"Tuan, apa kau tidak salah bicara?" Ayara mendapatkan keberaniannya, mempertanyakan keseriusan Victor yang rasanya masih mustahil. Ia ingat betul dengan informasi yang sempat ia dengar dari tuan Andrew saat mereka sedang berdansa waktu itu, bahwa lelaki yang kini tengah merengkuh pinggangnya tanpa ragu itu adalah seorang lelaki yang tidak pernah terlibat hubungan nakal dengan perempuan lain apalagi perempuan yang memang bekerja menjajakan tubuh seperti dirinya.
Ayara takut, lelaki dengan segala pesona itu sedang sengaja mempermainkan dirinya. Mungkin saja, lelaki itu tengah mengetes dirinya. Mungkin mau mengukur semudah apa seorang Ayara ini bisa didapatkan. Namun, Ayara jadi merasa aneh dengan dirinya sendiri. Apa yang salah? Bukankah ia memang sudah terbiasa dengan penawaran semacam ini? Bukankah, Ayara tahu bahwa lelaki di depannya itu bukan orang biasa. Ia lelaki hebat, berkuasa, punya uang tak terhitung, sungguh kriteria lelaki yang bisa membawanya ke atas ranjang.
"Apa aku terlihat sedang mengarang?" Victor bertanya balik membuat Ayara jadi gugup.
"Tidak, maksudku, semua orang tahu bahwa kau adalah lelaki yang tidak pernah dan tidak akan pernah dekat dengan perempuan semacam aku. Jadi ..."
"Anggap saja kau pengecualiannya, Ayara. Percayalah, selama ini, aku memang tidak pernah membayar jasa perempuan sepertimu," balas Victor sedikit sarkas. Ayara mengalihkan pandangannya ke laut lepas. Rengkuhan Victor di pinggangnya masih terasa. Ayara merasa nyaman berada di dekat lelaki itu.
"Kenapa harus aku, Tuan Victor?" tanya Ayara serak. Sungguh baru kali ini ia bernegosiasi dengan calon pemelihara dirinya. Ayara bahkan tak memikirkan sama sekali nominal angka yang akan diterimanya dari Victor setiap bulan nanti. Ia benar-benar merasa aneh. Ayara ingin sesuatu yang lain, entahlah apa. Namun, ia justru saat ini tak ingin mendengar bahwa Victor hanya menginginkan tubuhnya. Ayara ingin mendengar hal yang lain. Hal yang benar-benar abstrak. Hal yang mustahil. Ayara menggeleng pelan.
Apa yang ada di pikiranmu, Ayara? Kau pikir, lelaki tampan dan kaya ini sedang jatuh cinta kepada perempuan semacam dirimu?!
Ayara segera tersadar oleh makian yang datang dari dirinya sendiri. Ia akhirnya memejamkan matanya sesaat lantas segera memberikan dirinya penuh menghadap Victor yang masih menunggu jawaban darinya.
"Aku ingin bertanya sekali lagi, Tuan Victor." Ayara menatap lelaki di depannya lekat. Victor mengangguk, menunggu kata-kata Ayara selanjutnya. "Apa kau serius?" lanjut Ayara.
"Aku tidak pernah seserius ini, Ayara."
"Apa yang kau butuhkan dariku?" tanya Ayara lagi.
"Seperti para pelangganmu sebelumnya, Ayara. Aku adalah lelaki. Aku pernah menikah, aku punya hasrat untuk melakukan hubungan suami istri."
Ayara melenguh di dalam hati. Benar bukan? Ini hanyalah soal hasrat. Namun, entah mengapa, Ayara jadi sedikit kecewa tak seperti saat ia mendapatkan pelanggan-pelanggan sebelumnya.
"Baiklah, aku punya satu syarat untukmu, Tuan Victor."
"Katakan."
"Kau tidak ..."
"Ayara, aku juga punya satu syarat untukmu. Maaf, aku memotong kata-katamu."
"Kau lebih dulu, Tuan Victor."
"Kau tidak boleh jatuh cinta kepadaku, Ayara."
Nafas Ayara rasanya jadi tercekat. Itu adalah hal yang akan ia katakan kepada Victor. Ayara urung mengatakan hal yang sama itu.
"Mengapa?" Sebagai gantinya, itu yang keluar dari bibir Ayara. Ayara sendiri bingung mengapa pertanyaan itu terlontar begitu saja.
"Aku masih punya keyakinan, istriku masih hidup. Aku sangat mencintainya, Ayara. Tetapi sampai saat ini, aku belum bisa menemukannya."
"Maksud Tuan, istrimu belum meninggal?" tanya Ayara sendu. Bagaimana bisa ia akan terlihat dengan lelaki kesepian yang sedang merana karena menganggap istrinya masih hidup itu? Dan mengapa pula, Ayara seolah tak punya daya upaya untuk menolak penawaran dari Victor?
"Aku mengerti, Tuan Victor. Hubungan kita tentu akan sama saja seperti saat aku sedang melayani para lelaki terdahulu. Tentu tidak akan ada perasaan di dalamnya."
"Bagus kalau kau mengerti. Ayara, aku bukan hanya akan mendatangimu ketika aku membutuhkan kehangatan darimu saja. Kau akan tinggal bersamaku."
Kali ini, mata Ayara membulat sempurna. Tidak ada pelanggannya terdahulu yang tinggal bersama dirinya. Ia tidak pernah suka akan hal itu.
"Sampai kapan, Tuan?" tanya Ayara dengan suara yang diusahakan terdengar setenang mungkin. Ia tak mau membuat lelaki di depannya itu tahu bahwa saat ini, dirinya sedang dilanda gusar.
"Sampai kita tidak perlu lagi bersama."
Ayara menelan saliva dengan susah payah. Mengapa kata-kata Victor barusan begitu membuatnya terluka?
"Apa yang akan aku dapatkan?" Ayara bertanya dengan tatapan menantang.
"Semuanya. Kemewahan, fasilitas, uang bulanan yang fantastis, apapun yang kau inginkan. Kecuali cinta."
Ayara memejamkan mata sesaat lantas ia tersenyum kecil.
"Dan kau tidak boleh terlibat dengan lelaki manapun selama masih bersamaku," sambung Victor lagi.
"Bagaimana jika seandainya istrimu kembali dalam waktu dekat ini?"
Victor menerawang jauh, tatapannya memang luas tetapi terlihat kosong tak berisi.
"Ayara, kau harus segera berlalu bagai angin dalam kehidupanku ketika Gladys kembali dengan uang yang aku pastikan bisa membuatmu seketika kaya raya."
Uang. Lagi-lagi tentang uang. Ayara mungkin hanya senilai mata uang. Ayara tertunduk sesaat. Mengapa rasanya sedikit menyakitkan? Ayara jadi tak mengerti dengan hatinya saat ini. Seperti ada yang terluka, meski tak berdarah.
"Tuan Victor, aku bersedia."
Victor memandang Ayara dengan sorot mata tegas tetapi teduh.
"Kau tidak perlu membuka kamar baru, Ayara. Kau akan bersamaku mulai hari ini."
Ayara mengangguk setelah ia menarik panjang nafasnya. Setelah itu, tubuhnya terasa dipeluk. Ayara membalas pelukan yang diberikan Victor. Terasa begitu nyaman. Ayara yakin ia bisa candu dengan tubuh Victor yang begitu hangat. Begitupun dengan Victor, saat ia memeluk Ayara, memeluk perempuan lagi setelah sekian lama membentengi diri dengan kesetiaannya kepada Gladys, ia merasakan kenyamanan yang begitu nyata.
"Kau pasti sudah lama tidak melakukan ini, Tuan Victor," bisik Ayara sembari mengelus lembut punggung lelaki itu.
"Ya ... Pelukanmu membuat aku nyaman, Ayara," desah Victor sembari memejamkan matanya sesaat.
"Aku ahli dalam hal itu, Tuan." Ayara jadi berkelakar untuk menenangkan dirinya sendiri.
Saat berpelukan itu, keduanya malah bisa merasakan detak jantung masing-masing yang terasa begitu kuat berdegup. Namun, masing-masing keduanya tidak akan pernah memaknai hubungan yang baru terbina ini dengan hal yang serius. Victor dengan tujuannya sebagai lelaki yang telah lama terkurung sepi, sedang Ayara dengan kesadarannya sebagai wanita penghibur.
Tidak akan ada yang berubah dari perasaan ini. Dia, adalah lelaki yang sama, yang membutuhkan kehangatan perempuan sebagai lelaki dewasa. Sedangkan aku, juga pasti sama di matanya, seperti ia memandang perempuan penghibur lainnya. Hanya saja, saat ini, aku sedikit beruntung, bisa bersamanya walau hanya sebatas penghangat ranjang saja.
-ElegiAyara.