"Tuan Victor?"
Linglung. Ayara masih sedikit bingung dengan keadaannya. Mungkin karena pengaruh emosi yang masih tersisa setelah bertengkar dengan tuan Andrew barusan.
"Kau terlihat kacau." Victor mengulangi kata-katanya barusan. Lelaki itu masih dengan senyum kecil menatap Ayara. Sejenak, ia bisa menikmati wajah cantik di hadapannya yang belum sempat dipoles dengan make up. Nampak natural, membuat Victor semakin tertarik.
"Ah ... ya, kau benar. It's a f*****g morning!" Ayara mengumpat, terkenang wajah tuan Andrew yang sempat mengatakan dirinya sampah beberapa saat yang lalu.
"Kau nampak kesal sekali, Nona Ayara." Victor tertawa kecil mendengar umpatan Ayara barusan.
Ayara mencebik, wajahnya nampak lucu dengan bibir memberengut begitu.
"Baiklah, Nona Ayara. Mungkin kau masih perlu waktu untuk sendiri dulu agar bisa puas berkesal-kesal ria."
Baru saja hendak berlalu, Victor merasakan lengannya dipegang. Ia melihat jemari lentik Ayara sudah berada di antara lengannya.
"Tuan, bolehkah aku meminjam kamarmu sebentar?"
"Kenapa dengan kamar kalian?" tanya Victor dengan kening berkerut. Kalian? Ya, karena Victor tahu, Ayara adalah perempuan yang sedang menemani perjalanan berlibur seorang lelaki lain di atas kapal pesiar itu. Tentu mereka berada di kamar yang sama.
"Tidak. Eh, ya, maksudku, itu bukan lagi kamarku. Dan aku ingin mengeringkan rambutku ini, mungkin, aku juga akan sedikit berdandan. Kalau kau tak keberatan ..."
"Aku tidak keberatan, Nona Ayara. Ayo, ikutlah denganku," potong Victor singkat dengan senyumnya. Ia tak bertanya tentang mengapa Ayara harus keluar dari kamar pelanggannya. Victor merasa hal itu sama sekali tak penting.
"Terima kasih, Tuan. Aku berhutang padamu."
Victor tersenyum singkat lantas bersama Ayara, ia segera melangkah. Mereka tiba di kamar yang Victor tempati. Kamar itu terasa nyaman, meski sama saja dengan kamar yang Ayara dan tuan Andrew tempati sebelumnya, tapi entah mengapa, kamar Victor lebih membuatnya betah. Walau semalam ia sempat berada di sana karena salah kamar, ia baru menyadari bahwa ada rasa yang berbeda setelah ia kembali ke kamar itu sekarang. Mungkin, karena yang menempati kamar itu adalah Victor. Entahlah, Ayara jadi bingung sendiri. Baru sekali ini ia sedikit berpikir liar tentang laki-laki. Bukan seperti saat ia bersama pelanggannya terdahulu, yang mana itu memanglah tugasnya. Saat ini, berbeda. Ada yang berbeda, entah apa. Ayara tak tahu.
"Aku akan ke balkon sana, Nona Ayara. Anggap saja ini kamarmu."
Ayara tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan, membiarkan Victor berlalu menuju balkon kamar yang langsung menghadap ke laut lepas. Ayara meneruskan kegiatannya, merias diri. Sesekali, ia akan mencuri pandang ke lelaki yang sedang membelakanginya.
Tubuh Victor yang atletis pasti akan terasa hangat. Lalu, lengannya yang kekar itu pasti sangat menyenangkan ketika sedang memeluknya.
"Ayara! Stop!" Ayara jadi memaki dirinya sendiri saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir liar seperti ini? Terhadap lelaki yang baru saja dikenalnya pula. Apalagi pria itu tidak pernah memiliki hubungan dengan perempuan semacam dia.
Ayara tak mau lagi berpikir macam-macam. Namun, saat ia sedang mengoleskan lipstik, Victor membalikkan badannya, keduanya jadi saling berpandangan. Ayara jadi refleks tak sengaja membuat lipstik itu mencoret sembarang bibirnya hingga sisi pipinya jadi ikut memerah. Victor tersenyum melihat Ayara yang entah mengapa jadi gugup begitu.
"Kau membutuhkan ini?"
Dari saku celana, Victor mengeluarkan tisu basah berukuran kecil yang memang sering ia bawa. Ayara tak menjawab, hanya mengangguk dengan pipi sudah bersemu merah. Semburat malu terlihat dari wajah cantiknya.
Victor berjalan mendekat, ia menarik sebuah kursi lalu duduk di samping Ayara. Ayara membiarkan saja ketika Victor menarik lembut dagunya. Wajah mereka jadi berhadapan.
Victor segera membersihkan noda lipstik yang sudah membuat pipi putih Ayara jadi sedikit memerah itu. Ada getaran aneh ketika mereka kembali berdekatan dalam jarak yang tak seberapa jauh itu.
"Mengapa kau bisa seceroboh ini, Nona Ayara?"
tanya Victor dengan tangan masih sibuk membersihkan pipi Ayara yang ternoda. Karena lipstiknya yang mahal, benda itu cukup kuat menempel.
"Tuan, panggil saja aku Ayara," kata Ayara tanpa menjawab pertanyaan Victor barusan.
"Ya, lebih menyenangkan bila menyebut namamu langsung," sahut Victor.
Setelah dirasa bersih, Victor tak langsung menurunkan tangannya. Jemarinya malah mengusap pelan bibir Ayara yang sensual dan penuh itu. Sudah lama ia tidak pernah mengecup bibir perempuan. Victor terpancing.
Ayara diam saja ketika wajah Victor semakin dekat dengan wajahnya sendiri. Ia tak berusaha menghindar karena tubuhnya kini malah terasa kaku. Ayara bingung, karena biasanya ia akan agresif ketika melayani pria yang sudah membayar mahal dirinya, juga begitu tahan dengan pergulatan yang kasar dan penuh gairah, sekarang ia seolah pasrah.
Ayara memejamkan matanya sejenak, sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya yang indah. Namun, tak ada yang terjadi setelahnya. Ayara membuka matanya. Yang sekarang menyentuh bibirnya bukan bibir Victor, tapi jemari lelaki itu lagi.
Kontan saja, wajah Ayara jadi bersemu merah. Malu sekali Ayara jadinya. Sementara itu, Victor malah tertawa kecil menatapnya. Kontan Ayara membalikkan tubuhnya kembali menghadap cermin.
"Tuan menggodaku!" Sedikit menggerutu, Ayara menatap Victor dari pantulan cermin di depannya. Victor masih bertahan dengan segaris senyum kecil.
"Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan barusan, Ayara. Aku tidak pernah mencium perempuan lain selain istriku. Tapi, kau membuat aku ingin sekali mengecupmu."
Kata-kata yang begitu jujur itu membuat Ayara jadi semakin tak mengerti.
"Lalu mengapa Tuan tidak melakukannya?"
Ayara tiba-tiba merasa begitu t***l dengan pertanyaannya sendiri barusan. Ia yakin, Victor pasti akan menertawakannya sesaat lagi. Namun, lelaki itu malah kembali membalikkan tubuh Ayara jadi menghadap dirinya. Kali ini, Victor menatap Ayara dengan serius dan begitu lekat.
"Ayara, apa kau sedang tak bersama pelangganmu lagi?" tanya Victor dengan tenang tetapi sarat akan keseriusan.
"Ya, aku sudah mengembalikan uang pelangganku sebelum kita bertemu tadi."
"Mengapa?"
"Tamuku marah besar karena semalam aku tidak langsung pergi ke kamar untuk melayaninya. Aku juga mengatakan bahwa aku salah kamar dan masuk ke kamarmu," jawab Ayara dengan jujur.
"Lalu? Mengapa kau sampai harus mengembalikan uangnya? Bukankah kita tidak melakukan apapun? Kau hanya salah masuk ke dalam kamarku. Kau tentu sudah menjelaskannya?"
Ayara mengangguk. "Sebab dia menghinaku."
"Dia menghinamu?"
"Ya ..."
"Boleh aku mendengar apa yang dikatakannya?" tanya Victor lagi.
Ayara tak langsung menjawab. Ia membalas tatapan Victor.
"Dia mengatakan bahwa Tuan Victor tidak akan mungkin mau mengenal perempuan sampah seperti aku," jawab Ayara lugas.
Victor terdiam sesaat mendengar kejujuran dari Ayara barusan. Lelaki itu masih lekat menatap Ayara yang sama sekali tidak menunjukkan kesedihan karena kalimat penghinaan yang ia ulang kembali setelah ia mendapatkannya dari tuan Andrew, walaupun Victor tahu, Ayara pasti terluka karena kata-kata itu.
"Ayara, aku tidak akan membiarkan sampah masuk ke dalam kamar ini."
Ayara diam tak membalas, meski ia tahu sebentar lagi, mungkin ia akan mendengar kalimat yang sama dari Victor seperti yang dilontarkan tuan Andrew beberapa saat yang lalu.
"Artinya kau bukan sampah," lanjut Victor lagi. Ayara merasakan hatinya tiba-tiba menghangat mendengar hal itu.
"Tuan, terima kasih. Aku sudah selesai dan aku akan membuka kamar baru." Ayara segera berdiri dan mulai berlalu menuju pintu. Ia tidak mau terlibat terlalu jauh dengan Victor. Ada hal yang membuatnya menjadi sedikit canggung ketika terus berdekatan dengan Victor. Ia takut, ia mulai nyaman dengan lelaki itu.
"Ayara, aku ingin membuat penawaran denganmu." Kata-kata itu sukses membuat Ayara menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan melihat Victor kini kembali berjalan mendekatinya lagi.