengan lega usai mendengar Shenna menerima mau menjalankan wasiat yang Satrio tinggalkan.