Victor masih menggenggam tangan Ayara. Sepanjang pelataran kapal pesiar dengan tempias cahaya mentari yang semakin tinggi. Mereka sedang berjalan santai, sesekali nampak bergurau. Ayara merasa ada angin segar seketika menelusup ke dalam hatinya. Berkali-kali Ayara mencuri pandang kepada Victor yang wajahnya saat ini hanya bisa ia lihat dari samping. Wajah tampan dengan rahang tegas itu sedang menatap lurus ke depan. Semilir angin membuat anak rambut Ayara bergerak perlahan. Beberapa saat yang lalu, ia masih dilanda kesal kepada tuan Andrew yang begitu merendahkannya. Namun, sekarang ia begitu merasa nyaman. Baru kali ini, Ayara merasa waktu bersama lelaki yang akan membayar dirinya begitu berharga.
"Ayara, kau mau kita makan di mana? Mungkin kau ingin kita makan di dalam kamar saja, biar pelayan yang mengantar?"
"Terserah Tuan, aku ikut saja." Ayara menjawab singkat dengan senyumannya.
"Senyamanmu, Ayara. Aku ingin kau menikmati kebersamaan denganku. Jika kau tak nyaman di tengah banyak orang, kita bisa berada di tempat yang lebih privasi."
Ayara menoleh, sekali lagi ia cukup takjub dengan lelaki itu. Belum ada pelanggan yang memberikannya penawaran semacam ini. Ayara sungguh takut tak bisa menahan hatinya, sebab sekarang, ia rasanya mulai terbuai.
"Bukannya, Tuan yang akan tak nyaman?" Ayara bertanya dengan senyum kecilnya. Victor menoleh sesaat, memberikan senyum yang biasanya sulit orang dapatkan darinya.
"Aku tidak pernah peduli apa kata orang, Ayara. Dan tidak akan ada yang berani mengatakan hal buruk di depanku."
Ayara mengatupkan bibirnya sesaat. Tak ada lagi yang ingin ia tanyakan. Mereka hanya terus berjalan, beberapa orang menyapa Victor. Lelaki itu nampaknya memang terkenal. Ada yang menatapnya dengan kening berkerut sebab kini Victor sedang berjalan, berdampingan dengan perempuan. Hal yang tak pernah Victor lakukan setelah ia kehilangan istrinya.
Siapa saja pasti tahu bahwa berita tentang tenggelamnya Gladys di lautan lepas telah membuat Victor tenggelam pula dalam duka berkepanjangan. Tak ada yang pernah melihat Victor bersama seorang perempuan walau hanya sekedar bergandengan tangan seperti ini.
"Selamat pagi Tuan Victor. Senang berjumpa denganmu dan ..."
Seorang yang kebetulan berpapasan dengan Victor juga Ayara lantas menghentikan kalimatnya kala ia melihat Ayara. Ia adalah salah satu pengusaha yang malam itu ikut berdansa dengan para orang kaya lainnya. Ia heran, sebab setahunya, Ayara adalah perempuan yang menemani tuan Andrew.
Ayara hanya mengangguk elegan, menatap santai lelaki dengan perempuan muda yang bergelayut manja di lengannya itu.
"Mengapa, Tuan Danis?"
"Oh, tidak-tidak. Senang berjumpa denganmu, Tuan Victor. Aku akan segera ke sana."
Victor hanya mengulas senyum kecil juga kepada perempuan nakal di samping lelaki barusan yang menatapnya bak singa lapar. Ayara hanya tertawa kecil melihat pemandangan itu. Kendati ia juga sama saja, seorang perempuan penghibur yang setiap jengkal tubuh dan gerakannya dibayar oleh lelaki kaya, tetapi ia tak pernah menatap lelaki lain selain pelanggan yang sedang bersamanya dengan tatapan begitu menggelikan.
"Nampaknya, lelaki tadi mengenalmu, Ayara," ujar Victor membuat lamunan Ayara buyar.
Ayara tersenyum singkat. "Dia tidak mengenalku, Tuan. Hanya sekedar tahu, bahwa semalam aku berdansa di lantai yang sama dengannya. "
Victor mengangguk paham, tak ada niat untuk bertanya banyak hal lagi mengenai hal lainnya. Kini, Victor mengajak Ayara ke sebuah lapangan golf yang adalah salah satu fasilitas termewah yang ada di kapal pesiar itu.
Di sana, telah cukup banyak para lelaki dari kaum Borjuis yang sedang berkumpul untuk melakukan kegiatan menyenangkan itu. Mereka yang melihat Victor datang merasa sedikit terkejut.
"Tuan Victor, mari bergabung bersama kami. Kau sudah sangat lama tidak bermain bersama kami, Tuan."
Victor dan Ayara melangkah. Gairah dan semangat tiba-tiba saja terlihat di mata Victor. Ia mulai larut dengan permainan itu. Ayara duduk dengan tenang, menyaksikan sang tuan yang sedang bahagia.
Pelayan datang, membawakan cake ringan juga minuman dingin untuk para tamu istimewa penghuni kapal pesiar itu. Ayara masih betah memandangi Victor yang tak seberapa jauh dari tempatnya saat ini.
Ayara berinisiatif untuk membawakan lelaki itu segelas minuman dingin.
"Tuan, minumlah."
Victor menerima minuman menyegarkan itu dengan Ayara memegang gelasnya. Lelaki itu tersenyum hangat lantas mencium pipi Ayara lembut. Beberapa pasang mata menatap mereka. Victor tampak tak peduli, seolah kehadiran manusia lain yang ada di sekitarnya tak lagi penting setelah ia bersama Ayara.
"Bukannya, perempuan itu adalah Ayara? Kemarin setahuku, dia bersama tuan Andrew."
Bisik-bisik suara sumbang dari beberapa perempuan penghibur lainnya terdengar juga sampai ke telinga Ayara. Perempuan itu menoleh, meraih minuman dinginnya dengan santai lalu tersenyum singkat dan elegan ke arah para penggosip yang kini menatapnya dengan tampang sebal.
"Dasar tak tahu malu, siapa saja dia rayu." Salah satu di antara mereka berkata dengan sedikit keras dan sarkas. Ayara hanya menggeleng kecil, masih dengan senyuman elegan. Ia malas menanggapi para perempuan itu. Ia tidak pernah merayu siapapun, tapi para lelaki lah yang datang kepadanya dengan segudang hasrat yang minta puaskan tentu dengan bayaran sangat mahal.
"Aku yakin, ia pasti memakai segala cara agar bisa mendapatkan tuan Victor yang kaya raya dan tampan itu!" Yang satu lagi menimpali dengan hujatan lebih sadis.
Ayara meraih cake dalam piring kecil itu kemudian membawanya menuju Victor.
"Sayang, makanlah." Dengan lembut ia memotong kue itu menggunakan sendok kecil lalu menyuapi Victor yang menerimanya dengan sukacita. Victor merengkuh pinggang Ayara, menerima suapan demi suapan dari Ayara. Ayara menoleh sesaat, menyeringai kecil ke arah para penggosip yang menatapnya dengan wajah semakin kesal dan penuh kebencian.
"Ayara, kita ke ruang makan sekarang ya. Perutku sudah cukup lapar. Kue ini tidak cukup." Victor menggenggam jemari Ayara lagi, lalu ia membawa Ayara keluar dari tempat itu menuju ruang makan luas.
Ayara menatap puas para perempuan yang tadi asyik menggosip dirinya. Ia berjalan dengan anggun, menemani Victor ke mana saja.
Saat mereka hampir sampai di tempat duduk dengan sebuah meja, bundar, seseorang mendekati keduanya.
"Tuan Victor, senang bertemu denganmu."
Ayara menatap tuan Andrew dengan malas. Ia masih terkenang penghinaan kemarin yang ia dengar saat lelaki itu menyebutnya sampah. Mengapa pula ia sekarang datang lagi? Apa ingin mengejeknya lagi?
"Tuan?"
Ayara hampir menyemburkan tawa ketika mendengar Victor yang bahkan tak ingat siapa tuan Andrew saat itu. Terlihat tuan Andrew yang nampak malu dan mungkin terhina.
"Andrew, Tuan Victor. Kita pernah bekerjasama dulunya."
"Ah, iya. Maaf aku lupa padamu, Tuan Andrew. Senang bertemu denganmu kembali."
Tuan Andrew mengatupkan bibirnya melihat Ayara yang nampak mengulum senyum ke arah dirinya.
"Sayang, aku akan ke toilet sebentar." Ayara berkata kepada Victor dengan mesra dan Victor segera menganggukkan kepalanya.
Ayara tak tahu lagi apa yang dibicarakan oleh kedua lelaki itu. Namun, saat ia baru saja keluar dari toilet, seseorang mencekal lengannya.
"Kau merasa hebat setelah bisa bersama pria itu?!"
Ayara tersenyum menyeringai. "Lihat, aku yang katamu adalah sampah itu sekarang bisa bersamanya. Dia segalanya dibanding dirimu, Tuan Andrew. Dan lepaskan tanganku, karena aku bisa saja berteriak sekarang dan membuatmu dilempar hidup-hidup dari kapal pesiar ini!"
Tuan Andrew melepaskan cekalannya, membiarkan Ayara berlalu dengan mata memerah menahan amarah. Ia memang tidak bisa melakukan apapun. Victor jelas jauh di atasnya. Dan orang-orang di dalam kapal pesiar itu pun hanya bungkam, tak berani menyinggung perihal Ayara dan tuan Andrew kepada Victor. Mereka tak berani mengatakan hal-hal buruk di depan Ayara yang sudah berpindah Tuan itu. Lebih baik begitu, daripada mereka terlibat dengan Victor yang bisa saja membuat hidup mereka susah nantinya.