Angin yang berhembus, masuk melalui pintu balkon yang terbuka. Ayara masih diam mematung di tempatnya berdiri, sementara Victor sudah kian mendekat. Ayara sebetulnya tak mau terlalu lama berada di kamar itu. Semakin cepat waktu berjalan maju, perasaannya sendiri kini jadi tak menentu. Ini betul bukan seperti perasaan biasa ketika Ayara menemani lelaki yang telah membayar tubuhnya.
"Aku ingin kau lebih lama berada di dalam kamar ini, Ayara. Ada hal yang ingin aku tawarkan kepadamu." Victor kembali berkata setelah ia berada dekat dengan Ayara lagi.
"Tuan Victor aku rasa kita tidak punya urusan apa-apa lagi. Aku sangat berterima kasih karena kau telah mengizinkan aku untuk menggunakan kamarmu barusan, tapi sekarang sepertinya aku harus segera keluar. Aku akan segera membuka kamar baru untukku sendiri."
"Ayara, apa kau lupa malam itu ketika kau salah masuk ke dalam kamar ini, kau sempat mengatakan kepadaku sebelum kau keluar. Katamu, mungkin lain kesempatan kau tidak akan salah pintu kamar lagi. Maksudku, aku jadi sedikit berharap tentang hal itu."
mendengar hal itu Ayara jadi menunduk. Ia memang sempat mengatakan hal itu kepada Victor dan sejujurnya pada saat itu kata-katanya mengandung hal yang lain. Namun, ia sama sekali tidak menyangka kalau Victor malah menganggap itu adalah hal yang serius pula.
"Benarkah aku pernah mengatakan itu, Tuan Victor?" tanya Ayara sembari mengusap tengkuk belakangnya sendiri, hal yang biasa Ayara lakukan ketika ia memang sedang dilanda kegelisahan.
"Apa kau sedang mencoba untuk berkelit, Ayara?" tanya Victor balik.
Kali ini, Ayara tak langsung menjawab. Ia diam, tepatnya tidak ingin lagi meneruskan pembicaraan.
"Ayara, aku serius. Aku menanggapi apa yang kau katakan pada malam itu bukan hal yang main-main," ujar Victor dengan tegas.
Ayara nampak menarik nafasnya panjang. Sepertinya Victor bukan orang yang mudah melepaskan sesuatu yang ia inginkan, jadi Ayara akhirnya mengulas senyum kecil kepada lelaki yang masih dengan intens menatapnya itu.
"Tuan Victor, bagaimana kalau kita membicarakan hal ini di luar saja. Kebetulan, aku ingin sekali menghirup udara di luar sana. Mungkin, kita bisa berbicara dengan santai dengan segelas wine, karena aku benar-benar ingin menikmati pemandangan laut saat ini."
"Baiklah, aku setuju denganmu."
Ayara mengangguk dan hendak kembali melangkah bersama Victor untuk keluar, tetapi kemudian ponsel lelaki itu berbunyi. Victor mengerutkan dahi saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia segera memberikan perhatiannya lagi kepada Ayara sebelum mengangkat ponsel yang masih saja berdering itu.
"Ayara, pergilah dahulu. Aku akan segera menyusulmu. Aku harus menerima telepon ini."
Ayara mengangguk penuh pengertian. "Baiklah, Tuan Victor. Aku akan menunggumu, temui aku di tempat pertama kali kita bertemu pada malam itu."
Victor mengangguk cepat. Ia tahu, tempat yang dimaksud oleh Ayara adalah tempat dimana ia menabur bunga pada malam itu. Kebetulan pula, area itu adalah tempat yang cukup sepi dan jarang disinggahi oleh para tamu yang lain.
Tentu mereka akan lebih leluasa untuk mengobrol dan tentu saja obrolan yang cukup sensitif yang akan disampaikan oleh Victor kepada Ayara, tidak akan didengar oleh orang lain. Sesungguhnya, Victor memang butuh privasi untuk bisa berbincang banyak dengan Ayara.
Victor kembali mengalihkan pandangannya kepada ponsel yang masih berdering. Ia segera mengangkatnya segera. Di seberang telepon setelah ia mengangkat panggilan itu, suara berat terdengar dari sana. Suara lelaki yang sangat Victor kenali dan hormati.
"Papa, mengapa meneleponku saat ini? Aku belum bisa kembali ke perusahaan. Aku masih berada di kapal pesiar."
Seolah tahu apa yang akan ditanyakan oleh ayahnya, Victor langsung saja menjelaskan. Terdengar suara ayah dari lelaki itu menarik nafas panjangnya.
"Victor, sampai kapan kau akan mengulangi hal seperti ini? Kau tidak akan pernah bisa untuk melupakan hal menyakitkan tentang kepergian istrimu Kalau kau masih saja pergi ke sana setiap tahun. Papa bahkan sudah melarangmu melakukan hal itu lagi, tapi kau tidak pernah mendengarkan Papa."
"Pa, tidak mudah bagiku untuk melupakan Gladys secepat itu. Aku hanya ingin Papa mengerti. Papa dan mama bisa memaklumi apa yang aku lakukan sekarang dan sebenarnya, aku merasa kepergianku kali ini ke kapal pesiar ini tidak sia-sia. Aku tidak hanya menaburkan bunga, tetapi juga bertemu dengan perempuan yang tiba-tiba saja menarik perhatianku."
"Benarkah? Apa Papa tidak salah dengar?" tanya ayahnya memastikan.
"Seperti yang Papa, mama dan orang-orang harapkan, kalau aku harus segera melupakan Gladys. yang sudah meninggal. Sekarang, rasanya aku sudah bisa melakukan itu setelah aku bertemu dengan perempuan ini."
"Victor, tentu saja Papa sangat senang mendengar hal ini. Papa akan menunggu kau untuk kembali ke rumah dan berbincang bersama kami. Nikmati masa liburan mu."
Suara ayahnya terdengar lebih ringan dan senang setelah Victor mengatakan bahwa ia bertemu dengan perempuan lain saat ini. Hal itu juga membuat ia tersenyum. Ia dan papanya memang memiliki hubungan yang cukup erat. Lelaki itu juga selalu mengupayakan hal yang terbaik bagi Victor. Victor tahu sedari dulu, papa tidak pernah menyukai gladys. Entah apa alasannya dan ketika Gladys dinyatakan meninggal hilang di lautan lepas, lelaki paruh baya itu seperti merasa lega karena anaknya bisa terlepas dari sosok perempuan bernama Gladys.
"Baiklah, Papa, aku akan segera menutup telepon ini karena perempuan itu saat ini sedang menungguku."
Victor kemudian segera mematikan telepon itu. Ia bersiap akan segera menemui Ayara yang sedang menunggunya. Dengan santai kemudian Victor berjalan meninggalkan kamar menuju ke pelataran kapal di mana orang-orang saat ini sedang menikmati pemandangan laut lepas. Di salah satu sudut pelataran kapal itu dengan pembatas pagar kapal yang begitu kokoh, terlihat Ayara sedang bersandar membelakangi Victor.
Dari kejauhan, Victor bisa melihat siluet tubuh Ayara yang begitu sempurna di tempa sinar mentari. Perempuan itu sedang menggenggam segelas wine, sesekali ia menenggaknya dengan perlahan.
Victor semakin mendekat. Saat beberapa meter lagi ia akan sampai di depan Ayara, perempuan itu berbalik. Semburat senyumnya di pagi ini membuat hati Victor begitu hangat. Tubuh sintal menggoda itu begitu indah berpadu dengan pantulan sinar mentari.
"Tuan Victor, kemarilah, aku sudah menyediakan wine untukmu."
Ayara meraih satu gelas lagi wine yang sudah ia sediakan. Lalu Victor mendekat dan menerima benda itu dari tangan Ayara. Jarak keduanya begitu dekat, harum tubuh keduanya saling membaur. Suasana tiba-tiba saja terasa begitu intim.
"Tuan bisa berbicara sekarang, penawaran apa yang akan Tuan berikan untukku," ujar Ayara dengan senyum yang begitu manis.
Victor diam sesaat sebelum bibirnya terbuka mengatakan hal yang ingin diutarakannya sedari tadi kepada Ayara.
"Ayara, Aku ingin kau menjadi simpananku."
Ayara tak terkejut sama sekali, ia mengalihkan pandangannya ke laut lepas, lalu kemudian menoleh dan menatap lagi Victor yang sedang menatapnya pula.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Ayara pelan.
Victor menggeleng mantap, kemudian menarik pinggang Ayara lembut, hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain.
"Bagaimana Ayara? Sejujurnya aku tidak pernah mau mendengar penolakan." Kali ini, kata-kata Victor begitu penuh intimidasi. Sementara Ayara masih diam, membiarkan hangat nafas Victor menggelitik sekujur tubuhnya hingga menggetarkan sesuatu yang tidak pernah tersentuh sebuah perasaan lain yang selama ini tertutupi ambisi. Ayara takut jika nanti Victor tak hanya mendapatkan tubuhnya, ia takut lelaki itu mampu mencuri hatinya yang selama ini sudah dikunci mati.